
15 menit kemudian Dini dan Rendy telah selesai bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Rendy dan Dini pun turun ke bawah untuk sarapan.
"Mau naik apa ke kantor??" tanya Rendy sambil menuruni satu-persatu anak tangga dan di ikuti Dini dari belakang
"Naik taksi tuan" jawab Dini.
Bruk,, Dini menabrak punggung Rendy yang tiba-tiba saja berhenti melangkah.
"Aw,,, maaf tuan" ucap Dini sambil memegang dahinya.
"Berangkatlah bersamaku!!, ini perintah" ucap Rendy sambil melanjutkan langkahnya.
"Baik tuan" jawab Dini, karena Dini tau jika tuannya mengatakan ini perintah, berarti apa yang dikatakannya harus dituruti.
"Dasar pemaksa, ingin sekali aku memukul kepalanya" Batin Dini kesal sambil mengikuti langkah suaminya.
Setelah selesai Rendy dan Dini makan mereka berjalan keluar rumah.
Di parkiran sudah terlihat Bima yang setia membukakan pintu mobil untuk tuan dan nona mudanya.
"Selamat pagi tuan, selamat pagi nona" sapa Bima sambil tersenyum.
"Pagi" jawab Dini dan Rendy bersamaan sambil masuk kedalam mobil.
"Wah mimpi apa aku semalam, aku tidak sedang bermimpi kan?? taun muda menjawab sapaanku" batin Bima sambil masuk kedalam mobil. Iya Rendy memang tidak pernah membalas sapaan Bima begitu juga dengan orang lain Rendy memang sangat terkenal dengan sikapnya yang dingin terhadap semua orang kecuali pada anggota keluarganya.
Selama perjalanan tidak ada percakapan antara Dini, Rendy dan juga Bima. Rendy duduk diam dan melihat kearah depan sementara Dini duduk diam sambil melihat kerah jendela.
Setelah 30 menit diperjalanan mereka pun sampai.
"Lo darimana Bima tau kalau aku magang disini??. Aku kan belum memberitahukannya" batin Dini penasaran.
"Terima kasih tuan telah mengantar saya ucap Dini sambil keluar dari mobil.
"Bahkan berterima kasih saja, dia tidak tersenyum padaku" batin Rendy kesal karena Dini sangat jarang tersenyum kepadanya.
"Lo kenapa mereka belum juga jalan??" ucap Dini pelan sambil melihat kearah mobil Rendy.
"Apa mungkin ada yang ingin dia bicarakan??, tapi dia tidak memanggilku. Ah bodo amat yang penting aku sudah sampai dan tidak terlambat" ucap Dini sambil berjalan menuju Lift.
Setelah beberapa saat Dini pun sampai dan langsung disambut oleh sahabatnya.
"Pagi Dini sayang, aku sangat merindukanmu" ucap Ayu sambil memeluk Dini.
"Pagi Yu, aku juga Merindukanmu" ucap Dini sambil membalas pelukan sahabatnya itu.
"Oh iya Din bagaimana keadaanmu, kamu baik-baik saja kan??" tanya Ayu sambil melepaskan pelukannya.
"Seperti yang kamu lihat sekarang, aku baik-baik saja" jawab Dini sambil tersenyum.
"Syukurlah, kamu tu hampir membuatku jantungan tau" ucap Ayu mengingat kembali kejadian kemarin.
"Hahah maaf ya" ucap Dini sambil memegang tangan Ayu.
"Iya, sudah aku maafin ko" ucap Ayu sambil tersenyum.
"Ya sudah kita kerja sekarang, jangan sampai kita di marahin" ucap Dini sambil melepaskan tangan Ayu.
"Iya Din, oh iya sebentar istrahat kita makan bareng ya??" ucap Ayu.
"Iya sayang" ucap Dini sambil tersenyum. Mereka berdua pun mengerjakan tugasnya masing-masing.
Disisi lain Bima membukakan Pintu mobil untuk tuannya.
"Silakan tuan" ucap Bima.
