
"Untuk?" tanya Jackson spontan.
"Bukan untuk siapa-siapa, cepat bungkus kan lilin yang warna hijau ini!" imbuh Reykhel yang langsung pergi meninggalkan sekretarisnya, sementara Reykhel pun segera keluar dan menunggunya di dalam mobil.
Dia masuk ke dalam mobil dan duduk dengan gelisah, "Semoga saja dia tidak curiga, dasar mulut bodoh, bagaimana bisa aku keceplosan seperti ini?" geram Reykhel sembari menusuk-nusuk bibirnya sendiri.
Selesai membayar lilin berwarna hijau itu pun, Jackson segera menyusul tuan muda Reykhel yang sudah menunggunya seorang diri di dalam mobil. Entah rutukan apa yang akan ia berikan untuk dirinya sendiri, yang pasti saat ini Jackson tersenyum tipis saat melihat tingkah sang tuan Muda.
Jackson masuk dan duduk di belakang kemudi, dia meletakan goodie bag cokelat kecil itu di jok samping kemudi.
"Kita akan segera berangkat ke kantor, Tuan muda." ucap Jackson sembari menyalakan mesin mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
"Hm, pergi saja tidak usah banyak bicara."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ariana yang baru saja tiba di area parkir kampus, sebelum turun dia meminta kepada Gerry agar tak bersikap seperti yang kemarin.
Karena menurutnya sikap seperti itu sudah termasuk kasar.
"Gerry, selagi kau bersama dengan ku ingat ya, jangan bersikap kasar seperti yang kemarin. Atau, aku akan meminta Tuan muda untuk menggantikan mu." tandas Ariana dengan rasa percaya dirinya.
"Hahaha memangnya Nona berani mengatakan hal itu?"
Tidak! "Asal kau tau ya, semalam aku dan Tuan muda sudah tidur bersama." tebalkan saja muka mu, Ariana. Karena kebenarannya, kan, kalian memang tidur di satu ranjang yang sama.
"Hah?" Gerry rasanya tak percaya, dia menoleh untuk menatap Ariana, kedua alisnya menekuk saling bersautan.
"Kenapa, tidak percaya? Baiklah, aku akan menelefonnya sekarang -"
"Jangan!" ketus Gerry sembari menyambar hp Ariana yang baru saja di keluarkan dari Tote bag nya, "Aku percaya kok, aku percaya kepada Nona, sungguh." tutur Gerry dengan begitu meyakinkannya.
"Ya sudah aku masuk dulu, kau tunggu saja di tempat mana pun yang kau sukai, tapi ingat jangan sampai menimbulkan masalah." seru Ariana setelah mendapatkan kembali hp nya seraya membuka pintu mobil dan keluar dari sana.
"Saya akan mengantarkan Nona sampai di depan pintu, untuk yang ini Nona tidak boleh menolaknya."
"Ya, terserah kau saja."
Bahkan jantungnya saja sudah berdegup kencang saat mengatakan kebohongan besar itu, tidur bersama? Hahaha, Tuan muda pasti akan meludahinya.
Sebelum masuk ke dalam kelas, Ariana, dan Gerry bertemu Sebastian di depan pintu.
Ariana yang masih kesal akan ucapannya kemarin pun, dia langsung masuk begitu saja tanpa menyapanya.
"Gerry, jam istirahat nanti datanglah ke kelas." pinta Ariana sembari melangkahkan kedua kakinya.
"Baik Nona manis."
Gerry pun mengeraskan rahangnya saat bersitatap dengan Sebastian, "Jauhi Nona Ariana!"
Sebastian hanya membalasnya dengan tatapan tak peduli, masa bodoh baginya.
Dia pun bergegas masuk ke dalam kelas dan segera duduk di kursinya, di belakang Ariana.
Sementara itu Gerry yang baru tiba di ruangan cctv, pun, baru teringat jika dirinya mendapat tugas dari sekretaris Jackson untuk mencari alamat Sebastian.
"Bodohnya aku! Tuan Jackson pasti akan menghukum ku yang teledor seperti ini."
Gerry menghela napas pelan, "Baiklah, aku akan mendapatkannya di ruangan informasi."