(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Talak Tiga


Khadijah terus menggoda Ayudia hingga membuat wajah Ayudia memerah seperti tomat matang.


Baru ketika sampai depan ruang perawatan Adhi, mereka terdiam


"Jacky, tolong jaga ya, jangan ganggu kami ada urusan penting" ucap Khadijah yang di balas anggukan sopan Jacky


Ayudia dan Khadijah lalu masuk ke dalam ruangan, terlihat Adhi sedang berdiri menatap keluar.


Sepertinya ia melamun.


"Assalamu'alaikum pa"


"Wa'Alaikum salam sayang"jawab Adhi melihat putrinya datang dengan Khadijah


"Kok papa udah rapih aja? bukanya besok baru pulang?"


"Kakek mu meminta papa menemuinya, jadi sekalian papa pulang saja"


"Pa, tapi apa kondisi papa sudah baik?" tanya Ayudia khawatir


"Papamu sudah baik dengan cepat, karena melihatmu nak" jawab Khadijah tersenyum,


"Alhamdulillah, Ayu lega pa dengarnya" sujud sukur Ayudia dalam hati, Tak ada kegembiraan yang melebihi kegembiraanya saat tahu papanya sudah sembuh


Sementara di ruang rawat Baskoro


"Sebaiknya kalian pergi, aku bisa jaga papa sendiri" ucap Arjuna dingin


"Sayang, aku mau jaga papa, masa kamu ngusir aku sih?" rengek Aurel


"Aurellia, aku bisa jaga sendiri papaku, aku lelah" ucap Arjuna memejamkan matanya, ia sangat mala melihat dua wanita di depannya ini.


Beberapa waktu lalu ia ikut makan siang dengan mereka karena sebagai ucapan terima kasih karena sudah menjaga papa nya, dan kebetulan Arjuna belum makan sejak pagi, jadi ia memutuskan makan siang, tidak ada maksud apapun.


"Baiklah, kami pamit" ucap Lia, namun Arjuna tak berniat membalas, ia masih tetap memejamkan matanya


Dengan kesal Lia menyeret putrinya keluar, ia merasa tersinggung dengan sikap Arjuna.


Ia juga sudah ingin pulang mengompres pipinya yang sedikit bengkak karena di tampar pegawai Arjuna.


Arjuna terus saja menghela nafas mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Ia menyesali keputusannya makan dengan dua ibu dan anak itu, ia merasa khawatir dengan bagaimana tanggapan Ayudia.


di hatinya merasa bersalah, ia seperti kedapatan berselingkuh di depan istrinya.


Sementara Lia yang menarik anaknya keluar ruangan tersebut tak bisa menutupi kekesalannya.


Setelah agak jauh Lia melepaskan tangannya pada Aurel


"Mama apa-apaan sih, main tarik-tarik aja, sakit tahu" ucap Aurel memegangi tangannya yang di tarik Lia


"Kamu gak merasa aneh gitu??? sikap Arjuna.


walaupun mama tahu dia tak menyukaimu, namun statusmu tunangannya dan wanita tadi hanyalah karyawannya, namun begitu kamu menempel padanya, pria itu berusaha melepaskan mu setelah mendapat tatapan aneh dari wanita itu, apa...."


"Ih mama terlalu banyak berfikir, gak mungkin kan mas Arjuna merendahkan levelnya, masa dia suka sama cewek culun dengan wajah pas-pasan dan karyawan biasa" sangkal Aurel


"Udah deh ma, mama ngawur mungkin karena emosi tadi di tepar cewe sialan itu, kita harus membuat perhitungan sama dia" ucap Aurel tak terima mamanya di tampar oleh ayudia


"Mama rasanya pengen mencekik wanita itu sampai mati, kurang ajar banget, sayang ada bodyguardnya"


"Iya ma, aku kok jadi iri ya, itu cewe culun, jelek tapi katanya nona muda, MN bodyguardnya bule lagi


Apa jangan-jangan dia piaraan om-om ya???"


