
Hampir satu jam dalam perjalanan Rendy dan Dini tiba di kediaman tuan Dimas, terlihat dari jauh beberapa pengawal yang berada di depan dan juga beberapa pelayan yang siap menyambut kedatangan Dini dan juga Rendy.
Mobil berhenti tepat didepan Rumah yang berdekorasi mewah dan juga sangat besar, Bima turun lebih awal untuk membukakan pintu mobil, setelah pintu mobil terbuka, Rendy dan juga Dini turun dari mobil yang langsung diberi hormat kepada para pengawal dan juga pelayan.
"Sayang kenapa banyak sekali yang menjemput??" bisik Dini, Rendy yang mendengarnya hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dari istrinya, Rendy menarik tangan Dini masuk kedalam melewati para pengawal dan juga para pelayan yang masih membungkukan badan,
"Hay kakak" teriak Rany dari kejauhan yang berlari mendekati Dini dan memeluknya
"Apa kabar kakak?" tanya Rany sambil melepaskan pelukannya
"Alhamdulillah baik" ucap Dini tersenyum
"Ehem, kakak tidak dipeluk juga" tanya Rendy sambil melihat kearah dua gadis yang sangat dia sayangi
"Ngaklah, kakak kan sudah punya istri, suruh istrinya saja yang peluk" ucap Rany santai
"Dasar anak ini, terus apa bedanya dengan kakak iparmu bukanya dia sudah menikah??" tanya Rendy lagi
"Bedalah, kak Dini itu teman, sahabat dan juga kakak iparku" jawab Rany sambil tersenyum
"Ah terserah kamu saja",ucap Rendy yang sudah malas berdebat dengan adiknya
"Lo dek kenapa kedua kakakmu tidak dipersilakan duduk" ucap tuan Dimas saat menuruni satu per satu anak tangga.
"Ah iya, Rany sampai lupa, saking senangnya, mari kak kita duduk dulu" ucap Rany sambil mempersilakan kakak iparnya duduk
"Pa, mama mana???",tanya Rendy yang dari tadi tidak melihat mamanya
"Mama lagi siap-siap, sebentar lagi turun" jawap tuan Dimas sambil duduk di samping Rendy
"Sepertinya istrimu mengurusmu dengan baik" ucap tuan Dimas sambil memegang pundak anak lelakinya yang membuat Dini dan juga Rany melihat kearah Rendy
"Iya pa, menantu papa melayaniku dengan sangat baik" ucap Rendy bangga
"Apa yang sedang kalian bicarakan??" tanya Ibu Sri yang kini berada dibelakang Dini dan juga Rany
"Sini ma, lihat anakmu, sepertinya menantu mama melayaninya dengan baik" ucap tuan Dimas
"Baguslah kalau seperti itu" ucap Ibu Sri singkat, iya Ibu Sri belum menerima Dini sepenuhnya menjadi menantunya
"Maaf tuan, nona, makanannya sudah siap" ucap seorang pelayan
"Ya sudah, ayo kita makan, pasti kalian sudah lapar" ucap Tuan Dimas lalu berdiri dari tempat duduknya
"Sayang mau makan apa??" tanya Dini pelan berharap Rany dan mertua nya tidak mendengarnya
"Apa saja sayang" ucap Rendy sambil tersenyum melihat istrinya masih malu memanggil sayang didepan orang tuanya
"So sweet, jadi iri de" ucap Rany yang ternyata mendengarnya,
"Ya nikah saja, nanti papa yang akan carikan calonya" ucap Tuan Dimas yang ternyata ikut mendengar
"Ah papa, aku kan masih kuliah, baru semester satu lagi" ucap Rany
"Ahahaha, tidak apa-apa kan menikah mudah, enak loh menikah muda, seperti kakak gitu" ucap Rendy
"Muda dari mana kakak kan sudah 25 tahun, yang mudah itu kak Dini yang baru 19 tahun" ucap Rany sambil menjulurkan Lida kepada kakanya, sementara tuan dan Ibu Sri tersenyum melihat anaknya yang tidak pernah berubah
Semua orang pun mulai memakan makanan pilihan mereka tapi berbeda dengan Rendy yang belum menyentuh sama sekali makanannya
"Nak, kenapa tidak dimakan makanannya??" tanya Ibu Sri yang sedari tadi memperhatikan anaknya yang belum menyentuh makanannya
"Ini ma Rendy akan makan" jawab Rendy yang mulai mengambil satu sendok nasi yang telah Dini berikan
"Aduh aku kenapa sih, setiap lihat makanan rasanya ingin munta" batin Rendy merasa aneh
"Sayang ayo makan!" ucap Dini lagi karena melihat suaminya hanya mengaduk-aduk makanan yang ada di piringnya.
"Iya sayang, aku makan sekarang" ucap Rendy lagi dan memasukan satu sendok nasi dan juga sedikit sayur Kedalam mulutnya
"Huwee" Rendy kembali ingin munta saat makanannya suda berada didalam mulut, Rendy merlari menuju kamar mandi yang terletak tidak jauh dari meja makan
Semua orang merasa heran termasuk para pelayan
"Ada apa dengan Rendy??, apa masakannya tidak enak??" tanya tuan Dimas sambil melihat Rendy yang berlari menuju kamar mandi
"enak ko, tadi dirumah Rendy juga begitu" ucap Dini
"Aneh, Nak kamu susul suamimu" perintah tuan Dimas yang melihat rasa khawatir yang terlihat di wajah menantunya
"Baik pa" jawab Dini lalu berjalan menuju kamar mandi dimana Rendy berada
"Kita kedokter ya" ucap Dini setelah berada di belakang Rendy. Rendy yang mengenali suara itu pun berbalik dan menarik Dini kedalam pelukannya
"Tetaplah seperti ini" ucap Rendy sambil memeluk istrinya
"Sayang ini dirumah papa lo, nanti di lihatin gimana??" tanya Dini khawatir jika ada yang melihatnya
"Sebentar saja" uca Rendy lagi, Dini pun mengikuti kemauan suaminya.
"Pa, sepertinya kakak hamil" ucap Rany
"Ahahahaha" tuan Dimas, Ibu Sri dan juga pelayan tertawa mendengar ucapan Rany
"Is dibilangin mala tertawa, ini lagi kenapa kalian ikut-ikutan tertawa" ucap Rany kesal yang melihat para pelayan juga ikut tertawa
"Ada yang salah ya dengan ucapan ku??" tanya Rany yang melihat kedua orang taunya tidak berhenti tertawa
"Ada sayang, mana ada laki-laki yang hamil" ucap Tuan Rendy yang Masih tertawa
"Is, kalian ini tidak mengerti, aku juga tau kalau laki-laki itu tidak bisa hamil" ucap Rany kesal
"Terus maksutku apa sayang??" tanya Ibu Sri
"Dengar ya!!" ucap Rany yang membuat kedua orang tuanya berhenti tertawa dan melihat kearahnya
"Gini pa, ma, Rany pernah baca buku, kalau ada suami ingin memakan macam-macam dan sering munta-munta berarti istrinya lagi hamil" ucap Rany panjang lebar yang membuat kedua orang tuanya dan juga para pelayan mengerti maksut Randy
"Jadi maksutmu, kakak iparmu hamil dan yang ngidam itu kakakmu??" tanya tuan Dimas
"hay kak, terima kasih yang sudah membaca sampai episod ini, jangan lupa vote, like dan juga komenya, agar authornya semangat buat nulisnya๐๐๐