TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN
Aneh


Jam menunjukan sudah pukul 12:00 terlihat Rendy merapikan beberapa berkas yang ada di atas mejanya,


"Bim, tidak perlu menyiapkan makan siang, saya akan makan siang dirumah" ucap Rendy sambil merapikan beberapa berkas diatas meja


"Baik tuan" jawab Bima yang kini sudah berada di depan meja tuan Rendy


Setelah selesai merapikan beberapa berkas Rendy menuju area parkiran diikuti Bima dari belakang, Seperti biasanya Bima setia membukakan pintu mobil untu tuannya dan beberapa menit kemudian mobil melaju meninggalkan area parkiran perusahaan


Tring tring hp Rendy berbunyi, Rendy yang mendengarnya pun mengeluarkan hpnya dari saku celananya


Rendy ( hallo) ucap Rendy setelah mengangkat telefon


Rany (kakak, papa menyuruh kakak dan kakak ipar datang kerumah untuk makan malam, katanya kangen) ucap Rany dari seberang


Rendy (papa kangen??, kangen sama menantu kesayangannya ya??" ucap Rendy


Rany (mungkin,) jawab Rany singkat


Rendy (apa jangan-jangan kamu yang kangen sama kakak iparmu, kalau kamu yang kangen bilang saja kamu jangan pakai acara jual nama papa" tebak Rendy


Rany (Ahahaha kakak tau saja) ucap Rany


Rendy (pasti taulah aku kan kakakmu) ucap Rendy lagi


Rany (pokonya kakak harus datang dan yang paling penting bawah kakak ipar ok, dah sampai berjumpa nanti malam) ucap Rany sambil mematikan telefon


"Dasar anak ini, kebiasaan selalu mematikan telefon seenaknya" ucap Rendy sambil melihat hpnya


"Oh iya Bim, sebentar malam saya kerumah papa, jadi jangan sampai telat menjemput" ucap Rendy


"Baik tuan" jawab Bima sambil fokus menyetir


Setelah 30 menit diperjalanan Rendy pun sampai dirumah, seperti biasanya Bima turun lebih awal untuk membukakan pintu mobil untuk tuannya


"Terima kasih" ucap Rendy setelah turun dari mobil


"Iya sama-sama tuan" jawab Bima yang kini mulai terbiasa dengan ucapan terima kasih dari tuan Rendy


"Selamat datang tuan" sapa Bi Ina yang berdiri di dekat pintu


"Hmmm, apakah dia sudah bangun??" tanya Rendy setelah berada cukup dekat dengan Bi Ina


"Belum tuan" jawab Bi Ina


"Astaga, jadi dia belum makan sama sekali??" tanya Rendy lagi


"Iya tuan" jawab Bi Ina sambil merunduk karena takut akan kena marah


"Ya sudah Bi Ina siapkan makan siangnya" perintah Rendy sambil melangkah menuju kamar, sementara Bima melajukan mobilnya menuju apartemennya


"Secape itukah dia sampai saat ini belum juga bangun" batin Rendy sambil menaiki satu persatu anak tangga. Rendy membuka pintu kamar dan langsung melihat kearah tempat tidur,.


"Sayang" pangil Rendy setelah berada di samping Dini


"Hmmm" jawab Dini yang masih memejamkan matanya


"Sayang bangun dong, sudah waktunya makan siang" ucap Rendy sambil mengusap-ngusap kepala istrinya


"Apa sudah siang??" tanya Dini dengan raut wajah terkejut


"Iya sayang ini sudah siang" ucap Rendy sambil tersenyum melihat ekspresi istri kecilnya


"Ah ini gara-gara kamu sih melakukannya sampai tiga kali, kan aku jadi cape" ucap Dini cemberut sambil bangun dari tidurnya


"Iya maaf, nanti aku akan melakukannya empat kali saja" ucap Rendy dengan senyum nakalnya


"Ah dasar mesum" ucap Dini lalu turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk membersikan Diri


"Mesum sama istri sendiri kan tidak apa-apa" ucap Rendy yang masih di dengar oleh Dini


"Dasar dia sengaja ya agar aku tidak pergi kekantor" ucap Dini setelah berada di kamar mandi


Setelah selesai membersikan diri dan Menganti pakaiannya Dini menghampiri Rendy yang duduk disofa sambil menonton televisi


"Sudah ya sayang" ucap Rendy yang melihat Dini berjalan menghampirinya


"Iya sudah, yuk kita makan aku sudah lapar tau, itu ngapai senyum-senyum??" ucap Dini yang melihat Suaminya tersenyum kearahnya.


