
Beberapa jam kemudian Rendy pun tiba di Amerika, Rendy dan Bima langsung menuju rumah sakit karena hari ini merupakan hari dimana Denis akan mengikuti operasi. Setelah sampai Rendy di jemput oleh Dokter Adit yang merupakan Dokter pribadinya jika berada di Amerika. Setelah Rendy mengurus surat persetujuan dan menjenguk Denis, Rendy dan Bima balik ke hotel dan istrahat, keesokan paginya Rendy dan Bima kembali di kota X.
*
Di keluarga Dimas terlihat Ibu sri dan tuan Dimas duduk di ruang keluarga.
"Asalamualaikum, ma....mama....mama" pangil Rany, Ibu Sri yang mendengarnya pun merasa senang karena putrinya sudah kembali.
"Di sini sayang" jawab Ibu sri sambil melihat kearah putrinya. Rany pun menuju ruang keluarga, Rany berlari dan memeluk mama, dan papanya.
"Putri kesayangan mama sudah balik ya, gimana liburannya??" tanya Ibu sri.
"Sangat menyenangkan ma" jawab Rany sambil melepaskan pelukannya. "oh iya ma, kak Rendy mana??" tanya Rany yang tidak melihat keberadaan kakaknya itu.
"Kakakmu ada di rumahnya" jawab tuan Dimas sambil mengelus-ngelus rambut puntrinya.
"Rumahnya??, sejak kapan kakak mempunyai Rumah?? tanya Rany penasaran
"Ya sejak kakakmu menikah" jawab ibu Sri sambil memaksakan tersenyum
"Lo kaka sudah menikah??menikah dengan siapa si ma...pa..?? Tanya Rany lagi, tuan Dimas yang mendengar pertanyaan putrinya pun tersenyum
"Satu satu dong pertanyaannya!!, iya kakakmu sudah menikah dan kakakmu menikah dengan Dini" jawab tuan Dimas
"Dini?? Aku tidak mengenalnya" ucap Rany semakin penasaran, sementara ibu Sri hanya diam mendengar pertanyaan putrinya itu.
"Kamu ingin mengenalnya ya??" tanya tuan Dimas
"Iya dong aku kan mau melihat kakak iparku, pasti dia cantik" jawab Rany
"Kalau begitu beritahu kakakmu untuk membawah istrinya kesini" ucap tuan Dimas
"Owch iya, aku menelfon kakak ah" ucap Rany sambil mengambil hpnya dan menelfon kakaknya. "Ah nomornya tidak aktif" ucap Rany sedikit kecewa. " mungkin kakakmu lagi rapat" ucap tuan Dimas berharap putrinya tidak kecewa.
*
Rendy dan Bima pun tiba di kota X dan langsung menuju kantor karena ada beberapa berkas yang perlu di tandatangani sekarang. Setelah sampai Rendy masuk ke ruangan nya diikuti Bima dari belakang.
"Ah melelahkan" kata Rendy sambil menjatuhkan tubuhnya kesofa begitu juga dengan Bima.
Tring....tring suara hp Rendy berbunyi
"Maaf tuan, ini panggilan dari nona Rany" ucap Bima sambil memberikan hp tuan Rendy,
Rany (Hallo kak)
Rendy (iya Ran, kamu kapan pulangnya??)
Rany (aku sudah dirumah loh, kakak kapan kesini??)
Rendy (nanti malam ya baru kakak kesana)
Rany (baiklah kak, oh iya kak bawah juga kakak ipar ya aku ingin melihatnya!!, sampai jumpa ka) sambil mematikan telefon.
"Dasar anak ini, selalu merepotkan" ucap Rendy, Bima yang mendengarnya hanya bisa Diam
"Bim beritahu wanita itu untuk bersiap-siap nanti malam kita akan ke rumah mama" perintah Rendy
"Baik tuan" jawab Bima sambil mengirimkan pesan kepada Dini.
Tring...bunyi pesan masuk di hp Dini, Dini yang mendengarnya pun meraih hpnya dan melihat pesan dari siapa.
"Bima,? ngapain dia mengirimkan pesan, bukanya mereka masih di Amerika??,ucap Dini pelan sambil membuka pesan dari Bima
"Maaf nona, tuan muda menyuruh nona bersiap-siap, sebentar malam nona dan tuan muda pergi ke rumah tuan besar"
"Ternyata mereka sudah kembali, tapi kenapa tidak memberitahuku?, apa sih yang kamu pikirkan Dini..., kamu kan tidak dianggap istri oleh manusia kulkas itu" bati Dini dengan ekspresi sedih, sementara Ayu yang melihatnya merasa heran.