"Hahaha Aurel, Aurel kmu tuh ya, aneh aja.


mana mau om-om sama cewe begitu???


kalau modelnya kaya kamu mama baru percaya" ucap Lia cekikikan


"Aduh, arghhh sial sakit" ucap Lia mengelus wajahnya


"Kapok, mama sih jahat sama anak sendiri masa aku seperti piaraan om-om" ucap Aurel cemberut


"Maksud mama, yang cewe yang cantik, seger dan bahenol seperti body anak mama ini, baru Amna percaya.


Sudah lah kita keruangan papamu dulu, mama mau liat tua Bangka itu sedang apa.


Ah mama lama-lama stres liat pria itu"


"Loh perasan dulu mama bilang mama cinta sama pria itu??? mama amnesia ?"


"Anak durhaka, nanti setelah kau menikah, kau juga akan tahu.


Sebagai wanita kita butuh suami yang kaya untuk memenuhi kebutuhan kita, hidup nyaman dan tak kekurangan, selain itu kita juga punya kebutuhan di ranjang, seperti halnya pria, wanita juga butuh pelampiasan" ucap Lia tanpa malu mengatakan hal vulgar pada putrinya


"Ma, kau... sangat memalukan" ucap Aurel langsung meninggalkan mamanya


"Aurel, tunggu mama, aish dasar nak durhaka, di kasih ilmu malah kabur" sungut Lia mengejar putrinya ke ruangan Adhi, suaminya.


"Sayang kok berhenti?" tanya Lia dengan nafas tersengal


"Iii... itu ma, bodyguard yang tadi"ucap Aurel tergagap


"Mau apa mereka di ruangan papamu?"


"Papa tiri ma" ucap Aurel meralat


"Ah kamu protes aja, mau apa mereka??? apa mereka tahu jika itu kamar suami mama dan ingin mengadu???" ah mama sampai lupa, wanita itu kan pernah menjaga papa tiri mu" ucap Lia bertanya dan menjawab pertanyaannya sendiri membuat Aurel hanya menggeleng lemah


"Ayo kita kesana" ucap Aurel


"Di kamar papa juga bisa, mama jangan mencari alasan, apa mama takut??" ejek Aurel


"Apa kau tak takut? kalau begitu kau saja yang ke sana"


"Aku juga takut ma"ucap Aurel menyeringai membuat Lia tambah kesal


"Ayo kita berdua kesana, dosa ap aku punya anak tak berguna seperti kamu" Dengus Lia


"Anda tidak di perkenankan masuk" ucap Jacky menghalangi Lia dan putrinya


"Pasal apa aku gak bisa masuk??? di dalam sana, suami saya. Siapa anda melarang orang masuk????" ucap Lia emosi


Jacky tertegun, ia tak tahu jika orang yang di dalam ruang perawatan adalah suami wanita ini, ia bingung harus mengizinkan atau tidak


"Maaf, anda tetap gak bisa masuk" ucap Jacky menghalangi jalan Lia dan putrinya


"Kalian, aku akan memanggil pihak rumah sakit, kalian melanggar privasi orang lain" ucap Lia lalu menuju suster jaga, suster jaga juga membawa keamanan rumah sakit ikut bersama mereka,


Mendengar keributan di luar Ayudia dan Khadijah saling pandang


"Bi, sepertinya ada keributan, apa mama Lia menuju kesini???" tanya Ayudia sedikit panik, apalagi ia susah mengganti pakaiannya dan membuka penyamarannya, sebab dari rumah sakit mereka langsung menuju kediaman Angelo.


Tanpa persetujuan Ayudia membawa anak- anaknya dari rumah.


"Jangan khawatir, ada bibi dan juga papamu, Lia tak akan berani macam-macam.


Lagipula Jacky dan anak buahnya ada disini" ucap Khadijah menenangkan Ayudia


"Ayo kita keluar" ucap Khadijah menggandeng tangan Ayudia


"Papa ikut" ucap Adhi langsung mendampingi putrinya, mereka bertiga lalu keluar bersamaan.


"Apa yang kalian lakukan???" tanya Adhi dengan suara tegas dan berkarisma, sudah sekian lama ia diam, kali ini setelah tahu semuanya, ia sudah tak bisa mentolerir Lia lagi.