"Terima kasih" ucap Rendy sambil turun dari mobil. Lagi-lagi membuat Bima terkejut.
"Waduh,, apa tuan salah minum obat ya"batin Bima, merasa tak percaya apa yang dia dengar barusan.
"Iya sama-sama tuan" jawab Bima sambil tersenyum,
Rendy pun menuju lift di ikuti Bima dari belakang. 1 menit kemudian Rendy dan Bima tiba di ruangan.
"Apa jadwalku hari ini" tanya Rendy sambil duduk di sofa.
"Untuk saat ini tuan hanya akan meyurpei pembangunan yang ada di daerah x, setelah jam istrahat" jawab Bima.
"Baiklah, sekarang kamu bantu saya untuk melihat beberapa berkas ini" ucap Rendy sambil mengeluarkan beberapa berkas dari tasnya.
"Baik tuan" jawab Bima sambil duduk di sofa tepat berhadapan dengan Rendy.
****
Jam menunjukan setengah dua belas terlihat Ayu dan Dini siap-siap pergi makan siang bersama.
"Yu kita makan di kantin perusahaan saja!!" ucap Dini.
"Ya padahal aku ingin mengajakmu makan di restoran yang baru buka itu" ucap Ayu
"Lain kali saja ya" ucap Dini
"baiklah begitu" jawab Ayu sambil mengandeng tangan Dini.
Mereka pun pergi menuju kantin untuk makan makan. Setelah beberapa menit mereka pun sampai dan langsung memesan makanan.
"Yu apa sih yang ingin kau ceritakan" tanya Dini penasaran.
"Oh itu, nanti saja aku ceritain" ucap Ayu yang membuat Dini semakin penasaran.
"Apa sih Yu, cepat ceritakan" ucap Dini sambil mengoyan-goyang tangan Ayu.
"Gini Din, ternyata Roby itu suka sama kamu" ucap Ayu.
"Ah masa sih, jangan ngaco de kamu" ucap Dini tak percaya.
"Beneran Din, dia yang bilang sendiri padaku" ucap Ayu berusaha meyakinkan Dini.
"Kapan dia bilang??" tanya Dini.
"Waktu kamu di rumah sakit, bahkan Roby bilang jika kamu sudah sembuh, dia akan mengajakmu pacaran, dan satu lagi dia ingin melamarmu" ucap Ayu panjang lebar.
"Apa....???, kamu tidak bercanda kan?? Tanya Dini tak percaya.
"Tidak Din, aku serius mana mungkin aku bercanda dengan hal-hal seperti ini" ucap Ayu meyakinkan.
"Ah mungkin dia Asal-asalan bilang" ucap Dini santai.
"Aduh Dini...., dia itu serius bahkan dia mengatakan itu di depan aku dan Dokter yang merawatmu" ucap Ayu berusaha menyakinkan Dini.
"Apa dia sudah gila, mana mungkin dia melamarku sementara aku sudah berstatus istri orang" ucap Dini.
"Dia kan tidak tau kalau kamu sudah menikah" ucap Ayu santai.
"Iya juga sih, terus gimana ni kalau dia beneran ingin melamarku?? bisa gawat ni" tanya Dini yang sudah terlihat panik
"Ya kamu harus beritahu dialah, kalau kamu sudah menikah" jawab Ayu santai.
"Aduh mana mungkin aku memberitahukannya. bisa-bisa semua orang juga tau kalau aku sudah menikah" ucap Dini.
"Terus apa yang ingin kamu lakukan?? Tanya Ayu balik.
"Entahlah aku juga bingung" jawab Dini.
Setelah beberapa menit, pesanan Dini dan Ayu datang mereka pun melahap makanan yang telah mereka pesan, setelah selesai Dini dan Ayu kembali ke ruang kerja.
"Yu harus ya?? aku beritahu dia kalau aku sudah menikah" tanya Dini.
"Menurutku sih kamu harus beritahu dia secepatnya" jawab Ayu.