"Kamu kenapa Din???" tanya Ayu sambil melihat kearah Dini.
"Tidak kenapa-kenapa ko" jawab Dini sambil tersenyum.
"Kalau ada apa-apa cerita ya padaku sapa tau aku bisa bantu" ucap Ayu,
"iya Yu" jawab Dini.,
"Din sebentar malam kita nonton yuk" Ajak Ayu.
"Maaf ya aku ngak bisa kalau sebentar malam" jawab Dini
"memangnya kenapa Din, kan suamimu di Amerika" ucap Ayu,.
"Dia sudah kembali, terus dia mengajaku ke rumah ibu mertuaku " jawab Dini merasa sedih karena tidak bisa menerima ajakan Ayu.
"Owch gitu, ya sudah lain kali saja perginya, dan tidak perlu merasa bersalah kan lain kali bisa pergi" kata Ayu meyakinkan Dini.
"Terima kasih ya sudah mengerti, aku janji lain kali kita akan pergi" kata Dini sambil tersenyum
"Iya sama-sama" jawab Ayu sambil membalas senyum Dini. "Yu aku balik duluan ya mau bersiap-siap soalnya" ucap Dini " baiklah hati-hati ya" ucap Ayu "iya Yu, daaaa" ucap Dini sambil melangkah pergi.
30 menit kemudian Dini sampai dirumah dan langsung naik keatas menuju kamar. Dini menjatuhkan tubuhnya ke sofa
"Bagaimana keadaan Denis sekarang ya?? Ucap Dini sambil menutup matanya, tidak menunggu lama Dini pun tertidur. Hari mulai sore Rendy masuk didalam mobil dan mobil melaju menuju rumah.
"Bim kamu boleh pulang, nanti saya dan Dini yang akan pergi kerumah mama" ucap Rendy., "baik tuan"jawab Bima,. Setelah beberapa menit diperjalanan Rendy pun sampai dirumah, setelah Rendy masuk kedalam rumah Bima pergi meninggalkan kediaman Rendy. Rendy masuk kedalam rumah dan langsung disapa oleh Bi Ina
"Selamat datang tuan"sapa bi Ina sambil membungkukan badan "Hmmm, wanita itu sudah kembali??"tanya Rendy yang masih berdiri di hadapan bi Ina. "Sudah tuan, nona muda sudah kembali tadi siang" ucap bi Ina, "baiklah, owch iya Bi Ina kerja disini saja, nanti saya akan memberitahukan tuan besar" perintah Rendy sambil berjalan menaiki tangga, " baik tuan" jawab Bi Ina yang masih didengar Rendy. Rendy membuka pintu kamar dan masuk kedalam tak lupa dia menutup kembali pintunya.
"Kemana perginya wanita itu" ucap Rendy sambil berjalan menuju meja untuk meletakan tasnya, Rendy memutar bola matanya mencari-cari keberadaan wanita itu.
"Ternyata dia di situ" batin Rendy sambil menuju sofa, " sudah sore begini masih tidur dasar pamalas, Hey bangun sudah sore tau!!" ucap Rendy dengan suara keras yang membuat Dini cepat-cepat bangun dari tidurnya dan langsung berdiri tapi karena masih dalam keadaan antara sadar dan tidak, Dini tidak dapat mengimbangi tubuh mungilnya itu sehingga jatuh, Rendy dengan siap memeluk tubuh mungil Dini. Deg lagi-lagi jantung Rendy berdetak tidak beraturan.
"Ah sial lagi-lagi jantungku bermasalah" batin Rendy sambil memeluk tubuh Dini, Dini yang kini sudah sadar kini berusaha untuk berdiri dengan benar.
"Maaf tuan"ucap Dini sambil merunduk,
"Hmmm" jawab Rendy sambil pergi menuju kamar mandi meninggalkan Dini yang masih berdiri. Setelah selesai mandi Rendy keluar dan melihat Dini masih terus berdiri.
"Ngapain kamu terus berdiri? Sana mandi!! kita akan pergi dirumah mama" perintah Rendy sambil menuju ruang ganti, sementara Dini berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi Dini keluar dan menuju ruang ganti, sementara Randy duduk di sofa sambil memainkan hpnya.
