
"Maaf tuan, maafkan saya" ucap Dini yang kini sudah menangis.
Rendy melangkah semakin dekat dan menarik Dini kedalam pelukannya, Rendy memeluk Dini dengan sangat lembut Rendy dapat merasakan tubuh Dini yang sudah gemetar karena takut,.
"Maaf telah membuatmu takut" ucap Rendy pelan sambil terus memeluk istrinya
Dini kini semakin melepas tangisanya karena dia bener-benar sangat takut kejadian kemarin terulang lagi
"Maaf, maaf telah membuatmu takut" ucap Rendy merasa bersalah sambil melepaskan pelukannya dan berusaha menghapus air mata istrinya, sementara Dini masih terus diam belum ada satu patah kata pun yang dia keluarkan,.
Setelah selesai menghapus air mata istrinya Rendy kembali memeluk Dini sementara Dini tidak menolak pelukan Rendy bahkan kini Dini membalas pelukan Rendy.
"Berhentilah menangis, saya janji tidak akan membuatmu takut seperti ini lagi" ucap Rendy sambil melepaskan pelukannya dan mencium jidat istrinya.
"Maaf tuan, telah membuatmu marah" ucap Dini yang kini menatap wajah suaminya, Rendy dan Dini saling betatapan, Rendy kembali memeluk pinggang istrinya dan mulai mencium lembut bibir mungil istrinya, kali ini Dini tidak menolak apa yang dilakukan suaminya,.
"Kenapa kamu tidak membalas ciumanku??" ucap Rendy setelah selesai mencium bibir mungil istrinya.
"Maaf tuan, saya tidak tau" jawab Dini sambil menundukkan kepalanya, Rendy yang mendengarnya pun terkejut
"Aduh ternyata dia tidak mengerti soal ciuman hampir saja saya berpikir macam-macam terhadapnya" batin Rendy
Rendy memegang dagu istrinya sehingga Dia bisa melihat wajah cantik istrinya itu
"Apakah yang kemarin itu ciuman pertamamu??" tanya Rendy penasaran
"Iya tuan" jawab Dini sambil menunduk kembali karena malu, Rendy yang mendengarnya pun merasa bahagia karena dia merupakan orang yang pertama kali mencium bibir mungil istrinya.
"Tidak apa-apa, nanti juga kamu akan tau, saya akan mengajarimu" ucap Rendy sambil memeluk kembali istrinya, entah kenapa kini Rendy suka sekali memeluk tubuh istrinya, Dini yang mendengarnya pun tersenyum dalam pelukan suaminya, setelah beberapa menit berpelukan Rendy melepaskan pelukannya,.
"Kamu harus janji, jangan pernah izinkan seorang pun menyentuh tubuhmu terutama laki-laki tadi" ucap Rendy" sedikit kesal mengingat kejadian tadi
"Astaga apa dia cemburu???" batin Dini penasaran, Rendy yang melihat Dini Tidak merespon apa yang dia ucapkan tadi, Rendy kembali bertanya
"Hey apa kamu dengar apa yang ku katakan tadi" ucap Rendy yang membuat Dini tersadar dari lamunannya.
"Ah iya tuan saya mendengarnya" ucap Dini
"Terus" ucap Rendy karena tidak mendengar Dini mengiyakan perintahnya
"Terusss" Dini sedikit berpikir maksud dari suaminya
"Oh iya saya berjanji" ucap Dini yang kini sudah mengerti maksut dari suaminya itu, sementara Rendy yang mendengarnya pun merasa senang dan berjalan menuju sofa kemudian menjatuhkan tubuhnya di sofa.
"Sini duduk disampingku" perintah Rendy sambil menepuk-nepuk tempat yang ada di sampingaya. Dini pun berjalan menujuh sofa dan duduk tepat di samping suaminya,.
"Sekarang ceritakan semua yang tadi saya lihat tanpa terlewatkan sedikitpun" ucap Rendy sambil menyandarkan kepalanya di sofa dan memejamkan mata
"Dari awal tuan??" tanya Dini lagi, dia khawatir jika menceritakan dari awal akan membuat amarah suaminya itu kambuh, tapi jika dia tidak memberitahukannya dia takut suaminya akan tau sendiri dan membuatnya sangat marah.
"Hmmmm" jawab Rendy
"iidih mulai kambuh lagi dia, cepat sekali berubah sikapnya" batin Dini
"Kenapa diam??" tanya Rendy
"Maaf tuan, tapi tuan jangan marah ya jika saya menceritakan semuanya" ucap Dini sedikit gugup
"Tergantung" ucap Rendy singkat, Dini yang mendengarnya pun semakin gugup, Rendy sangat mengetahui jika istrinya itu gugup
"Iya, janji saya tidak akan marah" ucap Rendy lagi karena melihat istrinya mulai merasa takut.
"Roby ingin mengajakku makan malam" ucapa Dini sedikit gugup
"Apa...?, apa dia menyukaimu??" tanya Rendy yang kini sudah duduk tegak sambil melihat kearah Dini,.
"Kata Ayu sih dia menyukaiku dan juga ingin mengajakku pacaran" ucap Dini takut,.
