
Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam, terlihat Dini yang sedang merapikan tempat tidur
"Sayang, kita makan yuk, tadi mama Sudah menyuruh kami turun" ucap Rendy yang duduk di sofa sambil melihat istrinya merapikan tempat tidur
"Iya sebentar, aku rapikan dulu tempat tidurnya" jawab Dini
"Sayang..." pangil Rendy yang kini sudah memeluk istrinya dari belakang
"Jangan gitu dong, nanti Kapan selesainya" ucap Dini
"Sebentar saja" ucap Rendy sambil memeluk erat tubuh istrinya entah kenapa Rendy tiba-tiba merasa takut kehilangan istri tercintanya
"Nah sudah selesai, yuk kita kebawah, nanti mama sapa papa nungguin lo" ucap Dini sambil mebalikan tubuhnya kehadapan suaminya
"Kamu kenapa??," tanya Dini sambil memegang wajah suaminya
"Sayang....., kamu jangan tinggalin aku ya!!" ucap Rendy dengan wajah memohon
"Kenapa dia tiba-tiba berkata seperti itu" batin Dini yang merasa heran dengan apa yang diucapkan suaminya
"Tergantung, jika kamu baik kepadaku aku akan tetap bersamamu" jawab Dini sambil melepaskan tangan ya dari wajah suaminya dan hendak melangkah pergi akan tetapi Rendy kembali menariknya kedalam pelukannya
"Pliss, jangan tinggalkan aku, aku tidak bisa membayangkan apa jadinya aku kalau kamu meninggalkanku" ucap Rendy sambil memperdalam pelukannya
"Aduh dia sih, apa salah minum obat" batin Dini
"Iya, aku tidak akan meninggalkanmu" ucap Dini sambil berusaha melepaskan pelukan suaminya akan tetapi Rendy tidak mengizinkannya untuk melepaskan pelukannya bahkan Rendy semakin mengeratkan pelukannya
"Sayang, kamu ingin membunuhku dan anak kita" ucap Dini yang Kesulitan bernafas, Rendy yang mendengarnya pun melelepaskan pelukannya
"Maaf",ucap Rendy
"Aku hanya akan mencintaimu sekarang, dan kedepannya akan tetap mencintaimu" ucap Dni serius berharap yang dikhawatirkan suaminya akan mereda dan memang benar Rendy kembali tersenyum setelah mendengar ucapan istrinya
"Ayo turun" ucap Rendy sambil menarik tangan istrinya
Dimeja makan terlihat tuan Dimas, Ibu Sri dan juga Denis sudah menunggu kedatangan mereka
"Kenapa lama baget sih" ucap Ibu Sri saat Rendy dan Dini sampai dimeja makan
"Maaf ma pa sudah membuat menunggu" ucap Dini
"Ya sudah, nak bangunin Rany ya, sepertinya dia tidur" perintah Ibu Sri kepada Dini
"Baik ma",ucap Dini sambil melangkah menuju kamar Rany sentara Rendy menarik salah satu kursi yang berada di dekat Denis
"Bagaimana Den, nyaman tidurnya??" tanya Rendy
"Nyaman kak, bahkan sangat nyaman" ucap Denis sambil tersenyum, tuan Dimas dan Ibu Sri yang mendengarnya pun ikut tersenyum.
"Baguslah kalau Denis nyaman, akan tetapi besok kita akan pulang kerumah kakak dan kak Dini" ucap Rendy
"Ya kalian sudah mau balik besok??" tanya Ibu Sri memastikan
"Iya ma, Rendy sudah merindukan suasana rumah" jawab Rendy sambil tersenyum
"Den, kamu tinggal saja disini ya sama mama dan papa??" tanya Ibu Sri kepada Denis, sebelum Denis menjawab Rendy lebih dulu menjawab
"Ngak ma Denis harus tingal bersama aku dan juga Dini" ucap Rendy
"Isss anak ini, kan mama cuma pengen punya teman dirumah" ucap Ibu Sri
"Rany kan ada" ucap Rendy santai
"Sebentar lagi Rany akan menikah pastinya Suaminya akan membawahinya" ucap Ibu Sri sedih
"Tuh mi, mami dengar kan kata Denis, jadi tidak perlu bersedih" sambung tuan Dimas yang sebenarnya juga sedih sebentar lagi putrinya akan ikut bersam suaminya.
