
Setelah Tiga puluh menit menunggu di private room, Davina akhirnya melihat Willy yang datang, namun pria itu menghentikan langkahnya karena di dalam private room itu, ia tak menemukan keponakannya, hanya ada dua orang wanita cantik dan sexy
Namun salah satunya sangat mirip dengan kakak iparnya, ayudia, Hanya saja wanita di depannya ini memiliki rambut berwarna coklat
"Maaf saya salah ruangan sepertinya" ucap Willy sopan
"Om Willy masuklah, kamu gak salah ruangan" ucap Davina membuat Willy tersentak dan menoleh, wanita cantik itu mengenal namanya.
Agatha langsung berdiri dan tersenyum
"Silahkan" ucapnya sopan, Willy sampai bingung dan penasaran, bagaiman kedua gadis ini ....
Namun karena takjub dengan kecantikan wanita di depannya Willy tanpa sadar masuk dan duduk diantara kedua wanita itu
"Agatha, bukankah kau punya sesuatu untuk di kerjakan??" tanya ayudia yang melihat Agatha tak berkedip menatap Willy, Davina tahu Agatha sedang mengagumi ciptaan tuhan di depannya, ia dan Agatha sama-sama menyukai pria tampan
"Bos, bisakah sebentar saja tak ...." Agatha menghentakkan kakinya kesal, Davina menatapnya tajam, tanda peringatan bahaya berdentang di otaknya, dengan malas Agatha berdiri, tapi ia mengedipkan mata dan tangannya dengan senagaja menyentuh wajah tampan Willy
"Dia bernama Agatha, maafkan kelakuannya ya om"
"Apa aku terlihat om-om, kita seusia" ucap Willy kesal
Davina tiba-tiba tertawa, ia lupa jika sekarang ia dalam mode wanita dewasa
"Om Willy percayakan om jika Daffa dan Daffi jenius, lalu bagaimana dengan adik mereka Davina???"
"Apa maksudmu?"
"Aku adalah Davina om, aku menggunakan obat yang ku kembangkan sendiri, karena aku terlahir super jenius melebihi kedua adikku" ucap Davina membuat Willy terbahak-bahak, namun sekian detik kemudian ia terbatuk-batuk dan terjatuh dari tempat duduknya begitu melihat wanita itu berubah jadi gadis kecil nan imut, siapa lagi kalau bukan Davina keponakanya yang menggemaskan
"Bagaimana mungkin?? Davina? kau bisa sulap?"
"Sulap? om kita lagi gak di film, aku sudah mengatakan jika aku keponakan mu tapi kau sendiri yang tak percaya" ucap Davina santai menyedot orange juice di depannya
"Kamu beneran Davina??" tanya willy mencubit pipi keponakanya
"Om, kau bisa membuat pipiku turun, menyebalkan" ucap Davina kesal, Willy tiba-tiba tertawa membuat Davina merinding
"Kau gak jadi gila kan om setelah tahu aku super jenius, aku jadi merasa bersalah padamu"
"Kau memang, kalian tiga iblis yang membuatku mau mati karena terkejut.
beberapa Minggu lalu kakakmu membuatku pingsan karena terkejut, lalu sekarang kau"
"Kenapa om ga terkejut???, reaksi om hanya segitu aja"
"Tentu terkejut, tapi aku lebih suka tampilan dewasa mu, apa wanita tadi juga anak kecil sepertimu????" tanya Willy semangat, Davina menepuk jidatnya, j lupa jika Willy playboy, sehingga fokusnya hanya wanita cantik, keterkejutannya jadi tak seberapa.
"Dia normal, hanya aku yang memakai obat untuk berubah menjadi wanita dewasa.
Kalau ku berpikir mau mendekati dia, kau harus bersiap makan hati, karena Agatha menyukai keindahan, terutama pria tampan" ucap Davina cekikikan.
"Anak buah bagaimana bos nya,"
"Apa om maksud dia ketularan aku, huh menyebalkan.
aku masih kecil om, masih lugu.
Justru Agatha yang meracuni pikiranku" ucap Davina membela diri
"Aku??? seenaknya, kau sudah centil dari kecil.
Jadi kau sudah membawa virus ke-ganjenan mu sejak diri, gak kaya aku, aku sudah dewasa dan wajar saja aku suka di kelilingi pria terutama yang tampan sepertimu,
ya kan sayang" ucap Agatha tahu-tahu masuk dan duduk di samping Willy sambil menopang wajahnya
"Betul" jawab Willy tak lepas memandang Agatha
"Kaliaaaaannnnn......., menyebalkan" ucap Davina pada akhirnya. Dua lawan satu, ia kalah.
"Sepertinya kau memanggilku bukan hanya untuk memberitahu jati dirimu sebenarnya" tebak Willy.
Seperti yang di harapkan dari om nya itu, Willy orang yang cermat dan bisa membaca situasi di tambah otaknya yang encer, ia bisa langsung mengerti
"Kau benar om ku yang cerdas.
Aku sudah menemukan om Tian, tapi kondisinya...
terpuruk. Aku juga sudah meminta ia menemui kakek di rumah sakit, kini pilihan hanya padanya, kita tak bisa memaksa karena kita semua tahu jika kenyataan yang baru saja om Tian dengar sangat mengguncang jiwanya"
"Alhamdulillah, bagaimana keadaanya?"
