
Setelah 30 menit di perjalanan mereka pun sampai dan disambut oleh Bi Ina dan beberapa pekerja lainnya.
"Selamat datang tuan, nona",ucap para pelayan bersamaan ketika Rendy dan Dini keluar dari mobil
"Hmmm" jawab Rendy seperti biasanya sementara Dini memberikan senyum manisnya kepada para pelayan
"Sudah, jangan pernah tersenyum seperti itu dihadapan orang lain" perintah Rendy yang melihat Dini tersenyum manis kepada para pelayan
"Ah kan senyum doang" ucap Dini yang mengikuti langkah Rendy menuju kamar
"Kalau mereka jatuh cinta kepadamu gimana???," ucap Rendy sambil menuju kamar mandi setelah sampai di kamar
"Dasar aneh, senyum saja tidak boleh", batin Dini kesal sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa
"Aku tidak bisa membayangkan jika seseorang akan merebutmu dariku" batin Rendy sambil melihat bayangannya di cermin
"Ah bisa gila aku" ucap Rendy sambil mengacak-acak rambutnya
Lima menit kemudian Rendy pun keluar dari kamar mandi dan menuju ruang ganti
"Sayang" pangil Rendy
"Hmmm" jawab Dini yang sibuk dengan hpnya
"Mandi sana!!, terus istrahat" perintah Rendy
"Iya" jawab Dini singkat sambil meletakan hpnya di sofa lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membersikan diri.
"Bagaimana caranya agar bisa menghindari Rendy" batin Dini yang masih berada dalam kamar mandi.
"Jika aku tidak secepatnya menghindar darinya, aku takut dia akan terluka" ucap Dini yang tak sadar air matanya sudah membasahi pipinya
"Sayang, ngapain kamu didalam??, lama baget" ucap Rendy
"Iya sedikit lagi selesai" jawab Dini sambil berusaha menghapus air matanya agar tidak terlihat oleh Rendy
Setelah selesai membersikan diri dini keluar dari kamar mandi dan menuju ruang ganti
"Sayang cepat dong aku mau tidur" ucap Rendy lagi
"Duluan saja, nanti aku nyusul" jawab Dini sambil memilih baju yang akan dipakainya
"Aku ngak akan tidur jika kamu tidak ada disampingku" ucap Rendy
"Kamu harus terbiasa tidur tidak bersamaku" batin Dini sambil berusaha menahan air matanya
Setelah selesai mengganti pakaian Dini melangkah menuju tempat tidur dan memang benar Rendy belum juga tertidur.
"Sini sayang" pangil Rendy yang melihat Dini sudah selesai Menganti pakaian
"Aku pikir sudah tertidur" ucap Dini sambil membaringkan tubuhnya di samping Rendy
"Aku kan sudah bilang, aku ngak akan tidur kalau kamu tidak ada di sampingku" ucap Rendy sambil memeluk istrinya
"Wangi sekali" batin Rendy yang mencium bahu istrinya
"Sayang" pangil Rendy tapi tak ada jawab dari Dini,
"Sudah tidur ya" ucap Rendy saat melihat Dini sudah tertidur
Cup
Satu kecupan mendarat di bibir mungil Dini
"Selamat istrahat sayang" ucap Rendy yang juga ikut tidur sambil memeluk Dini
Jam menunjukan pukul tujuh malam Dini terbangun dari tidurnya dan menuju kamar mandi, setelah dari kamar mandi Dini turun kebawah menuju dapur meninggalkan Rendy yang masih tertidur
"Bi, ada yang bisa saya bantu??" tanya Dini setelah sampai Di dapur
"Nona duduk saja ya, nanti Bibi akan menyiapkan makanannya pasti nona sudah lapar" ucap Bi Ina
"Iya sih, tapi Dini mau tunggu tuan Rendy bangun" ucap Dini