"Sayang" ucap Rendy sambil memeluk pinggang dan mencium bahu istrinya


"Sayang aku lapar tau kalau kamu terus begini aku bisa-bisa mati kelaparan" ucap Dini yang mulai kesal


"Jangan ngomong gitu ah, ayo turun" ucap Rendy sambil melepaskan pelukannya dan melangkah lebih awal


"Apa dia marah??" ucap Dini pelan


"Ah bodo amat emang aku sudah sangat lapar" ucap Dini lagi sambil mengikuti langkah suaminya


"Waah, pasti enak" ucap Dini yang melihatnya sambil menarik salah satu kursi, berbeda dengan Rendy, Rendy yang melihat semua makanan diatas meja tiba-tiba nafsu makannya hilang


"Sayang, ngapain masih berdiri, ayo duduk" ucap Dini sambil menarik kursi yang ada disampingnya, Rendy pun mengikuti perintah istrinya


"Mau makan apa sayang biar aku ambilin" tanya Dini bersemangat


"Apa saja" jawab Rendy singkat, Dini pun mengambil sedikit sayur dan juga ikan


"Ni makanlah" ucap Dini lalu mulai memakan makannya


"Huwee" suara yang dikeluarkan Rendy ketika hendak memasukan satu sendok makanan di mulutnya


"Kamu kenapa sayang??" tanya Dini yang mendengarnya, Rendy pun berlari ke kamar mandi yang dekat dengan dapur


"Lo Bi Rendy kenapa??" tanya Dini yang melihat Rendy berlari menuju kamar mandi


"Kurang tau nona, sebaiknya nona menyusul tuan muda" ucap Bi Ina yang tidak jau dari meja makan, Dini pun berdiri dan menyusul Rendy


"Sayang, kamu munta ya?? Apa kamu sakit??" tanya Dini sambil memeriksa jidat suaminya


"Aku tidak apa-apa, mungkin masuk angin" jawab Rendy sambil mencuci muka


"Aku pangilkan dokter ya??" tanya Dini lagi yang sedikit khawatir dengan keadaan suaminya


"Tidak perlu sayang, aku hanya perlu istrehat saja, sudah lanjutkan makanmu, aku mau naik keatas" ucap Rendy sambil menarik tangan Dini keluar dari kamar mandi


"Benaran ni ngak apa-apa??" tanya Dini lagi dalam perjalanan menuju meja makan


"Iya tidak apa-apa, kamu makan dulu ya aku mau istrahat" ucap Rendy setelah sampai di meja makan, Dini mengangukan kepala tandanya dia setuju dengan apa yang di katakan suaminya.


Dini pun memakan makanannya dengan lahap sementara Rendy menuju kamar dan istirahat


"Bi, apakah dia sering begitu??" tanya Dini setelah selesai makan


"Baru kali ini tuan seperti itu" jawab Bi Ina sambil merapikan meja makan


"Aneh, katanya tidak sakit tapi dia munta-munta" ucap Dini binggung


"Mungkin tuan muda masuk angin" ucap Bi Ina


"Bisa jadi, Bi aku naik keatas ya" ucap Dini sambil berdiri dari tempat duduknya


"Iya nona" jawab Bi Ina, Dini pun melangkah pergi menuju kamar, sesampainya di kamar Dini melihat Rendy yang berbaring di tempat tidur


"Sayang, apakah sudah baikan??" tanya Dini saat sudah berada atas tempat tidur


"Lumayan" jawab Rendy sambil menarik Dini kedalam pelukannya


"Aku pangilkan dokter ya?" tanya Dini Sambil melihat wajah Rendy yang kini jaraknya tinggal 3 senti


"Aku sudah baikan ko" ucap Rendy lalu m******t bibir mungil istrinya, Rendy melakukannya sangat lama yang membuat Dini kesulitan bernafas, Rendy yang mengetahui itu pun menyudahi aksinya.


"Tidurlah sayang" ucap Rendy sambil mengecup jidat istrinya,. Tak perlu waktu lama mereka pun tertidur sambil berpelukan


Jam menunjukan pukul enam sore, Rendy telah selesai membersikan Dirinya dan Menganti pakaiannya


"Sayang, bangun dong" ucap Rendy yang kini sudah berada di samping Dini


"Hmmm" jawab Dini, Dini merasa akhir-akhir ini dia suka sekali tidur dan bermalas-malasan ditempat tidur


"Sayang, bangun dan siap-siap, kita kerumah papa" ucap Rendy


"Kerumah papa??" tanya Dini lagi sambil membuka matanya


"Iya sayang, papa ngajak kita makan malam disana" ucap Rendy panjang lebar


"Yaudah aku siap-siap dulu" ucap Dini lalu turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.


Setelah selesai bersiap-siap Dini menghampiri Rendy yang berada di atas tempat tidur sambil memainkan hpnya


"Sayang, aku sudah siap" ucap Dini Yang sudah berada di samping Rendy


"iya kita berangkat sekarang" ucap Rendy sambil menarik tangan Dini,


"Bi, tidak perlu masak untuk makan malam, saya dan Dini mau makan malam dirumah papa" ucap Rendy saat bertemu Bi Ina di ruang tamu


"Baik tuan" jawab Bi Ina


"Bi kita berangkat ya" ucap Dini"


"Iya nona, hati-hati dijalan ucap Bi Ina yang masih didengar oleh Dini dan juga Rendy.


Bima yang melihat nona dan tuan muda langsung membukakan pintu mobil dan mempersilakan Dini dan juga Rendy masuk,.


Setelah Rendy dan Dini masuk Bima melakukan mobilnya meninggalkan halaman Rumah nuna dan tuan muda