"Mas, mas mereka melarang ku menemuinya, mereka bahkan kasar padaku" adu Lia langsung menangis mendekati Adhi, belum sampai di dekat Adhi langkahnya membeku dengan bola mata melotot tak percaya


"Ka...kamu????, bagaimana mungkin??" ucap Lia lirih dengan suara bergetar, ia seperti melihat setan di tengah hari bolong


"Ya , saya kembali mama... Lia" ucap Ayudia sinis penuh kebencian.


"Kata....kamu ssssudah ma..mati, me..mengapa...????" liat kehilangan kata-kata


"Mamaku sayang, bukankah tidak ada yang pernah mengatakan aku mati, apa mama terkait dengan kasus menghilangnya aku??? atu mungkin anak tersayang mama Lia???" ucap Ayudia melirik Aurel.


Aurel gemetar ketakutan, ia sampai limbung fan terjatuh. Aurel sangat ketakutan!!!!


"Sepertinya anak tersayang mama tidak bisa menutupi ekspresi keterkejutannya, ah salah, dia seperti orang yang tertangkap basah melakukan kesalahan. bukan begitu kakak ku tersayang???" cap Ayudia sinis


"Ka..kau jangan memfitnahku" elak Aurel marah


"Biasanya reaksi orang yang bersalah akan menolak dan marah, ya seperti yang kamu lakukan sekarang" senyum sinis menghias wajah cantik Ayudia.


"PLAAAAKKKKKK"


"Selama ini mataku tertutup oleh mulut manis dan wajah iblis mu, aku tak menyangka justru membawa musang berbulu domba ke dalam keluargaku hingga putriku sendiri kau singkirkan.


Aku sungguh menyesal menikahi mu Lia, sangat menyesal. kau wanita ular, aku jijik melihatmu.


Mulai detik ini juga, aku talak tiga kau, dan tinggalkan kediamanku.


Aku akan mengurus surat cerai kita"


"Tidak,, tidak maaaaass, jangan ceraikan aku.


Aku mohon mas" teriak Lia sambil menangis histeris, namun Adhi tak perduli, ia menghempas tangan Lia yang berusaha menggapainya


"Pa, aku mohon jangan ceraikan mama, mama sangat mencintai papa" bela Aurel melihat mamanya menangis


"Mencintai saya??? dia cuma mencintai uang saya.


Jika dia mencintai saya, dia bisa mencintai putri semata wayang saya, tapi justru kalian menjebak dan mencelakainya.


Dan Buat kamu, saya sudah anggap kamu anak saya sendiri, tapi apa balasannya???


kamu bersekongkol membunuh anak saya.


Jangan pernah memanggil saya papa, karena saya bukan papa kamu.


Anak dan ibu sama-sama ular berkepala manusia, menjijikkan" Adhi sudah di batas kesabarannya mukanya merah padam karena marah


"Pa, sudah ayo kita pergi, jangan menghabiskan energi berbicara pada mereka" ajak Ayudia menggandeng tangan papanya dan meninggalkan tempat itu.


Lia berlari mengejar. Lia belum mendapat semua yang ia mau. Lia juga belum melimpahkan semua kekayaan Adhi pada dirinya, jika ia di usir, mereka mau tinggal di mana


"paaaa, maafkan saya, saya berjanji akan berubah pa..


papaaaaa" Adhi tak perduli ucapan Lia. Jacky dengan cekatan mencegah Lia mendekat, hingga pintu lift tertutup.


Ayudia memandang iba papanya, ada guratan kesedihan dan kecewa di wajah papanya


"Pa, apa papa....."


"Jangan membahas itu, papa menceraikan dia karena kami sudah tak cocok.


setelah kami cerai, balas kan apa yang pernah ia perbuat dulu padamu, jangan pernah kasih ampun siapapun yang pernah menyakitimu"


"Baa..baik pa" ucap Ayudia lirih.


Ayudia memilih diam, ia tahu saat ini perasaan Adhi campur aduk dan ia tak mau menambah beban pikiran putrinya