"Ya sudahlah nona duduk saja disini" ucap Bi Ina sambil menarik salah satu kursi di meja makan
"Bi, aku bantu iris sayurnya, Dini bosan kalau cuma duduk" ucap Dini sambil mengambil pisau untuk memotong sayur yang sudah diberikan
"Tapi nona, tuan mudah akan marah, jika melihat nona ikut membantu" ucap Bi Ina sedikit khawatir
"Dia tidak akan marah" ucap Dini sambil memotong-motong sayur
Di dalam kamar
"Lo dimana perginya??" ucap Rendy yang melihat istrinya tidak berada di sampingnya
"Sayang" pangil Rendy, setelah tidak mendapat jawaban Rendy bergegas turun kebawah mencari keberadaan istri kecilnya
"Ternyata disitu" ucap Rendy yang melihat Dini berada di dapur
"Sayang, kamu ngak bilang sama aku kalau turun kebawah" ucap Rendy sambil memeluk pinggang istrinya dari belakang sementara Bi Ina yang melihatnya pun tersenyum
"Sayang lepasin, malu di liatin" ucap Dini sambil berusaha melepaskan pelukan suaminya
"Untuk apa malu, kamu kan istriku, mereka juga tau kalu kau istriku" ucap Rendy sambil mempererat pelukannya
"Ah terserah kamu saja" ucap Dini
"Nona, biarkan Bibi saja yang memotonya nona dan tuan duduk saja" ucap Bi Ina Sambil menarik dua kursi dari meja makan
"Sayang, kita duduk saja ya" ucap Rendy yang masih menaruh dagunya di bahu istri kecilnya
"Bagaimana mau pergi duduk kalau kamu belum melepaskaku" ucap Dini
"Sayang besok aku kekantor ya? Ucap Dini meminta izin
"Lihat saja besok" ucap Rendy sambil tersenyum Nakal
"Apa maksut senyumnya itu" batin Dini
Setelah beberapa menit menunggu makanannya siap
"Silakan" ucap Bi Ina mempersilakan nona dan tuan muda untuk makan malam
Rendy dan Dini pun menyantap makanan yang telah disediakan di meja makan, setelah selesai makan Dini pamit kepada Bi Ina
"Bi, makasih ya, masakan Bibi sangat enak Dini suka" ucap Dini
"Iy sama- sama nona" jawab Bi Ina
"Dini naik keatas ya" ucap Dini yang sudah ditari Rendy
"Iya nona" jawab Bi Ina sambil melihat nona dan tuan muda yang menaiki satu persatu anak tangga
"Sayang, tanganku sakit" ucap Dini yang merasa Rendy mengecam tangan ya terlalu erat
"Maaf sayang, habisnya aku terlalu bersemangat" ucap Rendy lagi-lagi dengan senyum nakalnya
"Emangnya sayang mau ngapain??" tanya Dini yang masih berdiri
"Aku mau makan" ucap Rendy santai sambil duduk di Tempat tidur
"Tadi kan sudah makan, kamu belum kenyang ya??, aku ambilin makanan lagi tunggu ya" ucap Dini sambil melangkah pergi akan tetapi Rendy menahan ya
"Aku tidak mau makan itu" ucap Rendy
"Habis itu, mau makan apa??, biar aku buatin" ucap Dini polos
"Aduh polosnya istri kecilku" bangun Rendy
"Aku mau memakanmu" ucap Rendy ketidak sudah menarik Dini kedalam pelukannya, Dini yang mendengarnya pun terkejut sekaligus khawatir
"Lain kali saja ya" ucap Dini terbata-bata
"Menolak suami itu dosa" ucap Rendy sambil membaringkan istri kecilnya ketempat tidur dan mulai me*****t bibir mungil istrinya, tangan ya mulai masuk kedalam baju Dini dan mulai meremas pelan p*****h milik istrinya, sementara Dini membiarkan suaminya melakukannya karena tidak ada alasan untuk menolaknya.
