
"Atu kalau sakit nangis, nenek udah gak sakit lagi??? tanya Davina polos dengan suaranya yang imut membuat Ratna gemas.
Rupanya Davina mengira ia menangis karena sakit, imutnya anak ini
"Hanya kau saja yang cengeng" ucap Daffa yang di angguki Daffi
"Mereka????"Willy menatap kedua anak kembar di depan mereka, wajah Willy terlihat amat terkejut hingga tak mampu meneruskan kalimatnya.
Ia memang tahu ada tiga anak,.namun tak begitu memperhatikan wajah mereka.
Kini setelah melihat dengan jelas, mau tak tau Willy di buat melongo dengan suara tercekat di tenggorokan
"Mereka anak-anak Kak Ayu" ucap William yang tahu adiknya terkejut.
Willy menatap kakaknya seolah mencari kebenaran disana.
Seperti dirinya yang pertama kali melihat si kembar Daffa Daffi. Jika saja Davina adalah laki-laki juga, ia juga pasti akan lebih sulit membedakan mereka.
"Anak Arjuna dengan kak Ayu" ucap William menambhakan
"Bagaimana bisa????" ucap Willy lirih
"Dia wanita yang sama yang kita cari malam itu, dan ternyata wanita yang sama yang menikah dengan Arjuna.
Betapa takdir sangat hebat bermain di kehidupan kita" ucap William sok puitis, namun lagi-lagi Willy mengangguk membenarkan ucapan kakaknya.
Ya Takdir unik yang mengikat Arjuna dan istrinya.
Arjuna tak menyentuhnya saat mereka menikah, justru anak itu hasil kecelakaan malam itu.
"Kenapa ada dua om mesum di rumah kita ma??" tanya Daffa membuat Willy terbatuk-batuk di buatnya karena mendengar ucapan tajam anak Ayudia
"Daffaaaa" teriak Ayu memperingati putranya
"Maaf ma" ucap Daffa langsung menunduk diam.
William jadi tahu walau kedua bocah rese ini nakal dan usil, namun mereka saat taat pada mama mereka.
"Ayo Salim sama om Willy.
Om Willy ini adik papa juga, jadi kalian panggil om pada beliau, mengerti" ucap Jovanka yang di balas anggukan ketiga anaknya
"Owh ya om bawakan makanan kan, ayo di buka" ucap William membuat si kecil Davina bersorak senang, sementara dua bocah laki-laki itu hanya mengikuti William.
Begitu dua kue di buka, ketiganya langsung berbinar menatap cake coklat kesukaan mereka.
" Huh dasar anak-anak sok tua, begitu melihat kue kesukaan ya mereka jadi lupa jaga image" ucap William tertawa jahat dalam hati.
Willy hanya menatap dari kejauhan, ia masih belum percaya bahwa Arjuna punya tiga anak kembar, namun sifat anak laki-lakinya mengapa tak ada bedanya dengan Arjuna???? Willy semakin yakin pepatah yang mengatakan, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, kecuali di bawa kelelawar.
Jelas-jelas kedua anak mirip Arjuna itu masih bau kencur namun perkataannya seperti Arjuna pedas menyakitkan.
Willy jadi bergidik ngeri, bagaimana jika mereka besar nanti, satu iblis sudah sering menyiksanya, kini di tambah dua iblis kecil yang terlihat menggemaskan sekaligus menakutkan.
"Yang agak gemuk Daffi, anak kedua .
yang terlihat tegas itu Daffa anak pertama, sementra si cantik imut bernama Davina" ucap Ratna menerangkan pada Willy
"Apa mereka selalu seperti itu ma, maksud aku apa mereka sangat menyebalkan???"
"Hus, mereka ponakan mu, namanya juga anak-anak, masa kamu mu ambil hati" ucap Ratna tertawa kecil.
Sementara keduanya melihat Jovanka sedang memotong cake untuk anak-anaknya.
"Apa selama ini kamu hidup dengan baik nak?? mama baru tahu jika Ratih menghilang tak lama setelah mama kecelakaan.
Maafkan mama yang tak mengingat apapun"ucap Ratna serah seperti ingin menangis lagi
Kami masih terus mencari keberadaan mama Ratih, kami yakin suatu saat akan bertemu dengan beliau" ucap Willy penuh keyakinan.
