
Setelah selesai berbincang-bincang tuan Dimas dan juga Ibu Sri pamit
"Nak, papa dan mama pamit ya?? Papa harus balik ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda" ucap Tuan Dimas
"Iya pa" jawab Rendy dan juga Dini secara bersamaan
"Nak, jaga baik-baik istrimu, jangan sampai terluka lagi" ucap Tuan Dimas lagi
"Siap pa, Rendy akan menjaganya dengan baik" ucap Rendy sementara Dini Tersenyum setelah mendengar ucapan suaminya.
"Ya sudah, mama dan papa pergi dulu" ucap Ibu Sri sambil melangkah pergi diikuti dengan tuan Rendy.
"Sayang, kita pulang saja ya??" tanya Dini
"Lo, kamu kan baru sadar, nanti saja pulangnya ketika kamu sudah benar-benar sembuh" ucap Rendy sambil membelai rambut istrinya.
"Aku sudah sembuh ko, na lihat aku sudah bisa bangun" ucap Dini berusaha meyakinkan suaminya
"Tapi sayang"
"Plissss" ucap Dini memohon
"Ah baiklah, kita pulang sekarang" ucap Rendy Yang akhirnya mengiyakan permintaan istrinya
"Oh iya Bim, kamu siapkan mobil!!" perintah Rendy sambil melihat kearah Bima yang berada di dekat pintu
"Baik tuan" jawab Bima lalu melangkah pergi untuk menyiapkan mobil untuk nona dan juga tuan muda.
Setelah selesai menyiapkan mobil Rendy Dini masuk kedalam mobil begitu juga dengan Bima
"Sayang, aku boleh tanya ngak??" tanya Dini kepada Rendy
"Tanya apa sayang??" ucap Rendy sambil membelai rambut Dini
"Ayu tau ngak aku masuk rumah sakit??" tanya Dini,
"Iya sayang, dia bahkan datang menjengukmu Tadi" jawab Rendy lembut
"Terus kenapa dia tidak ada pas aku sadar??" Tanya Dini lagi,
"Apakah tuan akan jujur kalau dia menyuruh nona Ayu dan juga Roby pulang" batin Bima yang terus fokus menyetir
"Ehem, aku suruh dia pulang" jawab Rendy singkat
"Lo kenapa disuruh pulang sih" ucap Dini tidak suka
"Habisnya dia datang dengan lelaki itu" ucap Rendy datar, Dini yang mendengarnya pun terkejut, karena dia tau pasti laki-laki itu adalah Roby.
"Maksutku Roby ya??" tanya Dini memastikan
"Hmm" jawab Rendy
"Ko ekspresinya gitu" ucap Dini yang melihat ekspresi Rendy yang seperti sedang marah
"Aduh nona, tuan mudah sedang cemburu" batin Bima yang menjadi saksi darama antara Dini dan juga Rendy
"Kamu marah ya??" tanya Dini yang kini memegang wajah suaminya agar melihat kearahnya
"Aku tidak marah" ucap Rendy dingin
"Terus kenapa wajahnya gitu??, kamu cemburu ya???" tanya Dini lagi
"ialah,suami mana yang ngak cemburu melihat istrinya dijenguk seorang laki-laki yang juga menyukai istrinya" ucap Rendy panjang lebar. Bima yang mendengar kejujuran tuanya pun tersenyum
"Tapi akan, aku tidak mencintainya" ucap Dini setelah mendengar penjelasan dari suaminya
"Terus, siapa yang kamu cintai??" tanya Rendy yang terus memandang wajah cantik istrinya
"Pertanyaan macam apa ini??" batin Dini dan belum menjawab pertanyaan yang diberikan Rendy
"Terus, siapa yang kamu cintai kalau bukan laki-laki itu??" tanya Rendy lagi yang melihat Dini tidak menjawab pertanyaannya.
"Tentu saja suamiku" jawab Dini pelan lalu melepaskan tangannya dari wajah Rendy dan menunduk karena malu,
"Apa??tidak mendengarnya" ucap Rendy yang memastikan bahwa dia tidak salah mendengar
"Aku hanya mencintai suamiku, bukan orang lain" jawab Dini pelan dan masih dengan posisi yang sama tetap menunduk, Rendy pun tersenyum dan memegang dagu istrinya agar bisa melihat wajah cantiknya.
Cup
Satu kecupan mendarat dibibir mungil istrinya yang membuat Dini terkejut,
"Apa sih, malu ah" ucap Dini sambil menutup bibirnya dengan tangannya,. Rendy terus tersenyum melihat tingkah istrinya yang menurutnya itu sangat imut.
"Tidak ada yang melihatnya" ucap Rendy
"Bima kan ada" ucap Dini cemberut
"Bim apa kamu melihatnya??" tanya Rendy sambil melihat kearah Bima
"Tidak tuan" jawab Bisa yang tetap fokus menyetir
"Ngak mau" ucap Dini lalu sedikit menjauh dari Rendy.
