TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN
10


Setelah selesai makan Rendy dan Bima ke atas menuju ruang kerja Rendy untuk melanjutkan beberapa pekerjaan yang tertunda, sementara Dini dan Rany terlihat asik berbincang-bincang terlihat sesekali mereka tertawa disela-sela percakapan mereka


"Oh iya Ran, aku boleh tanya sesuatu??" tanya Dini


"Boleh kak, mau tanya apa??" ucap Rany sambil menunggu pertanyaan yang akan diberikan kakak iparnya


"Rany tau Ngak dimana Serly sekarang??" tanya Dini yang terlihat serius


"Taulah, Serly kan sekarang dipenjara, dia kan terjerat kasus penculikan kak ipar" jawab Rany santai, sementara Dini yang mendengarnya pun terkejut


"Dipenjara??" ucap Dini mengulangi ucapan Rany


"Iya kak, kak Rendy yang melaporkannya" jawab Rany lagi


"Kasian Serly" batin Dini


"Kak, kaka kenapa??" tanya Rany yang melihat kakak iparnya melamun


"Aa Rany, kakak hanya kepikiran saja" ucapa Dini


"Kaka pikirin Serly ya??" tanya Rany dengan penuh keyakinan


"Hmmm, begitulah" jawab Dini


"Apa sih, biarin saja dia dipenjara, itu pantas buat dia karena berani menculik kakak ipar" ucap Rany


"Mungkin serly punya alasan tersendiri kenapa dia berani melakukan itu" ucap Dini pelan


"Sebenarnya hati kakak ipar ini terbuat dari apa sih, sampai sebaik ini walaupun sudah disakiti, tapi masih memikirkan nasib orang yang menyakitinya" batin Rany yang terus memandang wajah kakak iparnya


"Sudahlah kak, tidak perlu dipikirin, biarkan dia tanggung akibat dari kesalahannya" ucap Rany


Tak tersa jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam,


"Belum selesai ya pekerjaan mereka, sudah jam sepuluh lo??" tanya Dini kepada Rany


"Rany juga ngak tau kak" jawab Rany,


Setelah beberapa menit terlihat Rendy dan juga Bima menuruni satu persatu anak tangga Dan menghampiri Dini dan juga Rany yang berada diruang keluarga.


"Sudah selesai ya??" tanya Dini


"Belum sih, nanti lanjut dikantor saja takutnya Rany pulang terlalu larun dan dia kan besok ke kampus" jawab Rendy sementara Rany dan juga Bima hanya bisa diam


"Tidak apa-apa mereka pulang??, sudah jam sepuluh lo" ucap Dini sedikit khawatir.


"Tidak apa-apa Bima kan ada, Aku yakin Bima bisa menjaga Rany dengan baik" ucap Rendy sambil tersenyum kearah Bima


"Terimakasih telah mempercayai saya tuan" jawab Bima sambil sesekali melirik kearah Rany yang hanya memilih diam


"Hmmm baiklah, kalian hati-hati ya, dan Rany kalau sudah sampai kabari kakak ya" ucap Dini


"Iya kak, nanti Rany kabari kalau sudah sampai dirumah, kak Rany pamit ya" ucap Rany


"Hati-hati ya, Bim jaga baik-baik adikku" ucap Rendy sambil melihat kearah Bima


"Baik tuan" jawab Bila lau melangkah pergi.


"Ya udah sayang, kita keatas ya" ucap Rendy sambil memengang tangan istri nya untuk membantu berdiri


"Apakah malam ini juga aku harus minum susu??" tanya Dini disela-sela langkah menuju kamar


"Tentu sayang, agar anak kita sehat" jawab Rendy


Setelah sampai dikamar Dini menuju kaamr mandi untuk memberisikan dirinya dan juga mengganti pakaiannya dengan baju tidur,


"Sayang aku sudah selesai, sana bersihkan dirimu" ucap Dini sambil menuju tempat tidur


"Iya, kamu minum susu dulu, tadi Bi Ina sudah mengantaranya" ucap Rendy sambil memberikan segelas susu kepada istrinya


"Baiklah" ucap Dini sambil mengambil susu yang diberikan suaminya dan meminumya, semetara Rendy pergi membersikan dirinya.


"Sayang" pangil Dini yang kini sudah merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur


"Hmmm" jawab Rendy sambil naik keatas tempat tidur


"Sepertinya ada sesuatu antara Rany dan Bima" ucap Dini


"Aku juga berfikir seperti itu sayang, Tidak seperti biasanya mereka begitu"


"Apa Rany dekat dengan Bima??" tanya Dini


"Ya, Rany cukup dekat dengan Bima mungkin karena sudah lama Bima bekerja menjadi asisten pribadiku.


"Apa terjadi sesuatu kepada mereka, sepertinya mereka terlihat canggung" ucap Dini penasaran


"Entahlah, intinya aku percaya Bima bisa menjaga Rany dengan baik" ucap Rendy sambil menarik istrinya kedalam pelukannya.


"Tidulah sayang, ini sudah larut malam" ucap Rendy sambil mencium kening istrinya


"Bagaimana aku bisa tidur kalau Rany belum menelfonku" ucap Dini sedikit khawatir


"Sudah lah mereka baik-baik saja, kamu kan lagi hamil tidak boleh teralmbat tidur" ucap Rendy sambil mebelai rambut istrinya


****


Diperjalanan Rany terus diam, sekali melirik kerah Bima dan Bima menyadari itu.


