
Reykhel bahkan tak melepaskan ciumannya, dia membuat Ariana memundurkan langkah kakinya hingga keduanya terjerembab di atas ranjang.
"Tuan?" wajah Ariana memerah samar, Reykhel kembali menciumi ceruk lehernya, bahkan sampai menggigitnya, "Sssshhhh...." desis Ariana yang membuat Reykhel semakin ingin membuat Ariana merasakan keperkasaannya.
Lalu Reykhel pun kembali menyerang bibir tipis Ariana, sembari mendelusupkan tangannya di perut sang istri.
Keduanya saling menikmati ciuman berkala itu, hingga akhirnya Ariana merasa cukup untuk pemanasan nya, gairahnya ikut terbangun saat tangan Reykhel mulai meremas-remas tempat ataupun bagian tersensitif nya.
Jemari mereka mulai meremas, dengan erangan Ariana yang mulai mengudara, tubuhnya menerima setiap sentuhan yang di berikan oleh Reykhel, gadis itu bisa membuatnya begitu bergairah. Dan, ini adalah percintaan kedua mereka.
Keringat peluh mulai membasahi tubuh keduanya, di mulai dari rasa sakit yang kemudian perlahan berubah menjadi rasa nikmat yang mengguncang nya. Serasa darahnya menyembur kuat dari jantung dan lari menuju otaknya.
"Emh...." erangan Ariana membuat Reykhel tak mau berhenti dengan cepat, dia masih ingin tapi apa daya saat benda keramatnya mengeluarkan sesuatu yang kental dan hangat, menyeruak masuk ke dalam rahim Ariana.
Akhirnya, pergumulan panas mereka pun berkahir juga. Reykhel segera menarik diri dari kenikmatan syurga duniawi nya, dan membaringkan tubuhnya tepat di samping Ariana.
Dia membawa Ariana ke dalam dekapannya, "Kemarilah," sesekali Reykhel pun mengecup keningnya, "Kau suka? Bagaimana rasanya?" secara terang-terangan Reykhel menanyainya hal yang seperti itu.
Tentu saja Ariana menutup wajahnya, dia malu, jujur saja bahkan dia ingin mengatakan jika ini adalah perasaan yang menyenangkan dan penuh dengan kenikmatan.
Sesaat bisa membuatnya lupa dengan kesedihan yang ia alami.
"Kenapa diam? Aku bertanya padamu." seru Reykhel sembari meremas benda kenyal milik Ariana.
Tetapi gadis itu masih enggan untuk mengatakannya, dia begitu malu, bahkan wajahnya saja sudah merona merah samar.
"Jika kau tak menjawabnya, maka aku akan dengan senang hati memaksamu untuk melakukannya lagi!" seru Reykhel dengan kesal.
"Nikmat."
"Kau pasti lelah setelah melayaniku, tidurlah..."
"Emh, i- iya," Ariana memberanikan dirinya untuk memeluk Reykhel, awalnya dia ragu namun seketika Reykhel menarik tangannya dan meletakkannya di atas tubuh kekarnya yang putih itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mentari hampir mencapai puncaknya, rasa panasnya seolah telah membakar. Reykhel terbangun dari tidurnya dan menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 12.00 siang waktu setempat.
Dia mengusap rambutnya, dan sesekali juga menatap wajah manis Ariana yang masih terlelap di dalam dekapannya.
Segera Reykhel beranjak bangun dari tidurnya saat mendengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya, di depan pintu pak Jang memanggil-manggilnya.
"Tuan muda, makan siang sudah di siapkan Tuan..."
Klek!
Pintu kamar terbuka setengah, Reykhel memunculkan setengah tubuhnya dari balik pintu itu.
"Bawakan saja kemari, tapi nanti, satu jam lagi... Ariana masih tidur."
Apa? Apakah itu artinya Tuan muda dan nona Ariana sudah tidur bersama? "Mmmmm... iya baiklah Tuan, saya mengerti... saya akan kembali lagi nanti jam 13.00."
"Ya, pergilah."
Pintu kamarnya pun tertutup kembali, Reykhel segera membersihkan tubuhnya di dalam bath room, agar bisa kembali segar seperti sedia kala.