TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN
13


Jam sudah menunjukan pukul empat sore, terlihat Dini dan Ayu bersiap-siap untuk pulang


"Hay Din" sapa Roby sambil tersenyum


"Hay Rob, sudah mau pulang ya??" tanya Dini


"Iya ni, mau bareng??" ucap Roby yang masih tersenyum melihat Dini


"Ngak mungkin lah, Dini kan pulang bareng suaminya" ucap Ayu dengan suara tidak seperti biasanya.


"Galak amat sih, mana ada laki-laki yang mau denganmu, lihat Dini baik, lemah lembut, cantik lagi" ucap Rendy tanpa melihat Ayu tatapannya terus kerah Dini,.


"Bodo amat, ada laki-laki yang mau kepadaku atau tidak itu urusanku,kamu harus ingat dan simpan baik-baik di otakmu, Dini ini sudah menikah artinya dia sudah berstatus istri orang jadi aku mohon jauhi dia" ucap Ayu panjang lebar


"Ahahah aku tidak perduli dia sudah menikah atau belum intinya aku tetap mencintainya" ucap Roby yang membuat Dini merinding mendengarnya.


"Sudahlah Din, jangan dengarkan dia kita pergi sekarang" ucap Ayu sambil menarik tangan Dini,


"kalian kenapa??" tanya Rendy ketika bertemu Ayu dan juga Dini didepan lift


"Eh kami tidak apa-apa ko" jawab Dini sambil sesekali melirik Roby yang tmasih berdiri didekat mejanya


"Apa dia menggagumu??" tanya Rendy yang ikut melirik kearah Roby


"Iya tuan" ucap Ayu yang lasung ditutup mulutnya oleh Dini


"Ahaha, ngak ko dia hanya datang menyapa" ucap Dini yang masih terus menutup mulut sahabatnya itu.


"Ya, udah kita pulang sekarang" ucap Rendy sambil melirik Roby yang terus melihat kearah istrinya. Dini dan Ayu pun melangkah keluar bersama- sama


"Bim awasi laki-laki itu jangan sampai dia melukai istriku" perintah Rendy sebelum menyusul langkah istrinya


"Baik tuan" jawab Bima sambil mengikuti langkah tuan Rendy yang kini sudah melangkah keluar.


"Kamu hati-hati ya, dan lagi jangan terlalu berkat kasar sama Roby nanti dia marah lo" ucap Dini


"Ah bodo amat, bahkan lebih bagus jika dia marah jadi dia tidak akan mendekati aku dan juga kamu" ucap Ayu santai


"Ah terserah kamu saja, yang penting aku sudah mengigatkanmu" ucap Dini


"Hmmm iya, ya udah aku duluan?? Kamu juga hati-hati ya" ucap Ayu sambil melangkah menuju mobilnya dan berlalu pergi.


"Kenapa belum masuk??, kan bisa bahaya kalau berdiri sendiri" tanya Rendy setelah sampai di depan mobil


"Aku sedang menunggu suamiku dan mana ada orang yang berani menyakiti istri dari tuan Rendy sanjaya" ucap Dini sambil tersenyum sementara Rendy dan Bima yang mendengar ucapan Dini pun tersenyum


"Ya udah kita masuk sekarang" ucap Rendy setelah Bima selesai membukakan pintu mobil. Mobil Rendy yang disupiri Bima melaju meninggalkan area parkiran kontrakan dan menuju kediaman tuan Rendy.


Setelah beberapa menit dalam perjalanan mereka pun sampai, terlihat beberapa pelayan yang siap menyambut kedatangan nona dan juga tuan muda.


"Selamat datang tuan" sapa para pelayan setelah tuan dan nona Dini ingin melangkah masuk dan seperti bisanya hanya Dini yang membalas sapaan pada pelayan dengan senyum manisnya berbeda dengan Rendy yang tetap dengan wajah dinginnya


"Bi Ina" pangil Rendy sebelum naik keatas


"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu" ucap Bi Ina gugup setelah berada didepan Rendy


"Buatkan susu untuk istriku dan antarkan keatas" ucap Rendy dengan raut wajah Dingin


"Baik tuan" jawab Bi ina sambil melangkah ke dapur untuk membuatkan susu untuk Dini


"Sayang, kenapa raut wajahmu begitu??, kamu membuat para pelayan takut tau" ucap Dini sambil mengikuti langkah suaminya, Rendy terus melangkah memasuki kamar tanpa menjawab pertanyaan istri kecilnya.


