(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Tua Bangka Pembuat Ulah II


"TOK TOK TOK"


Sebuah ketukan kencang membuat Ayudia dan Arjuna sama-sama menoleh ke arah pintu kamar


"Arjuna, keluaaaarrr, dasar mantu error" ucap Adhi berteriak


"Papa????" ucap keduanya


"Masalah datang yank" ucap Arjuna lirih, ia sudah tak memiliki tenaga akibat istrinya, kini papa mertuanya datang .


semua gara-gara satu orang tua Bangka pembuat ulah!!!!


Angelo benedito


"Mengapa papa kelihatannya marah yank????"


tanya Ayudia pada suaminya


"Itu anu, papa meminum air yang di berikan kakek"


"Kenapa harus se-marah itu, hanya air doang" ucap Ayudia bangkit ingin membuka pintu


"Apa.....???" Ayudia tiba-tiba berbalik dan memandang tajam suaminya


"Iya, sama dengan yang kau minum, tapi aku bersumpah itu semua bukan ulahku"


"Massss, aku benci kamu" ucap Ayudia urung membuka pintu, ia menerjang suaminya dan memukulinya


"Sayang, kau gak kasian sama aku???


aku sudah kau siksa semalaman sampai gak kuat jalan, dan kini kau memukuliku"


"Biar kau memang pantas mendapatkannya, bisa-bisanya kau mengerjai kami???, kau mantu durhaka mas" pekik Ayudia kesal.


"Itu semua ulah kakeknya, aku juga kena imbasnya"


"Bagaimana bisa....


kakeeeekkkkkkk" Ayudia benar-benar kesal pada kakeknya


Sementara di kamar Angelo yang berada di lantai dasar


"Hachim, hachim"


Angelo bersin-bersin


"Apa kau mau flu sayang???" tanya ernest menghampiri suaminya dengan segelas teh hangat


"Ada yang memakiku, tapi tenang saja, sebentar lagi kita akan punya cucu dan cicit lain" ucap Angelo membuat Ernest menaikkan sebelah alisnya


"Mereka baru saja bersama sayang, aku juga mengharapkan mereka memiliki anak segera, tapi semua butuh proses, terutama Khadijah, ini malam pertamanya xixixi" Ernest tertawa sendiri membayangkan putri angkatnya yang malu-malu


"Apa kau sedang melamun jorok sayang?" tanya Angelo yang di balas Ernest dengan cubitan kencang di pinggang suaminya


"Kau yang mesum, aku bukan seperti kau"ucap Angelo membuat cubitan Ernest makin kencang


"Awas kau puasa sebulan baru tau rasa" ancam Ernest membuat Angelo langsung memeluknya


"Maaf sayang, jangan siksa suamimu ini, aku paling tak bisa" ucap Angelo memelas


Sementara di kamar Arjuna, terlihat Arjuna sedang duduk di lantai, sementara Adhi duduk di sofa dan terlihat sangat marah


Ayudia mengikuti jejak suaminya bersimpuh di lantai, walau ya ia juga kesal karena suaminya itu bersekongkol dengan kakeknya.


"Pa, mas Arjuna gak tahu apa yang ia kasih sama papa, kakek yang merencanakan semuanya"


"Pagi, ma, pa" ucap Daffa serta kedua adiknya


"Loh ada kakek juga disini" ucap Daffa tak melihat Adhi karena posisi duduk di sofa, sementara kedua orangtuanya sedang duduk di lantai


"Mama, papa, lagi lebaran ya???" tanya Davina ikut bersimpuh di samping ke dua orangtuanya


"Oh mungkin acara sungkupan setelah papa sama Mama menikah, kak sini" ucap Daffi yang ikutan duduk di lantai di samping adiknya


Daffa menepuk keningnya, ia sepertinya menangkap sesuatu yang buruk, terlihat wajah kakeknya sangat marah saat pertama kali mereka memasuki kamar orangtuanya.


Sepertinya kakek sedang menghukum mama dan papanya.


Mau tak mau Adhi merubah air mukanya, ia yang tadinya marah, melihat kepolosan kedua cucunya ingin tertawa. Bagaimana mereka bisa melihat ia memarahi orangtua mereka


"Kek, aku yakin mama dan papa tidak bermaksud membuat kakek marah"ucap Daffa membantu kedua orangtuanya walau ia tak jelas kenapa, ia merasa ada kelegaan tersendiri melihat kini keluarganya lengkap.


setidaknya mamanya tidak sendiri lagi dan kesepian.