Rendy yang melihat tidak ada penolakan dari istrinya pun melanjutkan aksinya, Rendy membuka semua pakaian istrinya Hingga tidak ada lagi yang melekat di tubuh istrinya Dan memulai aksinya terdengar suara desahan dari Dini yang membuat Rendy semakin bersemangat untuk melanjutkan aksinya, Malam panjang pun dimulai.
Keesokan paginya Rendy bangun dengan perasaan bahagia dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan Diri. Lima menit kemudian Rendy pun keluar dengan mengunakan handuk dan menuju ruang ganti.
"Belum bangun ya" ucap Rendy yang melihat istri kecilnya masih tertidur. Rendy bersiap-siap berangkat kekantor.
"Sayang, aku berangkat ya" ucap Rendy sambil mencium jidat dan juga bibir mungil istrinya lalu melangkah pergi
"Bi, antarkan sarapan nona muda di atas ya dan jangan bangunkan dia, biarkan dia bangun sendiri" perintah Rendy yang melihat Bi Ina
"Baik tuan" jawab Bi Ina
Rendy melangkah menuju parkiran di dan sudah terlihat Bima yang setia menunggu kedatangannya
"Pagi Bim" ucap Rendy Sambil tersenyum
"Ah pagi tuan" jawab Bima Sambil membukakan pintu mobil
"Apa tuan salah minum obat ya" batin Bima yang merasa aneh ini merupakan pertma kalinya tuan Rendy memberikan salam lebih awal
Bima ikut masuk kedalam mobil dan melakukan mobil menuju kantor, setelah 30 menit diperjalanan mereka pun sampai. Bima turun lebih awal untu membukakan pintu untuk tuan muda.
"Makasih" ucap Rendy sambil tersenyum yang lagi-lagi membuat sekertaris pribadinya merasa aneh dengan sikap tuannya. Rendy dan Bima menuju lift
"Pagi tuan" ucap para karyawan yang melihat tuan Rendy dan juga Bima
"Pagi" jawab Rendy sambil tersenyum kepada para karyawan termasuk Ibu Dewi yang merupakan sekretarisnya
"Ah gila mimpi apa aku semalam bisa melihat tuan Rendy tersenyum" ucap Si A
"Iya mimpi apa aku bisa mendengar tuan menjawab sapapan kita" sambung si B
Semua karyawan pun terkejut Termasuk Ibu Dewi dengan perubahan sikap tuan muda, Rendy melanjutkan langkahnya menuju ruangannya diikuti dengan Bima dari Belakang
Rendy menjatuhkan tubuhnya di sofa
"Bim begini rasanya ya jika punya istri" ucap Rendy
"Pertanyaan macam apa ini??" batin Bima Yang masih berdiri di depan tuan Rendy
"Emangnya kenapa tuan" tanya Bima
"Duduklah ngapain kamu berdiri" perintah Rendy dan Bima pun langsung menuruti perintahnya
"Rasanya itu bahagia lo" ucap Rendy sambil tersenyum
"Owch jadi perubahan sikapnya ini karena nona muda ya, nona muda sangat hebat bisa merubah pria es ini menjadi cair" Batin Bima sambil tersenyum tanpa dia sadari tuan Rendy dari tadi memanggilnya
"Hey Bim, kamu mikirin apa sih??" tanya Rendy sambil memengang pundak Bima yang membuat Bima tersadar dari lamunannya.
"Ah iya, tuan tanya apa tadi??" tanya Bima balik
"Sudahlah, apa yang kamu pikirkan sih pakai acara senyum- senyum lagi" ucap Rendy
"Ah gila, tuan mudah benar-benar berubah" Bantin Bima sambil tersenyum lagi dia masih belum percaya dengan Perubahan sikap tuannya itu
"Eh di tanya mala tersenyum, dasar aneh" ucap Rendy sambil berdiri menuju meja kerjanya.
"hay kak😊, makasih ya, yang masih setia membaca karyaku sampai saat ini😉, jangan lupa like dan tinggalkan komentar kalian di kolom kometar😍😘