
Bu Ratna terlihat sedih melihat Ayudia yang sedang merapihkan barang-barangnya di bantu oleh Khadijah dan beberapa anak Buha Angelo serta beberapa bodyguard yang juga ikut membantu kepindahan Ayudia.
Ayudia juga sebenarnya sangat kerasan tinggal di kediaman Ratna, namun mengetahui jika ia dan anaknya akan dalam bahaya, Ayudia tak mau ambil resiko, apalagi menyangkut ketiga buah hatinya.
Tak banyak yang Ayu bawa, bahkan beberapa barang sengaja ia tinggal,
"Ibu pasti akan merindukan kalian" ucap Ratna sedih
"Kami juga akan merindukan nenek" ucap Daffa, Daffi dan Davina memeluk Ratna
Selamanya bagi mereka Ratna adalah nenek mereka.
Nenek yang pertama kali memberi kasih sayang tulus setelah mamanya. dan untuk pertama kalinya mereka memiliki seorang nenek, nenek Ratna.
"Nek, kami akan sering-sering menjenguk nenek, nenek jangan sedih.
Lagipula nenek bisa video call dengan kami" ucap Daffa sambil menghapus air mata di pipi Ratna
"Atu juga nanti telepon nenek" ucap Davina menimpali
"Nek, ini buat nenek. Kami akan selalu merindukan nenek" ucap Daffi menghapus air matanya, melihat Daffi menangis sambil menyerahkan sebuah bingkai foto di mana foto mereka serta Bu Ratna yang diambil beberapa Minggu lalu.
"Ini buat nenek??" tanya Ratna memeluk pigura foto yang di berikan Daffi.
dan album foto berisi foto keseharian mereka
"Makasih anak-anak. Nenek sayang kalian.
nenek pasti akan sangat merindukan kalian"
"Atu juga Lindu nenek" ucap Davina ikutan menangis memeluk Ratna diikuti Daffi.
"Kalian cengeng sekali, kita kan gak pergi jauh" ucap Daffa, melihat kedua saudaranya menangis ia juga ikutan menangis memeluk Ratna
"Kakak juga nangis huhuhu" ucap Davina membuat Ratna menangis sambil tertawa melihat kelucuan si kembar, besok rumah ini sepi kembali, tak ada tawa canda si kembar.
Bahkan Ratna tak tahu ap yang harus ia lakukan siang hari hingga menjelang malam nanti saat mereka sudah pindah
Biasanya Ratna sibuk memasak makanan dan cemilan untuk mereka bertiga, namun kini mereka akan di bawa pindah, ada rasa kehilangan dan hampa di hati Ratna
"Atu bakal Lindu kue nenek huhuhu" ucap Davina
"Kau sedih masih ingat makanan, dasar gendut" ucap Daffa menggelengkan kepalanya heran pada adik bungsunya
"Bu, ibu jangan sedih.
Jo janji akan sering-sering berkunjung dengan anak-anak.
jika ibu rindu, Jo akan bawa anak-anak untuk menginap disini.
atau ibu bisa mengunjungi mereka.
Tawaran Jo masih berlaku buat ibu. Kami akan semangat sekali jika ibu mau ikut tinggal dengan kami"
ucap Jovanka yang melihat ketiga anaknya memeluk Ratna sambil menangis
"Ibu tak bisa meninggalkan rumah ini nak,
sering-seringlah mengunjungi wanita tua ini" ucap Ratna sedih
"Tentu Bu, kami akan sering mengunjungi ibu" ucap Ayudia memeluk Ratna.
Setelah drama menangis sedih, akhirnya Ayudia dan Khadijah serta si kembar kembali ke kediaman,, selama perjalanan ketiganya terlihat sedih dan lesu.
Khadijah mengatakan sesuatu pada supir, lalu mobil berbelok arah , tak menuju kediaman angelo
"Ma, mau kemana kita?" tanya Ayudia
"Tuh, gak ada salahnya kita refreshing sejenak, menaikkan mood mereka" ucap Khadijah menatap ketiga cucunya dari balik kaca spion mobil.
