TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN
First Kiss


Setelah 30 menit dalam perjalanan pulang Dini pun sampai dirumah, Dini turun dari taksii tak lupa dia membayar ongkos taksi dan masuk kedalam rumah dengan buru-buru.


"Lo dimana manusia kulkas itu" kata Dini pelan sambil melihat kebeberapa arah tapi dia tidak menemukan keberadaan Rendy,. Dini naik keatas dan mencoba membuka pintu kamar sedikit dan memasukan kepalanya dia melihat kebeberapa sisi kamar tapi dia tidak menemukan Rendy, Dini pun masuk kedalam kamar dan menutup kembali pintu kamar.


"Kemana dia pergi??, atau Bima


membohongiku ya??" kata Dini sedikit kesal, sambil menyimpan tasnya di atas meja, "mandi dulu ah badanku terasa lengket" batin Dini sambil menuju kamar mandi.


Di ruang kerja terlihat Rendi yang sedang duduk di sofa yang berada di sudut ruang kerjanya.


"Ahh ada apa denganku kanapa terus memikirkan wanita bodo itu" sambil mengacak-ngacak rambutnya. "Apa dia belum juga datang? Apa perlu saya membeli rumah di dekat kantor agar dia cepat datangnya??" batin Rendi.


Rendi melangkah keluar dari ruang kerjanya menuju kamar, setelah membuka pintu kamar matanya langsung tertuju pada tas yang berada di atas meja.


"Owch ternyata sudah datang, kenapa tidak memanggilku??" kata Rendy pelan sambil menutup kembali pintu kamar. Rendy berjalan menuju sofa dan menjatuhkan tubuhnya.


Setelah beberapa menit, pintu kamar mandi terbuka Rendi yang mendengarnya pun melihat kerah kamar mandi, Dini keluar dengan menggunakan handuk, terlihat sangat jelas kaki panjangnya dengan kulit yang putih bersih, Rendy yang melihatnya tanpa mengedipkan mata, Dini berjalan menuju ruang ganti tanpa dia sadari Rendy sedang melihatnya dengan tatapan ingin memakannya.


Setelah selesai Menganti pakaian Dini berjalan menuju meja rias betapa terkejutnya dia melihat Rendy sudah duduk santai di sofa.


"**..tuan kapan datangnya?" tanya Dini terbata-bata "aduh apa dia melihat aku tadi cuma menggunakan handuk?? ah malu baget,." batin Dini.


"Dari tadi" jawab Rendy singkat sambil menatap Dini,. Dini duduk di meja rias dan memakai beberapa krim, dan sekali dia melirik Rendy yang masih terus melihatnya.


"kenapa dia terus melihatku seperti itu, apakah ada yang salah dengan penampilanku" batin Dini sedikit khawatir.


"Sudah selesai perawatannya??" tanya Rendy


"Sudah tuan" jawab Dini sambil merunduk karena malu.


"Sini duduk di sampingku" perintah Rendy " tapi tuan" "kamu yang kesini atau saya yang kesitu" ucap Rendy yang terlihat kesal. "Baik tuan" jawab Dini sambil berjalan menuju sofa.


"Duduklah" perintah Rendy, Dini pun duduk tepat di samping Rendy


Deg


"Ah kenapa setiap kali dekat dengan wanita ini jantungku berdebar sangat cepat" batin Rendy.


"Apa saya mulai menyukainya? Ah mana mungkin, pasti jantungku yang bermasalah" batin Rendi yang terus menatap wajah Dini tanpa dia sadari Dini sudah memanggilnya beberapa kali.


"Tuan, tuan kenapa?? Apa tuan sakit??" kata Dini sambil memeriksa jidat Rendy, Rendy pun tersadar karena sentuhan Dini.


"Ah ngapai kamu pengang-pengang, kamu mau menggodaku kan??" tanya Rendy


"Ah mana ada, saya cuma memeriksa tuan, kirain sakit habisnya saya memanggil tuan beberapa kali tapi tidak ada jawaban" kata Dini


"Ah bilang saja kalau mau menggodaku" kata Rendy lagi yang masih menatap Dini,


"Ngak ko. Owch iya, ada apa tuan menyuruhku pulang??" tanya Dini penasaran.