Walau Ayudia selalu ceria di depan anak+anaknya, namun Daffa tahu jika bagi orang dewasa, perlu teman untuk berbincang.


Sejak mereka tingg di ibukota dan dokter Adrian sibuk dan jarang bertemu mereka, ayudia tak memiliki teman untuk berbagi perasaan, sebagai orang yang tahu segalanya, Daffa tak bisa membantu untuk hal itu


"Daffa, kakek sedang tidak marah apa kedua orangtuamu, mereka ingin sungkem karena mengucapkan terima kasih pada kakek" ucap Adhi mencari alasan


"Atu juga mau sungkem, cepat ma, pa, " ucap Davina teriak


"Kak, sini , ikutan sungkem" ucap Daffi semangat, Daffa hanya memutar bola matanya malas, jelas kakeknya berbohong, tapi Daffi dan Davina tak menyadari itu


sementara Arjuna dan ayudia hanya nyengir kuda, bingung harus berkata apa.


"Tidak, aku hanya datang untung mengatakan pada papa dan mama, sarapan sudah siap" ucap Daffa lalu berjalan pergi menuju ruang makan


"Kak, kau putra yang tidak berbakti" ucap Daffi yang di balas anggukan Davina


Sementara Arjuna dan Ayudia tersenyum kecut, putra sulungnya bisa membaca apa yang sebenarnya terjadi, mereka sedang bersandiwara.


Akhirnya dengan canggung Ayudia dan Arjuna sungkem di ikuti ke dua anaknya, Adhi hanya bisa menggaruk kepalanya yang gatal, sebenarnya ia sangat marah tadi, gara-gara mereka ia jadi sedikit memaksa istrinya di malam pertama mereka, terlebih ternyata Khadijah masih bersegel, sehingga itu sangat menyakitkannya, dan sisanya Adhi harus mandi malam-malam hanya untuk menurunkan libidonya dan tak begitu berhasil hingga akhirnya ia tak bisa tidur semalaman.


semua karena ulah Arjuna!!!


"Sayang, Kalian tunggu di bawah ya sama kakak kalian, papa sama Mama mau bicara dengan kakek kalian" ucap Ayudia pada kedua anaknya


"Jagan lama ma, kami sudah lapar"


"Uhm" ucap Davina lngsung di gandeng Daffi keluar dari kamar dan menutup kembali pintunya


"Pa, dengarkan ayu dulu, ini semua ulah kakek, kami juga kena dikerjai kakek" ucap Ayudia menunduk malu"


"Maksud kamu??? apa Arjuna juga meminum air itu???"


"Bu..bukan Arjuna pa, tapi Ayu.


Lihat bagaimana putri papa menyiksa Arjuna ucap Arjuna menurunkan kerah bajunya.


"Mas, kau memalukan" ucap Ayudia langsung menarik kerah baju suaminya,.menutupi bekas keganasannya semalam


"Kakek tu itu....!!!!!!"


"Ayo pa ikut kami" ajak Ayudia menarik tangan papanya


"Ma..mau kemana sayang???" tanya Adhi bingung


"Memberi pelajaran pada kakek tua Bangka itu,"


ucap Ayudia berapi-api


"Tapi ....


Papa gak ikutan ah" ucap Adhi segan, ia tahu perangai Angelo, jika Ayudia yang berbicara Angelo Taka akan marah, namun jika ia yang bicara....


bisa di pastikan pria tua itu akan memarahinya habis-habisan


"Ikut aja, biar Ayu yang bicara.


Papa cukup diam" ucap Ayudia berapi-api, namun begitu mereka berjalan, tiba-tiba ia berhenti mendadak


"Pa..., mama Khadijah kemana?" tanya ayudia yang tak melihat mamanya


"Itu, ah mamamu kelelahan masih tertidur" ucap Adhi


berbohong, Khadijah padahal bukan hanya kelelahan tapi tak bisa berjalan karena ulahnya,


Khadijah sampai menangis memohon Adhi berhenti semalam karena Adhi terus saja meminta hak nya pada malam pertama mereka.


"Sudah sayang, ayo kita temui kakekku yang gak ada akhlaknya itu" ayudia melotot tak senang, Arjuna langsung menutup mulutnya


Ayudia jadi malu dan tak tega, bibir Arjuna sampai bengkak karena ia semalam menggigit nya


Sesampainya di kamar Angelo, Ayudia mengetok pintu kamar kakeknya dengan kencang, sama persis seperti yang Adhi lakukan di kamarnya beberapa waktu lalu


"Sayang, mengetok pintunya jangan kencang-kencang gitu juga, nanti kakekku marah" ucap Adhi memperingati putrinya


"Aku yang sedang marah, kakek sudah keterlaluan"


Adhi hanya menghela.nafas, jika putrinya sudah berkata A tak ada yang bisa merubahnya.