"Sayang tunggu, kamu belum menjawab pertanyaan ku" ucap Dini sambil berlari kecil, tapi tetap saja tak ada jawaban dari suaminya itu.


"Ada apa dengannya??, apa aku membuat kesalahan??" batin Dini yang kini sudah berada masuk kedalam kamar dan tak lupa dia menutup kembali pintu kamar


"Sayang..., aw aw" teriak Dini sambil berhenti melangkah.


"Kenapa sayang??" tanya Rendy sambil melangkah menghampiri istrinya


"Aku juga tidak tau, tiba-tiba saja berutku kram" ucap Dini sambil terus memegang perutnya


"Aku suah bilang kamu tidak perlu bekerja" ucap Rendy sambil mengendong istrinya dan menurunkan diatas tempat tidur dengan hati-hati, Rendy mengambil hpnya dan menghubungi dokter Sinta


Sinta (hallo Ren, ada perlu apa??) tanya Sinta dari seberang


Rendy (kamu kesini sekarang) ucap Rendy tanpa basa-basi


Sinta (iya Ren Saya kesana Sekaran) sambil mematikan telefon dan berlari kecil menuju mobilnya


"Sayang, tunggu sebentar dokter Sinta akan kesini, apa masih kram??" tanya Rendy sambil memegang dengan lembut perut istrinya.


"Hmmm" ucap Dini yang terus menahan kram diperutnya.


Setelah beberapa menit suara ketukan pintu berbunyi


Tok tok


"Masuk" ucap Rendy sambil melihat kearah pintu


Sinta pun masuk sambil memegang segelas susu yang diberikan Bi Ina untuk Dini


"Ini susunya, apa yang terjadi dengan istrimu??" tanya Sinta setelah meletakan susu didekat meja detat tempat tidur.


"Ngak tau, tiba-tiba saja perutnya kram" jawab Rendy yang terlihat khawatir.


"Yaudah Saya periksa dulu" ucap Sinta sambil mendekat kearah Dini sementara Rendy turun dari tempat tidur agar dokter Sinta bisa memeriksa istrinya


"Ada apa dengan istriku??",tanya Rendy setelah melihat dokter sinta telah selesai memeriksa Dini


"Istrimu tidak apa-apa, Ini gejala yang biasa terjadi ketika hamil muda. rahim akan terus berkembang Sehingga menyebabkan ligamen dan otot yang menopang rahim menjadi menegang. hal ini yang menimbulkan Kram perut saat hamil muda, kamu tidak perlu khawatir karena Kram perut saat hamil muda umumnya merupakan kondisi yang normal terjadi" ucap Dokter Sinta panjang lebar


"Aahhh legah, aku khawatir terjadi apa-apa pada istri dan juga anakku" ucap Rendy


"Istrimu hanya perlu istrahat, Cobalah untuk Mengomores area perut yang kram dengan botol yang besisi air hangat untuk merendahkan nyeri" ucap Dokter Sinta


"Baiklah,, aku akan mencoba melakukannya" ucap Rendy lagi


"Ya udah saya pamit" ucap Dokter Sinta


"Ah iya, makasih ya, dan lagi satu tolong beritahu Bi Ina untuk membawah botol berisi air hangat untuk mengompres perutnya" ucap Rendy


"Iya sama-sama, nanti saya akan beritahu Bi Ina" ucap Sinta sambil melangkah keluar.


Tak perlu waktu lama Bi Ina datang dengan membawah botol yang berisi air hangat


"Ini tuan air hangatnya" ucap Bi Ina sambil memberikan botol yang berisi air hangat


"Baiklah terima kasih" ucap Rendy sambil mengambil botol yang diberikan Bi Ina


"Iya sama-sama tuan, kalau sudah tidak ada saya pamit tuan" ucap Bi Ina


"Hmmm, silakan" ucap Rendy, Bi Ina pun melangkah keluar tak lupa menutup kembali pintu kamar taun Rendy.


"Bagaimana rasanya??apakah sudah mendingan??" tanya Rendy sambi terus mengomores perut istrinya


"Iya sudah mendingan, sudah tidak nyeri seperti tadi" jawab Dini


"Kalau begitu istirahatlah" Peritah Rendy


"Baiklah" jawab Dini, tak perlu waktu lama Dini pun tertidur, Rendy menarik selimut dan menyelimuti istrinya, Rendy pun ikut berbaring disamping istrinya, karena merasa lelah tak perlu waktu lama Rendy pun ikut tertidur sambil memeluk istrinya.