
Setelah sampai dirumah sakit, Dini segerah diperiksa oleh Dokter, sementara Ayu menunggu diluar dengan raut wajah begitu khwatir
"Non, ganti baju dulu, nanti masuk angin" ucap pak Doni,
"Nanti saja pak" jawab Ayu sambil mondar-mandir di depan ruang rawat Dini. Setelah beberapa menit Dokter pun keluar, Ayu yang melihatnya pun menghampiri Dokter.
"Dok, gimana keadaan teman saya??" tanya Ayu yang masih terlihat khawatir.
"Maaf nak, apa temanmu pernah mengalami suatu kejadian yang membuatnya trauma??
"Pernah Dok, teman saya kenapa Dok?",tanya Ayu yang kini sudah semakin khawatir.
"Teman anda tidak apa-apa, hanya saja hindari kejadian-kejadian yang membuat teman anda mengingat kembali sesuatu yang telah dia alami di waktu dulu yang membuatnya trauma dan kemungkinan teman anda akan lama siuman" jelas Dokter
"Iya Dok saya akan lebih berhati-hati, berapa lama teman saya bisa sadar Dok" tanya Ayu lagi
"Kemungkinan besok baru bisa siuman" tambah Dokter,
"Dok apa bisa saya menjenguknya??",.
"Bisa nak, akan tetapi jangan Bersuara terlalu keras ya itu akan menambah Trauma yang di alami teman anda" jelas Dokter,
"Baik Dok, terima kasih" ucap Ayu sambil masuk ke ruang rawat Dini, dan duduk di samping Dini.
"Din apa yang terjadi?? Kenapa kamu bisa ada di jalan sih??" tanya Ayu sambil memegang tangan Dini dan Mulai meneteskan air mata.
"Kamu cepat sadar, aku tidak akan memaafkanmu jika kamu tidak sadar, Din...Dini sadar dong aku sangat khawatir tau" ucap Ayu yang terus mengagis.
"Non, ganti baju dulu ya, nanti non sakit, kalau sakit siapa yang jagain nona Dini" ucap pak Doni berharap Ayu mau mengganti bajunya yang sudah basa.
"Baik pak, tapi pak tolong jagain Dini ya, saya tidak akan lama" ucap Ayu sambil melangkah pergi. "Baik non" jawab pak Doni yang masih didengar Ayu. Setelah beberapa menit Ayu pun kembali,
"Terima kasih pak sudah menjaga Dini" ucap Ayu., "Sama-sama non" jawab Pak Doni,
"Owch iya pak, bapak boleh pulang dan jangan lupa beritahu ibu dan ayah kalau saya masih tidak pulang malam ini" ucap Ayu,. "Baik non, saya permisi dulu" ucap Pak Doni sambil berjalan keluar dari raung rawat.
tring...tring..., hp Ayu berbunyi, Ayu mendengarnya pun mengambil hpnya dan mengangkatnya.
Roby (hallo Yu)
Ayu (iya, Kenapa?)
Roby (aku coba hubungi Dini, tapi nomornya tidak aktif, saya ingin menanyakan sesuatu)
Ayu (hp Dini rusak, dan sekarang Dini lagi dirumah sakit)
Roby (apa??, dirumah sakit mana??,aku kesana)
Ayu (di rumah sakit x)
Roby (baiklah aku kesana sekarang) ucap Roby sambil mematikan telefon.
*
"Ahh sial kenapa malah menyuruhnya keluar, ini kan sudah larut malam" ucap Rendy sambil berjalan menuruni tangga.
"Bi, Bi Ina lihat Dini ngak??, tanya Rendy,
"Tidak tuan" jawab Bi ina
"Lo kapan hujannya??" tanya Rendy sambil melihat keluar",
"Dari tadi tuan" jawab Bi Ina,.
"Apa dari tadi??, ko saya tidak mengetahuinya" ucap Rendy sambil berjalan menuju mobil, di perjalanan Rendy melihat ke kiri dan kanan berharap bisa menemukan Dini.
"Dimana sih perginya,,, aaah bodoh kenapa malah menyuruhnya pergi sih" ucap Rendy sambil mengacak-acak rambutnya. Rendy mengambil hpnya dan menelfon Bima.
Rendy (Bima kamu cari keberadaan Dini sekarang!!) perintah Rendy
Bima (baik tuan)
Rendy (kalau sudah ketemu segereh hubungi saya)
Bima (baik tuan) Rendy pun mematikan sambungan telefon
Setelah beberapa menit melacak keberadaan Dini akhirnya Bima menemukannya dan langsung menelfon tuan Rendy.
Bima (Hallo tuan)
Rendy (Hmmm, Bim apakah kamu sudah menemukannya??) tanya Rendy sedikit khawatir
Bima (sudah tuan)
Rendy (dimana dia sekarang??)
