SUPER RICH MAN

SUPER RICH MAN
Perasaan Yang Sesungguhnya


Malam menyapa setelah seharian penuh lelah beraktivitas, rembulan malam ini begitu sempurna.


Cahayanya menyeruak masuk melalui pintu balkon kamar yang terbuka.


Ariana pun sudah bersiap dengan rapi, memakai dress pink khusus ibu hamil yang di buatkan desainer kondang.


"Sayang?" Ariana memakai lipcream namun Reykhel segera merebutnya.


"Kenapa kau memakai ini?" lalu dia memperhatikan makeup di wajah Ariana, meskipun tipis tetapi Reykhel masih bisa melihatnya, "Apa-apaan kau ini? Kenapa kau memakai makeup? Sejak kapan kau memakainya?"


"Sayang, maafkan aku... aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba ingin memakai makeup," Ariana menunduk sedih sembari mengusap perutnya.


Dia bisa mendengar helaan napas Reykhel, "Maaf..." ucap Ariana dengan lirih.


Reykhel pun menggeleng pelan, "Ini pertama dan terakhir kalinya aku melihatmu bermake-up, aku menyukaimu bukan karena balutan makeup di wajahmu, sayang..."


Reykhel menjepit dagu Ariana, saling bersitatap dan berakhir dengan ciuman lembut di bibir.


"Kita sudah terlambat setengah jam, ayo..." seru Reykhel sembari menggandeng tangan Ariana, membawanya menuruni anak tangga dengan sangat hati-hati.


Reykhel pun baru sadar jika kakinya sedikit nyeri akibat terkilir saat menapaki anak tangga, tadi pagi.


"Sayang, kenapa?" tanya Ariana yang sejak tadi memperhatikan ekspresi Reykhel, menahan sakit.


"Tidak apa-apa, hanya keram saja... sudahlah jangan mengkhawatirkan hal yang tidak penting."


Mobil di pelataran rumah sudah siap, ada pak sopir yang sudah menunggu di samping, membukakan pintu, "Silakan masuk Nona, Tuan muda."


Setelah keduanya masuk, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah.


"Sayang sebenarnya kita mau kemana?" tanya Ariana dengan rasa penasarannya sejak tadi siang.


"Baik, Tuan..."


Jl.XX, bukankah rumah sakit itu tidak jauh dari rumah? Sebenarnya ada apa ini?


Ariana benar-benar gelisah, dia tidak tahu siapa yang berada di rumah sakit itu, lokasinya juga tak jauh dari rumah, ingin berprasangka jika itu adalah salah satu anggota di rumah Papa, tapi tidak berani.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setibanya di rumah sakit itu, keduanya pun segera turun. Jantung Ariana berdebar kuat tak karuan seolah ia bisa melihat siapa yang ada di balik pintu ruang rawat ini.


Tangannya gemetar saat hendak memutar handle pintu.


"Biar aku saja yang membukanya," seru Reykhel yang langsung membuka pintu.


Sepasang manik cokelat itu terpaku saat melihat sosok Papa yang tengah terbaring lemah, ada beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya.


Ariana menelan dengan kuat, lalu menggigit bibir bawahnya dengan kuat hingga bergetar.


"Papa!" Ariana tak bisa lagi menahan air matanya, dia berlari memeluk tubuh yang lemah itu dan menangis sejadi-jadinya, "Apa yang terjadi kepada Papa?" Ariana sesegukan.


Papa yang tadi memejamkan kedua matanya pun perlahan mengerjap, "Kenapa kau membawanya kemari?"


"Karena aku sudah tak tahan melihat istriku diam-diam menangisi mu di belakangku," sahut Reykhel.


Ariana mencium pipi dan kening Papa, "Apa yang sudah Papa sembunyikan dari Ariana? Mama dan kak Sena sudah tidak ada, dan sekarang Papa mau meninggalkan Ariana sendirian di dunia ini?"


"Kau tidak sendirian, masih ada Bi Laurance dan juga suami mu... maafkan Papa yang sudah memperlakukanmu dengan tidak adil, dan membuatmu menjadi mengalami hal ini."


Ariana menggeleng, dia melepaskan pelukannya dan duduk di tepi ranjang, mengusap punggung tangan sang Papa, "Ariana sangat menyayangi Papa, Ariana mohon Pa jangan tinggalkan kami."