
Hari mulai sore Dini dan Ayu terlihat sedang merapikan meja kerjanya masing-masing
"Din kamu pulang naik apa?" tanya Ayu
"Rencananya, mau naik taksi" jawab Dini sambil sibuk merapikan meja kerjanya
"Daripada naik taksi mending bareng aku" ucap Ayu yang kini sudah berdiri di samping Dini
"Apa tidak merepotkanmu??" tanya Dini
"Tidak ko, justru aku senang, kan kita sudah jarang baget pulang bareng" ucap Ayu sambil tersenyum
"Ya sudah, tunggu ya aku rapikan dulu ini" ucap Dini sambil merapikan beberapa berkas yang ada di atas mejanya, belum selesai Dini merapikan mejanya seseorang datang menghampiri mereka.
"Eheemmm" ucap Rendy yang membuat Ayu langsung melihat kearah suara tapi tidak dengan Dini, dia masih saja sibuk merapikan beberapa berkas,
"Din..Dini" pangil Ayu sambil me goyang-goyang tubuh Dini, agar Dini melihat kearahnya dan melihat siapa yang datang.
"Apa sih Yu, sebentar lagi selesai ko" ucap Dini tanpa melihat kearah Ayu.
"Suamimu sudah menunggu lo" bisik Ayu, yang membuat Dini langsung melihat kearah Ayu
"Mana??" tanya Dini sambil melihat siapa yang berada di samping Ayu
"Aduh aku pangil apa ya??, mana mungkin aku memangilnya tuan di depan Ayu" batin Dini,
"Sayang sudah lama ya datangnya??" tanya Dini sambil berusaha tersenyum,
"Apa..?dia memangilku dengan sebutan sayang, baiklah kamu yang memulainya" batin Rendy sambil tersenyum licik
"Belum lama sayang" ucap Rendy
"Aduh sweet, jangan gitu dong di depan ku, kan kasihan akunya yang masih jomloh" ucap Ayu
"Owch iya aku lupa, maaf Yu, makanya buruan nikah" ucap Dini bercanda
"Iya ni, aku juga suka nikah, tapi calonya belum ada" jawab Ayu
"Ada Roby tuh" bisik Dini kepada Ayu
"Apaan sih kamu, mana mungkin dia menyukaiku, dia kan menyukai..." ucapan Ayu terhenti
"Menyukai siapa???" tanya Rendy penasaran, Ayu dan Dini pun terlihat khawatir mendengar pertanyaan Rendy
"Dasar bodo kenapa malah bilang begitu sih, tuh kan dia jadi nanya" ucap Ayu sambil mengantuk kepalanya yang tidak terasa gatal,
"Ah ini tuan, maksud saya mungkin dia sudah mempunyai wanita yang dia sukai" ucap Ayu gugup dan berharap Rendy tidak akan Bertanya lagi
"Berjuang saja dulu, belum juga dicoba sudah menyerah duluan" ucap Rendy
"Iya juga sih," ucap Ayu sambil terus berpikir, sementara Dini diam sejenak mencerna perkataan suaminya itu.
"Apa perlu aku berjuang untuk bisa mendapatkan cintanya??" batin Dini
"Ayu kita duluan ya, selamat berjuang" ucap Rendy sambil menarik tangan Dini dan melangkah pergi,
"Ayu aku duluan ya" ucap Dini yang kini sudah berada sedikit jauh dari Ayu, Ayu yang mendengarnya pun mengaggukan kepalanya.
"Benar juga apa yang di ucapkan tuan tadi, jika aku ingin menikah maka aku harus perjuangkan cintaku" ucap Ayu pelan
Di halaman paskir seperti biasanya Bima sudah siap untuk membukakan pintu mobil untuk nona dan tuan mudanya. Rendy dan Dini pun masuk kedalam mobil.
"Sampai kapan dia memegang tanganku" batin Dini yang melihat Rendy belum juga melepaskan tangannya walaupun mobil sudah berjalan.
"Maaf tuan, tangan saya" ucap Dini pelan
"Saya tidak akan melepaskan tanganmu, nanti kamu di ambil orang" ucap Rendy santai, sementara Bima dan Dini terlihat sangat terkejut dengan ucapan Rendy
"Aduh tuan mulai Bucin ni" batin Bima sambil tersenyum dan sesekali melihat Rendy dan Dini melalui kaca spion.
"Tapi kan kita lagi didalam mobil" ucap Dini
"Tuh ada laki-laki, jangan sampai dia mengambilmu dariku" ucap Rendy sambil menunjuk kearah Bima.
"Ahahah tuan...tuan, mana mungkin Bima mengambilku, dia kan bukan orang jahat" ucap Dini polos
"Saya tidak berani tuan" jawab Bima setelah mendengar ucapan tuan mudanya
"Tuh kan, tuan dengar sendiri, Bima tidak akan mengambil..." Cup satu kecupan mendarat dibibir Dini yang membuat Dini berhenti berbicara.
"Dia menciumku, Apa aku sedang mimpi ya??" batin Dini.
"Mencegah lebih baik" ucap Rendy santai setelah mengecum Bibir mungil istrinya, semtara Dini hanya bisa diam memikirkan apa yang dilakukan Rendy barusan,
Setelah 30 menit diperjalanan mereka pun sampai, seperti biasanya Bima keluar lebih awal membukakan pintu mobil untuk tuan dan nona muda. Dini dan Rendy pun masuk kedalam Rumah sementara Bima kembali masuk kedalam mobil dan berlalu pergi.
"Bi siapkan makan malam dan antara keatas, saya dan Dini akan makan malam diatas" perintah Rendy setelah melihat Bi ina
"Baik tuan" jawab Bi Ina sambil pergi menuju dapur sementara Rendy dan Dini naik keatas
Di dalam kamar,.
Dini menyimpan tasnya dan melangkah menuju kamar mandi untuk menyiapkan air mandi untuk Rendy, setelah selesai Dini berjalan menuju Rendy yang berada di sofa
"Maaf tuan, airnya sudah siap" ucap Dini, Rendy menarik tangan Dini sehingga membuat Dini berada didalam pelukannya.
"Sayang kenapa masih memanggilku dengan sebutan tuan??" tanya Rendy sambil melihat wajah cantik istrinya
"Maaf tuan jadi saya harus memanggil apa?? Tanya Dini polos
"Seperti Saya memangilmu barusan" ucap Rendy santai
"Tapi tuan" Ucap Dini
"Sekarang Cobalah" ucap Rendy sambil terus menatap wajah cantik istrinya
"Sa..ya..ng" pangil Dini terbata-bata karena belum terbiasa,. Entah kapan Rendy memulainya, kini dia telah mencium bibir mungil istrinya dan lama kelamaan ciumannya mulai turun ke leher dan juga bahu.
"Tunggu, tanganya mulai nakal " batin Dini yang merasakan tangan Rendy mulai masuk kedalam baju dan meremas pa******h miliknya.
"Aw..sakit" Teriak Dini, karena Rendy mulai meremas pa******hnya dengan cukup kuat,
Rendy kembali memberikan satu kecupan lembut dibibir istrinya dan menghentikan kegiatannya.
"Itu hukuman buatmu karena masih memanggilku dengan sebutan tuan" bisik Rendy sambil melepaskan pelukannya dan berjalan menuju kamar mandi.