(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Awal pembalasan


Karena teriakan Daffa membuat Daffi terbangun, ia duduk bengong seperti anak hilang, mengucek matanya yang masih mengantuk


"Mama bisakah aku tidur lima menit lagi, aku janji tak akan kesiangan bangun sekolah" ucap Daffi yang tak bisa membuka matanya karena mengantuk


"Astaga lebih imut ini" pekik Ernest kegirangan lalu mendekati tempat tidur Daffi dan mencium kedua pipinya dengan gemas


"Ma, apa sekarang bibir keriput karena papa baru kita? ku sarankan jangan banyak berciuman atau mama akan tambah keriput bibirnya" ucap Daffi mengelap pipinya kesal


"Hahahaha astaga betapa lucu anak-anak ini, mereka benar-benar menggemaskan.


Tidakkah kau lihat ini babe" ucap Ernest memeluk Daffi yang tidak tahu jika yang menciumnya adalah buyutnya


"Ya Tuhan mama, kau menua lebih cepat dari yang ku bayangkan" ucap Daffi memegang wajah Ernest, mungkin Daffi pikir Ernest mamanya yang tua dalam semalam, karena wajah Ernest maupun Ayudia sama persis hanya rambut mereka yang berbeda, namun Daffi tidak menyadari itu


"Anak nakal, apa kau pikir mama melompat ke ruang waktu??? apa matamu sudah rabun???" gerutu Ayudia mengelus dadanya menghadapi kedua putranya, sementara Angelo tertawa sangat kencang, seperti melihat sesuatu yang sangat lucu.


Ia langsung terdiam begitu cucu dan istrinya memandangnya tajam.


Lelaki harus tahu dua hal, jangan pernah mengatakan wanita terlihat tua walau kenyataanya tua dan jangan pernah mengatakan ukuran tubuhnya, karena jiwa pemangsanya akan keluar, dan Angelo melupakan itu.


"Apa kau puas menertawakan ku???" tanya Ernest memicingkan matanya


"Ma..mama, mengapa mama ada dua versi??? siapa wanita dewasa ini???" tanya Daffi menghindari tatapan tajam Ernest


"Lihat cicit mu lebih pandai darimu" cap Ernest memeluk Daffi hingga anak itu kesulitan bernafas


"Ma...mama" ucap Daffi lirih menggapai mamanya


"Nek, anakku bisa biru jika nenek peluk sekeras itu" ucap Ayudia menatap putranya yang menatapnya dengan wajah memelas


"Ah, maaf sayang, nenek hanya bagian melihat anak-anakmu" ucap Ernest langsung melepaskan pelukannya


"Mama, apa ini sudah siang??? mengapa berisik sekali" ucap seorang gadis kecil sambil menyeret boneka Teddy bear ya


"Ini masih malam gadis kecil, apa kau terganggu??" tanya Angelo menekuk lututnya agar sejajar dengan Davina, namun tubuh tinggi besar Angelo masih terlihat seperti raksasa


"Apa kamu papa baru?? atu gak mau papa baru raksasa" Davina mulai menangis kencang


Ayudia menelan Saliva nya, bagaimana anak-anaknya punya pemikiran kacau seperti ini, apa kesan kakek dan neneknya melihat ini.


Ayudia buru-buru menghampiri Davina dan menggendongnya


"Princess mama, ini kakek mama yang artinya eyang buyut kalian" ucap Ayudia memberi tahu


"Atu punya kakek yang lain???" bukan kakek galak dan kakek ganteng aja???" tanya Davina dengan suara cemprengnya


"Siapa pula kakek ganteng dan kakek galak????


papa gak mungkin kakek galak, apa mereka menjuluki papa mertuaku sebagai papa galak???" gumam Ayudia merasa kepalanya berdenyut


"Ini papanya mamanya mama, jadi Davina panggil Buyut, oke???"


