
Pagi harinya Dini merasa tubuhnya tidak bisa digerakan. "Lo ko tubuhku tidak bisa bergerak??" batin Dini yang masih menutup matanya, Dini berusaha membuka matanya betapa terkejutnya melihat seseorang yang sedang memeluknya erat.
"Aaaaaaaaah" teriak Dini, yang membuat Rendi terbangun mendengar teriakan Dini sambil melepas pelukanya. " apa-apaan ini pagi-pagi sudah teriak-teriak menggangu orang tidur saja" kata Rendi yang masih memejamkan mata. Dini secepatnya turun dari tempat tidur "Aaaaaah" lagi-lagi Dini berteriak kali ini Rendi yang mendengarnya langsung bangun dari tidurnya.
"Apa lagi sih??, kamu ingin membangunkan semua orang dirumah ini ha??" kata Rendi dengan suara khas orang baru bangun tidur, Dini terlihat sangat khawatir.
"Aa...apa tuan yang mengganti baju saya??" tanya Dini terbata-bata, Rendi yang mendengarnya pun tersenyum sinis, "haha lucu kalau ekspresinya begitu" batin Rendi, pikiran nakalnya mulai kambuh.
"Iya memangnya kenapa??" kata Rendi santai yang membuat gerakan refleks Dini menyilangkan kedua tangan ke tubuhnya.
"Apa yang tuan lakukan??" tanya Dini lagi dengan wajah penuh rasa khawatir. Rendi yang mendengarnya pun tertawa.
"Hahaha saya tidak berbuat apa-apa terhadapmu,cuma mengganti bajumu saja dan lagi tidak perlu kamu menutupi tubuhmu itu, saya sudah melihat semuanya ko, ingat ini ya asal kamu tau kamu itu bukan tipe saya" kata Rendi melihat kearah Dini dengan senyum sinisnya.
Dini yang mendengarnya pun kaget bercampur panik " apa...dia sudah melihat semuanya dasar mesum, dia sengaja ya cari-cari kesempatan disaat aku tidur, kedepannya aku harus waspada. tunggu, Apa kata dia aku ini bukan tipenya, terus kenapa dia memaksaku untuk menikahinya pakai mengancamku segala" batin Dini kesal. Rendi yang melihat ekspresi Dini yang merasa panik, entah mengapa Rendi merasa sanggat bahagia.
"Siapkan air, saya mau mandi" perintah Rendi yang masih duduk di tempat tidur sambil melihat ponselnya.
"Baik tuan" Dini berjalan menuju kamar mandi, setelah selesai mengisi air ke dalam bathup Dini pun keluar, "sudah tuan" kata Dini sambil melihat kearah Rendi, Rendi yang mendengarnya berdiri tak lupa dia menyimpan ponselnya di meja.
"Siapkan pakaianku" kata Rendi sambil berjalan menuju kamar mandi. "Baik tuan" Dini berjalan menuju ruang ganti menyiapkan pakaian yang dimaksud Rendi. Setelah beberapa saat Rendi keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk, Dini yang melihatnya pun menutup matanya dengan kedua tanganya,
"Tidak perlu tutup mata, kamu harus terbiasa melihat saya seperti ini, buka matamu kalau tidak akan saya lepaskan handuk ini" kata Rendi yang masih berdiri di depan kamar mandi sambil melihat kearah Dini.
"Apaan ini dia mencoba menodai mata suciku" batin Dini, Dini berlahan mulai membuka kedua tangan, Dini kagum melihat betapa indah tubuh suaminya itu.
"Sudah puas lihatnya, awas giler" jawab Rendi
sambil berjalan menuju ruang ganti. Sementara Dini menutup kembali matanya karena malu. Setelah selesai Rendi memakai baju yang telah disiapkan Dini, Rendi berjalan menuju Sofa.
"Tunggu apa lagi sana mandi" perintah Rendi Dini yang mendengarnya langsung berdiri dan menuju kamar mandi, setelah selesai mandi, Dini keluar dengan menggunakan baju mandi dan menuju ruang ganti. Setelah selesai mengganti baju Dini dan Rendi turun ke bawah untuk sarapan, diperjalanan turun Dini memberanikan Diri untuk bertanya.
"Maaf tuan apakah saya bisa pergi ke kantor" tanya Dini,
"Terserah kamu" jawab Rendi singkat. Setelah selesai sarapan Rendi berangkat ke kantor bersama Bima meninggalkan Dini yang masih berada di meja makan. Setelah selesai makan Dini naik ke atas untuk siap-siap ke kantor.
"Nak mau kemana??" tanya tuan Dimas yang melihat Dini buru-buru turun dari tangga.
"Mau kekantor tuan" jawab Dini sambil merunduk.
"Baiklah, mau naik apa??"tanya Tuan Dimas lagi
"Saya sudah memesan taksi online tuan"
"lo diluar kan ada mobil, ini kuncinya",. "Lain kali saja tuan saya sudah terlanjur memesan taksi" kata Dini., " ya sudah kamu hati-hati ya" kata tuan Rendi sambil melihat Dini melangkah pergi.
