
Ayudia sudah sampai di bandara, ia satu mobil dengan Emillia, awalnya kakak Emillia keberatan Ayudia ikut mengantar mereka ke bandara, namun Emillia bersikeras dan mengancam kakaknya, jika Ayudia tidak ikut mengantarnya, ia tak akan mau ikut kakaknya pergi, dengar terpaksa Marvel menyetujuinya.
Di mobil depan Marvel dengan dua temannya mengendarai mobil dengan dua wanita yang katanya akan dipekerjakan di kediaman Marvel, sepertinya kakak dari Emillia cukup kaya dan mempekerjakan orang dengan mudah.
Ayudia tak menaruh kecurigaan apapun pada Marvel, hanya ketidaksukaan yang entah bagaimana ia rasakan.
ia merasa Marvel aneh.
Ayudia entah mengapa merasa jika Marvel bukan kakak kandung Emil, melihat dari wajahnya, mereka tidak mirip sama.sekali.
Ayudia juga tahu jika beberapa saudara kandung tidak mirip, namun mereka mempunyai kesamaan lain, misalkan hidung mereka, mata mereka, alis mereka, sementara Marvel dan Emillia terlihat seperti saudara tiri lain bapak dan ibu.
Satu jam kemudian setelah terjebak macet, mereka memasuki area bandara, Marvel langsung mendekati adiknya dan melirik sekilas ke arah Ayudia. pandangannya membuat bulu kuduk ayudia meremang, itu pandangan seorang pria mesum yang seakan menelanjanginya.
Ayudia merasa sangat tak nyaman.
walau sudah memiliki tiga orang anak, namun penampilan Ayudia tak kalah dengan Emillia yang masih single dan belum menikah, Ayudia masih terlihat seperti berusia di pertengahan dua puluhan.
Ditambah wajah Ayudia yang cantik rupawan, wajahnya yang blasteran dengan bola mata biru dan body tinggi semampai, membuat banyak pria tergila-gila tak perduli jika ia sudah menikah dan memiliki anak, tak terkecuali Marvel dan dua temannya yang tanpa malu menatap Ayudia dengan mata mesum.
"Emil, loe yakin mau pergi dengan kakak loe?? apa loe yakin dia kakak loe???" tanya Ayudia berbisik
Emillia menatap kakaknya yang sedang berbincang dengan kedua rekannya
"Kenapa? apa karena kakak gue suka sama loe?" ucpa Emillia tertawa
"Emil, gue gak bercanda, kakak loe itu gak mirip sama loe , gak ada miripnya sama sekali.
Udah gitu loe liat matanya deh, itu membuat gue gak nyaman" ucap Ayudia mengelus tangannya , merinding
"Itu karena dia suka loe Jo, semua pria suka loe, karena loe itu cantik banget" ucap Emillia berusaha membuat sahabatnya tidak khawatir, walau sebenarnya. Emilia juga merasakan hal yang sama.
kakaknya itu juga memandangnya dengan pandangan aneh, pandangan pria yang nafsu, bukankah mereka bersaudara?? mengapa Marvel melihatnya dengan pandangan berbeda
Emillia sebenarnya bimbang, entah mengapa setelah Ayudia berkata hal tersebut, ia jadi tak tenang.
Awalnya Emillia meyakinkan hatinya jika itu hanya perasaanya saja, namun begitu Ayudia merasakan apa yang ia rasakan, rasa takut menghantui hati Emillia.
Tiba-tiba ponsel Ayudia berdering, ia melihat nama si penelpon, alisnya berkerut
"Daffa???" gumam Ayudia bingung, buat apa putra sulungnya menelpon??
"Angkat aja, mungkin Daffa ada perlu" ucap Emillia yang melihat Ayudia tertegun
"Sebentar ya , aku mau angkat telepon dari Daffa dulu" ucap Ayudia
"Ma, bisakah mama agak menjauh dari Tante Emil????" tanya Daffa lirih
"Anak nakal, mau apa kamu....." belum selesai Ayudia mengomel, Daffa langsung memotong ucapan mamanya
"Mama, ini urgen, please" ucap Daffa kesal
"Emil sebentar ya, anak nakal ini sepertinya buat ulah" ucap ucap Ayudia
"Anak nakal, sekarang katakan apa maksudmu ???" bentak Ayudia kesal
"Ma, tolong dengarkan, ini om Axel yang mau bicara" ucap Daffa, tak mungkin jika ia yang mengatakan kebenarannya, bisa-bisa mamanya akan mengira ia membual dan mamanya akan memarahinya
"Sore.menjelang malam Tante cantik" ucap Axel genit membuat Daffa langsung meninju Axel dengan keras sementara Daffi melotot tak suka
"Sore juga Axel, ada apa ya???