"Uhm," angguk Davina


"Ma, mereka kakek dan nenek mama???? astaga aku punya kakek bule yeeeaaaa" teriak Daffi melihat kakek dan nenek buyutnya. Jovanka merasa wajahnya kejang, ia tak bisa berekspresi lagi


"Sayang, anak-anakmu sungguh menggemaskan


"Anak-anak, ayo Salim sama kakek dan nenek buyut, ini nenek Khadijah, dan itu....." Ayudia bingung harus memperkenalkan dokter Vidal sebagai siapa


"Atu mau dia papa Balu ku" mata Davina seperti biasa berbinar cerah setelah melihat pria tampan, dan dengan mudah ia melupakan ucapannya tak mau mengganti papa Adrian dengan Arjuna


Ayudia membekap mulut Davina, membuat anak itu hanya terdengar seperti menggumam tak jelas


""Untung dia tak bisa bahasa indonesia" ucap Ayudia lirih


"Maaf gadis cantik, aku tak bisa jadi papamu karena aku kakek mu" ucap dokter Vidal dengan fasih berbahasa Indonesia


Duaaar


Wajah Ayudia langsung memerah seperti tomat karena malu, ia tak pernah menyangka jika pria itu bisa bahasa indonesia.


"Bibi mengapa kau tak memberitahuku???" bisik Ayudia pada Khadijah yang menahan tawa melihat ayu yang malu


"kau tidak bertanya sayang" ucap Khadijah enteng.


ketiga anak kembar itu mencium punggung tangan mereka secara bergantian, lalu mereka akhirnya berkumpul di ruang keluarga.


Bu Ratna memilih istirahat di kamarnya arena ia tak mau mengganggu Ayudia yang sedang reuni keluarga.


Daffa dan Daffi duduk diapit sepasang suami istri Angelo dan Ernest, sementara Ayudia duduk di samping Khadijah sambil memangku si kecil yang bergelayut manja sambil memeluk boneka kesayangannya


"Sayang kau melupakan sesuatu?" ucap Angelo mengingatkan


"Ah aku lupa.


Jacky bawa semua masuk" teriak Ernest


lalu masuklah empat orang pria berjas hitam tadi dengan membawa kardus berukuran besar.


Davina langsung menoleh dan turun dari pangkuan mamanya


"Buyut, apa itu???" tanya nya lugu


"Ah cicit ku tersayang, ini mainan untuk kalian" ucap Ernest bangkit dan mengajak ketiganya membuka mainan yang ia bawa


Davina dengan semangat membuka satu persatu mainannya di bantu seorang pria bertubuh paling besar, gadis kecil itu bahkan bisa dengan manis, ah bukan dengan manis, namun sedikit genit ala-ala anak abege meminta bantu bukakan


"Apa anakmu yang bungsu selalu seperti itu?" tanya Khadijah merasa takjub


"Ah itu, bibi, entahlah mereka membawa gen siapa??" ucap Ayudia putus asa


"Tentu gen pria mesum di sampingku, dia membawa bibit yang buruk sehingga menurun pada cicit ku" ucap Ernest membuat Angelo menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Sayang kau memfitnahku, aku tak seperti itu" bela angelo


"Tak seperti itu tapi memang seperti itu, apa mamamu berbohong padaku dengan bukti sebuah foto kau tiga tahun sudah mencium anak usia sekolah dasar!!!" ucap Ernest membuat Angelo langsung bungkam dan mengomel dalam hati.


"Suka , atu suka"


"Aku juga suka" ucap Daffi


"Aku lebih suka jika di beri uang" ucap Daffa membuat semua orang tertawa


"Kau mewarisi darah benedito nak" ucap Angelo menepuk bahu Daffa, mereka bertolak pinggang dengan gaya yang sama


"Lihat apa yang ku bilang? gen buruk dari kakek buyutnya" ucap Ernest menepuk dahinya


"Nak, tak baik menolak pemberian kakek nenekmu.


mereka sudah bersusah payah membelikannya mainan," ada intonasi mengancam di pandangan Ayudia


Daffa berjalan dengan mata malas ke arah mainan, awalnya ia enggan, namun begitu melihat sesuatu senyum tersungging di bibirnya


"Aku merasa kau merencanakan sesuatu kak" bisik Daffi melihat seringai licik di bibir kembarannya


"Tutup mulutmu, aku mau mengerjai papa mesum itu"


"Aku tidak setuju" ucap Daffi tegas, ia menyukai memiliki papa kandung


"Apa aku minta pendapatmu?" tanya Daffa menaikkan sebelah alisnya


"Kau tidak bisa melakukan itu kak, dia papa kita"


