TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN
04


Setelah beberapa menit dalam perjalanan mereka pun tiba dirumah sakit. Bima turun lebih awal dengan sangat buru-buru membukakan pintu mobil buat tuan Rendy.


Rendy keluar dari mobil dengan posisi memopong istrinya,.


"Cepat perikasa istriku!!" perintah Rendy setelah sampai didalam ruang rawat dan menenurunkan tubuh istrinya Dengan hati-hati Lalu melangkah keluar menunggu dokter selesai memeriksa istrinya


"Baik tuan" ucap seorang Dokter sambil memeriksa nona muda


"Maaf tuan, sepertinya nona muda harus di infus, karena tubuhnya sangatlah lemah" ucap Dokter setelah selesai memeriksa Dini


"Lakukanlah jika itu membuatnya lebih baik" ucap Rendy Dingin


"Baik tuan" ucap Dokter sambil memasang Jarum infus ke tangan Dini, setelah selesai dokter keluar dari ruang rawat.


"Bagaimana keadaan istriku apa dia baik-baik saja tanya Rendy setelah melihat Dokter keluar dari ruangan dimana Dini dirawat


"Keadaan nona mudah Dan juga bayinya sangatlah lemah, Jika terlambat sedikit mendapat Penanganan, itu dapat membuat bayi yang dikandung nona muda akan sulit bertahan (Keguguran)" ucap Dokter panjang lebar.


Rendy yang mendengarnya pun mengepalkan tangannya dia terlihat sangat marah tapi berusaha menahannya mengingat dia berada didepan ruang dimana istrinya dirawat.


"Apakah saya bisa melihatnya??" tanya Rendy lagi


"Silakan tuan" jawab Dokter sambil membungkukan badan


Rendy masuk kedalam ruang rawat istrinya diikuti Bima dari belakang, akan tetapi Bima hanya berdiri tepat dibelakang pintu. Rendy berjalan mendekati D ini yang masih belum sadarkan Diri dan duduk disebuah kursi tepat disamping ranjang dia mana Dini berbaring


"Sayang, maafkan aku, semua ini salahku" ucap Rendy sambil mengengam tangan istrinya dan sesekali mencium tangannya. Bima yang melihat pemandangan yang sangat langkah tepat dihadapannya.


"Sepertinya nona muda berhasil membuat tuan mudah mencintainya" Batin Bima yang terus memandang tuan dan nona muda.


Tak perlu berapa lama Rany, tuan Dimas dan juga Ibu Sri masuk kedalam ruangan Dimana Dini dirawat, etah siapa yang memberitahukan Mereka jika Dini sedang Dirawat.


"Kakak ipar.." pangil Rany saat melihat Dini terbaring lemah, Rendy yang sangat mengenali suara itu pun melihat kerarah suara dan betapa terkejutnya ketika melihat kedua orang tuanya tepat berdiri dibelakanya


"Pa, ma" ucap Rendy dengan suara pelan


"Kak, kenapa kakak ipar jadi seperti ini??, pa, ma lihat tangan kakak Ipar sampai biru begini dan juga wajahnya ada bekas tamparan " ucap Rany yang kini sudah berada di samping Dini


"Apa yang terjadi??" tanya Tuan Dimas dengan tatapan dingin


"Dini habis diculik pa" jawab Rendy pelan karena dia tau saat ini papanya sangat marah. Setelah mendengar ucapan Rendy tuan Dimas melihat kearah Ibu Sri yang se dari tadi hanya terus diam dan terlihat gelisah.


"Kasihan kakak ipar, siapa sih yang tega menculiknya?? Apa salah kakak ipar padanya sehingga dia tega membuat kaka ipar sampai seperti ini" ucap Rany yang kini sudah melai menangis karena melihat keadaan kakak iparnya yang terlihat lemah.


"Maafkan kakak, yang lalai menjaga kakak iparmu" ucap Rendy yang melihat adiknya menangis, dia tau bahwa Rany sangat menyayangi Dini.


"Aku tidak akan memaafkan kakak jika terjadi apa-apa dengan kakak ipar dan juga dede bayi" ucap Rany yang terus menangis.


Rendy yang mendengarnya hanya bisa diam karena dia tau bahwa ini merupakan kesahalannya.


"Tapi pa, Rany ingin menjaga kakak ipar" ucap Rany yang masih terus nangis


"Nanti, papa akan memberitahumu jika dia sudah sadar" ucap tuan Dimas yang terus membujuk putrinya untuk pulang. Rany yang mendengarnya pun menggaguk setuju dengan ucapan papanya


"Bima, antar Rany pulang ya!!" parintah tuan Dimas


"Baik tuan" jawab Bima lalu membukakan pintu untuk nona Rany, Bima dan Rany berlalu pergi


Tuan Dimas melihat Rendy terus mengengam tangan istrinya, terlintas jelas diwajah Rendy sangat khawatir dengan keadaan istrinya.


"Rendy, papa mau bicara" ucap tuan Dimas mecahkan keheningan


"Silakan pa",ucap Rendy yang masih terus mengengam tanga istrinya


"Kita bicara diluar" ucap tuan Dimas


"Baik pa, ma tolong jaga Dini ya" ucap Rendy lalu berdiri dari tempat duduknya


"Tidak, Mamamu ikut" ucap tuan Dimas yang langsung melihat kearah Ibu Sri yang dari tadi terlihat gelisa


"Baiklah" jawab Rendy sambil mengikuti langkah papanya.


Tuan Rendy melangkah menuju ruangan khusus jika mereka berada dirumah sakit, ya benar mereka mempunyai ruangan khusus termasuk ruang rawat yang hanya bisa ditempati oleh keluarga mereka.


"Ada apa pa??" tanya Rendy setelah sampai didalam ruangan yang terlihat sangat rapi. Tuan Dimas hanya diam dan terus melihat kearah Istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan


"Mama kenapa dari tadi hanya diam, apa mama sakit??" tanya Rendy kepada mamanya


"E...tidak nak mama baik-baik saja" jawab Ibu Sri tanpa melihat tatapan suaminya


"Aneh, kenapa papa terus memandang mama dengan tatapan seperti ingin memangsanya" batin Rendy yang sadar akan tatapan papanya.


"Apa yang sudah kami lalukan kepada menantumu??" tanya tuan Dimas dengan suara tinggi, seketika tubuh Ibu Sri bergtar karena takut, entah kapan terakhir dia melihat suaminya marah, iya memang, tuan Dimas tidak pernah marah-marah lagi semenjak Rendy menikah dengan Dini.


"Maksudt papi apa??" tanya Ibu Sri dengan suara gemetar


"Tidak perlu berpura-pura, sampai hati ya, kamu menyiksa wanita yang tidak bersalah" ucap tuan Dimas dengan nada suara yang masih tinggi.


Entah darimana tuan Rendy mengetahui perbuatan istrinya dan juga Serly.


"Maksut papa apa???" tanya Rendy yang masih merasa heran,


"Maafkan mama, Nak, pa" ucap Ibu Sri yang kini sudah berlutut didepan anaknya dan juga suaminya.


"Asal kamu tau perbuatanmu ini sangat keterlaluan, kamu hampir saja membunuh menantumu dan juga calon cucumu sendiri" teriak tuan Dimas, sementara Ibu Sri menangis setelah mendengar ucapan suaminya.


"Apaan ini??, jadi maksut papa, mama terlibat dengan penculikan Dini??" tanya Rendy dengan suara yang tidak kalah tinggi.