Bima ( nona muda ada di rumah sakit x)
Rendy (ngapain dia kerumah sakit??)
Bima( nona muda masuk rumah sakit dan sampai saat ini belum sadarkan diri)
Rendy (apa....?? Saya kesana sekarang)
Bima (baik tuan, saya akan menjemput tuan) sambil mematikan telefon
Rendy dan Bima menuju rumah sakit beberapa menit kemudian Rendy dan Bima sampai dan langsung menuju ruang rawat Dini.
Di dalam Ruang rawat terlihat Ayu dan Roby Duduk di samping Dini.
"Ayu apa yang terjadi??kenapa bisa Dini masuk rumah sakit??" tanya Roby,.
"Aku juga ngak tau apa yang terjadi, intinya aku Menjemputnya di jalan X dan setelah sampai disana Dini sudah pingsan" jawab Ayu.
"Terus kenapa sampai sekarang Dininya belum juga sadar?".,
"Kata dokter sih kemungkinan nanti besok baru sadar" jawab Ayu sambil mengusap-ngusap rambut Dini".,
"Dini tidak kenapa-kenapa kan?? Tanya Roby khawatir.
"Tidak apa-apa ko, semoga besok Dini sudah sadar,.
"Amiin, lo Ayu kenapa tangan Dini kenapa sampai biru begini bengkak lagi?? Tanya Roby sambil memegang tangan Dini, Ayu yang mendengarnya pun ikut melihat tangan Dini
"Ah iya, ko bisa begini?? Aku tidak memperhatikannya" ucap Ayu,.
"jangan-jangan Dini disakiti oleh suaminya," batin Ayu.
Tak lama kemudian pintu ruang rawat terbuka dan masuklah seorang lelaki yang tidak lain adalah Rendy.
"Ngapain kamu pegang-pegang tanganya" ucap Rendy sambil menepis tangan Roby dari tangan Dini.
"Apaan sih datang-datang langsung marah-marah, emangnya kamu siapa ha??" tanya Roby marah. Ayu yang melihatnya pun menarik tangan Roby keluar dari ruang rawat.
"Sudahlah Rob, daripada kamu buat keributan di dalam yang membuat keadaan Dini bertambah parah mendinggan kamu tunggu di disini saja" jelas Ayu.
"Apaan ini Yu, kenapa kamu malah membiarkan orang asing itu menjenguk Dini??"
"Mungkin dia keluarganya" jawab Ayu "maaf Rony aku harus menyembunyinkan soal pernihan Dini"., batin Ayu.
"Bisa jadi dia adalah orang yang telah menyakiti Dini" ucap Roby lagi.,
"Sudahlah Rob kita tunggu sebentar saja" kata Ayu
"Baiklah" jawab Roby sambil duduk di kursi yang berada didepan ruang rawat.
Diruang rawat Rendy terus menatap Dini yang kini terbaring tidak sadarkan Diri.
"Bim kenapa dia belum juga sadar??" tanya Rendy yang kini sudah duduk di samping Dini sambil memegang tangan Dini.
"Kata Dokter dia mengalami trauma yang cukup berat dan Kemungkinan nona akan sadar besok" jawab Bima.
"Coba saja tadi saya tidak mengusirnya, pasti dia tidak akan sakit" batin Rendy sambil menatap Dini yang belum sadarkan Diri dan Rendy melihat ketah tangan Dini, betapa terkejutnya dia melihat tangan Dini yang sudah bengkak.
"Kenapa tangan ya bisa bengkak??" tanya Rendy sambil memegang tangan Dini
"Saya kurang tau tuan" jawab Bima,.
"Apa dokter tidak mengkopres tanganya??, sekarang pangilkan dokter untuk mengkompres tangan ya, jika mereka tidak mau saya akan menutup rumah sakit ini" perintah Rendy yang terlihat sangat marah.
"Baik tuan" jawab Bima sambil keluar memanggil Dokter,. tak lama kemudian Dokter datang dengan buru-buru.
"Dok kenapa, apa yang terjadi dengan Dini??" tanya Roby yang kini sudah berdiri dari tempat duduknya begitu juga dengan Ayu.
"Sebentar ya saya periksa dulu" jawab dokter sambil masuk ke ruang rawat Dini.
"Lo Roby, kamu mau kemana?? Tanya Ayu sambil menahan tangan Roby.
"Ya mau masuklah, aku mau melihat keadaan Dini" jawab Roby.
"Tidak perlu Rob, biarkan Dokter memeriksanya" kata Ayu sambil terus Manahan tangan Roby, Roby pun duduk kembali.
"Kenapa tanganya bengkak, apa jangan-jangan karena saya terlalu memegang tangan ya dengan sangat kuat??" ucap Rendy pelan, "aaa dasar bodoh, apa yang sudah ku lakukan" ucap Rendy sambil terus mengengam tangan Dini.