"Iya juga sih, lama-kelamaan pasti dia akan tau juga" ucap Dini. Selang beberapa menit Roby pun datang menghampiri Dini dan Ayu.
"Hay Din, hay Ayu" sapa Roby
"Hay Rob" jawab Ayu dan Dini bersamaan.
"Bagaimana keadaanmu?? tanya Roby sambil memegang bahu Dini.
"Ya, Seperti yang kamu lihat" jawab Dini sambil berusaha tersenyum.
"Hey lepaskan tanganmu!" perintah Ayu sambil menepis tangan Roby dari bahu Dini.
"Apaan sih Yu, sirik ya??" ucap Roby.
"Idih ngapain aku sirik sama kamu" ucap Ayu.
"Oh iya Din, aku mau ajak kamu makan malam beleh kan??" tanya Roby.
"Aduh gimana ya" ucap Dini.
"Ayolah,, plisss' ucap Roby memohon sambil memegang tangan Dini. Di saat yang bersamaan Rendy dan Bima tak sengaja melihatnya.
"Ngapain boca itu memegang tangan istriku?" tanya Rendy kesal sambil terus melihat kearah Dini dan Roby.
"Maaf tuan, sepertinya lelaki itu memohon sesuatu kepada nona muda" jawab Bima.
Rendy yang mendengarnya, entah mengapa rasa marah tiba-tiba muncul, di tambah Roby belum juga melepaskan tangan Dini.
Rendy berjalan menghampiri Dini dan Roby dengan ekspresi wajah yang sulit di tebak, Ayu yang lebih awal melihat Rendy pun terkejut.
"Aduh gawat kenapa suaminya bisa ada disini sih??" batin Ayu.
"Berani sekali kamu menyentuhnya" ucap Rendy sambil menepis tangan Roby. Dini yang mendengar suara Ready pun ikut terkejut di tambah lagi kini suaminya sudah ada di depannya.
"Kamu lagi??, ngapai kamu masuk campur uarusanku??" ucap Roby yang terlihat marah, sementara Dini hanya bisa diam tanpa suara.
"Saya peringati kamu ya, jangan berani-beraninya kamu dekatin dia apa lagi menyentuhnya!!" ucap Rendy dengan suara tinggi, seketika membuat semua orang yang berada di ruangn itu melihat kerah mereka termasuk Ibu Dewi.
"Kamu tuh siapa sih?? selalu saja datang mencampuri urusanku dan Dini" tanya Roby dengan suara yang tak kalah tinggi.
sementara Rendy yang mendengar apa yang di ucapkan Roby membuatnya semakin marah.
"Kamu ingin tahu saya ini siapa?? Baiklah akan saya beritahu. Saya adalah su...." ucapan Rendy berhenti karena Dini langsung mengengam erat tangan Rendy, semua orang yang melihat adegan tersebut merasa terkejut , melihat Dini berani memegang tangan tuan muda yang terkenal Dingin dan juga pemarah.
Rendy melepaskan tangan Dini dan kini Rendylah yang mengengam tangan Dini sambil berjalan menuju ruangannya.
Rendy membawah Dini masuk kedalam ruangannya dan menutup kembali pintu dengan keras dan melepaskan tangan Dini.
Dini semakin takut setelah melihat Rendy yang sudah semakin marah. Rendy berjalan mendekati Dini sementara Dini terus berjalan mendur.
"Maaf tuan, maaf" ucap Dini gemetar sambil terus berjalan mundur sementara Rendy terus melangkah mendekati Dini.
"Maaf tuan, maafkan saya" ucap Dini yang kini sudah menangis karena ketakutan.
Rendy melangkah semakin dekat dan menarik Dini kedalam pelukannya. Rendy memeluk Dini dengan sangat lembut hingga dapat merasakan tubuh Dini yang gemetar.
"Maaf telah membuatmu takut" ucap Rendy pelan sambil terus memeluk tubuh Istrinya.
"hay kak😊, jangan lupa like dan komenya, di episod yang kalian sukai😉😘