Di kantor
"Bim kamu awasi wanita itu, setiap gerakannya" perintah Rendi "baik tuan" "dan satu lagi kamu bersihkan rumah itu, setelah pulang kerja saya akan membawa wanita itu pindah" perintah Rendi lagi "baik tuan" jawab Bima, sambil menggambil handphonenya lalu menelfon seseorang.
"Hay yu"sapa Dini sambil menuju meja kerjanya,
"Eh hay Din, pengantin baru sudah masuk kerja ya?" kata Ayu, Dini berlari menutup mulut Ayu
"Pelan kan suaramu nanti orang pada dengar"kata Dini sedikit khawatir.
"Owch maaf, aku lupa"kata Ayu tersenyum "eh kenapa kamu masuk kerja bukannya kamu cuti?" tanya Ayu penasaran "mana ada, aku itu cuti cuman satu hari"kata Dini.
"Hay Din, hay Ayu" sapa Roby yang membuat Ayu dan Dini kaget, " lo kalian kenapa??"tanya Roby yang melihat kedua wanita itu tampak khawatir.
"Hay Rob, kami tidak apa-apa ko" jawab Dini
"Owch baguslah, eh iya kemarin kalian kemana??,ko ngak masuk kerja??"tanya Roby penasaran.
"Ee kemarin aku Izin kurang enak badan soalnya" jawab Dini terbata-bata,
"Apa kalian sakit bersamaan ya" tanya Roby lagi sedikit curiga,
"Ngak ko aku kemarin izin karena ada urusan yang tidak bisa di tunda" jawab Ayu sambil melihat kearah Dini, berharap Roby tidak akan curiga.
"Owch begitu ya, eh sebentar makan bareng yuk?? Ajak Roby,
"Boleh" jawab Ayu singkat,
"kalau Dini gimana??" tanya Roby
"Bolehlah" jawab Dini tersenyum,
"Ok sampai ketemu" kata Roby sambil melangkah pergi, Dini dan Ayu melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Waktu istrahat pun tiba Dini, Ayu dan Roby berjalan bersama menuju kantin perusahaan.
"Kalian mau makan apa??aku traktir"
"Yakin lu??" tanya Ayu
"Yakinlah, makanya aku tanya kalian mau makan apa??"
"Aku nasi goreng saja" kata Dini
"Aku sama saja dengan Dini" jawab Ayu tersenyum
"Ya sudah, sebentar ya aku pesan dulu. Mba nasi gorengnya tiga" kata Roby
"iya mas tunggu sebentar ya" jawab seorang pelayan. Beberapa menit kemudian pesanannya datang Dini, Ayu dan Roby menyantap nasi gorengnya, setelah selesai Ayu,Dini dan Roby kembali ke ruang bekerja
"Makasih Rob traktiranya" kata Ayu
"Iya Rob lain kali aku yang traktir" jawab Dini,
"Janji ya" kata Ayu dan Roby bersamaan
"Iya janji" jawab Dini. Dini,Ayu dan Roby pun melanjutkan pekerjaan masing-masing.
Diruangan taun Rendi
"Maaf tuan semuanya sudah selesai" kata bima,
"Baguslah" jawab Rendi singkat "apa yang telah wanita itu lakukan??" tanya Rendi tanpa melihat kearah Bima
"Waktu istrahat nona muda, makan di kantin bersama nona Ayu dan seorang lelaki" jawab Bima
"Siapa laki-laki itu??"tanya Rendi kali ini dia menatap Bima dengan tatapan dinginya.
"Teman magang nya tuan" jawab Bima
"Beraninya dia dekat-dekat dengan laki-laki lain" batin Rendi.
Waktu menunjukan pukul empat sore Dini dan Ayu bersiap-siap untuk pulang, tring handphone Dini berbunyi tanda pesan masuk.
"Saya tunggu di parkiran, lima menit dari sekarang" pesan Rendi. Dini yang melihatnya kaget "apa...di parkiran, dia tau tempat kerjaku, terus apa-apaan lima menit dia pikir aku terbang apa" batin Dini kesal.
"Din pulang bareng yuk??" ajak Ayu,
"Ehm maaf ya aku sudah di jemput ni" jawab Dini sambil melihat kearah Ayu
"Cie cie yang di jemput suami" kata Ayu pelan,
"Apaan sih Ayu, sudah aku duluan ya" kata Dini meninggalkan Ayu "iya hati-hati ya" teriak Ayu.
Setelah sampai di parkiran Dini melihat mobil milik Rendi "ah benar dia menjemputku"batin Dini sambil menuju mobil. Iya Dini memang tidak mengetahui kalau CEO perusahaan tempat dia bekerja adalah tuan Rendi.
"Kamu terlambat tiga menit" kata Rendi di dalam mobil
"Maaf tuan, saya masih merapikan beberapa berkas"jawab Dini.
