TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN
Berubah


Keesokan paginya Dini berusaha membuka matanya yang terasa berat karena masih ada sisa-sia obat tidur yang diberikan Dokter.


"Aku dimana??"ucap Dini sambil mengucek-ngucek matanya agar bisa melihat dengan jelas.


"Di rumah sakit" jawab seseorang. Dini yang mendengarnya pun melihat kearah suara, betapa terkejutnya saat melihat siapa yang saat ini duduk disampingnya.


"Tuan. Kenapa tuan bisa ada di sini??" tanya Dini sambil berusaha bangun. Rendy yang melihatnya dengan cepat membantunya lalu kembali duduk.


"Maaf, telah merepotkan tuan" ucap Dini sambil menunduk.


"Hmmm" Rendy berdiri dari tempat duduknya dan langsung menuju kamar mandi untuk membersikan diri.


"Aku sudah bersusah payah memikirkan kalimat apa yang harus aku tanyakan. Hanya 'Hmm' saja jawabannya?? . *D*asar kulkas, terus ngapain repot-repot menjagaku" batin Dini kesal. Setelah beberapa menit Rendy keluar dari kamar mandi. Dini yang mendengar suara pintu dengan cepat melihat kearah surah. Rendy terlihat sangat tampan dengan baju kaus berwarna hitam, Dini yang melihatnya pun terpesona dengan ketampanan suaminya itu.


"Biasa saja lihatnya!, baru tau kalau suamimu tampan?" ucap Rendy sambil berjalan menuju sofa sementara Dini yang mendengarnya dengan cepat menundukan kepalanya karena malu.


Beberapa menit kemudian Bima tiba di rumah sakit dan langsung menuju ruangan dimana Dini dirawat.


"Pagi tuan, pagi nona" sapa Bima.


"Pagi" jawab Dini sambil melihat kerah Bima dengan tatapan tidak suka.


"Apa dia tuli??, bukannya aku sudah memberitahunya agar tidak memanggilku dengan sebutan nona" batin Dini.


"Ini lagi satu ngapain dia kesini " batin Dini yang melihat Rendy berjalan mendekatinya.


"Kelihatannya kamu baik-baik saja. Jadi kita pulang sekarang!!" ucap Rendy sambil mendekati Dini.


"Tuan mau apa??" tanya Dini sedikit khawatir


"Menggendongmu" jawab Rendy santai, Dini yang mendengarnya pun terkejut.


"Tidak perlu tuan!!, saya bisa jalan sendiri" ucap Dini. Rendy yang mendengarkan itu pun tidak memperdulikannya, kini ia berhasil memopong istrinya.


"Tuan. Saya benar-benar bisa sendiri" ucap Dini lagi lalu berusaha turun.


"Jika kamu masih saja berbicara, saya tidak akan segan-segan menciumu" jawab Rendy serius, semntara Bima yang mendengarnya pun tersenyum.


Karena tidak punya pilihan lain, Akhirnya Dini memilih untuk diam. Bima membukakan pintu dan Rendy pun keluar sambil mengendong Dini menuju mobil. Semua mata tertuju pada mereka, tapi tak seorang pun yang berani bertanya.


Tak lama kemudian mereka sampai di area parkiran, Bima membukakan pintu mobil. Rendy membawah masuk Dini ke dalam mobil dan mobil pun melaju meninggalkan area parkiran rumah sakit.


Setelah 30 menit di perjalanan mereka pun sampai. Bima turun lebih awal membukakan pintu untuk tuannya, Rendy turun dan kembali memeluk Dini sementara Dini hanya bisa diam. Terlihat beberapa pekerja rumah sudah berdiri didepan pintu untuk menyambut kedatangan mereka. Dini yang melihatnya merasa heran.


"Lo darimana datangnya orang-orang ini??, bukankag cuma Bi Ina yang ada di rumah" gumam Dini dalam hati.


"Selamat datang tuan, selamat datang nona" sapa beberapa orang yang berdiri di depan rumah termasuk bi Ina. Seperti biasanya Rendy tidak menghiraukan sapaan mereka hanya Dini yang tersenyum kearah mereka.