"Ahahaha bercanda ko, Sini jangan jauh-jauh aku harus menjagamu" ucap Rendy
Setelah 30 menit diperjalanan mereka pun sampai, seperti biasanya Bima lebih awal turun dan membukakan pintu mobil untuk nona dan juga tuan muda.
"Terima kasih" ucap Rendy dan Dini bersamaan
"Iya sama-sama tuan, nona" jawab Bima
Didepan pintu terlihat beberapa pelayan yang berdiri menyambut kedatangan mereka
"Selamat datang tuan, nona",ucap para pelayan,Dini dan Rendy tersenyum kearah para pelayan setelah mendengar sapaan mereka
"Owch iya Bim, nanti kamu jemput Rany ya dan bawah dia kesini katanya dia ingin melihat kakak iparnya" perintah Rendy
"Baik tuan" jawab Bima. Rendy dan Dini pun masuk kedalam rumah
"Sayang kita duduk disitu dulu ya, aku Bosan jika berbaring dikamar" ucap Dini sambil menunjuk sofa yang ada di ruang tamu
"Baiklah sayang, apa sih yang ngak boleh buat kamu" ucap Rendy sambil memegang tangan Dini agar tidak terjatuh.
"Sayang" pangil Dini ketika sudah duduk disofa
"Ada apa sayang??" tanya Rendy yang ikut duduk disamping Dini
"Denis kapan bisa pulang??" tanya Dini yang tiba-tiba mengingat adiknya
"Kamu tidak perlu khawatir ya, Denis sudah sembuh bahkan sudah keluar dari rumah sakit" ucap Rendy Santai
"Lo, kalau Denis sudah keluar, terus dia tinggal dimana?? Dan dia makan apa?? Aku kan tidak memberinya uang waktu menjenguknya" ucap Dini yang mulai khawatir karena takut adiknya tidak mempunyai tempat tinggal
"Tenang sayang Denis baik-baik saja, aku sudah menyuruh orang-orang ku untuk mengantarnya dihotel dan juga menjaganya" jawab Rendy berusaha menenangkan istrinya
Dini pun bernafas lebah setelah mendengar ucapan Rendy
"Apa kamu ingin bicara dengan Denis??" tanya Rendy yang tau jika Istrinya itu sangat merindukan adiknya
"Iya aku ingin bicara denganya, ucap Dini yang terlihat bahagia, Rendy pun mengambil hpnya dari saku celananya dan memulai video call.
Denis (hay ka Dini) ucap Denis
Dini (hay Den, kamu baik-baik saja kan??)
Denis (iya ka aku baik-baik saja, kakak tidak perlu khawatir, aku disini dijaga oleh orang-orang kak Rendy dan juga ada Bi Lila yang menemani aku disini)
Dini (baguslah kalau begitu, kakak sedikit tenang)
Denis (owch iya kak, kak Rendy mana??, aku mau ngomong) Rendy yang mendengarnya pun mendekat kepada Dini agar bisa terlihat.
Rendy (Hay Denis, bagaimana kamu baik-baik saja kan disana, tidak ada yang memarahimu kan??)
Denis (Hay kak, seperti yang kakak lihat aku baik-baik saja dan juga semua orang-orang suruhan kakak baik-baik orangnya) ucap Denis sambil tersenyum
Rendy (Baguslah, kalau mereka maeah-marah lalungsung bilang ke kakaknya, biar kakak beri pelajaran kepada mereka) Sambil membalas senyum Denis
Denis (iya kak, owh iya kak, maksih ya sudah menyuruh orang-orang kakak untuk menjaga Denis dan juga mengizijikan Denis tinggal di hotel kakak) ucap Denis
Rendy (iya sama-sama Den, itu kan sudah menjadi kewajiban kakak juga untuk menjagamu) ucap Rendy
Dini (jadi kamu tinggal dihotel milik kak Rendy ya??) tanya Dini tak percaya
Denis (iya kak, ni lihat bagus kan??) ucap Denis sabil memperlihatkan ruangannya
"Wah aku kemana saja sih, kenapa baru Sadar kalau suamiku ini Orang kaya" batin Dini
Denis (kak, kak, ko melamun sih??)
Dini (ah, kakak hanya memikirkan sesuatu)
Rendy (Den, minggu depan kakak dan ka Dini akan menjemputmu)
Denis (benarkah??) tanya Denis memastikan
Rendy (iya Den, habis itu kita jalan-jalan ya, sesuai dengan janji kakak)
Denis (asik, kita jalan-jalan) ucap Denis
Rendy (owch iya Den, nanti lagi ya ngomongnya, soalnya kak Dini mau istrahat)
Denis (iya kak, sampai bertemu nanti) ucap Denis sambil mematikan video call
"Maksih ya sayang, sudah merawat dan menjaga adiku" ucap Dini sambil melihat kerah suaminya
"Iya sayang, Denis juga merupakan tanggung jawabku" ucap Rendy
"Owch iya, apa benar yang kamu bilang tadi??" tanya Dini memastikan
"Iya sayang, kita akan menjemputmu Denis ketika kamu sudah sembuh total" ucap Rendy yang mengerti maksut istrinya.