
Hari demi hari terlewati, tak terasa tibalah Saatnya seorang Rany yang merupakan putri dari seorang pengusaha sukses yang tidak lain adalah Dimas sanjaya akan melangsungkan pernikahannya.
Terlihat semua dekorasi yang sengaja dirancang dengan mengunakan warna gold sehingga menambah kesan kemewahannya.
Terlihat beberapa pelayan yang sibuk melayani para tamu undang yang memang cukup bayak saat itu, sementara Didalam kamar terlihat Rany yang sedang duduk didepan meja Rias dan terus memandang wajahnya di depan cermin.
"Apa kamu gugup??" tanya Dini sambil berjalan mendekati Rany.
"Iya kak, Rany sangat gugup" jawab Rany sambil mengengam tangan kakak iparnya dan benar saja tangan Rany benar-benar dingin.
"Tenanglah!!, itu adalah hal yang wajar, setiap wanita yang akan menikah, akan merasa gugup sepertimu" ucap Dini sambil tersenyum.
"Tapi kak".
"Cobalah tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan pelan-pelan, itu akan membuat rasa gugupmu sedikit berkurang" ucap Dini yang langsung di praktekan Oleh Rany.
"Bagaimana??, apakah sudah berkurang??" tanya Dini setelah melihat adik iparnya mengikuti sarannya.
"Iya, Rany merasa sedikit lebih tenang" jawab Rany sambil tersenyum.
Tok tok.
"Masuk!" perintah Dini setelah mendengar suara ketukan pintu dari luar.
"Maaf nona, sudah waktunya turun" ucap Salah satu pelayan ketika sudah masuk kedalam kamar.
"Ya, kita akan turun sebentar lagi" jawab Dini sambil tersenyum.
"Baik nona. Permisi" ucap pelayan itu lalu melangkah pergi.
"Bagaimana??, apa kamu sudah sudah siap???" tanya Dini kepada Rany yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Rany.
Rany dan Dini menuruni satu persatu anak tangga dan terlihat semua para tamu undangan melihat kearah dua wanita yang sangat cantik pada malam itu.
"Aduh berasa aku yang menikah" ucap Rendy yang juga ikut melihat kearah Rany dan juga istrinya.
"Bagaimana, cantik ngak adikku??" tanya Rendy kepada Bima yang sedari tadi terus memandang Rany yang tinggal berapa menit lagi akan menjadi istrinya.
"Sangat" jawab Bima singkat tanpa memalingkan pandangannya dari Rany.
Setelah mempelai wanita sampai, prose akad nikah pun dimulai, tak perlu waktu lama terdengar suara sah dari para tamu undangan, dan saat itu juga Bima dan juga Rany sah menjadi sepasang suami istri.
"Nak, ciumlah tangan suamimu" perintah Ibu Sri yang langsung diikuti Rany, Bima pun mencium kening Rany yang sekarang sudah sah menjadi istri dimata hukum dan juga agama.
Setelah selesai acara akad nikah para tamu di persilakan untuk mencicipi hidangan yang telah disediakan oleh keluarga mempelai.
"Kak, Rany samperin teman-teman Rany dulu ya??" izin Rany kepada Bima.
"Iya, aku juga ingin mengobrol bersama teman-teman kerja",jawab Bima, setelah Rany mendapat persetujuan dari suaminya, Rany melangkah menuju teman-temannya.
"Hay, terima kasih ya sudah datang" ucap Rany kepada teman-temannya setelah sampai.
"Iya sama-sam Ran" jawab teman-temannya bersamaan.
"Selamat ya sayang, ternya kak Bima memilihmu" ucap Rika sambil memeluk Rany.
"Is apaan sih Rik, itu berarti bukan Jodohmu tapi Jodoh Rany" ucap sandy sambil tertawa
Rany dan sahabatnya asik bercerita tanpa sadar ada seseorang yang terus melihat kearah mereka, lebih fokusnya si melihat Rany.
"Sudah jangan terlalu dilihat, nanti lanjut lihat di kamar saja" goda Rendy yang datang menghampiri Bima yang merupakan sekertaris pribadi dan juga adik iparnya.
"Ah tuan bisa saja" jawab Bima sambil melihat kearah Rendy.
"Sudahlah Bim, tidak perlu lagi memanggilku dengan sebutan tuan, aku kan sudah menjadi kakak iparmu, ya walaupun usia kita cuma beda dua bulan tapi tetap saja aku yang kakak" ucap Rendy.
"Terus saya pangil apa??" tanya Bima lagi.
"Terserah kamu saja yang penting jangan memanggilku dengan sebutan tuan lagi. Boleh pangil kakak atau mas pokonya senyaman-nyamannya kami" ucap Rendy dibarengi tawa.
