
"Menyingkirlah!" tandas Jackson kepada seorang pria kekar di hadapannya.
"Kau memiliki apa yang kami inginkan, berikan, maka kami akan melepaskan mu."
"Cih! Coba saja menyentuh apa yang kau inginkan."
"Haha, baiklah, maka jangan menangisinya!" imbuh pria kekar itu.
Dia mendekat bersihadap dengan Jackson yang memasang wajah datar super dingin, "Hei apa-apaan tatapan mata mu itu, aaaa... aku takut!" lalu menyeringai dan terkekeh, lalu tertawa besar, "Hahahaha..."
Tangan Jackson bergerak cepat menarik pundak pria itu lalu dengan kuat menghantamkan wajahnya di kaki jenjang yang baru saja ia angkat ke udara.
Bugh!
"Arrrggghh!!" pria itu memekik kesakitan, kalung tengkorak insial B terjatuh, "Brengsek!" pria itu sekuat tenaga menepis tangan Jackson dari dirinya, "Hanya seperti ini saja tidak akan mempan untuk menundukkan ku. Ayo..." kedua tangannya bergerak mengajak Jackson, berusaha untuk memancing amarahnya.
"Cih!"
Bodohnya, Jackson terpancing dan melangkahkan kakinya dari jarak aman antara dirinya dan mobil.
Prang!
"Aaaaaaa!!!" Ariana berteriak kaget saat jendela kaca itu di pecah dari luar, kunci pintu di bagian samping itu rusak.
"Nona!" Gerry terlonjak kaget dan segera membuka kuncian pintu, begitu Gerry keluar, ada seseorang yang memukul kuat kepalanya.
Kepalanya terasa berkunang-kunang dan berat, "Aaaakkkhh!!" pekik Gerry sampai bertekuk lutut.
"Gerry!" seru Ariana, betapa paniknya dia. Ingin segera turun tapi si pemecah kaca itu menodong pistol padanya.
Dia gemetaran, ketakutan, "Menangis lah sepuas mu, karena setelah ini kau akan bertemu dengan kakak perempuan mu yang tak berguna itu!"
"Kalian... Ka- kalian, emmm!!!" Ariana memberontak saat di bekap, lalu tak berdaya karena pingsan.
Kedua orang itu mengambil alih mobil dan segera lari membawa Ariana, mengorbankan satu prajurit demi mendapatkan hasil yang besar, itu hal yang sangat sepadan.
"Nona! Gerry!" Jackson yang sadar jika pria di hadapannya itu hanya sebuah umpan, dia pun berlari ke tempat Gerry, di mana Gerry terkapar pingsan dengan bersimbah darah di kepalanya.
"Gerry! Apa yang kau lakukan, cepat bangun, mereka membawa Nona Ariana! Gerry!" berkali-kali Jackson mengguncang tubuhnya namun tak mendapatkan jawaban.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepasang kaki tengah berjalan cepat di lorong rumah sakit, tepatnya di depan pintu ruang perawatan, Jackson yang masih memakai pakaian kotornya nampak tak tenang bak setrikaan panas.
"Jackson!"
"Tuan muda."
"Di mana Ariana, di mana?!" teriak Reykhel dengan wajahnya yang memanas menahan emosi.
"Mereka berhasil membawa Nona, dan saya mendapatkan kalung ini, Taun -"
Plak!
"Benda itu pun tak berharga jika di bandingkan dengan Ariana! Cepat temukan dia dalam waktu tiga jam!"
Lalu Reykhel melangkah masuk ke dalam ruang perawatan, melihat Gerry yang tak sadarkan diri.
"Kau yang datang padaku ingin menjadi pengawal Ariana, lalu apa yang ku dapatkan? Tunggu saat kau sadar nanti, akan ku pastikan kau menerima hukumanmu!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Engh..."
Ariana mulai sadar, dia mengerjap berulang kali untuk meriah kesadarannya secara utuh.
Dia mencoba duduk sembari memegangi kepalanya yang masih terasa berat, "Kamar? Kenapa aku bisa berada di dalam kamar?" tanya Ariana dengan bingung, mengedarkan pandangannya kesana kemari mencoba mencari sesuatu.
"Sudah sadar, sayangku?"
Ariana membelalak dan dengan cepat mencari sumber suara Andreas.
"Kau?" Ariana ingat wajah itu, wajah yang menjadi tambatan hati sang kakak-Sena.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...