Dini memakai drees berwarna biru yang membuat dia terlihat sangat cantik walaupun belum menggunakan make up. Dini berjalan menuju meja rias dan memakai sedikit riasan yang nampak natural namun terlihat sangat cantik. Dini berjalan menemui Rendy yang masih duduk di sofa.
"Maaf tuan, saya sudah selesai" ucap Dini sambil berdiri di depan Rendy, Rendy yang mendengarnya pun melihat kearah Dini dan betapa terpesonanya dia ketika melihat Dini.
"Cantik sekali, dia sangat cocok menggunakan drees itu" batin Rendy yang terus memandang Dini
"Owch iya, kita berangkat sekarang" jawab Redy sambil berjalan, sementara Dini mengikutinya dari belakang. Dini dan Rendy masuk kedalam mobil dan mobil melaju menuju rumah tuan Dimas, diperjalanan hp Rendy berbunyi, Rendy yang mendengarnya pun mengambil hpnya disaku celana dan mengangkatnya.,
Rendy (Hallo Serly)
Serly (sayang jemput aku dong, mobilku mogok)
Rendy (kamu dimana???)
Sely (di mall, cepat ya aku cape ingin cepat istrahat)
Rendy (tunggu saya akan kesana)
Serly (ok sayang) sambil mematikan telefon.
Rendy melirik kerah Dini, Dini hanya diam dan terus melihat kearah jalan. Rendy dan Dini pun masuk ke halaman rumah tuan Dimas.
"Kamu duluan saja, saya ada urusan sedikit , nanti saya akan nyusul" ucap Rendy "baik tuan" jawab Dini sambil turun dari mobil sementara Rendy kembali melajukan mobilnya. Dini masuk kedalam rumah dan di sambut tuan Dimas.
"Nak kamu sudah datang??"tanya tuan Rendy, "iya tuan" jawab Dini,.
"Tidak perlu pangil tuan! Pangil papa saja ya, Rendynya mana?" ucap tuan Dimas,
"iya Pa, Rendynya lagi ada urusan dengan Serly" jawab Dini santai, tuan Dimas yang mendengarnya seketika raut wajahnya berubah, tuan Dimas terlihat sangat marah, tapi dia berusaha menyembunyikan agar tidak diketahui oleh Dini,.
"Ya sudah kamu pergi ke ruang keluarga saja ya, disana sudah ada yang menunggu kedatanganmu" perintah tuan Dimas, "baik pa" jawab Dini sambil berjalan menuju ruang keluarga sementara tuan Dimas menelfon seseorang yang tidak lain adalah Rendy.
Dini sampai di ruang keluarga terlihat Rany dan ibu Sri duduk di sofa sambil berbincang-bincang. Setelah selesai menelfon Rendy tuan Dimas kembali ke ruang keluarga,
"Nak lihat ni siapa yang datang" kata tuan Dimas sambil memegang pundak Dini. Rany yang mendengarnya pun melihat kearah papanya, Rany diam tanpa kata dan terus melihat kearah Dini,.
"Ini kakak iparmu" sambung tuan Dimas, Rany yang mendengarnya pun berdiri. Dan menghampiri Dini
"Oh my god is very beautiful" ucap Rany sambil menghampiri Dini "ma lihat kakak ipar cantik kan? betul dugaanku bahkan dia sangat cantik" sambung Rany sambil melihat kerah mamanya, sementara mamanya berusaha tersenyum,Dini yang mendengar pujian dari adik iparnya hanya tersenyum.
"Silakan duduk kaka, kenalin saya Rany adiknya ka Rendy" ucap Rany sambil tersenyum
"Saya Dini" ucap Dini sambil membalas senyuman Rany,.
"Ma..pa Rany ajak kakak ipar di kamar ya??" ucap Rany, tuan Dimas hanya bisa tersenyum melihat tingkah putrinya, Rany pun menarik tangan Dini menuju kamar,.
"Kak aku mau curhat ni" ucap Rany sambil duduk di atas tempat tidur, iya Rany adalah anak yang muda bergaul apa lagi kepada orang yang dia sukai sekalipun baru mengenalnya.
"Ah imutnya beda sekali dengan kakanya" batin Dini sambil ikut duduk di samping Rany
"Curhat apa sini kakak dengarin" jawab Dini, sambil tersenyum, Rany yang mendengarnya terlihat bahagia, Rany dan Dini saling berbincang-bincang.
*
Beberapa menit kemudian Rendy tiba dan langsung disambut oleh papanya.
