
"Ada apa dengan mereka berdua???" batin Rendy yang semakin heran dengan perubahan sikap Adiknya dan juga sekertaris pribadinya.
Flashback
Di kampus
"Ran, kamu bawah mobil??"tanya Riri yang merupakan sahabat dan juga teman sekelasnya
"Ngak Ri, mobilku lagi di bengkel" jawab Rany sambil terus berjalan menuju area parkiran kampus
"kalau gitu Bareng aku saja" ucap Riri sambil mengikuti langkah Rany
"Lain kali saja ya, soalnya kak Bima menjemput ku" ucap Rany
"Owch gitu, kirain ngak ada yang menjemput" ucap Riri
"Owch iya kak Bima belum datang ya??" tanya Rany sambil mencari-cari keberatan Bima tapi tidak menemukan mobilnya Dan juga orangnya
"Mana aku tau, masih di jalan kali" jawab Riri Yang sudah berhenti depan mobilnya
"Hmmm, jadi harus menunggu de" ucap Rany lemas
"Tuh lihat, bukankah itu mobilnya??" tanya Riri sambil menunjuk kearah sebuah mobil yang baru datang, Rany pun ikut melihat kearah yang ditunjukan sahabatnya itu
"Ah benar itu kak Bima" ucap Rany sedikit tanang karena tidak perlu menunggu lama,
Tak lama kemudian seorang keluar dari mobil itu yang tidak lain adalah Bima,
"Aduh gantengnya, Ran bisakah kau memberi tahunya kalau aku mengaguminya??" tanya Riri sambil terus melihat kearah Bima yang melangkah menghampiri mereka
"Apa sih, bilang saja sendiri kepada orangnya" ucap Rany
"iss jahat kamu ya, ah dia semakin dekat, aku sangat gugup lo" ucap Riri yang tidak melepas pandangannya kepada Bima
"Sssssst, diam dia sudah dekat lo," ucap Rany takutnya kak Bima mendengar percakapan mereka.
"Maaf nona, saya sedikit terlambat menjemput nona" ucap Bima sambil sedikit membungkuk
"Hmmm ngak apa-apa ko"jawab Rany
"Hay kak Bima" sapa Riri Sambil tersenyum manis kearah Bima
"Ah Hay nona" jawab Bima sambil membalas senyum sahabat nona Rany
"Ya udah Ri aku duluan ya" ucap Rany sambil melangkah menuju mobil
"Hati-hati ya Ran , kak Bima juga hati-hati ya"teriak Riri yang masih didengarkan Bima dan juga Rany.
"Apaan sih dia" ucap Dini pelan Sementara Bima hanya tersenyum mendengar ucapan nona Rany
"Silakan nona" ucap Bima setelah membukakan pintu mobil untuk nona Rany
"Makasih ya kak" ucap Rany sambil masuk kedalam mobil
"Iya sama-sama nona" jawab Bima yang juga ikut masuk kedalam mobil.
"Oh iya kak, kita mampir sebentar ke toko buku ya" ucap Rany yang sudaha ada didalam mobil
"Baik nona" ucap Bima sambil melakukan mobil meninggalkan halaman kampus nona Rany
"Kak Bima temani aku ya" ucap Rany sambil keluar dari mobil, Bima menghela nafas sepertinya dia terlihat gugup jika berdekatan dengan Rany
Bima punengikuti langkah Rany dengan memberi jarak sekitar satu meter lebih
"Lo kak, kenapa terlalu jauh, sini, Rany ngak mau jika orang pada lihatin aku karena pegi ke toko buku saja harus diantar asisten" ucap Rany
"Ah baik nona, jawab Bima" sambil memangkas jarak antara mereka
"Na gitu dong, gini kan bagus" ucap Rany sambil mulai mencari-cari buku yang ingin dia beli
"Bisakah saya bantu mencarinya??" tanya Bima
"Hmmm, Boleh juga, kak Bima cari buku seperti ini ya" ucap Rany sambil memperlihatkan contohnya
"Baik nona" jawab Bima ketika melihat seperti apa buku yang ingin dibeli nona Rany
"Hmmm, apakah orangnya gitu selalu berkata formal" batin Rany sambil terus mencari beberapa buku yang dia butuhkan
"Nona apakah bukunya seperti ini" tanya Bima yang telah menemukan buku yang dimaksut Nona Rany
"Mana, biar Rany lihat" ucap Rany sambil berjalan mendekati Bima
Deg
Jantung Bima tiba-tiba berdetak tak seperti biasanya ketika Rany berada di dekat nya
"Owch iya betul kak ini buku yang Rany cari" ucap Rany sambil melihat-lihat isi bukunya.
"Aaaaaa" teriak Rany dengan gerakan refleks langsung memeluk Bima yang berada tepat disampingnya karena Tiba-tiba lampu di toko buku Mati mungkin akibat hujan yang cukup deras
Karena terkejut ketika lampu tiba-tiba mati dan ditambah juga tiba-tiba Rany memeluknya yang menyebabkan Bima sedikit kesulitan mengimbangi tubuhnya hingga terjatuh
Cup
Bibir Rany menyentuh Bibir Bima, karena kini posisi Rany tepat diatas tubuh Bima,
keduanya tetap diam dengan posisi seperti itu untuk beberapa saat sebelum lampu menyala kembali
Deg lagi-lagi jantung Bima berdetak lebih cepat dan begitu juga yang dirasakan Rany
Selang beberapa detik Rany kembali berdiri dan begitu juga dengan Bima, tak lama kemudian lampu kembali menyalah
"Maaf kak" ucap Rany sambil menundukan pandangannya Karena saat ini wajah Rany berubah menjadi merah
"Tidak perlu minta maaf nona" ucap Bima yang juga tidak berani memandang Rany karena jantungnya rasanya mau copot dari tempatnya.,
"Kak ayo pergi" ajak Rany yang terus menunduk
"Baik nona" Jawab Bima sambil berjalan lebih dulu dari Rany dan me.bukakan pintu mobilnya.
Selama perjalanan mereka hanya diam tak ada yang ingin memecahkan kesunyian, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing hingga sampai di tempat tujuan pun mereka belum mengeluarkan satu Pata katapun.
Flashback off
"suasana macam apa ini??" batin Dini yang juga menyadari kecanggungan antara Rany dan juga Bima
"Aduh jantungku terus berdetak rasanya ingin meledak" batin Rany yang masih saja tidak melihat kearah Bima.