"Memprihatinkan, ia seperti kehilangan jiwanya. menurut orang yang menyelamatkannya, semalaman ia demam dan mengigau benci...
membenci mamanya, kotor...
Aku juga tak mengerti awalnya.
Tapi beberapa saat lalu anak buah ku mengatakan jika Sebastian keluar dari kediaman Deswita dan terjadi keributan, setelah itu om Tian keluar, tak lama mobil keluar dari rumah tersebut,
menurut orang ku mereka membawa seorang pemuda seumuran om Tian yang terluka parah, aku simpulkan jika pemuda itu adalah pria simpanan Deswita.
Deswita kepergok anaknya sehingga Tian menghajarnya habis-habisan"
"Ya Tuhan, wanita itu sungguh.....
aku kehabisan kata untuk wanita itu" ucap Willy mengepalkan tangannya
"Ada satu lagi, pagi ini om Samuel membawa pembantu itu, Minah, ke rumah Bu Ratna karena mertuanya mendadak harus keluar kota dengan istrinya.
Ia meracau bahwa...
Deswita yang membunuh nenek Ratih"
"Jadi...."
"Ya, Bu Minah adalah saksi kunci juga atas pembunuhan nenek Ratih!!!!"
"Wanita bia*ab" sumpah serapah keluar dari mulut Willy
"Tunggu, bagaimana kau bisa tahu dengan cepat, sementara kami saja belum tahu"
"Karena dokter yang merawat Minah adalah orang ku" jawab Davina enteng membuat Willy melotot tak percaya
"Davina keponakan om, bagaimana kamu bisa sepintar ini??? Om juga mau sepertimu, pintar dan berbakat
"Om mandi hujan, lalu minta petir menyambar om" ucap Davina serius, sementara wajah Willy asam
"Pintar enggak gosong terus mokad iya, dasar keponakan sesat" gerutu Willy
"Om nya sesat, masa keponakannya lurus" timpal Agatha yang sejak tadi hanya menyimak
"Bener ga bos??"
"Yoi, Agatha no rekening berapa???tanya Davina
"Asik mau kasih bonus ya bos???"
"Enggak nanya aja, kepedean ih" ucap Davina centil namun Agatha kesal dan menggelitik Davina sampai Davina menangis kegelian
"Sungguh hubungan atasan dan bawahan yang rumit.
sebelumnya ia punya dua keponakan yang menakutkan, di tambah si imut Davina yang pintar akting...
sungguh Willy harus sering-sering berolah raga agar jantungnya kuat nempel dengan kokoh.
Bisa jadi beberapa waktu ke depan, kejutan lain akan dia terima
"Kak Arjun, kak Ayu, apa yang kaan terjadi pada kalian jika kalian tahu ketiga anak kalian....
membagongkan!!!!!!!
Tiga hari kemudian
Sebastian baru keluar dari panti asuhan, ia mengucapkan banyak terima kasih pada pemilik panti.
Selama di sana ia banyak belajar arti kehidupan.
ditambah ibu Sumiati selalu memberikan nasihat yang membuat sebastian membulatkan artinya untuk menemui pria yang selama ini ia anggap sebagai papanya.
Dengan pakaian yang terakhir kali ia pakai meninggalkan rumah, Sebastian memenuhi Baskoro yang masih di rawat di rumah sakit.
Kondisinya sudah tidak kritis, namun ia belum sadarkan diri dan berada di ruang intensive.
Sebastian melangkah ragu saya melihat Arjuna sedang duduk di depan ruangan tersebut, di sana juga ada William yang memejamkan mata dengan posisi duduk, sementara Arjuna menunduk sambil menutupi wajahnya
"Assalamu'alaikum" salam Sebastian membuat Arjun mendongak dan mata William terbuka, suara adik mereka
"Tian...... " Arjuna langsung berlari dan memeluk adiknya tersebut, ia mengecup kepala Tian.
ia sangat menyayangi adiknya tersebut
"Tian, maafkan kakak. apapun yang terjadi kau tetap adik kakak selamanya" ucap Arjuna dengan suara bergetar.
"Kak Arjuna" Tian merasa terenyuh, hatinya yang hampa terasa hangat.
"Iya Tian, kakak gak perduli kamu siapa, bagi kakak kamu adik kami" timpal William gantian memeluk Sebastian. Perasaan Sebastian campur aduk, ia malu, bahagia, namun merasa rendah hati.
Ia anak wanita yang sudah menyakiti mereka, Tian merasa tak berharga
"Jangan seperti ini lagi Tian, kami semua sayang dan perduli padamu.
Papa sampai shock karena kamu pergi, beliau sangat menyayangimu.
Demi kami papa mendirikan perusahaan musik atas namamu, beliau akan memberitahukan padamu sebagai kado ulang tahunmu bulan depan.
Papa ... kasih sayang kami tak akan pernah berubah, begitu juga papa. Beliau sangat menyayangimu melebihi kesayangannya pada kami" ucap Arjuna menepuk bahu adiknya
"Temui papa, beliau pasti mendengar ucapannya walau saat ini beliau masih belum siuman" ucap Arjuna menatap nanar sosok di balik kaca yang tergeletak tak berdaya dengan berbagai alat menempel di badannya.
Pria yang terlihat gagah di masa tuanya itu, terlihat rapuh dan tak berdaya
"Papa.....
Sekali-kali upload dua chapter
semoga bisa memuaskan para reader semua
Jangan lupa like and coment Kalian ya, di tunggu!!!
Terima kasih
happy reading
pooh