TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN
Bertemu Serly


"Apa kamu sudah makan??" tanya Rendy sambil melepaskan pelukannya


"Belum, kita makan bareng ya??" ucap Dini,


"Mau makan diluar atau dirumah??" tanya Rendy lagi


"Makan dirumah saja, kan Bi Ina sudah masak" jawab Dini


"Baiklah" ucap Rendy sambil menarik tangan Dini turun kebawah


Di dapur terlihat Bi Ina sedang sibuk menyiapkan makan siang untuk nona dan juga tuan muda


"Apa makanannya sudah siap?? Tanya Dini ketika sampai di dapur


"Sudah nona," ucap Bi Ina sambil mempersilakan Dini dan Rendy untuk duduk


Setelah Dini dan Rendy selesai makan Bi ina kembali membersikan meja makan dan juga mencuci piring yang telah digunakan, sementara Dini dan Rendy duduk di ruang keluarga.


"Sayang" pangil Dini


"Hmmm" jawab Rendy singkat sambil fokus kehpnya


"Mau balik ke kantor?? " tanya Dini lagi


"Iya sayang, aku Ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan" jawab Rendy


"Owch" ucap Dini setelah mendengar jawaban dari Rendy


"Ada apa sayang??" tanya Rendy yang kini melihat kearah Dini


"Boleh aku ke kantor??, habisnya aku bosan tinggal dirumah" ucap Dini sambil memegang tangan Rendy


"Apa sudah tidak sakit??" tanya Rendy sambil menatap Dini


"Kalau aku bilang masih sakit pasti dia tidak akan mengizinkannya" batin Dini


"Hmmm, ada sih tapi sedit, " jawab Dini sambil merunduk karena malu


"Yaudah, bareng aku saja" jawab Rendy


"Makasih sayang" ucap Dini sambil memeluk Rendy


"Hmmm" jawab Rendy singkat


"Aku siap-siap dulu ya" ucap Dini sambil berjalan menuju kamar


Setelah selesai Dini bersiap-siap mereka pun menuju halaman parkir


"Hmmm, sepertinya tuan muda sudah menerima kehadiran nona muda" batin Bima yang melihat Rendy berjalan sambil memegang tangan Dini


"Selamat siang pak" salam Dini sambil tersenyum


"Siang nona" jawab Bima sambil mempersilakan nona dan tuan muda untuk masuk, mobil pun melaju menuju kantor.


Setelah 30 menit diperjalanan mereka pun sampai, Bima kembali membukakan pintu untuk tuan dan nona muda,


"Ngapain jauh-jauh??" tanya Rendy yang melihat Dini berdiri sedikit jauh darinya


"Maaf, ini kantor malu dong diliatin orang" jawab Dini pelan berharap Bima tidak akan mendengarnya


"Memengnya kenapa?? kamu kan istriku" ucap Rendy


"Tapi..." belum selesai Dini berbicara Rendy menarik tangan ya dan merjalan bersama


"Aduh aku malu" ucap Dini sambil menutup wajahnya dengan tasnya.


Semua kariyawan yang melihatnya pun terkejut,


"Lo wanita itu kan yang magang di kantor ini??, ada hubungan apa dengan tuan muda" ucap beberapa orang kariyawan


Rendy pun memebawah masuk Dini kedalam ruangannya.


"Duduklah, jika ada yang kamu butuhkan bilang saja pada Bima" ucap Rendy sambil berjalan Menuju meja kerjanya.


"Terus aku ngapain disini??kan aku bilang aku mau kerja" ucap Dini sambil mengikuti Rendy


"Aku tidak mendengarnya, tadi kamu hanya bilang ikut kekantor, Bukan datang bekerja" ucap Rendy santai


"Tapi..." ucap Dini


"Sudahlah, kamu istrahat saja" ucap Rendy Dini yang mendengarnya pun kembali ke sofa


"Isss ini sama saja dengan dirumah, membosankan tau" ucap Dini kesal


Dini (hallo) ucap Dini setelah mengangkat panggilan


Ayu ( Din kamu dimana??)


