(Anak Genius) YANG TERBUANG

(Anak Genius) YANG TERBUANG
Salah Paham


Alex terus memandangi Davina tanpa berkedip membuat Davina ingin sekali mencolok mata kakek tua itu, jika saja Davina tidak respek padanya, ia tak akan sudi membantunya


"Pak Tua, apa begini caramu menyambut tamu??" tanya Davina dengan nada malas


"Ah maaf nak, aku hanya terpesona, kau berbeda dengan rumor yang beredar.


Apa kau benar Angel of the death????" tanya Alex dengan nada tak percaya


"Menurut anda??? apa mungkin saya memakai identitas orang lain untuk menemui anda???" ucap Davina sinis


"Hahaha kau gampang sekali marah gadis kecil.


Katakan apa tujuanmu datang ke tempatku ini?" tanya Alex penasaran


"Kau to the point sekali kakek tua" cibir Davina membuat Alex tertawa terbahak-bahak, gadis muda di depannya ini sungguh memiliki keberanian tinggi.


Sementara asisten Alex menatap tajam Davina, ia khawatir bos nya itu akan murka.


Jika Alex murka, tandanya hidup orang itu berakhir.


Alex pantang membunuhnya, namun membuat orang itu ingin bunuh diri tapi tidak bisa, bukankah lebih kejam dari pembunuhan??


Namun di luar dugaan Alex justru seperti merasa terhibur dengan ucapan Davina yang ketus.


Asisten Alex di buat terheran-heran.


Biasanya memang tak ada orang yang berani berkata seenaknya di depan Alex, namun baru kali ini ada orang yang berani, dan dia hanya seorang gadis muda cantik.


"Nona...." tegur asisten Alex mengingatkan


"Tak apa Frank, dia tamu spesial ku.


Tolong tinggalkan kami" ucap Alex tegas.


Frank, asisten Alex nampak ragu untuk meninggalkan Alex. namun melihat sorot mata Alex, Frank tak berani, ia melangkah keluar di ikuti Agatha, lalu menutup pintu. kamar tersebut ketika keluar


Kini di ruangan berbau obat itu hanya Alex dan Davina.


Pria itu baru beberapa waktu lalu keluar dari rumah sakit, namun Davina tak bisa menunda lagi.


"Perkenalkan namaku Davina, lupakan julukan ku di organisasi. Aku datang kesini dengan itikad baik" ucap Davina lantang tanpa rasa takut


"Aku percaya itu, lanjutkan" ucap Alex makin kagum dengan gadis muda di depannya.


Ia tahu bahwa niat kedatangan Davina baik, terlihat gadis muda tanpa ragu sedikitpun. Dia calon pemimpin organisasi besar. Gender tak pengaruh bagi Alex, sikap tegas, berani dan cerdas nampak terlihat di Davina.


"Ini mengenai organisasi mu.


Beberapa waktu lalu ada anak buahnya yang datang untuk membunuh klien ku" ucap Davina sengaja menggantung kalimatnya


"Klien mu???, dari organisasi ku??


come on gadis kecil, anggota ku tak di perkenankan membunuh, mungkin kau salah orang" ucap Alex tak percaya


"Sayangnya tidak" Davina menyerahkan foto pria yang menyamar menjadi dokter pada Alex.


Alisnya berkerut seperti mengenali pria dalam foto tersebut


"Untungnya berhasil di gagalkan, namun klien ku di tikam tepat di ginjalnya dan kehilangan ginjalnya"


"Apa yang kau inginkan dariku, dan siapa klien mu" tanya Alex penasaran. Pasalnya semua urusan organisasi ia kerahkan pada Bram, jadi ia hanya tahu jika orang yang harus mereka tangani Jimmy Chou.


"Jimmy Chou.


Dia tersangka pembunuhan, pencucian uang, narkotika"terang davina


"Gadis kecil, aku tak percaya kau membantu penjahat" ucap Alex kecewa


"Kakek tua, aku melindungi informasinya bukan orangnya.


Jika Jimmy mati maka kasus narkotika dan Pencucian uang akan terkubur bersama kematiannya.


Aku tak pernah membela orang bersalah.


Beberapa waktu sebelum kejadian, Jimmy Chou mengungkap beberapa tokoh penting yang terlibat dalam kasus tersebut.


Aku rasa biarpun kau di rawat kau tahu itu.


Dan setelah pernyataannya, sudah dua kali percobaan pembunuhan terjadi terhadap Jimmy Chou" jelas Davina membuat Alex terdiam sesaat.


"Apa kaitannya ini denganku" tanya Alex tak yakin


"Aku akan mengatakan sejujurnya, ini berkaitan dengan orang yang menjadi tangan kananmu"


"Apa maksudmu gadis kecil, apa kau mencoba mengadu domba kami??? Dia orang kepercayaan ku sekaligus menantuku"ucap Alex dengan nada tak suka.


