(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Mengejarmu


Ayudia dan keluarga kecilnya baru kembali ke rumah mereka sore harinya di karenakan besok si kembar akan sekolah, baru saja mereka tiba, Emillia tiba-tiba menelponnya, kepergiannya di majukan satu hari, malam nanti ia akan terbang keluar negeri


Ayudia merasa dadanya sakit mendengar Emil akan pergi, ia sangat ingin menahan, tapi jika itu adalah kebahagiaan Emil, Ayudia bisa bilang apa???


Awalnya ia sangat berharap William bisa.menahannkepergian Emil, namun William bersikukuh tak menyukai Emillia saat ia dan Ratna berbincang empat mata di kamar Ratna.


Setidaknya William meminta waktu setahun, ia hanya ingin menikmati momen bersama mamanya tanpa di ganggu dengan urusan lain, ia ingin menebus semua masa indah yang terlewati.


Walau Ratna tak setuju, tapi ia tak bisa memaksa juga dan akhirnya rencana mereka berujung kegagalan.


Ayudia pamit pada suaminya, ia memang berjanji pada Emil akan mengantarkannya menuju bandara, melepas kepergian sahabatnya tersebut.


Arjuna mengerti jika istrinya ingin melihat sahabatnya itu untuk terakhir kali sebelum mereka berpisah dan entah kapan bertemu.


Si kembar bersikeras ingin ikut, namun Ayudia melarang mereka, ia meminta Arjuna menjaga si kembar selama ia pergi, setelah berpamitan, Ayudia langsung tancap gas ke rumah Emillia.


Sementara Daffa dan Daffi terlihat tegang, ini di luar prediksi mereka, jika Emillia sampai pergi makan berakhir sudah nasib Emillia akan lebih sengsara dari kematian.


Daffa dan Daffi langsung berlari ke kamar mereka, mereka harus membicarakan dan mencari rencana cadangan , mereka harus keluar dari kediaman ini tapi bukan kabur, karena papanya pasti akan mencari mereka dan menghubungi Ayudia, yang ada malah mereka akan menyusahkan kedua orangtuanya.


"Gimana nih kak?? masalahnya sampai sejauh ini???"


"Kita harus cari cara bisa keluar dari rumah ini" ucap Daffi mengetuk meja di depannya, berfikir


"Om willyyyyyy" pekik mereka serentak


"Tapi apa om Willy mau membantu kita kak???" tanya Daffi


"Om Willy pasti akan membantu kita, ini demi kemanusiaan, ia akan menyingkirkan egonya sebentar" ucap Daffa penuh keyakinan


"Aku harap begitu, karena pada dasarnya pria dewasa memiliki ego yang tinggi" Daffi menggeleng pelan


"Pria dewasa, atau masih kecil, wanita , atau pria ada dasarnya semua punya ego masing-masing karena mereka mahluk sosial.


Sok nya ketinggian tinggal sialnya"


"Hahaha, bener, bener, ya udah aku telepon dia" ucap Daffi langsung menghubungi Willy.


awalnya Willy menolak, namun begitu mendengar alasan mereka minta di jemput, ia langsung setuju,


"Bagaimana ??? beres??* tanya Daffa penasaran


"Aman kak, cepat hubungi Axel minta orang kita melakukan sesuatu menahan mereka , aku akan mengusahakan interpol datang segera, aku dengan semalam ada perubahan, aku harap siang nanti mereka sudah tiba di Indonesia.


"Apa kita perlu menghubungi orang kita di kepolisian???"


"Itu juga boleh, bantuan lebih dari satu lebih baik" ucap Daffi memerintah kakaknya, jika urusan seperti ini Daffi tak keberatan di beri instruksi oleh adiknya tersebut, karena soal strategi, Daffi lebih pandai.


Sementara di kediaman Ratna


Wajah Willy terlihat muram setelah menerima telepon tersebut, Ratna yang berada di sebelahnya menatap putra bungsunya itu penuh tanda tanya


"Kenapa wajahmu muram begitu?" tanya Ratna


"Emillia akan berangkat, ia akan ikut penerbangan malam ini" ucap Willy lirih namun bisa di dengar oleh William yang duduk tak jauh dari mereka


"Penerbangan??? apa maksud Willy?? apa wanita itu mau pergi berlibur???" gumam William tanpa sadar penasaran


"Mama menyangkan ia harus pergi, sayang sekali William tak menyukainya.


semoga dengan meninggalkan tanah air, ia bisa menemukan kebahagiaanya sendiri.


