
Sesampainya di kamar, Arjuna langsung di rebahkan di kasur dan Arjuna langsung menarik Ayudia hingga tubuh Ayudia menindih diatas Arjuna
"Sayang, apa kau sudah tidak sabar sampai naik keatas tubuhku????"
"Kau sungguh memalukan mas, jelas-jelas kau menarik ku hingga aku terjatuh"ucap Ayudia sewot sambil berusaha bangkit, namun Arjuna malah memeluknya
"Terima kasih sayang sudah memberiku kesempatan, aku janji akan melindungi dan membahagiakanmu selama sisa hidupku"
"Aku pegang janji-janji mu tuan Arjuna,"
"Tentu saja nyonya Arjuna, " Arjuna langsung ******* bibir Ayudia, kali ini Ayudia langsung membalasnya, sebenarnya ia juga mulai menyukai Arjuna mungkin karena awal pertemuan mereka seperti Tom and Jerry lama-lama menumbuhkan cinta tanpa mereka sadari
karena benci dan cinta itu setipis kertas.
Ada pepatah yang mengatakan cintailah orang yang kau cintai, sewajarnya saja, karena bisa jadi dia adalah orang yang kau benci di masa mendatang.
Bencilah seseorang yang kau benci sewajarnya saja, karena bisa jadi orang yang kau benci adalah orang yang kau cinta.
Kini mereka berdua menerima takdir mereka sendiri.
Arjuna menyudahi ciumannya, ia menatap lekat mata istrinya yang indah, biru dan jernih, membuatnya merasa tenang, Arjuna kembali memeluknya dan mengecup kening Ayudia lembut dan dalam
Keduanya merasakan kebahagiaan yang tak pernah mereka rasakan, terlebih kini mereka telah bersatu kembali dalaman ikatan pernikahan dengan tiga buah hati mereka
""Sayang, jadi....
apa kau setuju???"
"Setuju apa sayang???" tanya Ayudia bingung
"Buat adik untuk si kembar"
"Dasar pria mesum, pikiranmu hany kesana saja.
merusak seadanya saja" ucap Ayudia mendorong suaminya, namun Arjuna menarik kembali hingga Ayudia kembali berada di atasnya.
Ayudia bersikap seperti itu karena malu, tidakkah Arjuna paham itu, walau ia sudah memiliki anak dari pria itu, namun itu sebuah kecelakaan dan momen ini adalah yang pertama untuk Ayudia, ia nervous.
"Lepasin mas, kah menyebalkan"
"Mamaaa????" panggil ketiga anak Ayudia yang berdiri di depan pintu, Daffa langsung menutup mata Davina
"Apa yang mama lakukan???" tanya Daffi
"Ternyata mama yang agresif" sindir Daffa
"Atu mau liat mama dan papa buat adek"
"Tutup mulutmu Davina kau sama memalukan nya" Dengus Daffa
Sontak Ayudia dan Arjuna sama terkejutnya,Arjuna bangkit hingga Ayudia terjatuh dari kasur
"Sayang maaf" ucap Arjuna buru-buru namun Ayudia menolaknya
"Sayang ini tidak seperti yang kalian pikir, lagi pula dimana kesopanan kalian masuk kamar tidak ketuk pintu dulu"ucap Ayudia balik marah
"Siapa suruh mau mesum tidak di kunci" ucap Daffa bersekap dada tidak mau kalah
"Daffa....." teriak Ayudia
"Iya?" jawab Daffa datar tak terpengaruh teriakan mamanya
"Sebaiknya kalian kunci pintu terlebih dahulu jika ingin melakukan hal dewasa, ini....
ah ayo kak, aku tak menyangka mama kita yang lebih mesum daripada papa" ucpa Daffi menghela nafas, ia menarik Davina keluar dari kamar
"Atu mau disini saja" protes Davina
"Kau masih di bawah umur, kalau kau mau adik menurut lah pada kakak" ucap Daffi lembut, Davina mengangguk penuh semangat
"Buatkan adik dua ma, ah tidak, tidak tiga, ya tiga" ucap Davina menunjukkan tiga jarinya
"Aku akan pura-pura tak lihat" ucap Daffa langsung berjalan keluar dan menutup pintu
"Sayang, kalian salah paham...
mas ini semua gara-gara kamu ya, kamu membuat mereka salah paham" ucap Ayudia melampiaskan kekesalannya pada Arjuna
"Aku??? anak-anak saja bisa melihat kau yang memperkosaku" ucpa Arjuna tersenyum licik
"Maaaaasss, kau menyebalkaaaannn" ucap Ayudia melempar bantal ke arah Arjuna, namun Arjuna menghindar lagi dan lagi, tak satupun benda yang di lempar kena Arjuna, sementara Ayudia sudah kelelahan.