"Aduh" pekik Axel merasa perutnya sakit karena di tinju Daffa
"Tante tolong anak Tante menyiksaku" ucap Axel
"Dafffa, yang sopan dengan yang lebih tua" ucap Ayudia tahu jika Daffa melakukan sesuatu jika ada orang yang genit pada mama nya
"Tante hebat, punya dua jagoan kecil yang pastinya akan melindungi Tante dengan aman.
Begini Tan, Axel dapat informasi bahwa Emillia dan Marvel bukan kakak beradik,
Emillia mengalami amnesia pasca operasi saya ia kecil, sehingga ingatannya tumpang tindih" ucap Axel menjelaskan
"Axel, Tante lagi gak mau bercanda ya, ini maslaah serius." tegas Ayudia mengira Axel bercanda
"Aku serius Tan. Daffa dan Daffi yang memintaku mencari info tentang latar belakang Emillia dua hari lalu.
Marvel adalah anak dari ibu tirinya, bahkan Marvel waktu sekolah menengah pertama mau menggagahi Emilia, itulah alasannya mengapa Marvel tidak tinggal dengan Emillia dan keluarganya" ucap Axel
terdengar suara tercekat, Ayudia shock.
dugaannya benar, tapi yang menyeramkan adalah Marvel pernah mencoba memperkosa Emillia, bagaimana jika ia akan melakukannya lagi saat Emilia ikut dengannya????
Ayudia merasakan marah di hatinya.
wajahnya langsung khawatir
"Tante, Tante, apa Tante masih disana???" tanya Axel khawatir Ayudia langsung mengucapkan sesuatu di depan Marvel, bisa berantakan semua rencana mereka
"Iya Axel" ucap Ayudia lirih
"Tan bisakah Tante bersikap biasa saja??? kami perlu bantuan Tante.
Sebenarnya ada yang lebih penting dari status Marvel yang bukan saudara kandung Emillia.
Tapi Tante harus janji, Tante bisa gak bersikap natural seolah tak terjadi sesuatu dan kami perlu Tante untuk menahan mereka barang 5 menit saja, karena sebentar lagi mereka akan masuk ke dalam bandara"
"Aku bisa, demi sahabat ku"
"Marvel adalah anggota sindikat penjualan anak dan wanita, Tante harus menahan Emil sebentar, kami akan menyergap mereka, sebisa mungkin jauhkan Emil dari Marvel"
"Astaghfirullah" pekik Ayudia tanpa sadar
"Kenapa Daffa?? kenapa anak ku??" ucap Emillia tak hilang lebay nya masih menganggap Daffa anaknya
"Dia giginya patah karena jatuh, tapi sudah di bawa ke dokter gigi" ucap Ayudia mencari alasan
"Keadaanya gimana???" tanya Emillia terlihat sangat khawatir.
"Kalau kau khawatir dengan keponakanmu, apa gak sebaiknya kamu tinggal dan jangan pergi???" goda Ayudia
"Joo, kau membuatku bimbang" ucap Emil cemberut.
"Aku mengerti, kalau begitu aku matikan teleponnya" ucap Ayudia langsung menutup anggukan telepon dari Daffa.
Mata Ayudia menyusuri area sekitar mereka berada, nampak beberapa orang terlihat mencurigakan jika di perhatikan baik-baik, Ayudia sangat yakin jika mereka polisi yang menyamar.
ia merasa tubuhnya panas dingin, tapi Emillia adalah sahabat terbaiknya, ia harus menyelamatkan Emil.
"Emil, ayo kita masuk, satu jam lagi penerbangan kita" ucap Marvel mendekati mereka
"Baik kak" ucap Emil patuh
"Gawat, aku harus menahannya selama lima menit, apa yang harus ku lakukan?????, sial sial.
dalam keadaan urgent gini malah otak blank.
pikir, ayo berfikir ayu, loe harus punya sesuatu yang bisa menahan Emil setidaknya lima menit cukup" gumam Ayudia dalam hati
Ayudia memegangi perutnya, ia mencubit kencang pahanya sendiri sehingga terasa sakit, pedih.
