
"Apa istrimu??. Apa kamu benar- benar sudah menikah??" tanya Serly.
"Aku kan sudah bilang kalau aku sudah menikah. Jadi berhentilah menemuiku!!" ucap Rendy sambil masuk kedalam mobil dan melaju meninggalkan Serly.
"Aku akan merebutmu kembali, jika kamu tidak bersamaku maka orang lain pun tidak bisa bersamamu" batin Serly Sambil menelfon seseorang.
Setelah sampai dirumah Dini berjalan menuju dapur dan meminum segelas air.
"Nona sudah pulang??" tanya Bi Ina yang melihat Dini sudah berada di dapur.
"Iya Bi. Owch iya Bi, Bi Ina kenal Serly??" tanya Dini sambil melihat kearah Bi Ina.
"Kenal nona" jawab Bi Ina.
"Kenapa nona mudah tiba-tiba menanyakan Serly??, apa nona mengenalnya??" batin Bi Ina bertanya-tanya.
"Apa dia pacarnya tuan Rendy??" tanya Dini lagi yang membuat Bi Ina terkejut
"Aduh bagaimana ini??, apa aku harus menjawabnya dengan jujur, tapi Nona muda pasti akan sedih jika aku menjawabnya iya" batin Bi Ina
"Sudah jika Bi Ina tidak menjawabnya tidak apa-apa ko, Dini naik keatas dulu" ucap Dini yang melihat Bi Ina hanya diam setelah mendengar pertanyaan darinya.
"Iya nona, silakan" jawab Bi Ina" sambil melihat Dini melangkah pergi.
"Kasihan nona muda, dia terlihat sedih tapi tetap berusaha tersenyum" batin Bi Ina sambil terus melihat Dini yang menuju kamarnya.
"Lo ada apa dengan kaki nona??" ucap Bi Ina yang melihat Dini yang berjalan tidak seperti biasanya.
Setelah sampai didalam kamar Dini menyimpan tasnya di meja riasnya dan melangkah pelan menuju tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya.
"Kenapa rasanya sakit melihat Rendy bersama pacarnya. kamu kenapa Dini sadar dong dia tidak mencintaimu jadi berhentilah berharap jika dia akan mencintaimu" batin Dini sambil Menangis. Tak perlu waktu lama Dini pun tertidur.
Di perjalanan.
"Ahhh bodoh, kenapa tidak mengejarnya tadi, kalau dia kenapa-kenapa gimana??" batin Rendy khawatir sambil mengacak-ngacak rambutnya,.
"Bim boleh cepat sedikit!!" perintah Rendy yang mulai bertambah khawatir
"Baik tuan" jawab Bima
Setelah 30 menit diperjalanan Rendy pun Sampai, belum sempat Bima keluar dan membukakan pintu Rendy sudah keluar dari mobil duluan.
"Kamu boleh kembali" ucap Rendy kepada Bima sambil melangkah masuk.
"Baik tuan" jawab Rendy yang masih terdengar oleh Rendy. Rendy berhenti melangkah setelah melihat Bi Ina keluar dari dapur.
"Bi apa dia sudah kembali??" tanya Rendy.
"Sudah tuan" jawab Bi Ina yang mengerti maksut dari tuanya.
Rendy pun berjalan menaiki satu persatu anak tangga dengan sangat cepat.
"Semoga Tuan dan nona muda dapat menyelesaikan masalahnya dengan kepala dingin" batin Bi Ina yang sangat tau jika tuan mempunya masalah.
Setelah sampai dikamar Rendy membuka pintu dan mencari keberadaan Istrinya.
"Untungan dia tidak kenapa-kenapa" ucap Rendy pelan saat melihat Dini ada diatas tempat tidur.
Rendy menyimpan tas di meja dimana Dini menyimpan tasnya dan mulai mendekati Dini.
"Apa dia habis menangis??" batin Rendy yang melihat bekas air mata di pipi Dini.
"Maafkan aku, telah membuatmu sedih" ucap Rendy sambil meyelimuti tubuh istrinya.