Sementara di dalam kamar Angelo sedang memadu kasih dengan Ernest, ia merasa terganggu dengan suara bising di luar


"Kakek bukaaaa" teriak Ayudia membuat Angelo mendengus kesal, pasalnya ia sedang kentang.


"Sayang sudah, cucu kita memanggilnya, malam kita teruskan" ucap Ernest lalu bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi.


Angelo mengeram kesal, cucunya mengganggu kesenangannya.


Angelo langsung memunguti pakaiannya dan memakainya, ia segera membuka pintu kamarnya karena suara bising yang Ayudia timbulkan


"Ada apa pagi-pagi sudah mengganggu ka....kek?" Angelo bingung melihat Arjun dan Adhi juga ada di sana


"Kakek kau..."


"Masuk" ucap Angelo tak ingin pembicaraan mereka di dengar oleh cicitnya


Adhi memasang wajah datar walau terlihat kesal, ia tak berani, sementra arjuna dan Ayudia tak menutupi kekesalannya


Angelo lalu mengambil cerutunya dan menghembuskan nya pelan


"Apa maksud kalian menganggu ku di pagi hari begini?"


"Kek, kakek sudah mengerjai kami!!!!" ucap Ayu tak bisa menahan kekesalannya


"Bukankah kalian menikmatinya?" tanya Angelo tak tahu malu


"Kakek, ini tidak lucu.


Gara-gara aku meminum air itu, aku seperti orang gila, dan..." Ayudia tak bisa meneruskan kalimatnya dan memandang suaminya


"Aappaaa?? kamu meminum air itu, bagaimana bisa???" tanya Angelo terkejut


"Apa yang kau berikan pada cucuku???" tanya Ernest keluar dari kamar mandi dengan bathrobe.


Angelo terkejut, ia mengira Ernest masih mandi, namun Ernest hanya membasuh tubuhnya sebentar lalu keluar karena penasaran


"Itu..., aku...." Angelo gugup


"Kakek memberi kami afrodisiak" ucap Ayudia kesal


"Apaaa??? " Ernest rasanya ingin sekali mencekik leher suaminya, bagaimana bisa pria mesum itu bertindak terlalu jauh, ia memang ingin memiliki cucu dan cicit tapi tidak juga dengan jalan seperti itu.


Ernest menatap tajam ke arah suaminya. kesal, malu dan marah jadi satu


"Sayang, kau kan yang mengatakan ingin cucu dan cicit, jadi..."


"Kau menyalah artikan kalimatku, kau memang memiliki niat itu, jadi aku hanya alasan"


Ayudia dan Adhi melihat jika perang dunia ke tiga akan segera di mulai, Angelo menatap cucu dan cucu menantunya meminta pertolongan, namun keduanya cuek pura-pura tak melihat


"Nenek, air itu aku yang meminumnya sehingga...." Ayudia sengaja pura-pura menangis


"Kau cucu tak berbakti, bukankah harusnya kau berterima kasih padaku???"


"Diam Tian benedito" kalimat Ernest bah perintah mutlak bagi Angelo, ia langsung menutup mulutnya rapat


"Aku jadi korban keganasan cucu kalian" ucap Arjuna yang lngsung di bekap Ayudia, bagaimana tidak, suaminya itu sengaja membuka bajunya dan mempertontonkan cakaran serta kissMark yang bertebaran di dada Arjuna, Adhi sampai menutup matanya malu.


"Dan mama Khadijah sampai sakit gara-gara papa juga meminum air yang di campur afrodisiak"


Angelo menepuk keningnya, anak menantu, cucu dan cucu menantunya menyeretnya ke jurang.


terlihat Ernest sangat marah


"Nek, kami serahkan hukuman kakek padamu, kami permisi" ucap ayudia menarik suaminya keluar dengan seringai licik


"Ma, pa, aku mau mengambilkan Khadijah makan, permisi" ucap Adhi mengekor Ayudia dan suaminya


"Sayang, apa kakekmu akan baik-baik saja??? tanya Adhi sedikit khawatir


"Kakek akan mendapatkan balasan yang sesuai, ayo kita makan pa"


"Papa mau makan di kamar aja, kasian mamamu"


"Baik pa, kami ke ruang makan dulu, kasian anak-anak"