Dini (di kantor)


Ayu ( jadi benar dong apa yang dibicarakan semua kariyawan)


Dini (apa??) ucap Dini sambil berdiri dari tempat duduknya, Rendy yang mendengarnya pun melihat kerah Dini


Ayu (aduh Din pelan kan suaramu, bisa-bisa gendang telingaku pecah)


Dini (maaf, maaf habisnya aku kaget, jadi semua karyawan sudah tau?)


Ayu (sepertinya belum, soalnya mereka masih menanyakan apa hubunganmu dengan tuan muda)


Dini (Alhamdulillah kalau begitu)


Ayu (terus kamu dimana??)


Dini (diruangan suamiku, dia tidak mengizinkanku untuk bekerja)


Ayu (baiklah, tapi kamu baik-baik saja kan??)


Dini (iya aku baik-baik saja ko)


Ayu (baguslah, owch iya Din aku lanjut kerja dulu ya?)


Dini (owch iya, sampai ketemu nanti) ucap Ini sambil mematikan hpnya


"Siapa yang nelfon??" Tanya Rendy


"Ayu" ucap Dini singkat dengan raut wajah kesal


"Kenapa??" tanya Rendy


"Tu para kriyawan sudah pada omongin aku, habisnya sih sayang mengandeng tanganku tadi" ucap Dini


"Sudahlah nanti, nanti Bima yang urusi" ucap Rendy sambil duduk disamping Dini


"Aku mau pulang" ucap Dini dengan raut wajah yang masih kesal


"Yaudah kita pulang skarang" jawab Rendy sambil berdiri dari tempat duduknya Diikuti Dini, mereka keluar menggunakan Lift pribadi yang hanya bisa digunakan oleh Rendy dan juga Ayahnya


"Lo lift ini aku tidak pernah melihatnya" ucap Dini setelah berada Didalam lift


"Lift ini peribadi aku dan Ayah, tapi skarang punya kamu juga"ucap Rendy sambil mengengam tangan Dini


Setelah sampai Dini dan Rendy menuju parkiran.


"Sayang" pangil Serly Sambil menghampiri Rendy dan juga Dini


"Iss Lepaskan tanganmu" ucap Serly sambil menepis tangan Dini


Rendy yang melihat kedatangan Serly pun mulai marah dan ditambah lagi Serly menepis tangan Dini


"Ngapai kamu disini?? Tanya Rendy dengan tatapan dingin ya


"Aku merindukanmu jadi aku kesini untuk Bertemu denganmu" ucap serly sambil mengandeng tangan Rendy,


"Apa-apan kamu?? Ini kantor lo" ucap Rendy sambil menepis tangan Serly dan melihat kearah Dini.


"Maaf tuan, saya pulang duluan ya" ucap Dini sambil melangkah pergi


"Sudah sana pergi" ucap Serly dengan tatapan sinis nya


"Dini" pangil Rendy berharap Dini akan kembali tapi Dini malah menahan taksi dan pergi peningalkan Rendy dan juga serly


"Sayang biarkan saja dia pergi" ucap Serly santai


"Kamu tuh kenapa ha?? Kita itu sudah tidak mempunyai hubungan lagi jadi mohon berhentilah bersikap seperti kita ada hubungan" ucap Rendy dengan suara keras.


"Tapi sayang, aku masih mencintaimu" ucap Serly sambil mengandeng tangan Rendy lagi


"Lepaskan tanganmu aku mau mengejar istriku",ucap Rendy yang membuat serly terkejut


"Apa istrimu??, apa kamu benar- benar sudah menikah??" tanya Serly


"Aku kan sudah bilang kalau aku sudah menikah jadi berhentilah menemuiku" ucap Rendy sambil masuk kedalam mobil dan melaju meninggalkan Serly.