"Ah iya saya hampir lupa tujuan saya menyuruhnya pulang" batin Rendy.


"Besok saya akan berangkat ke Amerika"


"Ya udah berangkat saja sana" jawab Dini tanpa sadar. "Apa cuma itu yang dia katakan dia tidak mau ikut gitu? " batin Rendy, " eh tunggu, apa tuan bilang??, tuan mau ke Amerika??" tanya Dini yang sadar akan ucapan Rendy tadi.


"Hmmm" jawab Rendy sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. Dini yang mendengarnya pun spontan memegang tangan Rendy yang membuat Rendy terkejut dan lagi-lagi jantung Rendy berdetak tak beraturan.


"Tuan saya ikut ya, saya cuma ingin melihat adik saya" ucap Dini sambil memasang wajah memohon.


"Aduh imutnya "batin Rendy.


"Tidak bisa, ketemunya nanti saja" jawab Rendy sedikit tinggi.


Dini yang mendengarnya pun melepaskan tanganya dari tangan Rendy dan merunduk karena sedih, Rendy yang melihatnya pun tak tega.


Rendy memegang dan mengangkat dagu Dini agar melihat arahnya. Kini Rendy dan Dini saling bertatapan, mata Rendy tertuju kearah bibir munggil Dini sambil menelan Salivanya, tanpa Rendy sadari dia telah mencium bibir mungil Dini, sementara sang pemilik langsung membulatkan bola matanya karena kaget apa yang dilakukan Rendy. Rendy mencium bibir Dini sangat lama hinga membuat Dini kesulitan bernafas, Dini berusaha menghindar tetapi semakin dia menghindar Rendy semakin mempererat pelukanya.


Berapa menit kemudian Rendy pun sadar apa yang telah dia lakukan, Rendy berlahan melepaskan pelukannya, Dini berusaha mengatur nafasnya agar kembali normal, Rendy beranjak dari duduknya dan pergi menuju kamar mandi, sementara Dini masih diam sambil menutup bibirnya dengan tangan,


"Apa dia sudah gila ya?, dia hampir saja membunuhku. dan lagi dia berani-beraninya mengambil ciuman pertamaku yang ingin aku berikan hanya kepada orang yang aku cintai " batin Dini kesal sambil mengosok-ngosok bibirnya.


Di kamar mandi Rendy menjalankan air dan mencuci muka, telah selesai Rendy menatap kearah cermin.


"Apa yang saya lakukan? kenapa malah menciumnya?, ah habisnya bibirnya begitu menggoda,.batin Rendy sambil menatap dirinya di cermin dan tersenyum, "kenapa dia sama sekali tidak membalas ciumanku bahkan dia kesulitan mengatur nafasnya" ucap Rendy penasaran.


*


Keesokan paginya Dini melakukan pekerjaannya seperti biasanya, tapi kali ini Dini harus memilihkan beberapa baju yang akan dibawah Rendy ke Amerika.


"Gini sudah cukup apa belum ya" ucap Dini pelan. takutnya dia membangunkan si manusia kulkas eh salah maksutnya Rendy😂🤭


Setelah selesai membersikan diri, Rendy keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk dan menuju ruang ganti, Rendy sudah berdiri tepat depan Dini, karena Dini sibuk memilih beberapa baju, dia tidak menyadari jika Rendy sudah berada di depannya.


"Mana baju saya?" ucap Rendy yang membuat Dini terkejut sambil melemparkan beberapa baju yang ada di tangannya. Dini yang melihat Rendy hanya mengunakan handuk langsung berbalik membelakangi Rendy. Rendy yang melihat tingkah istrinya itu merasa lucu


"Apa dia malu karena aku menciumnya? dasar boca gitu saja malu" batin Rendy


"Kamu kenapa??" tanya Rendy sambil senyum-senyum mengingat kejadian kemarin


"Tidak apa-apa tuan" jawab Dini gugup


"Hey mana baju yang akan saya pakai" tanya Rendy lagi,


"Ii...tu tuan" jawab Dini terbata-bata sambil menunjuk kearah baju yang dimaksudnya dengan posisi yang membelakangi Rendy.


"Tidak mau, mana mungkin saya memakai bajumu" ucap Rendi karena melihat arah yang ditunjukan Dini adalah baju milik Dini. Dini yang mendengarnya pun berbalik menghadap Rendy.