"Ko berhenti" ucap Rany yang tiba-tiba Bima menghentikan mobil pada lah mereka belum sampai


"Nona Rany duduk di depan ya" ucap Bima


Bima keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil di bagian depan tanpa menjawab pertanyaan Rany


"Saya duduk disini saja kak" ucap Rany sambil menurunkan kaca mobil, Bima kembali membuka pintu belakang untuk Rany


"Aduh ada apa dengan kak Bima" batin Rany yang mulai takut, terpaksa Rany mengikuti keinginan Bima, Bima pun kembali masuk kedalam mobil.


Deg


Lagi-lagi jantung Rany berdetak lebih cepat dari biasanya


"Kak kenapa belum jalan??" tanya Rany terbata-bata karena mulai merasa takut dengan sikap Bima, dilain sisi Bima berusaha tenang karena kini jantungnya rasanya ingin meledak karena saking cepatnya jagungnya berdetak


Bima menyadari jika Rany yang mulai takut


"Maaf telah membuatmu takut" satu kalimat yang keluar dari mulut Bima saat itu


Rany yang mendengarnya pun melihat kearah Bima dan Bima pun melihat kerah Rany seketika pandangan mereka menyatu, Rany kembali memalingkan wajahnya kearah lain karena tidak mampu menatap Bima terlalu lama


"Rany lihatlah kearahku" ucap Bima yang terus melihat Rany


"Apa-apan ini, apa yang sedang dia lakukan?? Dan lagi dia memanggilku namaku tanpa kata nona" batin Rany


"Maaf kak aku tidak bisa" jawab Rany pelan


"Kenapa??" tanya Bima, tapi tidak ada jawaban dari Rany


"Aku tidak akan jalan jika kamu tidak melihatku dan mendengarkanku" ucap Bima yang masih setia memandang wajah cantik milik Rany


"Ada apa dengannya apa kak Bima salah minum obat" batin Rany,


Rany menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan kembali dengan kasar, tidak ada pilihan lain Rany memberanikan Diri menatap Bima


"Sudah sekarang bicaralah" ucap Rany ketika sudah menatap Bima


Bima tersenyum melihat tingkah Rany yang menurutnya imut


"Dia tersenyum setelah berhasil membuatku takut" Batin Dini


"Menilakah denganku" kalimat itu yang keluar dari mulut Bima yang sejujurnya dia tidak cukup pede untuk mengatakannya.


Rany terkejut setelah mendengar ucapan Bima


"Kak Bima sedang bercanda kan??" tanya Rany tak percaya


"Saya serius nona" jawab Bima meyakinkan


Deg


Jantung Rany kembali berdetak dengan sangat cepat rasa-rasanya ingin meledak setelah mendengar jawaban dari Bima


"Kak Bima mengambil keputusan ini karena kejadian tadi di toko ya, kalau soal kejadian itu kakak tidak perlu khawatir aku tidak akan memintah pertangung jawaban karena itu suatu kesalahan" ucap Rany panjang lebar karena Rany pikir Bima mengatakan itu karena kejadian di toko


Cup


Bima kembali mengecup Bibir Rany yang membuat sang pemilik terkejut


"Bagiku itu bukan suatu kesalahan, dan juga bukan karena kejadian itu aku mengambil keputusan sebesar ini" ucap Bima panjang lebar, sementara Rany masih diam mematung karena tidak percaya apa yang dia dengar dan juga apa yang dilakukan Bima.


"Aku menyukaimu sudah cukup lama" ucap Bima yang melihat Rany hanya diam


"Kak Beri aku waktu untuk berfikir" Ucap Rany sambil kembali melihat kearah Bima


"Baik aku akan menunggu keputusanmu, tapi aku berharap kamu menerimanya" ucap Bima sambil menyalakan mobil dan mulai melaju menuju kediaman tuan Dimas, setelah


Beberapa menit dalam perjalanan mereka pun sampai terlihat dari jauh tuan Dimas dan juga Ibu Sri yang berdiri didepan pintu menunggu kepulangan putrinya.


"Kenapa baru sampai??, mama khawatir terjadi sesuatu" tanya Ibu Sri sambil memeluk putrinya


"Rany tidak apa-apa ma, kak Bima menjagaku dengan baik" ucap Rany sambil tersenyum


"Tuh kan papa bilang juga apa??, Bima itu bisa menjaga Rany dengan baik" sambung tuan Denis


"Mama kan cuma khawatir terjadi sesuatu kepada mereka" ucap Ibu Sri sambil melepaskan pelukannya.


"Mama tidak perlu khawatir lagi,Rany kan sudah ada disini dalam keadaan baik-baik saja" ucap Dini sambil tersenyum


"Oh iya Bim, makasih ya telah menjaga Rany dengan baik" ucap Ibu Sri sambil tersenyum kearah Bima


"Sama-sama nyonya, itu sudah menjadi kewajibanku untuk menjaga nona Rany" jawab Bima sambil membalas senyum Ibu Sri


"Bima menginaplah disini, sudah larut malam untuk pulang ke apartemenmu" ucap Tuan Denis


Bima melihat kearah Rany sebelum menjawab tawaran tuan Dimas


"lain kali saja taun, saya bisa akan kembali, karena besok pagi saya harus menjempun tuan muda" ucap Bima


"Baiklah hati-hati ya" ucap tuan Denis


"Iya tuan" jawab Bima lalu melangkah pergi Sementara tuan Dimas dan juga Ibu Sri masuk duluan kedalam ruamah


"Kak Bima" pangil Rany yang membuat langkah Bima berhenti dan kembali melihat kearah Rany


"Hati-hati ya" sambung Rany sambil tersenyum manis


"Tentu sayang" jawab Bima sambil tersenyum, Rany yang mendengarnya pun berlari masuk kedalam rumah


"Ah imutnya, makin cinta de" batin Bima lalu masuk kedalam mobil dan melaju meninggalkan kediaman tuan Denis