Rendy berjalan menuju kamar madi untuk membersikan Dirinya.
Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 19:00 Rendy belum juga menyelesaikan pekerjaannya. Ready terus fokus dengan lebtobnya.
"Kapan pulangnya??" tanya Dini yang membuat Rendy melihat kearahnya
"Setelah kamu sampai" jawab Rendy sambil melihat kerah Dini.
"Apa dia melihatku menangis" batin Dini.
"Kenapa tidak membangunkanku??, aku kan harus menyiapkan air untukmu??" tanya Dini lagi sambil tersenyum berusaha menyembunyikan rasa sedihnya.
"Dia pandai sekali menyembunyikan kesedihannya" bangun Rendy yang terus melihat Dini.
"Aku bisa melakukannya sendiri, habisnya aku tidak ingin menggangu tidurmu" jawab Rendy
"Itu kan sudah menjadi kewajibanku, lain kali jika aku sedang tidur bangunkan saja" ucap Dini lagi-lagi berusaha tersenyum, Rendy yang mengetahuinya pun merasa bersalah telah membuat istri kecilnya sedih.
Rendy menutup lebtopnya dan melangkah menghampiri Dini dan memeluknya.
"Maaf telah membuatmu sedih" ucap Rendy yang masih memeluk istrinya.
"Tidak perlu minta maaf, aku baik-baik saja ko" ucap Dini.
"Ya udah kamu mandi sana, setelah itu kita makan" ucap Rendy sambil melepaskan pelukannya
"Baiklah" ucap Dini sambil turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi sementara Rendy kembali mengerjakan tugasnya.
Setelah selesai membersikan diri dan Menganti baju, Dini berjalan mendekati Rendy.
"Aku sudah selesai" ucap Dini yang kini sudah berdiri didepan Rendy. Rendy yang mendengarnya pun melihat kearah Dini.
"Cantik" ucap Rendy tanpa sadar.
"Apa??" tanya Dini yang membuat Rendy tersadar
"Ya udah kita turun makan" ajak Rendy tanpa menjawab pertanyaan Dini.
Setelah sampai di meja makan Rendy menarik tangan Dini untuk duduk disampingnya.
Setelah selesai makan Rendy menarik tangan Dini untuk naik ke atas.
"Sayang kamu istrahat ya, aku masih melanjutkan pekerjaanku" ucap Rendy sambil melepaskan tangan Dini. Dini mengganguk pertanda dia setuju.
Dini melangkah menuju tempat tidur dan berbaring sambil memengang hpnya, sementara Rendy kembali mengerjakan pekerjaannya.
Setelah beberapa menit melanjutkan pekerjaannya Rendy kembali menutup lebtobnya dan menuju tempat Tidur.
"Sayang apa kamu sudah tidur??" tanya Rendy sambil memeluk istrinya.
"Belum. Ni mau tidur" ucap Dini sambil meletakan hpnya di meja dekat tempat tidur dan menarik selimut, tapi dengan cepat Rendy menarik selimutnya dan membuangnya ke sembarang arah, Sementara Dini hanya diam tanpa bersuara.
Rendy yang melihatnya pun melanjutkan aksinya. Rendy memasukan tangannya kedalam baju dipakai Dini sambil meremas pelan p*****h istrinya, Dini lagi-lagi hanya diam tidak ada rekansi apapun.
Rendy mulai mencium leher istrinya akan tetapi terhenti. Rendy merasakan ada sesuatu yang jatuh ke lehernya.
"Sayang kamu menangis??" tanya Ready sambil menatap istrinya.
"Kamu kenapa sayang, jangan menangis aku tidak suka jika melihatmu menangis" ucap Rendy sambil berusaha menghapus air mata istrinya.
"Sayang ngomong dong jangan cuma diam" ucap Rendy sambil menarik tubuh Dini agar melihat kearahnya.
"Hish ...his, bolehkah tuan melepaskan saya??" tanya Dini sambil terus menangis.