"Iya ma, Rendy janji akan sering mengajak Denis untuk main kesini" ucap Rendy lagi karena tidak tega melihat mamanya bersedih.
Tak lama kemudian Rany dan Dini pun datang
"Lama amat sih" ucap Ibu Sri
"Biasa ma, Rany masih mencuci muka dulu" ucap Rany sambil menarik salah satu kursi yang berada diantara mamanya dan juga Denis
"Eh, siapa dia ma, ko mirip baget sama kakaj ipar" ucap Rany saat sadar akan hadirnya Denis
"Hay kak, saya Denis adiknya kak Dini" ucap Denis setelah mendengar ucapan Rany
"Oh ya ampun ini yang namanya Denis, aduh gantengnya" ucap Rany sambil mencubit pelan pipi Denis
"Mana yang ganteng Bima atau Denis" goda Rendy
"Kakak..." teriak Rany sambil menatap kakaknya dengan tatapan dingin
"Sudah sudah di makan dulu makanan ya nati keburu dingin" ucap tuan Dimas
Setelah selesai makan mereka duduk dan berbincang-bincang di ruang keluarga
"Aduh, Denis sangat mirip dengan kakak ipar" ucap Rang yang tidak habis fikir melihat kemiripan Denis dan juga Dini
"Ahahah dia kan adiku pastilah mirip" ucap Dini sambil dibarengi tawa tuan Dimas, Ibu Sri dan juga Rendy
"Benar juga sih" ucap Rany
"Nak bulan depan kamu akan menikah" ucap tuan Dimas
Uhuk uhuk Tiba-tiba Rany keselek setelah mendengar ucapa papanya
"Pelan-pelan minumnya nak" ucap Ibu Sri sambil membelai rambut Rany
"Pa bukan terlalu cepat ya??, Rany kan baru mau memasuki semester dua" ucap Rany
"Ngak apa-apa ko menikah mudah itu enak lo" ucap Rendy sambil tersenyum
"Isss kakak ini, aku tanya papa tau bukan kakak" ucap Rany cemberut
"Tidak apa-apa nak agar ada Orang yang Akan menjagamu, kak Rendy kan sudah punya istri san sebentar lagi dia akn punya anak otomatis dia tidak bisa menjagamu seperti waktu dia belum menikah" ucap tuan Dimas panjang lebar
"Papa kan ada",ucap Rany berharap papanya akan .engundur waktu Pernikahanya bukan karena tidak suka tapi menurutnya dia terlalu mudah untuk menikah
"Nak papa kan selalu sibuk, papa takut jika tidak bisa menjagamu dengan baik, tapi kalu kamu sudah menikah papa yakin dan percaya Bima bisa menjagamu dengan baik" ucap Tuan Dimas lagi, sementara Ibu Sri, Rendy, Dini dan juga Denis hanya diam mendengar ucapan Tuan Dimas karena menurut mereka ada benarnya apa yang dikatakan tuan Dimas
"Apakah Kak Bima setuju menikah bulan depan??" tanya Rany lagi
"Tentu saja bahkan maunya Bima minggu depan ingin menikahimu, tapi papa bilang biarkan kamu selesai ujian dulu" ucap tuan Dimas
"Benar pa kak Bima bilang gitu??" tanya Rany tak percaya
"Iya sayang mana ada papa bohong sama kamu" jawab Tuan Dimas
"Iya sih papa tidak pernah belum pernah bohong kepadaku, jadi kak Bima benar-benar ingin cepat menikahiku",batin Rany
"Nak, bagaimana, apa kamu mau??" tanya Ibu Sri yang menyadarkan lamunan putrinya itu
"Terserah mama dan papa saja, aku ma ngikut saja",ucap Rany
"Baiklah kalu begitu nanti papa akan beritahukan Bima dan juga keluarganya" ucap Tuan Dimas