(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Tak Ada Kabar


Willy sudah melaporkan perubahan rencana pada Baskoro dan William, mereka merasa tak tenang karena hanya ada Susan di sisi Jovanka, namun tak bisa berbuat banyak, berharap saja Jovanka tidak melakukan kesalahan.


Disinilah mereka sejak pagi tadi selepas sarapan, melakukan meeting alot dengan team arsitek dan beberapa orang yang terkait dengan proyek pembuatan resort.


Beberapa pasang mat melihat Jovanka dengan pandangan tidak senang, mereka menduga jovanka lah yang membuat si bos berubah pikiran, walau mereka akui jika ide dari wanita itu sangat segar dan bagus namun mereka harus merombak dan menyesuaikan beberapa detail yang sudah setengah jalan.


Akhirnya setelah meeting Maraton yang melelahkan, di putuskan hanya bagian yang mengarah ke laut dan tebing yang kan di buat sesuai konsep baru, sisanya ada di sesuaikan namun tidak merubah yang sudah ada.


Jovanka merasa kepalanya berdenyut karena ia harus berfikir keras dan mendengar perdebatan sengit antara beberapa orang yang terlibat.


saking alotnya jalan meeting hingga mereka melupakan makan siang mereka, tak terkecuali Jovanka yang sudah merasakan tak enak di bagian perut serta kepalanya sangat sakit, sialnya maag akut nya kambuh karena sejak semalam ia kurang tidur, minum kopi dan makan tak teratur, Jovanka tumbang tak sadar kan diri.


Sementara di kediaman Bu Ratna


Bu Ratna sedang menenangkan si kembar yang mulai rewel menanyakan ibu mereka, pasalnya ponsel Jovanka tidak bisa di hubungi.


William dan Willy belum juga kembali dan keduanya juga tak bisa di hubungi entah mengapa secara bersamaan ponsel mereka tidak aktif!!!


Bu Ratna sangat panik mengetahui kenyataan bahwa kedua putranya dan Jovanka tidak bisa di hubungi, ia sangat khawatir terjadi sesuatu pada mereka, Bu Ratna berusaha tegar, ia langsung mendatangi rumah Samuel di sayap kanan untuk memberitahu prihal tersebut.


Nyatanya di rumah hanya ada Anabel dan kedua putri mereka, sementara Samuel sedang dinas keluar kota, Bu Ratna lupa jika Samuel pagi tadi pamit padanya.


"Ma, mama tenangkan diri dulu, kalau mama panik si kembar akan lebih panik, aku akan coba hubungi mas Samuel segera" ucap Anabel berusaha menenangkan mama mertuanya


Anabel langsung menghubungi Samuel, sialnya Samuel men silent ponselnya sehingga panggilan telepon Anabel tidak ia dengar


"Ma, mama tunggu di dalam, mas Samuel lagi di jalan jadi tidak bisa mengangkat telepon"


"Bell, mama takut terjadi sesuatu pada mereka"


"Mama jangan berfikiran buruk, kita doakan saja mereka baik-baik saja, kita masuk ke dalam saja ma, kasian anak-anak Jovanka di tinggal sendirian.


Kakak, adik ayo kerumah Oma" teriak Anabel memanggil kedua anak kembarnya.


mereka lalu menuju rumah utama, terlihat ketiga anak Jovanka sedang sedih, mereka duduk sambil menyangga dagu mereka di meja


"Nenek, apa mama belum ada kabar??" tanya Daffi menghampiri Ratna


"Sayang, mama kalian ternyata masih harus kerja, tadi mama Anabel. sudah hubungi mama kalian, tapi ponselnya lowbat, sekarang lebih baik kalian bersiap tidur, mama Anabel akan menemani kalian" ucap Anabel tersenyum lembut.


Daffa dan Daffi masuk ke dalam kamarnya dengan. malas, sementara Davina dalam gendongan Anabel, setelah melihat kedua bocah laki-laki kecil itu naik ke kasur.


Sementara Anabel membawa Davina ke kamarnya dan meminta kedua putrinya juga naik, Davina sudah melupakan kesedihannya karena ada Sasa dan Sisi


menemaninya tidur.


hingga akhirnya Davina dan kedua anak kembar Anabel tidur.


Ponsel berdering membuat Anabel buru-buru keluar kamar, ternyata Samuel yang menelpon


"Assalamu'alaikum pa"


"Wa'Alaikum salam ma, ada apa telepon papa??" tanya Samuel di ujung telepon


"Pa, mama khawatir karena Jovanka ponselnya tidak aktif, seharusnya mereka kembali hari ini, namun baik jovanka, Willy dan William semua tidak bisa di hubungi. mama tadi histeris menangis"


"Papa akan kembali malam ini juga" ucap Samuel kemudian


"Tapi pa, papa mungkin baru sampai tadi siang, bagaimana urusan papa??"


