
Ariana yang sejak tadi merasa tak tenang pun mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan cara duduk, berdiri, jalan mondar-mandir antara sofa dan ranjang. Hanya itu saja dan tetap tak bisa membuatnya tenang.
Ariana mengambil foto Mama agar dapat ia peluk, mencium sosok yang ada di dalam fotonya.
"Mama, mengapa hatiku begitu gelisah? Ada apakah gerangan..." tiba-tiba Ariana menangis dengan sendirinya, dia merasa sangat sedih.
Tok... tok... tok...
Ariana pun segera mengusap air matanya, sesaat mengernyit saat merasakan gerakan baby yang begitu kuat. Dengan lembut dia mengusapnya, "Sayang, Papa mu sedang bekerja di kantor, sabar ya..."
Seolah tak mau tahu, baby kembali menendang perutnya dari dalam, "Ummmmmhhh!!" keringat dingin mulai terlihat di area pelipisnya.
Pak Jang yang sejak tadi mengetuk pintu namun tak di acuhkan oleh Ariana pun, menjadi khawatir. Sekali lagi ia mengetuk pintunya.
"Nona Ariana... Dr.David sudah tiba, Nona..."
"I- iya pak Jang tunggu sebentar," seru Ariana dengan suara sedikit di naikan volumenya, dia berusaha untuk beranjak bangun dari ranjang. Tapi pinggang dan perut bagian bawahnya terasa sakit dan keram.
Klek!
"Pak Jang?"
"Nona!" seru pak Jang dengan khawatir saat melihat Ariana dengan wajah pucat nya, "Nona kenapa?" pak Jang yang panik itu pun segera memanggil Dr.David ruang keluarga meninggalkan Ariana sendirian di ambang pintu kamar.
"Dokter! Dokter! Dr.David!" teriak pak Jang dengan napasnya yang tak beraturan, membuat David terkejut.
Dia yang tadinya sedang duduk santai bermain hp bahkan sampai melepas hpnya ke lantai, "Pak Jang ada apa? Apakah terjadi sesuatu kepada Nona?"
"Dokter, Nona terlihat pucat dengan keringat dinginnya."
"Apa?" David pun langsung mengambil tas medis nya dan naik ke lantai dua, dia lupa dengan hp nya.
Saat pak Jang juga mau mengikuti langkah kakinya menapaki anak tangga, hp milik David berdering. Telefon masuk dari Tuan muda.
"Halo Tuan! Tuan! Nona Ariana -"
Reykhel yang kembali panik pun segera mematikan telefonnya dan bergegas pulang kerumah.
Sementara ini Tuan Adijaya sudah dalam perawatan di rumah sakit terdekat dengan kediaman Adijaya.
Reykhel memasukan hp nya ke dalam saku jas, "Gerry, kau tetap di sini untuk mengawasi keadaannya, sesuatu sedang terjadi kepada Ariana. Jackson, ayo!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil melaju dengan kecepatan maksimal membuat Reykhel tak sabaran, "Jackson tambah lagi kecepatan mobilnya, Ariana... bertahanlah sayang, apa yang terjadi padamu!" tak henti-hentinya Reykhel menghela napas lalu mengusap wajahnya dengan gusar.
"Jackson, ayo lebih cepat!" pekik Reykhel. yang tak bisa lagi menahan diri untuk bersabar.
"Tuan muda, ini sudah melebihi batas kecepatan normal."
Reykhel mengeluarkan hp untuk menelefon Ariana, namun panggilannya tak terjawab.
"Ariana... ayo angkat telefonnya sayang, istriku..."
Jackson menatap kegusaran Reykhel dari kaca spion yang tergantung di atas kemudi, dia diam tak berani menyela, karena dia juga tak tahu bagaimana rasanya khawatir terhadap istri yang saat ini sedang mengandung darah dagingnya.
Sebenarnya Jackson masih bisa menambah kecepatan mobilnya, hanya saja dia tak mau mengambil resiko jika hal buruk terjadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setibanya mereka di garasi rumah, Reykhel bergegas turun meninggalkan Jackson yang baru saja melepaskan sabuk pengamannya.
"Ariana!" suara teriakan Reykhel mungkin terdengar hingga ke dalam rumah.
Buru-buru dia menapaki anak tangga bahkan sampai kaki kirinya terkilir, "Akh! Sialan! Siapa yang membuat desain tangga ini, awas saja kalau aku menemukannya. Bagaimana jika Ariana yang terpeleset!" tak ada habisnya dia menggerutu melampiaskan kekesalannya.
Di depan mata pintu kamarnya terbuka. Pun dokter David masih memeriksa keadaan Ariana.
"Ariana, istriku... apa yang terjadi padamu, sayang."
Reykhel melepas jas lalu melemparkannya ke sembarang arah, melonggarkan dasi yang serasa telah mencekiknya sejak tadi.
Dia naik dan duduk di samping Ariana, berulang kali mencium keningnya, lalu mengusap kepalanya, "Sayang, ada apa denganmu? Saat aku menelefon dokter David tetapi malah pak Jang yang menjawab teleponku, dia berbicara penuh kepanikan."
Ariana menggeleng, "Aku tidak apa-apa sayang, percayalah... hanya keram saja. Ummmmmhhh..."
"Apanya yang hanya keram saja? Menyingkirlah dari sana!" pekik Reykhel dengan sangar saat David mau menyentuh pergelangan tangan Ariana, dia emosi.
"Ayo kita ke rumah sakit, aku takut baby akan lahir sebelum waktunya," lanjut Reykhel masih dengan panik.