
Setelah mereka babak belur lalu sekarang apa lagi? Jessy sudah berada di dalam mobil bersama Jackson dengan Gerry yang menyupirinya.
Tangan Jessy yang sudah terborgol itu pun, membuatnya tak bisa kabur.
Borgol apa itu? Mungkin saja itu adalah borgol cinta, ðŸ¤
"Kakak ipar?"
"Berhenti memanggilku dengan sebutan konyol itu!"
"Kenapa? Kau sangat cantik kakak ipar, sungguh tak ku sangka Tuan Jackson bisa luluh padamu. Apakah kakak ipar tahu? Tak pernah ada yang pernah menghirup udara bebas setelah menyentuhnya."
Apakah itu artinya aku juga akan segera mati? CK! Lalu bagaimana caranya aku bisa kabur?
Sesekali Jessy melirik Jackson yang hanya membuang pandangannya menikmati pemandangan melalui jendela samping.
Dingin sekali dia, beruntung dia tak langsung melenyapkan ku, tapi tanganku masih berdenyut sakit... "Ugh!"
"Gerry!"
"Iya, Tuan?"
"Ke rumah sakit terdekat."
"Mmmm... iya baiklah," apakah dia ingin memeriksa kesehatan tubuhnya? Tapi kan setiap awal bulan dia selalu ke rumah sakit untuk memeriksakan dirinya.
Setibanya di area parkir rumah sakit, Gerry turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu, Jackson turun dari mobil yang kemudian di susul oleh Jessy.
Dia menyembunyikan kedua tangannya yang sedang terborgol, dia berjalan mengikuti langkah kaki kedua pria itu.
Terus berjalan tanpa mendaftar dan langsung menuju ke ruang rontigen, "Tuan kenapa kita ke sini?"
Jackson hanya diam, dia memutar handle pintu tepat saat dokter di dalam sedang pacaran dengan asistennya.
Gerry yang melihatnya pun langsung heboh sendiri, "Kakak ipar, kalian jangan sampai kalah."
Tentu saja suara gaduh itu mengejutkan petugas medis yang sedang berciuman, ini kan jam istirahat, bisa-bisanya mereka nyelonong masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Jackson menarik kursi untuk duduk, dia mengambil penggaris lalu mematahkannya.
Semuanya diam, terlebih lagi dua orang yang sedang berdiri di hadapannya, "Sudah bosan bekerja?" mereka menggeleng, "Jawab aku dengan kata, bukan dengan gerakan kepala!"
"Maafkan kami, Tuan, kami bersalah," ucap dokter pria yang memakai kaca mata minus itu.
"Meskipun di jam istirahat, tetapi memang tak sepantasnya kami melakukan hal yang tak senonoh itu," imbuh asisten sang dokter ikut menimpali, kedua tangannya saling meremas satu sama lainnya.
"Periksa dia! Tangannya patah!"
Apa? Jessy bahkan sampai mendelik kan mata lalu menatap Jackson dan tangannya yang berdenyut secara bergantian.
"Tunggu apa lagi? Ingin aku yang melakukannya?" tandas Jackson masih dengan tatapan dinginnya.
"Ti- tidak Tuan, maaf, kami akan segera memeriksa keadaannya... mari Nona," dokter meminta Jessy untuk ikut dengannya.
Selama pemeriksaan Jessy hanya diam tak berkutik, dia masih memandangi Jackson yang sedang duduk tanpa memandangnya.
Sekali Jackson memandang, maka Jessy pun langsung membuang pandangannya ke sembarang arah.
Cih! Kenapa aku malah jadi salting begini, ya? Ditambah lagi saat Jessy yang tiba-tiba saja teringat akan ciuman panas mereka tadi.
Wajahnya mendadak merona merah samar, suhu tubuhnya terasa panas, aaaaa mendadak dia jadi semalu itu, astaga!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiga puluh menit usai pemeriksaan, dokter membawakan hasil ronsen tangan Jessy, "Tuan, dari hasil pemeriksaan tangan Nona baik-baik saja, dan tidak menunjukan adanya tulang yang retak atau pun patah.
"Berikan obat padanya!"
"Wah, Tuan sangat perhatian kepada kakak ipar, apakah itu artinya Tuan juga telah jatuh cinta? Sama seperti Tuan muda?"
Seketika lirikan tajam Jackson terasa seperti hunusan samurai tajam yang mengarah tepat di jantungnya, Jleb! 😂