Sebuah mobil memasuki pekarangan, dan tak lama kemudian, seorang pria tampan keluar dari mobil, diikuti seseorang wanita cantik dengan dua orang gadis kecil, mereka kembar juga.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'Alaikum salam" jawab semua orang
"Oma, Oma" teriak gadis kecil itu berlari kearah Ratna, Ratna membentangkan tangannya memeluk kedua cucunya
"Loh lagi rame ini, ada acara apa??" tanya Samuel mencium tangan mamanya
"Enggak ada acara apa-apa, cuma kumpul aja.
Owh ya nak, kenalkan ini Willy adik William anak mama" ucap Ratna memperkenalkan Willy
"Ma..maksud mama a...aaaapa???"
"Mama sudah mengingatnya walau belum semuanya nak.
Tak akan ada yang berubah, kamu tetap anak mama selamanya, terima kasih sudah merawat mama selama.ini nak, jika tak dan kamu, entah bagaimana nasib mama" Ratna memeluk Samuel dan menangis tersedu-sedu
"Mama , Sam kan anak mama, jadi gak perlu mama mengucap terima kasih, karena sudah tugas seorang anak merawat dan melindungi mamanya"
"Samuel, maaf kan mama yang selalu merepotkan kamu dan istrimu, mama sayang kalian" ucap Ratna memeluk ketiga anaknya.
Anabel meneteskan air matanya, ia baru beberapa waktu lalu di ceritakan oleh suaminya siapa Bu Ratna sebenarnya, ia menyayangi mertuanya seperti orangtua kandungnya sendiri, hanya saja profesinya sebagai dokter membuat ia tak punya banyak waktu untuk mengunjungi mertuanya serta letak kota mereka yang berbeda membuat keduanya jarang mengunjungi Ratna.
Samuel meminta istri dan anak-anaknya tinggal di rumah Ratna, ia juga akan memindahkan kliniknya di daerah dekat rumah mamanya agar ia bisa mengontrol mamanya sesering mungkin.
"Anabel" ucap Bu Ratna merentangkan tangannya pada mantu kesayangannya
"Mama maafin Ana jarang menjenguk mama. tapi kami sudah memutuskan, Minggu depan kami pindah kesini, jika mama berkenan"
"Tentu, tentu saja mama sangat mendukung, rumah ini semakin ramai karena ada kalian"
"Om ganteng" sapa Davina menghampiri Samuel membuat Samuel tersenyum lebar
"Davina om bawa anak om buat temen main Davina , namanya kak Sasa dan kak Sisi bagaimana Davina suka???"
"Hole, atu suka" ucapnya meloncat kegirangan
"Sasa, Sisi, ayo kenalan sama adiknya" ucap Samuel, kedua anak kembar itu saling berjabat tangan.
Sementara Daffa dan Daffi nampak memperhatikan anak Samuel dengan wajah bersemu merah
"Rupanya kedua anak kecil itu menyukai anak perempuan Samuel, bisa-bisanya mereka memasang wajah malu-malu begitu, ckckck" gumam William menatap kedua ponakannya
"Daffa, Daffi, sini kenalkan saudari kalian" panggil William membuat kedua bocah itu tersentak dan langsung membuang pandangannya malu-malu
"Sudah sini gak usah malu-malu kucing" panggil William dengan senyum licik membuat keduanya sebal
"Dengan wajah tak mau menatap William keduanya mendekat dengan wajah diangkat, lalu berjongkok di depan Sasa dan Sisi, mencium ke dua punggung tangan bocah kecil yang hanya berbeda setahun dari Daffa dan Daffi
"Sasa dan Sisi tersenyum senang dengan wajah merona merah karena kelakuan Daffa dan Daffi
"Astaga, dari mana bocah iblis ini punya cara yang norak berkenalan dengan cewek??? Jovanka, apa dia anakmu, dari mana dia belajar seperti ini???" protes William tak habis pikir, sementara Jovanka menutup wajahnya malu katena kelakuan dua putra kembarnya
"Dali mama dan papa Adrian" ucap Davina membuat semua mata bingung, siapa Adrian???
"Adrian pria yang menolong Jovanka" ucap Ratna , karena melihat Jovanka bersemu merah karena malu
"Anak nakal, kalian mengintip mama dengan papa Adrian, awas saja mama akan hukum kalian" pekik jovanka langsung masuk ke dalam kamarnya
"Maaa, ampuuunnn" Teriak ketiganya membayangkan hukuman yang akan mereka terima, sementara semua orang hanya bisa tertawa