"Sayang, sudah marahnya, kita damai dulu ya, lihat tuh berantakan, padahal kita belum pakai kasurnya"
"Bodo amat" ketus Ayudia marah
"Ya udah minum dulu kamu haus tuh, terus bagi aku juga" ucap Arjuna yang kehausan juga, sialnya ia hanya membawa satu gelas yang di berikan oleh Angelo
"Jangan di habiskan sayang, aku haus" ucap Arjuna yang melihat Ayudia meneguk semua air di gelas tersebut tak tersisa
"Nih ambil" ucap Ayudia menyerahkan gelas kosong
"Kau kejam pada suamimu" ucap Arjuna kesal, meletakkan gelas kosong di nakas, lalu ia mulai merapihkan kasur yang porak poranda karena ulah Ayudia. sementara Ayudia setelah membuka kebayanya ia masuk kamar mandi dan tak lama terdengar shower menyala
"Ah galak sekali istriku, ternyata menikah menyeramkan" ucap Arjuna bergidik sendiri
Arjuna keluar dari kamar dan langsung menuju dapur, menuangkan segelas air dan meneguknya, ia mengambil teko air dan mengisinya agar ia tak perlu mondar mandir jika haus.
Beberapa kerabat juga sudah pulang, tinggal Baskoro dan Ratih serta ketiga anaknya
"Kau tak sopan meninggalkan orangtuamu dan tamu lain langsung masuk kamar"
"Aku terjatuh pa tadi, ayu baru mengoles minyak gosok"
"Hahaha payah, bagaimana kau bisa membuat cucu lain untuk ku, kalau sudah keok duluan" goda Baskoro.
ucapan Baskoro yang ceplas-ceplos membuat Ratna merona merah, pria ini tak pernah berubah, selalu seenak udelnya sendiri kalau bicara, tak tahu malu
"Kak, kami pamit dulu, semangat membuat keponakan untuk kami" ucap william yang diangguki Willy sementara Samuel hanya tersenyum lebar
"Kau anak kecil tau apa" ucap Arjuna mengejek
"Aku hanya beda satu tahun darimu, sok tua"gerutu William
"Mama Ratna, sebaiknya mama segera mencarikan jodoh William, biar gak jadi bujang lapuk" tawa Arjuna mengejek
"Aduh" Arjuna memegangi kepalanya
"Sakit pa" ucap Arjuna mengelus kepalanya yang kena jitak Baskoro
"Jangan menggoda adikmu terus, sudah kami mau pulang, baik-baik jaga istrimu, awas kau sia-sia, papa akan memb*n*hmu" ancam Baskoro tidak main-main
"Siap pa, kali ini dengan segenap jiwa raga Arjuna"
"Bagus papa percaya padamu" Arjuna mencium punggung tangan papanya lalu mamam Ratna kemudian bergantian memeluk saudara-saudaranya, laku ketiganya pulang.
Si kembar terlihat sedang asik bermain dengan Jack
"Jack, aku titip anak-anakku, awasi jangan sampai lengah.
owh ya pengasuh mereka mana????" tanya Arjuna ada Jack
"Linda, sini" panggil Jack pada wanita muda yang sedang membawa nampan berisi juice untuk si kembar
"Ya tuan Jack??"
"Perkenalkan beliau adalah papa si kembar, bos kamu nanti namanya tuan Arjuna."
"Baik, salam tuan Arjuna" ucapnya sopan
"Hmmm" Arjuna hanya berdehem
"Anak-anak kemari" panggil Arjuna
"Ya pa?"
"Kok papa sudah keluar apa secepat itu???" tanya Daffa dengan wajah bingung"
"Anak nakal, jangan berfikiran aneh-aneh.
dengar papa, awasi adik-adikmu, dan kalian jangan jauh-jauh dari kakak kalian, ingat kalian harus bersama terus.
saat ini kondisi belum aman, jadi papa harap kalian bisa saling menjaga, oke???" tanya Arjuna menatap si kembar satu persatu
"Baik pa,
ok pa,
iya" jawab si kembar
"Baiklah papa mau ke kamar, mama kalian minta minum" ucap Arjuna mengelus puncak kepala putra dan putrinya, kalau memeluk mereka bertiga.
"Jack dan kamu tolong jaga anak-anak, saya tidak mentolerir kesalahan sekecil apapun jika menyangkut anak-anak saya" ucap Arjuna tegas.
pasalnya gugatan atas Jimmy sudah masuk ke kepolisian, bisa jadi Jimmy mencari kelemahan orang-orang yang berkaitan untuk mengancam, dan Arjuna tak mau kecolongan.
Dan kasus hilang dan meninggalnya Ratih mamanya, sedang dalam proses mencari saksi tambahan.
kurang Minah, saksi kunci.