"Maaf tuan saya terlambat" ucap Dokter sambil merunduk,.
"Lihat ini kalian tidak mengopresnya" ucap Rendy marah sambil menunjukan tangan Dini kepada Dokter.,
"Maaf tuan, saya akan mengompresnya Sekarang".
Dokter pun mulai memegang tangan Dini dan mengompresnya.
"Ah kenapa saya tidak suka Dokter itu memegang tanganya" batin Rendy
"Sudah berhenti, pangilkan Dokter perempuan, saya tidak mau kamu menyentuh tangan istri saya" perintah tuan Rendi, Bima yang mendengarnya pun terkejut mendengar perintah taun Rendy.
"Ada apa dengan tuan muda, sampai-sampai tidak mengizinkan Dokter laki-laki itu menyentuh nona muda" batin Bima sambil terus melihat kearah Rendy
"Baik tuan saya akan memangilkan Dokter perempuan" jawab Dokter laki-laki itu dan melangkah keluar dari ruang rawan Dini,,.
2 menit kemudian datanglah Dokter lely yang merupakan teman kuliah Tuan Rendy. Dokter Lely masuk dan melihat Rendy terus mengengam tangan Istrinya Dokter Lely pun tersenyum.
"Ada apa tuan" tanya Dokter Lely sengaja
"Ah buruan kompres tangan istri saya" jawab Rendy
"Hahah santai Ren istri kamu tidak apa-apa ko" jawab Dokter Lely sambil mengompres tangan Dini.
"Mana mungkin saya bisa santai melihat tangan istri saya begitu" jawab Rendy yang masih terlihat khawatir. Sementara Dokter Lely terus tersenyum
"Ngapain kamu senyum-senyum" tanya Rendy sedikit kesal melihat teman lamanya itu
"Ternyata tuan Rendy punya rasa khawatir ya??" ucap Dokter Lely sambil tersenyum.
"Ah ingin skali aku memecatmu" ucap Rendy semakin kesal Karana mendengar perkataan Dokter Lely
"Jangan dong, nanti anakku makan apa" ucap lely yang masih terus mengomores tangan Dini.
"kan papanya ada" jawab Rendy santai
"Iya, iya aku malas berdebat denganmu, kamu tidak pernah mau mengalah" ucap Dokter lely
"Itu tau" jawab Rendy singkat,
"Nah sudah selesai, aku permisih dulu ya?" ucap dokter Lely
"Suruh kedua boca di depan itu pulang" perintah Rendy
"Baik tuan, dijaga baik-baik istrimu jangan diambil orang" bisik dokter Lely sambil melangkah pergi.,
"Awas kamu ya" ucap Rendy, dokter lely yang mendengarnya pun tersenyum.
"Bim kamu juga boleh pulang, besok datang kesini saya mau membawah dia pulang" ucap Rendy
"Baik tuan" jawab Bima sambil melangkah pergi.
*
Ayu dan Roby melihat Dokter keluar langsung menghampiri dokter dan bertanya.
"Dok bagaimana keadaan Dini, apa dia baik-baik saja" tanya Ayu,
"Iya dok apakah pacar saya baik-baik saja??" tanya Roby, Ayu yang mendengarnya pun memukul bahu Roby.
"Kamu ngomong apa sih??" ucap Ayu,
"Aku tidak bercanda Yu ketika Dini sadar aku akan mengajaknya pacaran" tegas Roby,
"Kamu sudah gila ya??" tanya Ayu lagi,
"Ngak, aku masih waras ko bahkan aku ingin melamarnya" jawab Roby lagi yang membuat Ayu terkejut, sementara Dokter Lely tersenyum melihat tingkah kedua remaja didepannya.
"Sudah,,sudah debatnya, teman kalian baik-baik saja, sekarang kalian pulang ya, karena teman kalian perlu istrahat lebih" kata Dokter lely sambil melangkah pergi.
"Aku mau lihat Dini dulu" ucap Roby,
"Ngak perlu, kita pulang saja, kamu ngak dengar apa kata dokter tadi" ucap Ayu,
"Tapi...aku ingin melihatnya" ucap Roby lagi,
"Ngak bisa, kita pulang sekarang"ucap Ayu sambil menarik tangan Roby, mereka pun melangkah pergi, sementara didalam ruang rawat terlihat Rendy duduk disamping Dini dan terus mengengam tangan istrinya itu
"Sebegitu kasarnya saya menarik tanganya, sampai-sampai tanganya bengkak??" batin Rendy sambil mengusap-ngusap pelan tanggan Dini.
"Maaf karena terlalu kasar memperlakukan mu" ucap Rendy merasa bersalah.