"Maaf tuan, maksutnya yang ini" kata Dini sambil menunjuk baju yang hendak dipakai Rendy. Rendy pun mengambil baju yang dimaksud Dini dan hendak memakainya tapi, Rendy melihat Dini yang terus berdiri dihadapannya sambil merunduk, lagi-lagi muncul kelakuan jahilnya.


"Apa kamu ingin membantu saya memakai baju??" tanya Rendy menggoda.


"Aaa tidak tuan" kata Dini sambil berlari pergi meninggalkan ruang ganti. Sementara Rendy yang melihatnya pun tersenyum puas karena berhasil menjahili istrinya.


"Ah bikin malu, ngapain aku harus membatu dia memakai baju " batin Dini dengan wajah yang merah malu.


Setelah selesai bersiap-siap Rendi dan Dini turun kebawah, diperjalanan turun kebawah Dini terlihat sedih.


"Tidak perlu perlihatkan wajah sedihmu!!, kain kali saya akan mengajakmu untuk bertemu dengan adikmu" ucap Rendy


"Benarkah tuan akan mengajaku??" tanya Dini penasaran


"Hmmm" jawab Rendy, Dini yang mendengarnya tersenyum bahagia,.


"Apa sebegitu bahagiannya ingin bertemu dengan adiknya, bahkan dia tidak merasa sedih kalau saya tinggalkan" batin Rendy sedikit kesal.


Diluar terlihat Bima sudah siap membukakan pintu untuk tuan muda, Rendy pun masuk kedalam mobil sambil menurunkan kaca mobil dan pamit pergi.


"Saya berangkat dulu" kata Rendy, "iya hati-hati ya" jawab Dini sambil tersenyum.


"Lihat itu bahkan dia bisa tersenyum saat saya meninggalkannya" batin Rendy kesal


Mobil tuan mudah melaju meninggalkan Dini yang masih berdiri di depan pintu.


"Bim beritahu Bi Ina, untuk menemani Dini" perintah Rendy.


"Baik tuan" jawab Bima


"Ternyata tuan muda juga khawatir meninggalkan nona muda sendiri " batin Bima sambil mengirimkan pesan kepada Bi Ina.


Setelah menerima pesan dari Bima Bi Ina langsung pergi menuju rumah Rendy dan Dini


Ting ting ting suara bel berbunyi Dini yang mendengarnya pun turun melihat siapa yang datang.


"Siapa yang datang ya??" ucap Dini sambil menuruni anak tangga. Setelah sampai Dini membuka pintu, Terlihat seorang ibu paruh baya berdiri di depan pintu.


"Eh bi Ina, silakan masuk" ucap Dini, bi Ina pun masuk, Dini mempersilakan bi Ina duduk.


"Tunggu sebentar ya bi saya ambilkan teh" ucap Dini yang hendak berjalan tapi ditahan oleh Bi Ina


"Tidak usah nona" ucap bi Ina sambil tersenyum.


"Maaf, ada perlu apa Bi Ina kemari??" tanya Dini sambil duduk kembali


"Tuan muda menyuruh saya temani nona selama tuan mudah di Amerika" jawab Bi Ina


"Maaf ya sudah merepotkan Bi Ina" ucap Dini sambil tersenyum. "dia fikir aku ini anak kecil apa yang perlu di temani " batin Dini.


"Ini sudah menjadi tugas saya nona" jawab Bi Ina lagi


"


Ya sudah sini saya tunjukan kamar buat Bi Ina" ucap Dini sambil berjalan menuju kamar yang tidak jauh dengan dapur. Setelah sampai Dini membukakan pintu kamar dan mempersilakan Bi Ina masuk.


"Masuklah, Bi Ina istrahat dulu ya, Dini mau keatas" ucap Dini sambil berjalan menuju kamarnya. Bi Ina yang melihatnya terus tersenyum.


"Nona muda sangat baik dan juga cantik, beruntungnya tuan muda menikahinya, semoga tuan muda bisa mencintainya" batin Bi Ina.


"hay kak, jangan lupa ya like dan komennya pada episode yang kalian sukai😉😘 dan maaf jika ada kesalahan🙏🏼🙏🏼"