Jadi begini rasanya cubitannya??? sangat sakit.
ia berjanji dalam hati tak akan mencubit si kembar sampai kapanpun, karena ternyata sangat menyakitkan.
Tapi kalau suaminya, itu butuh pertimbangan lagi.
Air mata sontak keluar dari sudut matanya karena merasa sakit di pahanya
" Jo loe baik-baik aja???? muka loe kesakitan gitu???"
"Loe pasti belum makan ya??? Loe kenapa sih susah banget dikasih tahunya, loe tuh punya maag akut, makan nya masih aja ga teratur, klo begini kan loe sendiri yang ngerasain sakit" gerutu Emillia dengan wajah panik
"Ya Allah selamatkan sahabat ku, aku akan lakukan apa saja agar b*j*Ngan itu tak membawa Emil" gumam Ayudia dalam hati
"Loe ngomel aja, perut gue tambah sakit" ucap Ayudia lirih
"Emil kita harus segera masuk ke dalam" ucap Marvel mengingatkan adiknya
"berikan aku lima menit kak, aku akan membawa Ayudia ke toilet untuk membalurkan minyak angin ke perutnya dan menantunya meminum obat"
"Tapi ...."
"Kak, lima menit atau aku tak akan pergi" ucap Emil tega
"Ya sudah cepat" ucap Marvel kesal.
jika ia tak bisa membawa Emil, ia akan rugi besar, pasalnya ia tahu Emil masih perawan, ia bisa menjual Emillia dengan harga tinggi setelah itu ia mungkin akan hidup berfoya-foya untuk beberapa bulan ke depan.
Adik????
Dia cuma adik tiri yang lupa ingatan, buat apa Marvel perduli, sedang mama kandungnya saja membuangnya demi keluarga barunya.
Emillia berjalan menuju toilet, memapah Ayudia yang kesakitan, sesampainya di toilet, ayudia mengunci pintu lalu mendorong Emilia ke sudut, sambil tangannya membungkam mulut Emillia
" Diam, maafkan aku harus melakukan ini"
"Jo, apa.maksud semua ini, lepasin, loe cuma pura-pura???? kejam loe ya, gue udah panik setengah mati, tapi loe cuma ngerjain gue.
tahu gak gua bisa ketinggalan pesawat karena loe" pekik Emillia begitu tangan ayu membuka bekapan di mulutnya, dengan terpaksa Ayudia kembali membekap mulut Emilia.
"Emil ,dengar.
gue ngelakuin ini semua karena terpaksa, dan gue akan jelasin semuanya, ini urgent.
kalau loe paham dan janji gak teriak, gue akan buka bekapan tangan gue di mulut loe. janji??" Emillia mengangguk walau ragu
"Dengar, yang tadi telepon adalah Axel, orang yang pernah bantu nemuin Daffa waktu hilang, dia memberitahu jika kakak loe anggota sindikat penjualan anak dan wanita"
"Whaaaattt???? loe percaya begitu aja??? come on jo berapa banyak loe kenal tentang dia???" Emilia kecewa pada sahabatnya itu
"Bukan berapa banyak gue kenal, tapi berapa banyak bukti yang dia kirim ke gue.
Gue gak akan sembarangan percaya begitu aja" ucap ayudia menyodorkan ponselnya ke arah Emillia.
Tubuh Emilia menegang, ia membaca semuanya dan langsung memeluk ayudia.
Ia hampir saja masuk ke dalam jurang, dan Ayudia menariknya dari jurang itu
"Apa yang harus gue lakukan???"
"Diam dan tunggu, polisi sudah mengepung tempat ini" ucap ayudia menghapus air mata di wajah cantik Emil
"Emil, Emillia cepat" teriak Marvel dari luar, tubuh Ayudia dan Emil menggigil ketakutan, tak lama terdengar langkah kaki masuk, suara Marvel kembali memanggil Emilia, dengan terpaksa Emil keluar dengan gugup
"Iiiiyaa"
"Cepat kita sudah ketinggalan pesawat" ucap Marvel langsung menarik Emilia, tak perduli adik tirinya itu kesakitan, Emillia meneteskan air mata, ia sangat takut kini
Tiba-tiba Marvel tersungkur seseorang menendangnya dari arah samping, dan dia adalah William.