"Ikut papa ke ruang kerja!!" perintah Tuan Dimas Rendy pun mengikuti langkah papanya, setelah sampai Rendy menutup pintu ruang kerja papanya.
"Ada apa pa??" tanya Rendy santai
"Apa kamu sudah gila ya, kamu meninggalkan istrimu disini dan kamu malah asik dengan Serly" ucap tuan Dimas dengan suara tinggi
"Tapi pa" ucap Rendy "apa kamu ingin menyakiti hati istrimu yang sangat polos itu, papa sudah bilang kamu harus melupakan Serly, apakah perbuatan Serly dulu tidak membuatmu sakit hati haa" ucap tuan Dimas lagi-lagi dengan suara tinggi dia terlihat sangat marah.
"Dasar perempuan licik, dia sekarang sudah berani mengaduh" batin Rendy sambil menahan emosinya.
"Sana pergi papa tidak akan mau memaafkan kesalahanmu kali ini jika kamu terus berhubungan dengan Serly" sambung tuan Dimas. Rendy pun keluar dan mencari keberadaan Dini tak lama kemudian dia menemukan Dini, Rendy masuk tanpa mengetuk pintu
"Lo kakak sudah datang"tanya Rany, Rendy tidak menjawab pertanyaan adiknya dia melihat kearah Dini dengan tatapan seakan-akan ingin membunuhnya. Rendy berjalan menuju Dini dan menarik kasar tangan Dini.
"Lo kak jangan kasar-kasar dong lihat tu kaka ipar kesakitan" ucap Rany sambil ikut berdiri.
"Bukan urusanmu" jawab Rendy sambil menarik tangan Dini keluar kamar,
"Tuan tangan saya sakit" ucap Dini gugup, Rendy yang mendengarnya tidak memperdulikannya. Rendy memaksa Dini masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah, sementara Dini duduk diam sambil memegang tangan yang begitu sakit. Setelah sampai Dirumah Rendy kembali menarik kasar tangan Dini dan melemparkannya disofa.
"Berani-beraninya kamu masuk campur urusan pribadiku" bentak Rendy sambil menarik rambut Dini
"Maaf tuan maaf" jawab Dini sambil menangis
"Kamu pikir kata maaf dapat menyelesaikan semua masalah haa" bentak Rendy yang membuat Tubuh Dini gemetar karena takut.
"Maaf tuan, maafkan saya" jawab Dini yang masih terus menangis.
"Sekarang juga kamu keluar dari rumah ini, saya muak melihat wajahmu" bentak Rendy sambil melepaskan rambut Dini.
Dini pun melahkah keluar dari rumah, sementara Rendy kembali kekamar dan menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur.
"Aku salah apa??, kenapa dia terlihat sangat marah bahkan seperti ingin membunuhku" batin Dini sambil terus menangis dan berjalan Entah dimana tujuannya. Hujan mulai turun makin lama makin deras Dini terus berjalan menyusuri jalan
Tring..tring hp Dini berbunyi melihat Ayu yang menelfonya Dini pun segerah mengangkat pangilan dari Ayu.
Dini (hallo Yu) dengan suara bergetar karena kedinginan
Ayu ( kamu dimana??, ko suaramu seperti orang kedinginan)
Dini ( aku lagi di luar)
Ayu ( astaga Dini, ini kan lagi hujan dan juga sudah larut malam, kamu dimana sekarang??, aku akan menjemputmu)
Dini (di Jalan X)
Ayu ( baiklah aku kesana sekarang) sambil mematikan hpnya dan bersiap-siap menjemput Dini.
Dreeeeng Dreeeng suara petir berkali-kali berbunyi.
"Aaaaaaah" teriak Dini sambil menutup telinganya karena takut, 15 menit kemudian Ayu tiba, Ayu keluar dari mobil dan berlari menuju Dini yang sudah pingsan
"Dini.....Dini bagun, kamu harus bertahan ya, pak tolong angkat Dia cepat" perintah Ayu kepada sopirnya. setelah Dini di masukan kedalam mobil, mobil Ayu melaju.
"Pak kita kerumah sakit sekarang!!" perintah Ayu sambil menutup tubuh Dini dengan switernya.
"Baik non" jawab pak Doni supir pribadi Ayu
"Din bertahan ya, pak boleh cepat sedikt" perintah Ayu dengan wajah yang sangat khawatir.
"Baik non" jawab pak Doni
"Hay kak😊, jangan lupa like dan komennya di episode yang kalian sukai😍😘