"Tuan bolehkah saya naik sendiri??" tanya Dini pelan. Tapi lagi-lagi Rendy tidak memperdulikannya, Rendy tetap memopong tubuh mungil istrinya itu hingga ke kamar.


"Istrahatlah nanti Bi Ina akan mengantarkan makananmu ke atas" ucap Rendy sambil menurunkan Dini keatas tempat tidur.


Setelah itu Rendy berjalan menuju ruang ganti dan bersiap-siap pergi ke kantor, sementara Dini memilih dia dan menatap kearah Rendy.


"Dia kesambet apa ko sikapnya berubah??" batin Dini


Tok tok tok


"Masuk!!" perintah Rendy. Bi Ina pun masuk dengan membawakan sarapan untuk Dini.


"Nona ini sarapannya" ucap Bi Ina sambil meletakan sarapan di atas meja yang berada di dekat Dini.


"Owch iya, terimah kasih Bi" ucap Dini sambil tersenyum.


"Iya sama-sama nona, permisi nona" jawab Bi Ina lalu melangkah pergi.


"Jika dengan orang lain dia bisa tersenyum manis. Tapi giliran dihadapanku jangankan tersenyum manis, memandangku saja tidak😑. Dia lebih suka memandang lantai daripada wajahku, apakah lantai itu lebih menarik dari wajahku??apa perlu saya mengganti keramik lantainya supaya dia bisa melihat wajahku??" batin Rendy kesal.


Rendy pun berjalan menghampiri Dini. Dini yang melihatnya, seketika turun dari tempat tidur laluseperti biasanya ia menundukan kepalannya.


"Tuh kan, lagi-lagi dia memilih melihat lantai dari pada wajahku, apa benar aku harus mengganti keramik lantainya??" gumam Rendy yang kini menatap istrinya.


"Siapa yang menyuruhmu turun??" tanya Rendy sementara Dini yang mendengarnya dengan cepat kembali naik ke atas tempat tidur.


Rendy berjalan mendekati Dini dan mencium kening istrinya. hal itu pun membuat sang empuh terkejut. Sementara Rendy dengan santainya melangkah keluar dari kamar meninggalkan Dini yang masih terkejut dengan pubahan sikapnya.


"Apa aku sedang bermimpi ?? " gumam Dini sambil mencoba mencubit pipinya.


"Aw aw sakit"


"Berarti bukan mimpi dong, apa dia salah minum obat ya??" ucap Dini penasaran.


****


Di dalam mobil Rendy mengingat kembali apa yang ia lakukan tadi pagi. Rendy pun tersenyum mengigat ekspresi istrinya ketika ia berhasil menciumnya, hal itu tak luput dari pandangan Bima, ia pun ikut tersenyum walaupun ia tidak mengetahui apa yang membuat tuannya tersenyum.


"*S*udah lama tidak melihat tuan muda tersenyum seperti itu," batin Bima sambil fokus menyetir.


15 menit kemudian Rendy pun sampai dan langsung menuju ruang kerjanya, dari kejauhan terlihat ibu Dewi yang mondar-mandir dengan raut wajah khawatir. Setelah melihat tuan Rendy ibu Dewi langsung menghampirinya.


"Maaf tuan" ucap Ibu Dewi gugup.


"Ada apa??" tanya Rendy dingin yang membuat Ibu Dewi semakin gugup.


"Di dalam ada nona Serly tuan" jawab ibu Dewi sambil menundukan kepalanya.


"Kenapa di izinkan masuk??" tanya Rendy dengan suara tinggi.


"Maaf tuan, saya sudah melarangnya tapi nona serly memaksakan diri untuk tetap masuk" jawab ibu Dewi.


"Lain kali jangan mengizinkan siapapun masuk tanpa seizinku!!" ucap tuan Rendy dengan suara tinggi.


"Baik tuan" jawab ibu Dewi. "Kamu boleh pergi!!"


Ibu Dewi yang mendengarnya pun dengan cepat melangkah pergi.


"Bima kamu ikut masuk!!" perintah Rendy sambil membuka pintu.


"Baik tuan" jawab Bima dengan mengikuti langkah Rendy.