William membabi buta memukuli Marvel hingga pemuda itu tak berkutik dengan wajah penuh darah
"Sudah pak, lepasin dia bisa mati" teriak Emillia
melihat kedatangan Ayudia, Emillia langsung memeluk Ayudia
"Sudah Will, dia sudah tidak sadarkan diri" ucap Ayudia menepuk punggung adik iparnya
Lalu beberapa petugas langsung menyeret marvel.dengan yang di borgol.
penyergapan berhasil.
" Apa kamu baik-baik saja?" Tanya William lembut, Emillia merasa ini aneh, William biasnaya akan berkata ketus dan tinggi padanya, mungkin hanya perasaanya saja.
"Gue tinggal dulu, sepertinya kalian ada yang mau di bicarakan" ucap Ayudia mengerti
"Apa ada yang terluka?? apa sakit??" tanya William memegang pergelangan tangan Emillia yang memerah karena cengkraman Marvel
"Itu, gak sakit" ucap Emillia kikuk
"Gadis bodoh, mengapa kau tidak bisa menungguku setahun lagi?? mengapa malah pergi meninggalkanku???" ucap William lirih, ia memeluk Emillia.
Emillia yang di peluk hanya diam karena shock atas perlakuan William
"Hah??"
"Apa otakmu juga sakit sehingga kau hanya hoh hah say?? say something" ucap William merapihkan rambut Emillia, menatap dengan pandangan penuh cinta pada wanita yang sudah berhasil memporak porandakan hatinya yang beku
"Aku memintamu menungguku setahun, bukan berarti aku mau kamu pergi.
Kau gadis yang jahat, kau buat hatiku tak karuan lalu kau tinggalkan" ucap William merajuk
"Kau yang kejam, aku...
aku berusaha membuatmu jatuh cinta, tapi kau selalu...
huhuhu" Emilia tak mampu berkata apa-apa lagi,, mulutnya keluh, ia hanya bisa memukul dada William dan menangis
William memeluknya erat membenamkan wajah Emillia di dadanya
"Aku memang jahat, kau boleh memukulku sesuka hatimu, maafkan aku" ucap William lirih
Emil masih menangis tak menjawab
Setelah tangisnya reda, William menghapus air mata Emillia dengan tangannya, mengecup kening Emillia dengan lembut.
"Maukah kau menungguku??? aku sangat mencintaimu aku akan menikahi mu setahun lagi. please tunggu aku.
aku hanya ingin membahagiakan mama,
aku .." Emillia meletakkan jari telunjuknya di bibir William, ia mengangguk dan tersenyum.
Tak terasa air mata jatuh kembali di pipinya, kali ini bukan air mata sedih, tapi air mata bahagia
"I love you gadis berisik" ucap William ******* lembut bibir Emillia, mereka tidak lagi ingat di mana mereka kini, Emillia malah mengalungkan tangannya di leher William, memperdalam ciuman mereka
"Kalian, dasar dua jomblo menahun bertemu, cepat kalian menikah, memalukan berciuman di tempat umum" ucap Daffa berteriak
"Daffa, Daffi???, tutup mata kalian" pekik Ayudia baru saja kembali setelah di mintai keterangan oleh pihak berwajib
Emillia dan William yang mendengar teriakan Daffa langsung tersadar dan melepaskan pelukan mereka.
terlihat dua orang yang bersedekap dada, di belakang mereka ada Axel dan vincen.
Bruuughhhh
William jatuh pingsan, beruntung Emillia dengan cepat menopangnya, sehingga kepalanya tak terbentur lantai bandara
"Kenapa dia pingsan???" tanya Daffa, Daffi dan Ayudia bingung
"Dia menahan shock nya dan baru pingsan sekarang" ucap Axel tertawa terbahak-bahak
"Ada gitu pingsan di atur?? dasar perjaka tua" ucap Daffi yang langsung dapat jeweran mamanya
"Dia om mu, mungkin dia shock karena tahu wanita pujaannya sudah lepas dari bahaya" ucap Ayudia menyimpulkan tanpa tahu alasan William pingsan
"Sungguh pingsan yang aneh" ucap Daffi menggelengkan kepalanya