
Pria yang kesakitan itu pun langsung di usir oleh satuan keamanan Brilian Group, ada Gerry juga di sana.
"Kakak ipar, kau tidak apa-apa?" tanya Gerry dengan khawatir.
Jessy menggeleng setelah melepaskan pelukannya dari Jackson, dia mengusap kedua sudut matanya.
"Tidak apa-apa, terima kasih sudah membantuku... Gerry, Ja-" Jessy menundukan pandangannya saat mata dingin itu menatap tajam padanya.
Tanpa berbicara lagi, Jackson pun keluar dari kamar, "Gerry, panggilkan Manager itu. Tanganku sudah lama tidak berolahraga."
"Mmmm... i- iya baiklah, lalu bagaimana dengan kakak ipar?"
Jackson menghentikan langkah kakinya di ambang pintu, menarik dua bola matanya untuk menatap ke kiri dengan di ikuti gerakan lehernya, lalu menghela napas pelan, "Dia masih punya kaki, dan... jangan memanggilnya dengan sebutan kakak ipar!" suara itu terdengar ringan tak peduli.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gerry berusaha untuk menenangkan Jessy, dia mengajaknya ke mobil dan meminta seorang dari Brilian Group untuk mengantarkannya pulang.
"Gerry, sekali lagi terimakasih kau sudah datang untuk menyelamatkan ku... jika kalian tidak datang mungkin saja aku sudah berkahir dengan si pria tua itu."
"Ah iya tidak masalah, haha... lebih kakak ipar sekarang pulang saja, jangan khawatir, seorang penjaga perusahaan akan mengantar kakak ipar pulang. Maaf, aku tidak bisa berlama-lama di sini, aku harus segera mengurus Manager untuk tuan Jackson, atau dia yang akan menendang ku!" perkataan yang di iringi dengan tingkah laku Gerry membuatnya terkekeh geli, dia tertawa.
Mobil yang di naiki Jessy pun segera melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan gedung ini.
"Ini bukan jalan pulang menuju rumah ku, kau mau membawa ku kemana?"
"Kita akan pergi ke rumah tuan muda, Nona."
"Namaku Jessy, tidak perlu memanggilku Nona."
"Maaf Nona, saya tidak berani..."
"Tuan Gerry memanggil anda dengan sebutan kakak ipar, terlebih lagi saat kami juga melihat tuan Jackson yang mencium anda seperti tadi, mana mungkin kami berani bersikap kurang ajar kepada Nona, atau ... "
"Atau apa?"
"Atau, Tuan Jackson akan menggantung siapapun yang sudah bersikap kurang ajar kepada orang yang dianggap penting."
Kejadian tadi saat di jalan hanya sebuah kebetulan, aku juga tidak tahu mengapa dia mendadak mencium ku... aaaaa.... Jessy menepuk wajahnya, pelan, berusaha menahan diri agar tidak terbawa suasana.
Sementara itu di gedung klub, Jackson duduk di kursi ternyaman, dia pemilik gedung ini.
Di bawah kakinya seorang Manager sedang berlutut dengan tubuh yang gemetar, keringat dingin menjalari.
"Siapa kau? Kenapa mempekerjakan seorang wanita yang bahkan kau tak mengenalnya?" tanya Jackson dengan suara dingin, tatapan tajamnya tak lepas dari kepalanya yang tertunduk sejak tadi.
"Tuan, saya -"
"Jawab aku dengan memperlihatkan wajahmu," Jackson meraih vas bunga berukuran sedang.
Kedua tangan Manager yang menopang di atas pahanya itu gemetar, dia merasa tekanan yang begitu besar.
Takut, dia pun mencium kakinya seraya memeluk erat kaki Jackson, "Tolong maafkan saya, Tuan, saya bodoh karena tidak mencaritahu terlebih dahulu siapa wanita itu..."
Jackson diam dan hanya menaikan satu alisnya, masih mendengar penjelasan sang Manager.
"Tuan Jackson tolong jangan pecat saya, saya mengaku salah... mohon pertimbangkan lagi kinerja saya selama di klub ini."
"Menyingkirlah, kau mengotori sepatu ku... sepatu ku ini lebih mahal dari gaji mu!"