"Hay sayang kamu suda datang??" ucap Serly sambil melangkah menghampiri Rendy dan mengandeng tangannya.


"Baik tuan" jawab Bima sambil menutup pintu dan berdiri di dekat pintu.


"Ngapai kamu ke sini??" tanya Rendy sambil menepis tangan Serly.


"Kamu kenapa sih sayang??, aku kesini ingin melihatmu lo" jawab Serly sambil mencoba mengandeng tangan Rendy lagi.


"Lepaskan tanganmu!! ucap Rendy sambil menepis kembali tangan Serly.


"Kamu kenapa Sih??, ko marah-marah??" tanya Serly.


"Aku pikir kamu sudah berubah, setelah kamu kembali tapi Nyatanya tidak" ucap Rendy dingin, Serly pun terkejut setelah mendengar ucapan Rendy.


"Jangan-jangan dia tidak menjemputku waktu itu, karena dia melihatku bersama om Roni??" batin Serly".


"Sayang, apa sih yang kamu ucapkan?? aku tidak mengerti" ucap serly pura-pura tidak mengerti.


"Jangan berpura-pura kamu!, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri" ucap Rendy marah.


Flashback


Setelah 15 menit diperjalanan Rendy pun sampai di mall dimana Serly menyuruhnya untuk menjemputnya. Setelah selesai memarkir mobil, Rendy berjalan menuju tempat dimana serly menunggunya. Setelah sampai di tempat yang dimaksut, ia tidak menemukan Serly di sana.


"Lo kemana perginya?" ucap Rendy sambil melihat ke kiri dan ke kanan berharap ia menemukan keberadaan Serly. Rendy mengeluarkan ponselnya dari saku celananya lalu mencoba menelfon Serly.


"Ah nomornya kenapa tidak aktif sih??, kemana perginya??" ucap Rendy sedikit khawatir.


Setelah cukup lama menunggu, Rendy memutuskan untuk berjalan mencari-cari dimana keberadaan Serly, Sudah hampir menyusuri semua sisi mall akan tetapi ia belum juga menemukan keberadaan Serly.


"Serly kamu kemana sih??" ucap Rendy lagi. Rendy pun memutuskan untuk kembali ketempat dimana mereka janjian.


"Saya tunggu saja disana, mungkin dia lagi membeli sesuatu"ucap Rendy sambil berjalan menuju tempat dimana ia dan Serly janjian. Langkahnya tiba-tiba terhenti saat tatapanya tertuju pada dua orang yang lagi bermesraan di tempat umum.


Rendy merasakan seperti ada suatu benda besar yang menghantam keras dadanya hingga membuatnya kesusahan bernafas ketika mengetahui perempuan itu lagi bermesraan dengan salah satu pengusaha di kota x yang tidak lain adalah Serly.


Rendy pun melangkah keluar, kemudian dengan cepat masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan Serly.


"Aahh sial...".


"Kenapa saya begitu percaya jika dia benar-benar sudah berubah" ucap Rendy dengan terus melajukan mobilnya menuju rumah kedua orang tuannya.


Flash back off


"Sayang kamu salah paham, aku bisa jelasin ko" ucap Sely sambil berusaha menggandeng tangan Rendy akan tetapi Rendy selalu menepis tangannya.


"Sudahlah tidak ada lagi yang perlu jelaskan lagi, semuanya sudah jelas!, dan ketahuilah saya sudah menikah, jadi berhentilah datang kesini jika tidak mempunyai urusan!" ucap Rendy tegas lalu berjalan menuju meja kerjanya.


"Ahahaha sayang kamu jangan bercanda, itu pasti cuma akal-akalanmu saja kan??" ucap Serly tidak percaya.


"Terserah kamu, mau percaya atau tidak itu urusanmu. Sekarang juga kamu keluar!!, saya banyak urusan yang harus di selesaikan" ucap Rendy yang kini sudah mengambil beberapa berkas untuk ditandatanganinya.


"Sayang, apa baru saja kamu mengusirku??" tanya Serly dengan suara yang lebih tinggi dari sebelumnya.


