
Perlahan jemari Ariana bergerak, biji matanya tertutup kelopak mata terlihat bergerak kesana kemari mencoba untuk membuka mata.
"Engh..." lirih Ariana yang merasa pusing, "Aku di mana?" Ariana menatap punggung tangannya yang telah di pasang infus.
"Nona, anda sudah sadar?" David menghela napas, mengusap wajah dengan penuh syukur, "Tahukah Nona apa yang di lakukan oleh Tuan muda selama Nona tak sadarkan diri?"
"Apa yang di lakukan nya? Apakah dia membuat masalah dan merepotkan kalian?"
"Tuan membuat kami berkali-kali keluar masuk ruangan dengan memainkan tombol nurse call, sungguh merepotkan saja dia itu."
Ariana terkekeh, "Benarkah? Aku ingin bertemu dengannya... tolong panggilkan suamiku."
"Ya baiklah, akan segera saya panggilkan Tuan muda."
David mengangguk hormat pada Ariana dan segera memutar tubuhnya, melangkah keluar untuk memenuhi keinginan Ariana.
Klek!
Pintu ruangan terbuka, David menatap Reykhel tengah berbaring di kursi tunggu.
"Tidak boleh tidur di kursi tunggu, Tuan."
"Hm? Apa?" seru Reykhel dengan mengangkat kepalanya untuk menatap David yang berada di ujung kakinya, "Memangnya kau pikir siapa pemilik rumah sakit ini, hah? Kau mau ku pecat?"
David menghela napas, Orang bodoh memang seperti ini. "Nona sudah sadar, dan ingin bertemu dengan Tuan muda."
Reykhel segera bangun, "Benarkah?"
David mengangguk pelan, "Iya, tetapi Tuan harus ingat... Tuan tak boleh membuat Nona stress atau pun kelelahan, karena itu sangat tidak baik untuk kondisi janinnya."
"Baiklah aku mengerti, aku masuk dulu... kau lanjutkan saja pekerjaan mu."
Suster yang baru saja menyelesaikan tugasnya, pun, segera pamit undur diri dari ruangan.
"Suamiku?"
"Ariana," Reykhel mengusap wajah sang istri dengan lembut, "Kau membuatku khawatir, lalu bagaimana keadaan baby?" dia mengusap perut Ariana yang masih rata.
Ariana pun tersenyum sembari mengelus tangan Reykhel yang berada di atas perutnya, "Baby dalam keadaan baik."
"Sayang, aku ingin memberikanmu sebuah hadiah..."
"Hadiah?" Reykhel mengangguk, "Apa?" tanya Ariana dengan penasaran.
"Setelah keadaanmu benar-benar pulih, aku berencana untuk membawamu pulang ke Indonesia untuk bertemu dengan kedua orang tuaku."
"Hah?"
Bahkan Ariana terkejut saat tahu ternyata Reykhel masih memiliki orang tua yang utuh, malahan dia mengira jika mertuanya itu telah tiada. Karena selama ini Reykhel, pun, tak pernah mengungkitnya.
"Kenapa kau terkejut? Kau tidak mau?"
"Bukan begitu, tentu saja aku mau...hanya saja aku terkejut karena mengira Mama dan Papa sudah tidak ada, soalnya kau sendiri tak pernah membahasnya."
"Kapan waktu pastinya?" lanjut Ariana kembali bertanya, "Oh ya, satu bulan hukumanku sudah berlalu... kapan aku bisa kembali masuk kuliah? Aku harus segera menyelesaikan kuliah ku."
Mendengarkan keinginan Ariana untuk kuliah, Reykhel nampak kesal, dia tak rela jika Ariana harus kembali membagikan perhatiannya.
Bisa saja untuk kuliah 50%, untuk baby 45%, lalu untuknya sendiri hanya 5% saja. Dia tak mau itu terjadi, pokonya Ariana hanya boleh memperhatikan dirinya seorang, 100% tanpa kurang.