
Si kembar saling berebutan di layar ponsel saat mamanya menelpon, Mereka sedang melakukan video call dengan mamanya dan Sebastian.
mereka sangat khawatir dengan keadaan Sebastian, bahkan Daffa yang biasanya cuek terlihat sangat sedih
"Om Tian Kami semua sedih melihat om kemarin.
Om cepat sembuh ya, kalau om sedih dan butuh teman, om bisa mengajak kami main, ya kan Daffi??"
"Iya om, kami berdua akan membuat om tertawa dan melupakan ke kesedihan om" ucap Daffi menambahkan
mendengar kalimat sederhana kedua keponakanya, hatinya terasa hangat,
"Aku juga mau bermain dengan om.
Om lain kali ajak aku ke studio om, kita buat band, kak Daffa dan kak Daffi sama om Tian yang mainkan alat musik, aku yang akan menjadi vokalisnya lain kali" ucap Davina yang tahu jika kedua kakaknya belajar alat musik. Alih-alih belajar alat musik, Davina lebih suka jika ia yang menjadi Penyanyinya. Bukankah sebuah group band ga lengkap tanpa vokalis??? begitu pemikiran Davina, walau beberapa
"Enggaaaaaakkkk"Teriak Daffa dan Daffi horor
mereka masih menyayangi genderang telinga mereka, sebab suara Davina lebih mirip tikus tergencet, melengking dan buat hati miris.
Sebagian tertawa lepas, ia melihat ketiga keponakannya yang sangat lucu dan menggemaskan.
"Baik, om jadi semangat sembuh.
Kalian tunggu om pulang ya" ucap Sebagian membuat ketiganya meloncat-loncat lalu
"Gubrakkk"
Daffa dan Daffi terjatuh saling menindih, dan ponselnya tergeletak di samping mereka.
Davina segera mengambilnya
"Anak muda, bukankah hukum karma itu sakit???" ejek Davina tertawa senang.
Mau tak mau awalnya Sebastian dan Ayudia yang khawatir jadi tertawa mendengar ucapan Davina.
Ia terdengar seperti orangtua yang memarahi anak kecil
"Sayang, tidak kah kau mau membantu kedua saudaramu, mengapa kau hanya menertawainya?
"Mereka pantas mendapatkannya!!!" ucap Davina tersenyum puas
Ayudia hanya menggeleng pelan sementara Sebastian masih tertawa.
"Sudah dulu ya anak-anak, om mau istirahat, Assalamu'alaikum"
"Cepet sembuh om Tian, we love you wa"Alaikum salma" ucap si kembar serempak
"Lope u too anak-anak" ucap Tian melambaikan tangan, panggilan berakhir
"Sepertinya kondisimu sudah lebih baik" ucap Arjuna yang terbangun karena mendengar tawa Tian dan istrinya.
Sebastian langsung terdiam, ia serba salah kedapatan tertawa setelah membuat semua khawatir karena tindakan nekadnya
"Kak Arjun" ucap Tian lirih
"Gimana kabarmu jagoan" ucap Arjuna menepuk bahu adiknya
"Lebih baik kak, makna Tian kak"
"Lupakan, jangan lakukan lagi kedepannya kau harus memikirkan semua tindakanmu.
Setiap apa yang akan kamu lakukan, berpengaruh pada orang di sekitarmu.
Kakak tidak akan memarahi mu, karena kakak tahu kamu menyadari kesalahanmu, tapi satu hal yang akan kakak katakan padamu,
Kamu tidak sendirian, ada kami saudara dan saudarimu.
Kami menyayangi kamu dan perduli denganmu" ucap Arjuna tegas
"Terima kasih kak,"
"Lihat saja, anak-anakmu sangat menyayangimu, mereka menangis saat melihatmu di bawa ambulance" ucap Arjuna menambah kan.
Tiba-tiba Baskoro datang di dorong oleh Wily masuk ke dalam ruang perawatan, Tian menundukkan kepala tak berani menatap papanya
"Anak bodoh, apa kau tahu, kau sudah membuat papa serangan jantung" ucap Baskoro memeluk putra bungsunya
"Maafkan Tian pa," ucap Sebastian menitikkan air amat, ia merasa sangat berdosa pada papanya
"Jangan lakukan lagi, apa kau pikir papa bisa hidup jika terjadi sesuatu pada anak-anak papa?"
"Sudah-sudah yang terpenting Sebagian sudah menyadari Kesalahannya dan menurut dokter dua hari lagi ia sudah bisa kembali kerumah" ucap Ayudia membuat semua orang lega.
Baskoro memaksa keluar dari rumah sakit,,Ia tak betah berada lama di rumah sakit.
Namun begitu Baskoro mendengar Ratna akan datang menjenguk, ia urung pulang, semua orang hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku kakek-kakek yang sedang puber itu.
"Apa papa gak jadi pulang karena pujaan hati mau datang?" tanya Arjuna tanpa Tedeng aling-aling membuat Baskoro melotot malu
"Siapa bilang, papa masih kurang enak badan, jadi papa memutuskan berada di sini beberapa hari lagi" ucap Baskoro beralibi.