Jika apa yang kau cintai menyakitkan mu maka lepaskanlah, ikhlaskan lah, karena hidup terlalu indah jika di habiskan untuk sesuatu yang sia-sia, begitulah kalimat yang pernah mama dengar." Ratna menghela nafas panjang , raut wajahnya terlihat muram


" Meninggalkan tanah air??? apa maksud mama???? apa wanita itu tidak bisa memberiku waktu setahun saja, aku akan membalas cintanya" gumam William mengepalkan tangan di bawah meja.


Willy melihat urat wajah William menegang dan terus mengompori kakaknya itu


"Mencintai tanpa di cintai itu menyakitkan dan membuang energi. Lebih baik mencari yang saling mencintai" timpal Willy melirik pada William


"Kamu benar sayang, perasan bertepuk sebelah tangan itu, seperti mengumpulkan asap, tak akan pernah berhasil, hanya lelah." Ratna sengaja menambahkan , ia melirik ke arah putranya yang sedang meminum kopi nya.


"Willy harus pergi sekarang ma, sampai lupa, bukan masalah kak Emillia yang akan tinggal di luar negeri, tapi masalahnya, kakak nya itu kakak tiri tapi kak Emil memiliki gangguan memory paska operasi, sebagain memorinya hilang.


Dan yang parahnya, kakaknya itu sindikat penjualan anak dan perempuan yang buron, akan tragis nasib kak Emil jika jatuh ke tangan kakaknya, kita harus menghentikannya" ucap Willy bangkit


"Apa maksud loe ????"


"Apa perduli loe??? loe udah menyia-nyiakan dia, kalau loe gak mau mending kak Emil sama gue aja, mama setuju kan??? tanya Willy asal


"Mama setuju, cepat selamatkan mantu mama"


"Mahendraaaaaa, kakak tanya ada apa dengan Emil???" tanya William menaikan suaranya satu oktaf


"Karena kakak dia memutuskan tinggal di luar negeri dengan kakaknya dan ternyata makanya itu adalah..., sudahlah aku mau pergi"


"Sial kenapa loe gak bilang dari tadi" ucap William juga bangkit


"Mau apa loe??? bukanya loe gak perduli? biar dia jadi adik ipar loe" pancing Willy kesal


"Diam, gue ikut" ucap William lalu berjalan menuju kamarnya, berganti pakaian , mereka lalu berpamitan pada Ratna


"Willy kabari mama secepatnya, bawa pulang Emillia kesini.


jika memang harus menikah besok, mama siap menikahkan kalian" ucap Ratna melempar umpan


"Maaaa, aku anak pertama, mengapa mama malah menyuruh Willy menikah dengan dia lagi" Dengus William kesal


"Loh bukanya kemarin kamu yang ngoto bilang gak suka Emil???? mama sudah memohon tapi kamu tetap pada pendiriannya.


jika kau tidak mau, adikmu bersedia.


Yang terpenting Emillia bisa menemukan pria yang benar-benar mencintainya" ucap Ratna tegas


"Sudahlah, kita bahas nanti, assalamu'alaikum" ucap Willy berjalan lebih dulu menuju pintu keluar


"Ma, pamit, assalamu'alaikum"


"Wa'Alaikum salam" ucap Ratna tersenyum


"Apa kali ini umpannya di makan???" bisik Ratna lirih


"Sepertinya, lagi pula jika kak William gak mau biar aku saja yang menikahinya" ucap Willy serius


"Nak, jangan korbankan perasan Emil lagi, dia tak punya keluarga lagi, jika kamu menikahinya karena kasian, mama gak akan setuju.