Akhirnya mobil mereka berhenti di sebuah mall, sementara mobil yang mengakut barang-barang Ayudia tetap melanjutkan perjalanan mereka ke rumah
Pintu mobil di buka oleh supir keluarga, sementara pintu Ayudia dan sisi sebelahnya di buka oleh dua bodyguard yang mengikuti mereka, Ayudia merasa sedikit canggung. Bagaimanapun ia biasa mandiri dan melakukan semuanya, kini anak-anak sudah ada yang melayani.
Si kembar masih duduk di dalam mobil, ketiganya menunduk lesu
"Kok gak turun sayang?" tanya Ayu melihat ketiga anaknya tak bersemangat, bahkan setelah pintu mobil di buka, mereka tak mau turun hanya menoleh sekilas.
"Nenek mau ajak kalian makan ayam kriuk, kriuk, sama ice cream, nenek kira kalian akan senang* ucap Khadijah sedih
"Atu mau" teriak Davina bahkan menginjak kaki Daffi
"Dasar gendut, pikiranmu hanya makan sampai kau injak kakiku" Dengus Daffi kesal
"Maaf kak Daffi" ucap Davina memasang wajah bersalah
"Aku mau, kebetulan aku lapar" ucap Daffa langsung loncat turun. Melihat kedua saudaranya turun mau tak mau Daffi ikut turun dari dalam mobil,
Mereka lalu menuju sebuah rumah makan cepat saji, memesan beberapa ayam dan kentang, setelah itu mereka makan ice cream dan di teruskan bermain di wahan bermain yang berada di mall tersebut.
wajah mereka yang awalnya lesu, kini terlihat berbinar senang, walau akhirnya mereka kelelahan dan tertidur di mobil.
Hari ini merupakan hari pertama Ayudia bekerja di perusahaanya sendiri, ia terlihat gugup.
walau ia memiliki pengalaman, namun posisinya berbeda, ia kini menjadi CEO perusahaan mendiang mamanya
Sebuah mobil sudah di siapkan oleh Angelo untuk cucu tersayangnya, sementra khadijah mengendarai sendiri mobilnya menuju kantor
Ayudia bersikeras walau sudah hidup serba kecukupan ia tak akan mau melepas tanggung jawab mengantar ketiga buah hatinya sekolah, saat ia memang ada waktu.
Si kembar lalu naik ke dalam mobil, duduk di kursi penumpang, sementara Ayudia mengendarai mobilnya sendiri di ikuti oleh bodyguardnya yang menaiki mobil di belakangnya.
Saat ini statusnya rumit dan ia tak nyaman jika harus semobil dengan orang asing, sehingga Angelo mengizinkannya mengendarai mobilnya sendiri berangkat kerja, namun masalah pengawalan ia tak boleh protes, dua mobil membuntuti mereka, sementara satu mobil berisi dua bodyguard tinggal di sekolahan dan satu mobil lagi yang berisi Jacky dan Sean mengikuti Ayudia ke kantor.
Saat Ayudia keluar dari dalam mobil, Jacky dengan sopan membuka pintu mobil Ayudia,terlihat aneh karena ia sendiri yang mengendarainya, seorang security menunduk hormat menyambutnya
"Selamat datang Bu Ayu" ucap security tersebut,
Ayudia mengangguk sambil tersenyum
Khadijah bersama beberapa direksi dan kepala bagian masing-maisng divisi di perusahaan menyambut Ayudia di depan pintu sementara semua pegawai berbaris menyambut datangnya pemilik perusahaan .
Nampak seseorang langsung menghentikan langkahnya, wajahnya pucat pasi.
Selama ini Khadijah hanya ke perusahaan sesekali, itupun tak ada yang tahu siapa dia, karena urusan perusahaan ia serahkan pada asistennya, semua orang tahu jika pak Dani lah pemilik perusahaan.