"Biar asisten papa yang urus. mama tolong bantu hibur mama Ratna ya, papa akan cari penerbangan malam ini, ya udah papa jalan dulu, assalamu'alaikum”


"Wa'Alaikum salam pa, hati-hati di jalan" ucap Anabelle mengakhiri panggilan teleponnya


"Bagaimana nak??? apa Sam bisa membantu mencari tahu???" tanya Ratna penuh harap


"Ya Allah, aku jadi menyusahkan putraku yang lain" desah Ratna merasa bersalah


"Ma, mama gak perlu merasa bersalah.


Sekarang mama mending istirahat ya" Anabel menuntun mertuanya ke kamar, ia membantu Ratna berbaring di tempat tidurnya, setelah itu Anabel keluar dari kamar Ratna


Anabel ingat jika William memberikan kartu namanya, ia lalu berlari ke rumahnya dan mencari kartu nama William, beruntung ia menaruh nya di dompet dan langsung menghubungi nomor yang tertera di kartu nama tersebut.


"Hallo, William???"


"Ya, dengan siapa saya bicara??"


"Anabel istri Samuel"


"Owh kak Anabel, ada apa ya kak??"


"Will, Jo sama adikmu tidak bisa di hubungi" ucap Anabel terdengar khawatir


"Willy siang tadi sampai dan langsung meeting, kakao kak Jo masih di resort mungkin besok atau lusa baru pulang, apa gak mengabari??"


"Tolong pinta Jo telepon rumah, mama terlihat sangat khawatir, beliau menangis histeris karena kalian bertiga ponselnya tidak aktif"


"Baik kak, terima kasih, nanti William kasih kabar mengenai Jo"


"Baik, kal.begitu kakak matikan teleponnya" Anabel mengakhiri panggilannya, ia lalu mencoba menghubungi Jovanka, masih sama belum aktif.


Sementara di sebuah rumah sakit di Bali


Susan nampak sedang menunggui Jovanka yang masih belum sadarkan diri, sementara Arjuna sedang menebus obat untuk Jovanka


Beberapa.menit lalu William menghubunginya, i baru sadar jika ponsel Jovanka mati total, ia juga memberitahu William jika Jovanka kini sedang di rawat di rumah sakit, sehingga mungkin beberapa hari baru bisa kembali ke Jakarta. William langsung menyuruh adiknya ke rumah mama mereka untuk menenangkan mamanya dan juga ketiga anak Jovanka.


Berkali-kali Susan meminta maaf karena lupa mengabari, akibat keteledorannya membuat panik semua orang, dan secara kebetulan ketiga orang tersebut tidak bisa di hubungi.


Baskoro yang mendengar anak menantunya sakit langsung menyuruh William malam itu juga menuju resort yang mereka bangun.


# Keesokan paginya


Daffa, Daffi dan Davina bangun dengan tidak semangat, mereka terlihat lesu. Saat Willy mengantar mereka ke sekolahpun mereka tidak antusias dan cerewet seperti biasanya.


Mauren yang melihat kedatangan si kembar langsung berlari kecil menghampiri mereka.


"Davina kenapa kedua wajah tampan kakakmu di tekuk??" tanya Mauren yang langsung mendapat penolakan dari kedua pria tampan kecilnya


"Itu, mama kami hilang" ucap Davina menyimpulkan


"Apa perlu kita cari??" usul Mauren , Daffa dan Daffi saling pandang dan mengangkat bahu bersamaan


"Dav-dav, aku pikir sebaiknya kalian melihat ke kantor mama kalian, aku yakin mereka tahu dimana mama kalian" tambah Mauren


Daffa dan Daffi saling pandang, mereka untuk pertama kalinya setuju dengan pemikiran Mauren, mereka tak menyangka gadis bodoh ini bisa pintar juga.


"Tapi kita sedang sekolah, pintu gerbang sudah tutup" tunjuk Davina pada pintu gerbang sekolah


"Aku tahu jalan rahasia, Milo sering melewatinya"


"Siapa Milo???" tanya mereka bertiga serentak


"Itu" tunjuk Mauren pada seekor anjing berwarna coklat tua


"Dia??? " ucap Daffa dan Daffi serentak.


Mauren dengan santai mengangguk sambil tersenyum bangga