Lagi pula bagaimana kekasihmu, dasar anak nakal"


" Ya sudah kita bicarakan lagi nanti, Daffa dan Daffi menungguku" ucap Willy membuat alis Ratna mengkerut


"Kenapa dengan mereka???" tanya Ratna bingung


"Nanti ku beritahu, tapi bertahap sekarang aku pergi dulu" ucap Willy mencium punggung tangan mamanya


"Tittttttt tiiiittt tittttt


Suara klakson mobil William berbunyi, ia tak sabaran ingin segera sampai di bandara, ia mengatakan tak suka Emil, tapi setelah mendengar Emillia pergi dari negara ini untuk tinggal di negara orang, William merasakan perasaan yang tak nyaman, seperti ada sesuatu yang hampa.


Yang membuat William tak mengerti adalah saat mendengar wanita itu dalam bahaya, ia ingin sekali melindunginya, padahal jika dekat dengan Emillia, ia sangat kesal, tapi merindukan wajah penuh senyum dan cerewetnya Emillia.


Willy dan William bergegas menuju kediaman Angelo, walau awalnya William menolak, namun Willy mengancam akan bawa mobil sendiri.


Terpaksa William menyetujuinya, walau di hatinya penuh tanda tanya, mengapa mereka harus membawa Daffa dan Daffi.


Willy hanya mengatakan jika itu penting dan William akan mengetahui nanti.


Sesampainya di kediaman Angelo, mereka berdua meminta izin Arjuna untuk membawa si kembar, Davina yang tak diajak menangis sedih.


tapi begitu Daffi membisikan sesuatu, Davina mengangguk dan menjadi anak penurut membuat Arjuna penasaran, apa yang dikatakan Daffi, ia harus tahu agar jika Davina merajuk ia bisa mengendalikan putri bungsunya itu


Daffa meminta Willy berhenti di sebuah tempat, mereka lalu berhenti di sebuah perusahaan yang merupakan perusahaan ternama di kota itu


"Buat apa kita kesini???" tanya William tak sabaran


"Aku dan Daffi akan turun, kalian tunggu saja di mobil" ucap Daffa


"Kalian anak kecil, gak om ikut" ucap William kesal, ia sedang buru-buru tapi anak kecil ini malah memperlambat dan membuang-buang waktu.


"Kau tenanglah kak, dan lihat" ucap Willy, walau ia sudah tahu sedikit, namun ia yakin sebentar lagi kejutan itu akan tiba


Begitu mereka sampai lobby, beberapa bodyguard berdiri berjejer dan menunduk dengan sopan


"Selamat datang bos" ucap mereka serentak


William celingak celinguk


"Tak ada seorangpun di sini hanya ada mereka yang datang, siapa yang mereka panggil bos?" gumam William dalam hati, namun ia lebih memilih menutup mulutnya


karena Willy langsung menggelengkan kepala memperingatinya


" Sore bos kecil, manis sekali kalian di kawal oleh dua om tampan" goda Axel langsung menyambut kedatangan bos nya, di belakangnya terlihat pria tampan dengan kacamata membingkai wajahnya yang tampan.


auranya yang dingin langsung mencair begitu melihat kedatangan Daffa dan Daffi


"Malam Bos" Sapa nya singkat


"Vincen , Axel kenalkan mereka om kami" ucap Daffa berwibawa, ucapannya seperti seorang pemimpin yang memperkenalkan bawahan mereka


"Hallo Willy kita akhirnya berjumpa langsung"


"Hallo pak Axel, saya banyak mendengar tentang kesusksesan anda" ucap Willy hormat


"Ah itu berkat tangan dingin di belakang layar" ucap Axel melirik Daffa, yang di lirik tersenyum bangga


"Tapi juga berkat kerja keras saya, orang di belakang layar hanya memerintah tanpa tahu resiko, bukan begitu vincen????" ucap Axel menggoda rekan kerjanya


"Uhuk... hmmm itu saya tidak tahu" ucap vincen singkat, ia tak mau berada di tengah dua manusia gila, satu iblis kecil satu iblis gila.


