
Mobil putih itu pun melaju dengan kecepatan sedang, sesaat setelah mobil biru di depan mereka melaju meninggalkan rumah.
Sepanjang perjalanan Ariana hanya diam, dia benar-benar malas untuk berbicara.
"Nona?" panggil Gerry.
"Iya?"
"Berapa usia Nona saat ini?"
"Dua puluh Tahun, kenapa?"
"Oh, saya kira masih tujuh belas tahun!"
"Apa? Pemerintah kota tak akan melegalkan pernikahan kami jika usiaku masih tujuh belas tahun!" ketus Ariana yang kesal.
"Hm," Gerry mengangguk, "Iya saya juga tahu hal itu, Nona."
"Lalu kenapa masih bertanya?"
"Karena wajah Nona terlihat begitu muda, apakah Nona operasi plastik?"
Ariana mengernyitkan dahi dengan kesal, "Ya, aku operasi plastik untuk mengikat para pria!" kesal sekali rasanya ah! Ariana melipat kedua tangannya di depan dada lalu membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Tetapi saya tidak tertarik dengan anda, Nona. Sepertinya operasi plastiknya kurang manjur!"
"Gerry! Sekali lagi kau membuka suara maka aku akan menjambak rambut mu!"
"Iya Nona, maaf," lalu Gerry pun diam, tetapi satu menit kemudian dia kembali bertanya, "Nona sudah punya pacar?"
Geram, geram, mendidih darah di ubun-ubun, "Gerry!" pekik Ariana yang benar-benar menjambak nya.
"Aaaaa!!! Sakit, sakit, sakit! Nona, anda sudah melakukan KDRT -"
Ariana pun semakin menguatkan jambakan rambutnya, "KDRT? Ya, itu benar, aku akan menyiksamu setiap hari!"
Pak Sopir pun terkekeh melihat tingkah mereka yang sudah seperti kucing dan tikus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Akhirnya mobil pun memasuki halaman parkir kampus, Ariana yang sudah melepaskan jambakan nya, lihatlah sudah semerah apa wajah Gerry.
"Saya akan mengadukan Nona kepada Tuan, karena telah melakukan KDRT!" Gerry mengusap-ngusap kepalanya.
"Up to you!" tandas Ariana yang segera turun bahkan sebelum Gerry turun untuk membukakan pintu mobilnya.
"Nona, tunggu!"
Ariana tak mau menoleh, dia terus melangkah bahkan semakin cepat, dia berlari untuk menghindari Gerry yang sudah seperti bayangannya saja. Selalu mengikutinya kemanapun.
Kelas pun hampir di mulai, Ariana mencoba untuk mengatur napasnya dengan dada yang naik turun.
"Ah, sial sekali sih pagi ini."
Tok tok tok...
Ariana mengetuk pintu kelas dan membuat semua menoleh padanya, "Permisi Miss, maaf saya terlambat."
"Oh Ariana, masuk saja... pelajaran juga belum di mulai."
Ariana pun masuk ke dalam kelas dan bertemu dengan orang-orang yang menjadi mantan sahabatnya, terutama Maura dan Natali.
Mereka sudah pindah tempat duduk, kini Ariana hanya duduk seorang diri di antara beberapa pria yang ada di dekatnya.
Sementara Gerry, dengan bekingan nya dia bisa keluar masuk di ruangan cctv.
Dia terus memperhatikan rekaman video di kelas Ariana.
Pelajaran pun di mulai, saat Miss menjelaskan materi tiba-tiba saja kursi yang di duduki Ariana ambruk.
"Aw!"
Sontak saja semua terbahak melihatnya, membuat suasana kelas begitu riuh ramai.
Sepertinya ada yang menendang kaki kursi itu, dan membuatnya goyah.
Ariana harus bisa menahan malu.
"Hei, apa yang kalian tertawakan?" tanya Miss dengan suara lantang, "Cepat buka buku kalian, Ariana ayo cepat duduk."
"Baik Miss," Ariana pun kembali duduk di kursi setelah memastikan tempatnya aman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jam istirahat pun tiba, semua murid bergegas keluar. Saat seorang pria berambut cepak dengan tindikan di telinga baru saja mau melangkahkan kakinya keluar, mendadak dia melangkahkan kakinya mundur, kembali masuk ke dalam kelas.
Ariana yang kebetulan masih di dalam kelas pun terheran-heran, "Ada apa dengannya?"
Lalu pria itu pun terduduk begitu saja, sampai gemetaran, dia seperti tertekan hingga ke alam bawah sadarnya.
"Gerry?" seru Ariana, "Apa yang kau lakukan, hentikan!" pinta Ariana yang segera mendekat dengan menenteng tasnya.
"Kakinya harus di potong, karena sudah berani mencelakai Nona. Aku melihat semuanya di ruangan cctv."
Apa? Sampai masuk ke ruangan cctv? Seberapa berkuasanya sih tuan muda itu!
"Gerry hentikan, jika kau memotong kakinya maka dia tak akan memiliki masa depan lagi."
"Biarkan saja, itu lebih baik untuknya dari pada menjadi biang masalah!"
"Astaga," Ariana menggeleng dan segera membantu pria itu berdiri, "Kau tidak apa-apa? Ayo cepat berdiri dan pergilah."
"Nona, kenapa Nona menyentuhnya?" Gerry pun panik malah membuat Ariana lebih panik saat melihatnya.
"Kau ini kenapa?"
"Tidak, tidak, Nona tak boleh menyentuh kuman! Ayo ikut aku!" tandas Gerry menarik tangan Ariana keluar kampus.
Terus membawanya hingga sampai di sebuah wastafel umum, dia memutar kerannya, "Cepat cuci tangan Nona."
"Gerry, kau ini kenapa -"
Ariana bahkan sampai kaget saat Gerry meraih kedua tangannya lalu menuangkan sabun cair di telapak tangannya.
Membantu Ariana mencuci tangan.