Rendy yang mendengarnya pun berdiri dari tempat duduknya,.
"Anak itu harus diberi pelajaran" ucap Rendy sambil mengepal kedua tanganya, Dini yang mendengar pun langsung berdiri dan memegang tangan suaminya
"Ahhh imutnya, kenapa dia memasang wajah begitu sih??ingin sekali rasanya aku memakannya" batin Rendy
"Tapi ingat ya jangan pernah dekat-dekat lagi dengannya, apalagi membiarkan dia menyentuhmu walaupun itu cuma baju" ucap Rendy dan kembali duduk
"Iya tuan, saya janji" ucap Dini sambil ikut duduk kembali
"Untungan aku tidak Memberi tahunya kalau Roby ingin melamarku, bisa-bisa dia akan memakanku" batin Dini
"Maaf tuan, apakah boleh saya bertanya??" tanya Dini sambil melihat kearah suaminya
"Hmmmm" jawab Rendy sambil menyandarkan kembali kepalanya disofa
"Apakah tuan bekerja di sini dan ruangan ini adalah ruangan tuan" tanya Dini penasaran karena dia tau kalau ruangan ini merupakan ruangan CEO perusahaan,.
"Aduh sampai lupa kalau saya menyembunyikan status pekerjaanku kepada Dini,, ini semua gara-gara laki-laki itu, coba saja dia tidak memegang tangan Dini pasti saya tidak akan semarah Itu sampai-sampai tidak sadar sudah membawah Dini kesini dan bayak pasang mata yang menyaksikannya ini pasti sudah menjadi trending topik " batin Rendy setelah mendengar pertanyaan Dini.
"Tidak apa-apa, jika tuan tidak ingin menjawabnya" ucap Dini karena dia melihat Rendy terus diam dan tidak ada tanda-tanda untuk menjawab pertanyaan Dia.
"Baiklah tuan, saya permisi ingin melanjutkan pekerjaan saya" ucap Dini sambil berdiri dari tempat duduk, sementara Rendy dengan cepatnya menahan tangan istrinya itu,
"Ya saya bekerja disini dan ini merupakan ruangan saya" jawab Rendy sambil memegang tangan istrinya
"Astaga jadi selama ini aku magang di kantor suamiku" batin Dini
"Jadi kamu harus janji kejadian seperti tadi jangan terulang lagi dikantor maupun diluar" ucap Rendy
"Baik tuan" jawab Dini.
Setelah beberapa menit berbincang Dini pun keluar dari ruangan Rendy dan berjalan menuju meja kerjanya, disana sudah terlihat Ayu Yang terlihat begitu khawatir
"Din apa baik-baik saja??" tanya Ayu khawatir sambil memeluk Dini
"Iya aku baik-baik saja, maaf lagi-lagi membuatmu khawatir" jawab Dini sambil membalas pelukan Ayu
"Tidak masalah yang penting kamu baik-baik saja sekarang" ucapa Ayu sambil melepaskan pelukannya,.
"Tapi Din, matamu lembap, apa dia memukulmu??"tanya Ayu pelan agar tidak terdengar oleh orang-orang yang berada di dekat mereka
"Owch iya ni, aku habis menangis, tapi bukan karena dia memukulku" jawa Dini santai,
"Ah baguslah, aku pikir dia memukulmu, kalau dia sampai memukulmu aku akan melaporkannya ke polisi" ucap Ayu
"Haha tidak Yu, jangankan memekulku, memarahiku pun tidak" ucap Dini agar sahabatnya itu tidak mengkhawatirkannya.
"Apa dia tidak memarahimu sama sekali" tanya Ayu tidak percaya
"Iya Yu, tapi dia menyuruhku berjanji" ucap Dini
"Berjanji apa??" tanya Ayu penasaran
"Aku harus berjanji tidak boleh membiarkan orang menyentuhku bahkan bajuku pun tidak boleh" ucap Dini terlihat sedikit kesal, karena Dini merasa perintah Rendy itu terlalu berlebihan
"Apa???sebegitu cemburunya dia bahkan menyentuh bajumu saja tidak bisa" ucap Ayu tak percaya.
"Apa dia sedang cemburu??" tanya Dini sedikit tak percaya
"Iya Din, dia itu cemburu, melihat Roby memegang tanganmu, lihat bahkan dia melarangmu disentuh orang lain bahkan bajumu saja tidak bisa" ucap Ayu panjang lebar.
"Ah jangan-jangan dia juga melarangku menyentuhmu" ucap Ayu
"Ahaha kalau kamu tidak, kamu kan sahabatku" jawab Dini santai
"baguslah aku pikir dia juga melarangku menyentumu,.Owch iya Din, aku lanjutkan dulu pekerjaaanku ya" ucapa Ayu sambil melangkah menuju meja kerjanya
"Iya Yu" jawab Dini
"Apa benar, Dia cemburu??, kalau dia cemburu berarti dia meyukaiku??, ah kamu mikir apa sih Din mana mungkin dia menyukaiku" batin Dini sambil melanjutkan pekerjaannya.