"Saya berhak mengusir siapapun termasuk kamu!" ucap Rendy sambil memberikan kode kepada Bima, Bima yang mengerti maksut tuannya pun langsung menarik tangan Serly.


"Aku akan memberitahukan ibumu, karena kamu telah mengusirku" ucap Serly yang kini sudah di depan pintu sementara Rendy hanya diam dan terus melanjutkan pekerjaannya.


"Maaf, anda harus pergi sekarang!" ucap Bima sambil menarik tangan Serly.


"Ngak perlu ditarik-tarik aku bisa sendiri!" ucap Serly sambil melepaskan tangannya dari genggaman Bima dan melangkah pergi.


****


Hari mulai sore, Rendy keluar dari ruangannya lalu menuju halaman parkir, disana sudah terlihat Bima yang setia membukakan pintu mobil untuknya. Rendy pun masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Bima, Bima melajukan mobil meninggalkan halaman parkir.


"Sudah ada kabar mengenai Denis?" tanya Rendy yang memecahkan kesunyian.


"Belum tuan mungkin dua hari lagi" jawab Bima sambil sesekali melihat kearah Rendy melalui kaca spion.


Setelah 15 menit di perjalanan, Rendy pun sampai dan seperti biasanya di jemput oleh beberapa pekerja rumah.


"Kamu boleh pulang!!, jika sudah ada informasi mengenai Denis segerah hubungi saya!" ucap Rendy sambil keluar dari mobil


"Baik tuan" jawab Bima dan Bima kembali melajukan mobilnya pulang ke rumahnya.


"Selamat datang tuan" sambut para pelayan, seperti biasanya Rendy hanya diam tanpa membalas sapaan para pelayan.


Rendy masuk ke dalam rumah dan hendak naik ke atas akan tetapi langkahnya terhenti.


"Bi, apa yang dilakukan dua selama saya tidak di rumah??" tanya Rendy.


"Nona muda terus tidur sepanjang hari" jawab Bi Ina.


"Baiklah saya naik ke atas dan untuk makan malam antar ke atas!!" perintah Rendy sambil berjalan menaiki satu per satu anak tangga.


"Baik tuan" jawab Bi Ina yang mesih terdengar oleh Rendy.


Setelah sampai dan masuk ke dalam kamar, Rendy melihat Dini yang masih tertidur. Rendy pun menyimpan tasnya dan pergi ke kamar mandi lalu membersikan dirinya, setelah selesai Rendy pun keluar dan langsung menuju ruang ganti.


"Apa reksi obat tidurnya belum habis?" ucap Rendy sambil berjalan menuju tempat tidur dan membaringkan tubuhnya tepat di samping Dini.


"Dia tetap cantik walaupun sedang tidur" ucap Rendy pelan sambil mencolek-colek pipi Dini dengan jari telunjuknya, Dini pun bergerak dan memeluk tubuh Rendy yang berada disampingnya.


Deg.


"Ah jantunku, rasanya mau copot " batin Rendy yang terus menatap wajah Dini yang kini sudah sangat dekat dengan wajahnya.


Cup.


Satu kecupan mendarat dibibir istrinya, tapi itu tidak membuat Dini terbangun dari tidurnya. Karena melihat tidak terjadi pergerakan dari Dini ia pun tersenyum licik.


"Bibirnya begitu menggoda" batin Rendy sambil menelan Salivanya.


Lagi-lagi Rendy kembali mencium bibir Dini. entah sejak kapan, ia sudah kecanduan dengan bibir istrinya itu. Karena masih tidak ada pergerakan dari Dini, Rendy melanjutkan aksinya, tidak hanya mengecup bibir istrinya ia bahkan m*****t bibir mungil milik istrinya sehingga membuat si empu mengerakan tubuhnya dan melepaskan pelukannya karena merasakan sesuatu yang aneh dibibirnya, hal itu membuat Rendy meyudahi kegiatanya lalu menarik tubuh mungil Dini ke dalam pelukannya.


Karena merasa sangat lelah ia pun ikut tertidur sambil memeluk istrinya.


"hay kak😊, jangan lupa like dan komennya di setiap episode yang kalian sukai😍😘