"Kalau begitu aku akan memangil tuan dengan sebutan mas saja" ucap Bima sambil ikut tertawa.
"Ngapain boca itu kesini??, bukannya aku sengaja tidak mengundangnya" ucap Rendy yang tiba-tiba melihat Roby.
"Coba lihat tangannya mulai nakal, pakai acara menyentuh tangan istriku segala" ucap Rendy yang mulai panas melihat tingkah Roby.
"Sabar mas, dia kan cuma mau bersalaman" ucap Bima berusaha menenangkan, iya Rendy akan cepat marah jika itu menyangkut istri dan juga keluarganya.
"Ngak bisa dibiarin ini, nanti makin menjadi dia" ucap Rendy sambil melangkah menghampiri Dini, Roby, Ayu dan juga Rany yang kini sudah ikut bergabung.
"Aduh bisa gawat ni" batin Bima sambil mengikuti langkah Rendy.
"Eh kakak" ucap Rany sambil tersenyum kearah Bima dan juga Rendy yang hendak menghampiri mereka. Dini, Ayu dan Roby pun melihat kearah Rendy dan juga Bima.
"Lagi ngapai??" tanya Rendy datar sambil
sesekali melirik Roby.
"Cuma ngobrol tentang pekerjaan ko" jawab Dini sambil tersenyum.
"Santai tuan, saya tidak apa-apakan istrimu" ucap Roby sambil senyum paksa.
"Biasa saja kali ekspresinya Kak" ucap Rany. Iya hanya Rany dan Dini yang berani menegur Rendy.
"Memang sudah bisa ini" ucap Rendy sambil mengengam tangan istrinya.
"Aduh makin panas ni kalau di biarin" batin Ayu.
"Eh Din, Ran aku samperin teman dulu ya" ucap Ayu sambil menarik tangan Roby.
"Apa sih, aku belum selesai ngobrolnya" ucap Roby.
"Iya nanti saja ngobrolnya. Tuan, kak Bima kami pamit ya" ucap Ayu sambil menarik tangan Roby.
"Bro, jagain istri lo baik-baik jangan sampai di ambil orang" Bisik Roby sebelum melangkah meninggalkan Rendy, Dini, Rany dan juga Bima.
Rendy yang mendengarnya pun membulatkan matanya dan mengengam erat tangan Dini hingga Dini merigis kesakitan.
"Apa maksut dari ucapa tadi??" ucap Rendy pelan sambil melihat kearah Roby yang terus melangkah entah kemana perginya.
"Aw aw, sayang tanganku sakit" teriak Dini. Rendy yang mendengarnya pun langsung melonggarkan mengegamannya.
"Maaf" ucap Rendy singkat.
"Kamu kenapa sih??" tanya Dini yang ikut melihat dimana arah pandangan suaminya.
"ngak kenapa-kenapa sayang. Maaf ya, mana yang sakit??" ucap Rendy sambil melihat tangan istrinya
"Apa yang di bisikan Roby sampai membuat tuan Eh mas Rendy marah" batin Bima karena sadar akan kemarahan Rendy. Wajar saja dia tau, secara dia bekerja bersama Rendy cukup lama.
"Ya ampun, sampai semerah ini, maaf ya sayang aku ngak sengaja, nanti aku oleskan salep" Rendy ketika melihat tangan istrinya merah karena ulahnya.
"Kamu sih terlalu erat menggenggamnya"ucap Dini cemberut.
"Iya maaf sayang, nanti akan aku oleskan salep" ucap Rendy sambil meniup-niup tangan Istrinya.
"Ehem ehem, jadi obat nyamuk ni" ucap Rany yang sedari tadi menyaksikan drama sepasang suami istri.
"Maaf Ran, habisnya tangan kakak sakit, ni sampai merah begini" ucap Dini sambil memperlihatkan tangan ya yang merah.
"Isssh kakak jahat, sampai merah loh tanganya, emangnya kenapa sih??, ah Rany tau pasti kakak cemburu ya lihat kak Roby menghampiri kakak ipar" ucap Rany sambil tertawa diikuti Bima dan juga Dini.
"Mana ada kaka cemburu" jawab Rendy berusaha santai.
"Ngaku saja kak, kalau cemburu" goda Rany.
"Iya, iya kakak ngaku, puas kamu" ucap Rendy.
"Aahhaha gitu dong, kalau ngaku kan bagus" ucap Rany yang terus tertawa sama seperti Dini dan juga Bima yang ikut tertawa.
Nampak bahagia Dua pasang suami istri itu yang terus bercerita dan sesekali tertawa di sela-sela obrolan mereka.
"hay kak😊😉, Author mengucapkan Terima kasih🙏🏼 yang masih setia membaca hingga episod terakhir dan terima kasih🙏🏼 juga yang sudah mendukung author dalam menulis😍😘