"Kau pintar vincen, biarkan mereka saling beradu argumen, kau memang orangnya" ucap Daffi mengacungkan jempol pada vincen


"Hallo pak vincen , saya berharap suatu saat kita bisa bekerja sama" ucap Willy


"Tentu saja, kalian berkeluarga, lebih baik bisnis keluarga untuk mengokohkan pohon yang berdiri tegak"


ucap vincen diplomatis


"Tunggu, tunggu, kalian jangan bermain dagelan, bos??? keponakan ku yang kecil ini???


apa kalian sudah gila???" tanya William yang sejak tadi mencerna ucapan mereka dalam diam


"Apa ada yang salah pak William??? kami sedang serius dan pada kenyataanya, keponakan anda adalah pemilik sekaligus direktur utama perusahaan ini, tempat dimana anda berada saat ini" ucap vincen datar


"Aku pasti mimpi, Willy cepat cubit" gumam William merasa kepalanya pening


Mendengar permintaan kakaknya dengan senang hati Willy mencubit kakaknya dengan niat seratus persen.


setelahnya terdengar pekik kesakitan William


"Mahendraaaa, kau ingin membunuhku???" teriak William mengelus tangannya yang di cubit Willy


"Ayo kita keruang meeting, Axel lakukan seperti biasa, aku akan memantau dari ruangan sebelah kalian, ayo Daffi"


"Om kalian bisa ikut Axel dan vincen dalam meeting tersebut, mereka akan membahas untuk menyergap kakak tiri Emillia.


Walau William tak tahu apapun, ia memilih mengikuti mereka dengan hati penuh tanda tanya


Dua jam kemudian baru selesai, William berusaha menyadarkan dirinya agar tidak shock menerima kenyataan yang mengejutkan.


Satu jam pertama mereka rundingan dengan team Daffi, mereka yang yang bergerak di bidang informasi rahasia, hanya vincen yang pernah pribumi, walau tak sepenuhnya ia orang Indonesia, Karena wajahnya yang blasteran.


satu jam berikutnya ternyata meeting dengan kepolisian yang bekerja sama dengan interpol.


Daffa dan Daffi ikut mobil Axel, sementara William dan Willy didalam satu mobil


Vincen dengan team Daffa dalam satu mobil, sisanya mobil kepolisian dan mobil interpol.


Sesampainya di bandara mereka langsung menjalankan rencana yang sudah diatur.


rupanya bukan hanya kakak tiri Emillia yang bernama Marvel tapi juga ada beberapa anggota sindikat yang memang sengaja memindahkan markas mereka ke Indonesia, karena mereka menilai itu sangat berpotensi, dengan berkedok sebagai penyalur rumah tangga, mereka bisa mendapatkan wanita muda atau anak-anak di bawah umur untuk di jual.


Satu jam kemudian, semua orang sudah berada di posisi mereka masing-masing.


pihak kepolisan juga sudah bekerja sama dengan pihak bandara.


dalam penerbangan kali ini terdapat lima orang wanita dan satu anak di bawah umur yang akan menjadi target mereka.


William mengepalkan tangannya marah, ia harus menyelamatkan wanita itu, ia menyadari sesuatu bahwa ia tak mau kehilangan Emillia,


Assalamu'alaikum...


Hai semuanya,, sehat sellau ya buat kita semua,


author kali ini agak halu ya bawa-bawa kepolisan internasional hahaha, gak tahu ini nyambung gak, tapi karena sindikat internasional sepetinya nyambung 🤭🤭🤭🤭


Maafkan author yang ceritanya agak berkelit-kelit ya, tapi author hanya ingin menyelesaikan semuanya satu persatu dengan manis, karena sesuatu yang terburu-buru hasilnya gak baik


(reader : bilang aja biar chapter nya panjang dan bisa dapat cuan😏)


Xoxoxo tau aja deh, tapi author pastikan gak sampai berbelit-belit panjang ya, pastikan kalian terus mendukung author ya dan jangan lupa tinggalkan like kalian di setiap chapter nya. karena dukungan kalian sangat berarti untuk author🤗🤗🤗


(reader : Bilang aja biar cuan nya banyak")


Tau aja, author kan juga butuh es teh manis buat nemenin author merangkai kata yang bisa menghibur kalian hehehe


Oh ya, karya ini masih dalam revisi ya


karena masih banyak typo yang berterbangan dan ada beberapa revisi pendukung. mohon maaf atas ketidak nyamanan nya🙏🙏🙏


Sukses terus untuk kita semua


Pooh