"Setelah lewat test, baru ku akui" ucap Daffa menyeringai lebar


"Ah terserah kau, aku gak ikutan" ucap Daffi memeluk mainannya, sebuah drone yang ia impikan, sementara Davina memeluk boneka yang bisa pup dan pipis, ia melempar boneka bear nya hingga mengenai Angelo


"Sayang kenapa bonekanya di buang?" tanya Angelo lembut


"Atu gak suka lagi, bau pipis atu, buat kakek buyut aja bial kalau kangen cium itu" ucapnya enteng lalu berjalan mendekati mamanya, sementara Ayudia pucat karena anak-anaknya menamparnya secara tak langsung


"Davina, ambil bear nya nanti mama cuci" ucap Ayudia malu


"Atu punya anak ma, cibuk, met malam mama" ucap Davina mencium mamanya dan semua orang di ruangan tersebut, tak terkecuali bodyguard yang membantunya mencari mainan


"Om tampan tunggu atu besar ya" ucapnya mengedipkan sebelah matanya


"Davinaaaa masuk" teriak Ayudia malu melihat kegenitan itu


"Ma aku juga pamit, aku juga" ucap Daffa dan Daffi


"Sayang, anakmu....


luar biasa" ucap Ernest kemudian karena tak tahu harus mengatakan apa


Sementara Ayudia hanya nyengir kuda dengan wajah memerah.


"Well, ceritakan semuanya. Khadijah belum memberikan aku detailnya, aku mau sekarang" ucap Angelo tak perduli waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat


Khadijah selalu membawa laptopnya, ia menyalahkan laptopnya, sementara Ayudia bercerita semua kejadian yang ia alami, kedua kakeknya terlihat sangat marah, bahkan Angelo sampai memukul meja di depannya


"Kek, ini sudah malam dan si kembar sudah tidur" ucap Ayudia memperingati orangtua itu


"Khadijah apa menantuku itu terlalu bodoh menjodohkan anaknya pada pria sembarangan yang bahkan tak menghargainya??? siapa dan dari keluarga mana??? aku ingin meratakan perusahaanya.


Kenapa papamu itu seperti hidup di jaman kuno??? apa pemikirannya se...


undang ia menemui ku besok!!!!!" geram Angelo membuat semua orang diam, hanya Ayudia yang tak mengerti perangai Angelo


"kakek, papa sedang di rawat"


"Aku tak perduli sekalipun pria itu tak bisa berjalan" ucap Angelo murka, Ayudia yang ingin protes, namun Khadijah menyentuh tangannya sambil menggeleng pelan


"Baik kek" ucap Ayudia lirih


Angelo tersenyum pus mendengar jawaban cucunya


"Ini foto suami cucu anda, dan ini besan anak nada" ucap Khadijah membuka file dalam flashdisk nya.


Angelo melotot dan menyemburkan minumannya karena terkejut


"Baj*Ng*n kec ini"


"Ya Tuhan jadi dia cucu menantuku???" ucap Ernest bahagia.


"Sayang, dia yang menyia-nyiakan cucu kita, bagaimana kamu bisa sebahagia itu????"


"Dan ini, adalah pria yang menjadi dalang di balik itu semua"


"Ini... Jacky, apa ini pria yang sama yang belum lama ini kita bekerjasama dengannya?" tanya Angelo memanggil Jacky


"Benar tuan"


"Aku ingin meratakan perusahaannya, kirim orang kita..."


"Kek, bisakah aku yang melakukan dengan caraku??? please????"ucap ayu memohon


"Baiklah, ku serahkan semuanya padamu, Khadijah atur pemindah Alihan perusahaan ku untuk cucuku tersayang, sekarang aku mau istirahat.


Jangan pernah memberi celah pada musuh mu untuk membalas walau sekecil apapun.


kakek percayakan padamu"


Angelo lalu mengajak Ernest tidur, setelah mencium kening cucunya Ernest an Angelo masuk ke kamar, sementara para bodyguard menunggu di luar rumah.


dokter Vidal pamit pulang, kini tinggal Ayudia bersama Khadijah yang masih duduk di ruang tamu


"Jangan takut, ada bibi dan juga kakek nenekmu, serta papamu , kami semua selalu mendukungmu.


Saatnya mereka semua merasakan pahitnya pembalasan!!!