
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul empat sore, mereka masih asing berbincang-bincang diruang keluarga.
"Oh iya Bim, kamu jemput Rany ya!, soalnya Randy tidak bawah mobil tadi dia bareng waktu mau ke kekantor" ucap tuan Dimas yang langsung di iyakan oleh Bima
"Cie yang mau jemput calon istri" goda Rendy yang membuat Bima jadi salah tingkah
"Apaan sih kamu, dari tadi godain Bima mulu, jangan bilang kamu pengen menikah lagi" ucap Dini, iya memang dari tadi Rendy terus-terusan menggoda Bima hingga beberapa kali Bima salah tingkah.
"Iya aku mau menikah" jawab Rendy santai yang membuat Dini membulatkan mata, Setelah mendengar jawaban dari Rendy, begitu juga dengan tuan Dimas dan juga Ibu Sri
"Benar kamu ingin menikah lagi??, aku sedang hamil anak kamu dan kamu ingin menikah lagi" ucap Dini dengan suarah tinggi, wajahnya terlihat merah karena berusaha menahan emosinya
"Sayang aku bercanda lo" ucap Rendy sambil membelai rambut istrinya tapi langsung ditepis oleh Dini
"Pa, ma saya keatas ya mau istrahat" ucap Dini lembut sambil melangkah pergi
"Sayang,.....",pangil Rendy tapi sama sekali tidak mendapat respon dari Dini
"Kamu sih bercandanya kelewatan, jadi marah kan dia, sekarang berjuanglah membujuk dia" ucap tuan Dimas sambil tersenyum karena dia sangat tau sifat perempuan kalau sudah marah akan susah untuk dibujuk
"Sana susul istrimu, mama ngak mau tau kamu harus minta maaf kepada istrimu" sambung Ibu Sri yang juga tidak suka dengan candaan Rendy yang menurutnya itu berlebihan
"Tapi ma, Denis bagaiman??" tanya Rendy sambil melihat kearah Denis
"Biar mama yang menunjukan kamarnya, sekarang kamu keatas dan minta maaflah kepada istrimu" jawab Ibu Sri
"Baik terima kasih ma",ucap Rendy sambil berlari menaiki satu persatu anak tangga berharap Dini belum mengunci pintunya.
Bima pun tersenyum melihat kepanikan tuan Rendy begitu juga dengan tuan Dimas yang ikut tersenyum.
"Kamu ngapain masih Disini, sana jemput calon istrimu" ucap Ibu Sri dengan suara sedikit tinggi yabg membuat Bima seketika berdiri dari tempat duduknya
"Baik nyoya" jawab Bima sambil melangkah pergi
"Apa sih mi, kenapa mami ikut-ikutan marah sama Bima yang salah Anak kesayangan mami itu" ucap Tuan Denis,
"Iya sih, kenapa saya Marah kepada Bima yang tidak bersalah, isssh ini semua gara-gara anak papi" ucap Ibu Sri
"Lo ko anak papi sih, anak mami lah" ucap Tuan Dimas
"Anak papilah, giliran Rendy buat salah tidak dianggap sebagai anak" ucap Ibu Sri tak mau kalah,
"Sudah, kak Rendy itu anak mama dan papa" ucap Denis ingin menghentikan pertengkaran mama dan papa barunya
"Tuh, papi dengar kan, Rendy itu anak Mami juga" uacap tuan Rendy
"Papi sih yang ngajak ribut" ucap Ibu Sri
"Ah pokonya papi yang salah" ucap Ibu Sri, sementara tuan Dimas menghela nafas karena percuma berdebat dengan istrinya dia tidak akan pernah menang
"Iya papi salah" jawab tuan Dimas dengan wajah datar nya
"Nah gitu dong, harus ngalah sama istri" ucap Ibu Sri sambil tersenyum bahagia karena lagi-lagi dia menang kalau soal perdebatan
"Oh iya Den, mama hampir lupa mengantarmu, sini ikut mama, akan mama tunjukan kamarmu jika berada disini" ucap Ibu Sri sambil menarik tangan Denis menuju kamar yang akan ditempati Denis, sementara Denis mengikuti langkah Ibu Sri, yang sesejujurnya dia cape ingin sekali dia merehbahkan tubuhnya diatas tempat tidur
"Nah ini kamarnya, gimana, kamu suka??" tanya Ibu Sri setelah membuka salah satu pintu kamar yang tidak jauh dari kamar Rany
"Waah bagus ma, Denis suka, makasih ya ma" ucap Denis sambil meliha ke setiap sudut ruangan yang sudah didesain untuk anak seumuran dia
"Iya sama-sama sayang, nah kamu istrahat ya, pasti sangat cape" ucap Ibu Sri sambil membelai rambut Denis, Denis mengagumkan kepala tandanya dia setuju dengan apa yang diucapkan mamanya, Ibu Sri pun berlalu pergi.
Disisi lain Rendy berusaha membujuk istrinya yang sudah terlanjur marah
"Sayang, buka dong pintunya, aku kan hanya
bercanda, mana mungkin aku menikah lagi, aku kan sudah punya kamu" ucap Rendy sambil terus mengetuk pintu kamar yang biasanya mereka tempati jika berada dirumah mamanya
"Brisik aku mau tidur" teriak Dini dari dalam kamar
"Sayang plisss, biarkan aku masuk aku juga ingin istrahat" ucap Rendy memohon, tak lama kemudian pintu kamar pun terbuka, Rendy yang melihatnya pun tidak menyiayiakan kesempatan untuk masuk dan membujuk istrinya
"Sayang maafin aku yaa" ucap Rendy sambil memeluk istrinya
"Lepasin aku mau tidur, tutup pintunya" ucap Dini sambil melepaskan pelukan suaminya dan menuju tempat tidur.
Setelah selesai menutup pintu Rendy menghampiri istrinya yang sedang menyandarkan tubuhnya di banyak dan asik memainkan hpnya
"Sayang maaf, Aku janji de tidak akan mengulanginya lagi" ucap Rendy sambil memegang tangan kiri istrinya, tapi tidak ada respon dari istrinya Dini terus asik dengan hpnya.
Rendy beberapa kali mencium pipi istrinya berharap istrinya akan memaafkannya, tapi usahanya gagal karena Dini masih tetap fokus dengan hpnya
"Nak, Mama lagi marah ni sama papa, kasih tau dong sama mama bilang maafkan papa ya, papa janji tidak akan mengulanginya" ucap Rendy sambil mengusap-ngusap perus istrinya, kelakuan Rendy berhasil membuat Dini tertawa
"Nak, mama tertawa lo, berarti mama sudah maafkan papa ya?" ucap Rendy lagi seakan-akan sedang berbicara dengan anaknya dan itu membuat Dini semakin tertawa melihat tingkah suaminya yang menurutnya itu sangat lucu, Rendy yang melihatnya pun sedikit merasah legah,
"Sayang mau ya maafin aku, plisss"ucap Rendy memohon sambil memegang kedua tanga istrinya
"Iya aku maafin, tapi ingat jangan ulangi lagi" ucap Dini yang masih cemberut, Rendy pun merasa bahagia akhirnya dia bisa membujuk istrinya untuk memaafkan nya
"Makasih sanyang" ucap Rendy yang kembali memeluk istrinya dan mengecup bibir istrinya beberapa kali
"Sudahlah aku mau istrahat" ucap Dini sambil memperbaiki bantal nya agar bisa berbaring dengan baik, yang lasung diikuti Rendy. Karena merasa sangat lelah mereka pun tertidur sambil berpelukan.