Ayudia berjalan mendekat, menyalami satu persatu staf nya dan tibalah ia di depan manager keuangan, yang terus menunduk, senyum lebar menghias wajahnya
"Sepertinya dunia memang sempit, kita berjumpa di sini kakakku sayang" ucap Ayudia mencibir
"Se...selamat datang Ayu, maksud saya Bu Ayu" ucap wanita tersebut yang ternyata adalah Aurell
Khadijah yang tak memperhatikan staf nya, matanya langsung membuat terkejut.
Senyum langsung tersungging di bibir wanita paruh baya itu.
"Astaga, mama sampai tidak melihatnya, apa dia kakak tirinya, ah maksud mama mantan kakak tiri mu" ucap Khadijah melirik dengan mata meremehkan
Bisik-bisik mulai terdengar di antara para karyawan, terlihat wajah Aurel memerah karena malu.
Setelah selesai berkenalan dengan para pegawainya.
Mereka lalu mengadakan rapat yang merupakan laporan resmi para direksi dan kepala bagian pada Ayudia, setelah selesai, mereka satu persatu meninggalkan ruangan setelah Ayudia dan Khadijah keluar dari ruangan tersebut.
Seorang sekertaris mendatangi Aurellia, ia baru saja menghubungi mamanya memberitahu ap yang terjadi di perusahaan, walau tak percaya itulah kenyataanya.
Aurel awalnya di perusahaan di hormati karena putri Adhi, pemilik perusahaan, namun begitu Ayudia datang, semua orang mencemoohnya, semua karena kelakuannya sendiri yang angkuh dan sok kuasa.
Ditambah lagi ternyata posisi Khadijah adalah wakil direktur, pantas aja ia tak pernah melihat Khadijah di kantor, karena ia memang tak pernah ke kantor, kalaupun ia datang, Khadijah hanya mengunjungi Dani lalu langsung pulang kembali ke kesehariannya yang sederhana.
Tok tok tok
"Masuk" ucap Ayudia
"Aurel mengambil nafas panjang lalu ia membuka pintu ruangan tersebut, nampak di sana ada pak Dani yang merupakan direktur sebelumnya, lalu Khadijah dan Ayudia
"Duduklah" ucap Ayu tanpa menoleh
"Pak Dani, apa dia manager keuangannya???" tanya Ayudia melirik ke arah Aurel
"Benar Bu, Aurel adalah manager keuangan nya"
"Baiklah, laporan keuangan tiga tahun sebelumnya, saya mau laporan itu di meja saya hari ini juga" ucap Ayudia
Aurel membulatkan matanya, Ia tak percaya Ayudia bergegas cepat mengerjainya di hari pertama ia menjabat sebagai CEO
"Laporan keuangan tiga bulan sebelumnya? meminta sehari??? apa dia sedang membalas dendam.
Dasar p*l*c*r" maki Aurel dalam hati
"Kenapa wajahmu? apa kau tidak mau???" tanya Ayu memicingkan matanya
"Bu..bukan, bisakah kamu, maksud saya Bu Ayu memberi kelonggaran waktu, ini...."
"Apa anda tidak bisa menyelesaikannya dalam satu hari??? bukankah itu pekerjaan yang mudah?"
"Tidak, tidak, baik saya akan selesaikan" Aurel mengepalkan tangannya menahan amarah,
"Baiklah, sekarang anda bisa kembali" ucap Khadijah menyunggingkan senyum mengejek
Selama tujuh tahun sejak Ayudia menghilang BI Ijah masih bertahan di kediaman Ayu berharap Ayudia kembali.
Ibu dan anak itu memperlakukannya sangat buruk, bahkan tak segan mengangkat tangan selain caci dan maki.
Aurel kembali ke ruangannya dengan dada bergemuruh karena kesal.
"Aku ingin membunuhmu Ayudia, seharusnya kau mati saja, kau mengacaukan segalanya.
Aku bisa saja kalah di perusahaan, tapi masalah mas Arjuna, aku tak akan pernah melepaskan mu begitu saja" geram Aurel menghentakkan kakinya