
Akhirnya Ariana pun tak punya pilihan lain selain menuruti apa yang di inginkan suaminya, "Mmm... iya baiklah sayang," lalu Ariana menatap Jessy, "Jessy, maaf aku tak bisa menemanimu... kapan-kapan kita bertemu lagi."
"Ah iya baiklah, tidak masalah hehe..."
Sebelum langkah kaki Reykhel mencapai pintu, dia melempar tatapan tajamnya pada Jessy, sedang memberitahukannya jika hanya dirinya seorang yang berhak atas Ariana, dia tak boleh membagi waktunya untuk orang lain, ðŸ¤.
Jessy malah membalasnya dengan mendelik sebal, "Apa!" pekiknya tanpa suara.
"Cih!" tandas Reykhel mendecih di belakang Ariana, dan membuat gadis itu salah paham lagi.
"Apa? Kau mendecih di belakangku? Kau kenapa sih? Apakah ada yang salah denganmu?" seru Ariana sembari mengernyitkan kening, dia mengukur suhu tubuh Reykhel dengan cara menempelkan punggung tangan di keningnya.
"Jangan salah paham, ayo cepat pulang. Daging dombamu bisa ber semut nanti!"
Reykhel menggandeng tangan Ariana sepanjang perjalanan dari kantor ke mobil.
Sementara itu Jessy yang merasa sudah baikan pun dia mencoba untuk melepaskan infus dari tangannya, "Akh!"
"Jangan mencari masalah!" tandas Jackson dengan suara lantangnya, dia tengah berdiri bersandar tembok sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Kalau begitu cepat lepaskan, di mana dokter yang mengobati ku?"
"Dasar wanita rubah tak tahu berterima kasih!"
"Apa? Dasar bujang lapuk! Kau pria berwajah tua yang menyebalkan, eh, mau apa kau? Menjauh dariku, Akh!"
Jackson bertangan dingin, bisa dengan mudahnya ringan tangan, dia menjambak rambut Jessy, membuat gadis itu mendongak.
"Sepertinya kau tak pernah di didik, ya? Perlu aku mengajarimu sopan santun dan tata Krama?"
"Jangan!" teriak Jessy saat Jackson membaringkannya dengan paksa dan ingin menindihnya, gadis itu menangis karena merasa telah di perlakukan tak senonoh.
"Cih! Kau pikir aku akan tertarik dengan wanita rubah seperti mu?" Jackson menyingkir dengan merapikan jasnya, "Menjijikan! Wanita yang tak bisa menjaga sopan santun dan tata Krama nya... hanya pantas dengan pria bajingan!"
Jessy mencoba untuk mendudukkan tubuhnya, dia mengusap air matanya.
"Aku tidak tahu apa motif mu untuk menyerang kami, tapi berhati-hatilah terhadap pria yang sedang berdiri di depan mu!"
Dia juga tak sengaja terlibat masalah dengannya, hanya kebetulan saja melihat mobil mewah dan ingin mencurinya.
Setelah hampir ketahuan, Jessy hanya ingin menghapus barang buktinya saja agar tidak tertangkap.
"Setelah ini, pergilah sejauh mungkin selagi aku melepaskan mu!" Jackson dengan mudahnya mengeluarkan 1000€ untuknya, "Itu cukup untuk biaya hidupmu selama sehari!" dan dia pun segera pergi meninggalkan Jessy.
"Emh!" Jessy mengernyit sakit sakit memaksa mencabut infus itu dari punggung tangannya, "Aaaaa! Sakit sekali," dia menutupi punggung tangannya yang berdarah menggunakan tisu, lalu pergi meninggalkan ruangan.
Dia menggenggam 1000€ untuk di kembalikan kepada pemiliknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah bertanya-tanya kepada dua asisten sekretaris wanita itu, saat ini Jackson sedang ada rapat bersama tamu penting.
Mati kau! Lihat saja kekacauan apa yang akan ku perbuat untuk membalas mu.
"Nona, anda mau kemana?" tanya Jessica.
"Anda tidak boleh masuk, Nona!" seru Rebecca yang memperingatinya, namun tak di gubris.
Kedua asisten itu mengejarnya namun Jessy dengan cepat menerobos masuk ke dalam ruangan itu.
"Aku hamil!"
Jackson sarkas mendengar kegilaannya, semua mata bergantian memandang dua manusia itu.
"Aku sedang mengandung darah daging mu, dan kau dengan tega memberiku uang 1000€ untuk menggugurkan buah cinta kita? Kau brengsek!" Jessy mendekat dan kembali menampar wajah Jackson untuk yang kedua kalinya, lalu melemparkan uang itu ke udara, dan jatuh tepat di bawah kakinya.
Haha... rasakan itu, aku mengembalikannya cash beserta bunganya! Gumam Jessy, dia sangat bahagia.
Jessy mengusap air mata palsu dan segera lari keluar, meninggalkan Jackson yang bisa saja akan melenyapkannya setelah ini!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...