TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN

TERPAKSA MENIKAHI CEO DINGIN
12


Setelah 30 menit dalam perjalanan mereka pun sampai, seperti biasanya Bima lebih dulu turun dan membukakan pintu untuk tuan Rendy dan juga nona Dini.


"Terimah kasih" ucap Dini setelah turun dari mobil


"Iya sama-sama nona" jawab Bima sambil tersenyum


"Hay Din" sapa Ayu yang juga baru sampai lalu Berjalan menghampiri Dini yang masih berdiri disamping suaminya,


"Hay Yu, aku merindukanmu" ucap Dini lalu memeluk sahabatnya itu


"Kamu sih tidak pernah menelfonku" sambung Dini


"Maaf, aku lagi sibuk, jadi belum bisa menelfonmu" ucap Ayu sambil membalas pelukannya


"Aku dualuan ya??" ucap Rendy Sambil melihat kearah istrinya


"Iya, aku masih ingin berbicara denganya, ucap Dini sambil memegang tangan Ayu, sebenarnya Dini takut untuk berjalan bersama suaminya untuk masuk kedalam untungan sang penyelamat datang.


"Hati-hati ya sayang, jangan sampai cape" ucap Rendy lalu melangkah pergi dan diikuti Bima dari belakang.


"Cie cie" ucap Ayu


"Apaan sih" ucap Dini dengan wajah merona


"Aahahah bisa saja kali, oh iya bagaimana keadaanmu??, maaf ya aku langsung pulang saat itu tidak menunggumu sampai siuman" ucap Ayu merasa bersalah.


"Iya, tidak apa-apa ko, suamiku sudah bemberitahuku alasan kamu pulang lebih awal"


"Jadi tidak marah kan??" tanya Ayu memastikan


"Iya Yu, yaudah kita masuk yuk" ucap Dini sambil menarik tangan Ayu,


"Selamat pagi nona" sapa para karyawan


"Pagi" jawab Dini sambil berusaha tersenyum


"Yu, kenapa mereka menyapaku??" bisik Dini


"Dirimu kan istri dari tuan Rendy Sanjaya, jadi pantas lah mereka memberikan sapaan kepadamu" jawab Ayu sambil terus berjalan


"Iya aku tau itu, tapi masalahnya mereka sudah tau ya kalau aku adalah istri dari tuan Rendy"


"Iya Dini, suamimu sendiri yang memberitahukan kepada seluruh karyawan disini, emangnya kamu tidak tau ya??" ucap Ayu


"Dia baru memberitahu ku tadi pagi" ucap Dini yang terlihat sedikit khawatir


"Tidak perlu khawatir Din, tidak akan ada orang yang berani menceritakan istri dari tuan Rendy sanjaya" ucap Ayu yang berusaha menghilangkan rasa khawatir sahabatnya itu


"Tapi kan" ucap Dini


"Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja, sekarang kamu harus duduk dan jangan pergi kemana-mana aku akan menjagamu agar dirimu dan dede bayinya baik-baik saja" ucap Ayu sambil menarik salah satu kursi untuk Dini


"Eh tunggu, darimana kamu tau kalau aku hamil??, aku kan belum memberitahumu" Ucap Dini sedikit terkejut.


"Siapa lagi kalau bukan suamimu" ucap Ayu sambil duduk disamping Dini


"Jadi yang menyuruhmu menjagaku dia juga??" tanya Dini


"Iya Din, pokonya kamu harus nurut kepadaku" ucap Ayu


"Iya, terus aku kerja apa??" tanya Dini lagi


"Ya kamu cukup duduk dan melihatku bekerja" ucap Ayu santai sambil menyalakan computer nya


"Kalau cuma duduk begini sama saja dengan dirumah membosankan tau" ucap Dini cemberut


"Disini kan ada aku yang bisa diajak bicara kalau di rumah mu kan cuma ada bibi dan mereka sangat sibuk bekerja tidak ada waktu untuk bercerita denganmu, bagaimana benar kan apa yang aku katakan??" ucap ayu panjang lebar


"Iya sih" jawab Dini pelan


"Cuma Dini, yang disapa aku ngak, ingat lo dia itu ISTRI orang" ucap Ayu sambil menekan pada kata istri


"Jangan gitu dong Yu, kasian dia" bisik Dini


"Aku tau ko, bisa saja aku dan Dini berjodoh di lain waktu" ucap Roby sambil tersenyum dan melangkah pergi


"Apa maksutnya dari ucapannya tadi??" tanya Ayu tidak suka


"Sudahlah Yu, lanjutkan saja kerjamu" ucap Dini


"Baiklah" ucap Ayu sambil melanjutkan beberapa pekerjaannya


****


Diruangan tuan Rendy


"Sepertinya aku harus mencari asisten baru",ucap Rendy sambil duduk di meja kerjanya


"Maksut tuan, tuan akan memecat saya??" tanya Bima sedikit khawatir


"Sebentar lagi kamu akan menikah, otomatis aku harus cari asisten baru" ucap Rendy santai


"Saya akan tetap bekerja, walaupun saya sudah menikah" ucap Bima serius


"Istrimu tidak marah ya??, kamu kan harus siap bekerja kapan saja jika saya butukanmu" ucap Rendy


"Dia tidak akan marah tuan" ucap Bima lagi


"Hmmm baguslah, saya tidak perlu repot-repot mencari asisten baru" ucap Rendy sambil menyalakan lebtobnya


"Maaf tuan apakah saya bisa bertanya??" tanya Bima sambil duduk di kursi Tepat dihadapan tuan Rendy


"Silakan" ucap Rendy yang fokus dengan lebtobnya


"Jika nona Rany ingin menikah dalam waktu dekat ini, apakah tuan Rendy mengizinkannya??"


"Tentu saja,, jika itu menurutnya baik" ucap Rendy santai dengan terus fokus mengotak-ngakit leptopnya


"Alhamdulillah" ucap Bima lega


"Eh tunggu, jangan bilang kalau perempuan yang ingin kamu nikahi itu adiku" ucap Rendy sambil melihat kearah Bima


"Ah itu tuan, jika direstui" Ucap Bima terbata-bata


"Kamu serius ingin menikahi adiku??" tanya Rendy dengan tatapan Serius


"Iya tuan" jawab Bima gugup


"aahahah, santai Bim jagan gugup gitu, aku percaya ko kamu bisa menjaga adiku degan baik" ucap Rendy Sambil melangkah menghampiri Bima dan menepuk pundaknya


"Terima kasih tuan, telah mempercayai saya" jawab Bima


"Tunggu saya kan sudah menyetujuinya, kenapa kamu masih terlihat khawatir" tanya Rendy yang sadar akan kekhawatiran Bima


"Saya khawatir tuan besar dan nyonya tidak merestui" ucap Bima pelan


"Kamu tidak perlu khawatir, saya akan membantumu soal itu, tapi ada satu syarat" ucap Rendy yang kembali ke tempat duduknya


"Syaratnya apa tuan??" tanya Bima serius


"Cukup jaga adiku dengan baik dan jangan buat dia menangis" ucap Rendy serius


"Akan saya usahakan tuan" jawab Bima


"Baiklah, kita akan bahas lagi nanti" ucap Rendy sambil melanjutkan pekerjaannya.