Arjuna lalu pergi menuju kamar mereka yang berada di lantai dua, saat melewati pintu kamar papa mertuanya, Arjuna berhenti sejenak, terdengar suara aneh dari dalam, sepertinya obat yang di masukkan oleh Angelo sudah bekerja, dasar kakeknya itu, orang yang sungguh aneh, kita lihat apa yang terjadi besok pada Adhi, papa mertuanya.
Arjuna tersenyum penuh arti.
"Papa, papa, semoga papa kuat" ucap Arjuna cekikikan sendiri lalu menuju kamarnya.
Arjuna membuka pintu kamarnya, ia tak melihat Ayudia di sana, sepertinya istrinya masih mandi.
Arjuna lalu menanggalkan pakaiannya, ia mau mengerjai Ayudia, walau masih memakai boxer, ia yakin Ayudia akan tersipu malu melihat dadanya yang tak memakai pakaian..
Namun ia tiba-tiba terkejut seseorang memeluknya dari belakang
"Sayang ayo kita buat adik untuk si kembar" ucap Ayudia dengan suara manja
"Sayang, kamu apa...." belum selesai Arjuna berbicara, Ayudia sudah menciumnya ganas, walau wajahnya merona merah ia seperti kehilangan akal
Arjuna menatap wajah istrinya, Ayudia terlihat sangat cantik dengan wajah malu-malu nya membuat Arjuna gemas
"Aku sudah menunggumu sejak tadi, kau lama sekali" ucapnya manja lalu menarik tangan Arjuna setelah itu mendorongnya ke kasur hingga Arjuna terjatuh.
"Apa yang terjadi? mengapa Ayudia begitu agresif, apa???
Dasar tua Bangka, dia ternyata mengerjai ku juga.
andai dia tahu cucunya yang kena, apa yang terjadi?"
belum hilang keterkejutan Arjuna, Ayudia sudah naik ke atas tubuhnya dan menciuminya bertubi-tubi.
Beruntung kali ini kamar sudah ia kunci dengan seringai lebar Arjuna membalikkan tubuhnya hingga Ayudia berada di bawahnya
"Kau yang memancing serigala tidur sayang...."ucap Arjuna langsung menerkam istrinya dan .....
(sensor hehehehe)
Keesokan paginya
Ayudia merasa tubuhnya sakit semua, ia tak tahu apa yang terjadi pada dirinya, mengapa ia agresif sekali dengan Arjuna sampai pria itu berlari dan ia kejar.
terlihat beberapa kissMark dan cakaran di punggung suaminya.
Ayudia sangat malu, rasanya ia ingin menggali lobang dan bersembunyi, bagaimana mungkin di hari pertama ia menikah kembali, ia melakukan sesuatu yang sangat memalukan
Ia yakin hanya meminum air putih, namun begitu Arjuna pergi, ia merasa panas dan tubuhnya bereaksi, terlebih saat melihat Arjuna bertelanjang dada, hatinya berdesir dan tanpa pikir panjang Ayudia menerjangnya.
"Mas, mas banguuuunnnn" teriak Ayudia kesal, ini pasti ulah suaminya
"Aduh sayang ampun, aku sudah gak ada tenaga, kamu kucing liar yang merepotkan" ucap Arjuna masih memejamkan matanya.
mendengar ucapan Arjuna, Ayudia malu sekaligus kesal
"Awwww sakit" mata mengantuk Arjuna terbuka karena Yudia mengigit punggungnya keras
"Kau kan? ngaku, kamu kasih apa aku semalam hah???" tanya Ayudia marah
"Sayang, kalau aku tahu, pasti aku tak seperti ini dan tak akan mau, kamu... ganas" ucap Arjuna menyeringai lemah
"Maaaaasss aku seriusssss" pekik tertahan Ayudia
"Aku serius tak tahu, ini ulah tua Bangka itu" ucap Arjun lirih
"Kau, mantu kurang ajar, kau pasti memaki dan memfitnah papaku" ucap ayudia makin kesal memukul suaminya yang masih dengan mata mengantuk
"Sayang, ini ulah kakeknya, Angelo Benedito, pria stress itu ternyata mengerjai ku, tapi kamu yang kena"
"Apaaaaa????" tanya Ayudia tak percaya
"TOK TOK TOK"
Sebuah ketukan kencang membuat Ayudia dan Arjuna sama-sama menoleh ke arah pintu kamar
"Arjuna, keluaaaarrr, dasar mantu error" ucap Adhi berteriak
"Papa????" ucap keduanya
"Masalah datang yank" ucap Arjuna lirih, ia sudah tak memiliki tenaga akibat istrinya, kini papa mertuanya datang .
semua gara-gara satu orang tua Bangka pembuat ulah!!!!
Angelo benedito