Mobil pun melaju meninggalkan perusahaan Tuan Rendi. Di perjalanan Dini melihat kerah jalan "lo kita mau kemana ini??, ini kan bukan jalan pulang ke rumah, apa dia mau membuangku karena terlambat tiga menit?? Batin Dini merasa sedikit khawatir.
Tak lama kemudian mobil memasuki halaman rumah yang begitu besar, " lo kita ngapain disini, apa dia akan menggurungku disini" batin Dini, kali ini Dini terlihat sangat khawatir.
Setelah mobil berhenti tepat di depan rumah yang cukup besar dengan dekorasi yang indah dan tentunya mewah. Bima membukakan pintu mobil Rendi pun turun sementara Dini masih tetap diam.
"Apa kamu tidak turun?? tanya Rendi yang melihat Dini hanya diam,
"Maaf tuan saya tunggu di mobil saja"jawab Dini sedikit takut, Rendi yang mendengarnya pun mulai marah,
"Kamu turun sendiri atau saya akan mengendongmu"kata Rendi dengan sedikit menekan setiap perkataannya. Dini yang mendengarnya pun seterah turun. "Bim kamu boleh pulang"kata Rendi " baik tuan" jawab Bima sambil masuk kedalam mobil dan melaju pergi.
Rendi masuk kedalam rumah diikuti Dini dari belakang, Rendi menjatuhkan tubuhnya di sofa sementara Dini terus berdiri tidak jauh dari sofa.
" Ini Ruma baru, kita akan tinggal disini"kata Rendi memecahkan kesunyian, Dini yang mendengarnya pun kaget.
"Apa rumah baru, haruskah kita tinggal berdua"batin Dini,. "maaf tuan saya belum membawah barang-barangku dan juga saya belum memberitahukan kepada tuan besar dan nyonya" kata Dini,
"Saya sudah memberitahukan papa dan mamaku" jawab Rendi
"Baiklah tuan"jawab Dini yang masih terus berdiri.
"Ngapain kamu berdiri disini??, sana masak!! Saya mau makan"perintah Rendi, "baik tuan" Dini pun berjalan menuju dapur untuk memasak. Setelah selesai memasak Dini menyiapkan makanan dia atas meja.,
"Tuan makanannya sudah siap" kata Dini, Rendi berjalan menuju meja makan dan duduk di salah satu kursi sementara Dini masih berdiri di samping meja makan.
"Kamu tidak menaruh racun kan didalam makanan ini??"tanya Rendi sambil menunjuk makanan yang ada di atas meja, "tidak tuan" jawab Dini, "duduklah dan makan duluan, jangan sampai kamu meracuniku" perintah Rendi, Dini duduk si sebuah kursi berhadapan dengan Rendi. Dini mengambil beberapa jenis makanan yang dia masak dan segerah memakannya, Rendi yang melihatnya juga ikut mengambil makanan yang ingin dia makan, "hmmm enak juga" batin Rendi, Rendi memakan makanannya dengan sangat lahap tanpa dia sadari Dini dari tadi melihatnya.
"Lahap sekali dia, apa dia sangat lapar" batin Dini yang masih terus melihat Rendi. Setelah selesai makan Dini merapikan meja makan dan mencuci piring sementara Rendi naik keatas menuju kamar, Dini selesai mencuci piring dan naik keatas mengikuti Rendi, terlihat Rendi berbaring di ranjang sambil memainkan ponselnya. Rendi yang melihatnya pun melemparkan satu bantal kepala ke lantai yang beralaskan karpet.
"Kamu tidur di bawah, jangan mimpi kamu bisa tidur di ranjang bersamaku, cukup aku berbaik hati mengizinkannmu tidur di kamar ini" kata Rendi yang mesin sibuk dengan ponselnya. Dini pun masuk ke kamar mandi dan membersikan diri setelah selesai Dini keluar sudah menggunakan baju tidur. Dini mengambil bantal yang dilemparkan Rendi dan berbaring di atas karpet yang berada di samping ranjang.
"Sapai segitunya dia membenciku, padal cuma sedikit memarahinya, bagaimana kalau saya merusaki barang-barangnya pasti dia akan membunuhku, Dini kamu harus kuat ini semua demi Denis" batin Dini., "Denis bagaimana kabarmu nak, apa kamu baik-baik saja disana??" batin Dini sambil meneteskan air matanya, Karena sangat cape Dini pun tertidur.
"Hey kamu" pangil Rendi tapi tidak ada jawaban sama sekali dari Dini, Rendi pun turun dari Ranjang dan menghampiri Dini.
"Sudah tertidur rupanya. Eh tunggu apa dia menangis??" batin Rendi yang melihat air mata di pipi Dini. "Apa saya terlalu berlebihan dalam membalas apa yang telah dia lakukan kepadaku" batin Rendi.
"Hay kak, jangan lupa like dan komennya ya di episod yang kalian sukai😉😘