"Pujaan hati, pujaan hati...., pujaan hati...
mengapa kau tak membalas cintaku,
mengapa engkau abaikan rasaku...
mungkinkah......." Sedang asyik-asyiknya Arjuna meledek papanya dengan lagu pujaan hatinya kangen band
Tiba-tiba...
"Bugh"
Bantal melayang mengenai kepala Arjuna membuat nyanyian Arjuna berhenti
"Kutuk di jadi monyet pa" teriak William senang.
"Kau tuh yang di kutuk jadi monyet, enak aja.
Nanti istriku yang cantik ilfil sama daku"
"Aku saja sekarang ilfil" ucap Ayudia malu lalu berjalan keluar dari ruang perawatan Baskoro, papa mertuanya
"Adinda, tunggu kanda, jangan tinggalkan kau, hatiku hampa tanpamu" teriak Arjuna membuat semua orang tertawa
"Koplak, Anak sama bapak sama aja,aku baru tahu gen siapa yang kuat dalam dirimu mas" Dengus Ayudia kesal
Vera yang sedang berbincang dengan adiknya mengerutkan alisnya begitu melihat Ayudia masuk sambil mengomel, di ikuti Arjuna
"Dinda, tunggu kakanda" ucap Arjun masih saja mengerjai istrinya
"Ngomong lagi, belum pernah kelilipan sendal jepit ya" ucap ayudia melotot
"Lihat Ayudia kalian, betapa cantik ya kalau ia marah"
Vera dan Tian menepuk jidatnya mendengar ucapan Arjuna
"Kak, bisakah merayunya pake cara anak muda jaman sekarang, kalau kakak begitu, kakak terlihat seumuran dengan papa. itu Rayuan jaman papa muda" ucap Vera lalu tertawa
"Sial, mood gue jadi ilang kan karena ucapan loe, dasar adik rese"
"Kakak yang rese, makan gih, bisanya anda rese kalau laper" ucap Vera sementara Tian hanya mesam mesem
" Sotoy kau anak kecil" Arjuna dengan gemas mengacak-acak rambut Vera yang sudah mulai memanjang
"Kak berantakan, rese bener sih" protes Vera merapihkan rambutnya dengan kesal.
"Rese banget nih orang, kurang Aqu* kali, kurang minum menyebabkan otak kekurangan oksigen"
"Apa hubungannya sama kakak"
"Ada hubungannya, antara asupan dan otak" ucap Vera melotot
Sudah kamu pulang sana ma, disini cuma menganggu aja
Sekalian tolong cek anak-anak.
Bawa sekalian baju kotor ku, nanti tolong bawakan aku baju yang bersih"
"Upahnya mana???"
"Astaga dimintain tolong aja minta upah, gitu ya kak kelakuan kak Arjun selama ini"
"Anak kecil tahu apa???" cibir Arjuna
Cup cup
Arjuna menangkup wajah istrinya dan menciumnya di depan kedua adiknya
"Mas Arjunaaaa" pekik Ayudia marah
"Ya Allah lindungi lah hamba dari pria mesum ini.
Kak kau mencemari mata perawan kamiiiii!!" teriak Vera melempar jeruk yaNg sedang ia kupas untuk adik ya
"Assalamu'alaikum, hahahhaa" tawa terdengar semakin menjauh
"Gila ya tuh orang.
Kak Ayu, Vera dengan besar hati mengapresiasi kekuatan iman dan hati kakak, punya suami yang bikin malu, sesuatu siksaan yang manis" ucap Vera yang ujungnya meledek Ayudia
"Dasar kamu ya ver, ada-ada aja"
"Tian, Vera, kakak mau ke bawah dulu tebus obat kamu.
jangan lupa di malam dulu itu makan siangnya, walau rasanya ga enak, paksa aja makan.
Nanti setelah pulang kakak masakan semur ayam pedas kesukaanmu" ucap Ayudia perhatian
"Aku kak, aku mau juga".
"Iya, buat kamu kancing Levis ya"ucap Ayudia menahan senyum
Vera mengerutkan keningnya bingung
"Ya kali aku makan kancing Levis, Tian ayam, kejam kakak pilih kasih
"Kancing Levis itu Alisa jengkol, bukanya kamu suka?"
"Asiiiikkkk" teriak Vera seperti anak kecil.
Ayu segara keluar dari kamar Tian menuju apotik di lantai dasar.
Tapi baru sampai koridor, ia berpapasan dengan seorang Gadis cantik memakai celana Levis dan sweater pink, rambutnya di kuncir tinggi., yang membuat Ayudia terpaku adalah, wajah gadis cantik itu mirip sekali dengan Sarah, hanya saja kulitnya putih susu dan rambutnya di ikat, sementara Sarah tak pernah mau mengikat rambutnya di tempat umum, ia sangat suka di gerai
"Saraaaahhh???", ah bukan, siapa gadis itu sebenarnya???
mereka sangat mirip sekali, apa ...."
Ayudia terus mengikuti gadis tersebut, hingga mereka berhenti di sebuah ruangan dan masuk kedalam
Ayudia menatap pintu ruangan tersebut dan tertulis
"KEMOTERAPI"
"