SUPER RICH MAN

SUPER RICH MAN
Takdir?


Ariana yang baru saja bangun tidur, dia merasakan kedua matanya begitu berat.


"Sayang?" dia meraba-raba wajah Reykhel.


"Iya sayang, ada apa?"


"Lapar, aku ingin makan daging domba..."


"Tidak ada domba di sini, sayang... daging sapi saja, ya?"


Ariana menggeleng, padahal kan usia kandungannya baru memasuki satu bulan sejak perhitungan HPHT.


Dengan mengatasnamakan baby dan ngidam, Reykhel akan berpikir lebih dari dua kali untuk menolak apapun keinginan Ariana.


Gadis itu cemberut dan langsung membelakangi suaminya, "Ya sudah, aku tidak mau makan apapun."


"Baiklah, aku akan meminta Jackson untuk membelikannya."


"Kenapa kau sangat suka mengusahakannya sih? Sekalipun kau adalah bosnya, kalau bisa pergi sendiri kenapa harus memintanya?"


"Jadi kau ingin aku yang pergi membelinya?"


"Kita berdua."


Reykhel duduk sembari menghela napas, "Minumlah dulu susumu, aku sudah membuatkannya untukmu."


"Siapa yang minta susu? Aku kan minta daging domba."


"Ariana, tadi saat menapaki anak tangga kau yang memintaku untuk membuatkan es susu."


Ariana ikut duduk juga, memangku bantal, "Itu kan tadi, sekarang aku hanya ingin makan daging domba."


Masalah mereka tak selesai di daging domba dan susu saja, biarkan saja mereka berdebat dan akan berakhir dengan sesuatu yang nikmat juga nantinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jessy dan Marie, baru saja selesai makan siang, "Mar, keluarkan laptop mu..."


"Untuk apa?" tanya Marie sembari meneguk minuman dinginnya.


"Aku harus segera menghapus rekaman cctv itu."


"Kau yakin? Bagaimana jika mereka menyadari ada peretas?"


"Aku tidak mau bertanggung jawab, tapi aku juga tidak bisa membiarkan mereka menemukanmu. Jessy, berhati-hatilah. Di laptop ini aku menggunakan IP yang terhubung langsung dengan ponsel X milikmu yang biasa kau gunakan untuk bekerja."


"Tenang saja."


Mulailah Jessy melancarkan aksinya, dengan mudah dia meretas jaringan sebuah perusahaan, satu klik membuat videonya di parkiran itu terhapus.


Tring!


Code Red di hp Jackson mendeteksi adanya serangan berbahaya, sontak saja dia terkejut saat mendapatkan laporan tersebut.


Kecanggihan tekhnologi membuat Jackson segera menelusuri siapa pelakunya, tak jauh dari meja tempat ia duduk.


"Wah, wah, ternyata kau adalah rubah kecil yang berusaha mencuri mobilku?"


"Hah?" Jessy, "Eh?" Jessy beranjak dari duduknya saat melihat Jackson yang berjalan ke arahnya, "Siapa kau? Menjauh."


"Aku? Hmph!" Jackson menyeringai, "Aku adalah kematian mu -"


"Tuan sepertinya telah terjadi kesalahpahaman di antara kalian berdua," seru Marie menyela obrolan panas mereka, dia berdiri mendekati Jessy sambil memegang tangannya, "Benar, kan? Aku yakin sebelumnya kalian tak pernah bertemu."


"Ya itu benar -"


"Oh benarkah?" Jackson duduk di atas meja dengan kursi yang ia jadikan sebagai tempat tumpuan satu kakinya.


Dia mengambil alih laptop yang tergeletak begitu saja di dekatnya. Menatap bergantian ada obyek yang ada di depan matanya.


Dia melemparkan tatapan tajam pada Jessy, dan, krek! Laptopnya patah.


"Hei! Apa yang kau lakukan dengan laptop kami, kenapa kau mematahkannya?"


"Itu adalah sebagian kecil dari konsekuensi mu karena telah mengganggu Brilian Group. Salahkan saja takdirmu."


"Apa? Takdir?" Jessy yang geram pun dia melangkah maju lalu dengan cepat dia menampar wajah Jackson.


Plak!


"Itu adalah takdir mu, mendapatkan tamparan dari tangan indah ku."


Pipi kanan Jackson berkedut perih, belum pernah ada satu wanita pun yang berani memperlakukannya seperti ini.


Tentu saja dia tak melepaskannya.