Davina hanya tersenyum, hal yang wajar jika Alex tak begitu saja mempercayai perkataan Davina.


Davina kembali menyerahkan sebuah map, di sana terdapat beberapa barang bukti keterkaitan Bram dan latar belakang Bram melakukan itu semua.


Dan yang paling membuat Alex tak percaya adalah, beberapa aset miliknya sudah berpindah tangan atas nama Bram, padahal ia belum melakukan penyerahan kekayaannya pada Bram.


Bram sudah mengecewakan dan mengkhianati kepercayaan yang ia berikan.


Padahal tanpa di minta Alex akan menyerahkan semuanya pada Bram, karena Bram sudah menikahi putri satu-satunya.


Namun ini yang Alex dapatkan, pengkhianatan.


Alex benci kata itu


"Apa maksud kau memberitahu padaku tentang ini semua???" tanya Alex menatap gadis muda yang terlihat masih sangat belia di depannya.


Gadis ini walau masih muda, aura kepemimpinan terpancar dari dirinya, ia pantas sebagai angel of the death yang kemunculannya langsung di perhitungkan karena kemampuannya.


"Kakek tua, aku memberitahumu karena aku ingin, tak ada alasan lain.


Teruslah dengan prinsip yang kau pegang, karena jaman sekarang sudah sulit menemukan orang seperti itu"ucap Davina tersenyum penuh arti


"Sungguh sederhana alasanmu gadis kecil.


Apa kau memujiku secara tak langsung????


Aku semakin tertarik padamu.


Kau akan sukses saat kau besar nanti" puji Alex tulus


"Hei kek, kau seumuran kakekku dan aku tidak butuh sugar Daddy atau sugar grandpa" ucap Davina ceplas ceplos membuat Alex tertawa terbahak bahak sambil meringis menahan sakit di dadanya


"Gadis kecil, kita bisa berteman.


Aku terlalu tua untuk berbuat begitu" ucap Alex masih terkekeh


"Apa untungnya berteman dengan kakek-kakek.


Ksu tidak punya cucu..." Davina langsung menutup mulutnya sendiri setelah melihat ekspresi sedih Alex.


Putrinya yang cacat menikah dengan Bram dan saat menikah sudah berusia lebih dari tiga puluh tahun.


Namun belum di karuniai anak hingga sekarang.


"Maafkan aku kek" ucap Davina menyesal


"Tidak, kau benar.


Tidak ada untungnya berteman dengan kakek-kakek tua dan penyakitan sepertiku.


Aku juga tak bisa menjodohkan mu dengan cucuku, atau menjadikanmu teman cucuku, sungguh tak berguna"


Davina merasa kepedihan di ucapan Alex, ia merasa bersalah karena telah menyentil sisi terdalam dalam jiwa Alex.


"Kau tidak bisa menjadi temanku kakek tua, tapi kau bisa memanggilku cucu" ucap Davina membuat Alex menatap Davina bingung


"Aku terlalu muda untuk kau panggil kakek, kalaupun aku punya cucu usianya tak lebih dari sepuluh tahun" ucap Alex terkekeh, kesedihannya sirna


"Baiklah, ini rahasia cucu dan kakeknya.


Tapi apa jantungmu kuat????" tanya Davina mengejek


"Kau meremehkan orangtua ini" ucap Alex menepuk dadanya


"Baiklah, kau yang minta" ucap Davina menelan pil perubah wujud dan dalam hitungan menit ia berubah ke sosok aslinya


"Astaghfirullah, kau??? tuyul dari mana??" ucap Alex terkejut, ia celingak celinguk mencari keberadaan Davina


"Dasar kakek tua menyebalkan" ucap Davina dalam wujud aslinya. Alex melihat keangkuhan dan kemiripan wajah pada anak kecil itu. Ditambah anak itu memakai pakaian kebesaran yang Davina pakai tadi.


"Kkkkau??????"


Brugh


Alex jatuh terkulai di ranjang tempat tidurnya.


"Ah lemah sekali" ucap Davina memeriksa denyut jantung Alex, ia bernafas lega karena Alex hanya pingsan.


Davina terllau gegabah tidak memerhatikan kesehatan Alex.


Setelah memastikan Alex hanya pingsan, ia kembali ke wujud dewasanya dan bertepatan dengan pintu kamar yang terbuka.


"Kau??? apa yang kau lakukan????" pekik Frank Karen melihat Alex terkulai di atas tempat tidurnya.


"Kepung tempat ini, jangan biarkan seorangpun keluar atau masuk bahkan semut sekalipun" perintah Frank murka


Agatha panik dan menatap Davina kesal, ia tak akan menyangka jika situasinya akan serumit ini.