
Mobil memasuki pintu gerbang dan berhenti di pelataran rumah, Jackson segera turun untuk membukakan pintu mobil Tuan muda.
"Ingat, jangan lupa umumkan kebangkrutan perusahaan mereka, semua harus tahu siapa penguasa yang sesungguhnya!" tegas Reykhel sembari turun dari mobil.
"Baik Tuan, saya mengerti," imbuh Jackson sembari menganggukkan kepala, dan segera masuk ke dalam mobil.
Dua penjaga di pintu depan juga menyambut kedatangan Reykhel, mereka mengangguk hormat pada lelaki bertubuh tinggi, kekar, dan tampan itu.
"Selamat pagi Tuan muda, selamat datang kembali di rumah," seru keduanya bersamaan, tak seberapa lama pintu rumah itu pun terbuka.
"Hm."
Hanya itu yang selalu keluar dari mulutnya setelah di sambut oleh penjaga rumah.
Rumah yang besar, di rumah utama ini hanya di huni oleh Ariana dan dirinya saja. Sedangkan pak Jang, para pelayan, pak sopir, dan para penjaga, mereka sudah di sediakan tempat tinggal di beskem belakang rumah. Tak jauh dari bangunan rumah utama ini.
"Selamat datang kembali di rumah, Tuan muda," seru pak Jang yang juga memberikannya bow.
"Ya, di mana Ariana?"
"Saya tadi melihat Nona Ariana sedang berada di dapur, Tuan," jawab pak Jang sembari menerima pemberian tas kerja dari Reykhel.
"Suruh dia ke kamar ku, sekarang!" seru Reykhel seraya pergi meninggalkannya.
"Akan saya sampaikan kepada Nona, Tuan."
Pak Jang pun segera melangkah ke dapur untuk memberitahukan hal tersebut, "Maaf Nona, Tuan muda sudah pulang dan meminta Nona untuk segera datang ke kamar Tuan."
"Ah? Tuan muda sudah pulang?" pak Jang mengangguk, "Mmmmm... iya baiklah, saya akan segera datang."
Ariana pun segera memasukkan cake Doraemonnya ke dalam kulkas, mencuci tangan dan membuatkan teh madu hangat untuk suaminya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Reykhel yang baru saja menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, masih berpakaian tuxedo lengkap bahkan kaos kaki dan pantofel hitamnya pun masih terpasang sempurna di kedua kakinya.
Dia tak menoleh ke sumber suara saat mendengar suara ketukan dari luar pintu, "Masuklah."
"Tuan, ini teh madu hangat untuk Anda."
Reykhel duduk dan langsung mengerutkan dahinya, "Apa yang kau lakukan di dapur? Kau sedang mengecat?"
Siapa yang mengecat? Aku sedang membuat cake, tahu! Ariana menggeleng, "Tidak, Tuan..."
Kenapa aku malah di suruh untuk membersihkan wajah? Ariana pun sejenak diam saja, tak bergeming karena tak faham dengan apa maksudnya yang sedang mengecat?
"Kenapa diam? Tidak dengar aku menyuruhmu untuk apa?"
"Mmmmm.... me- mencuci wajah saya, Tuan."
"Lalu?"
Ariana mengangguk, dan segera meletakan teh madu hangatnya ke atas meja, lalu dia pun beranjak masuk ke dalam bath room.
Buru-buru menyalakan keran air dan saat mau mengusapkan air itu di wajahnya, Ariana pun menatap pantulan wajahnya yang ada di dalam cermin, "Astaga, kenapa sampai kotor seperti ini?"
Cepat-cepat dia mengusapnya dengan lembut, "Aaaaa... memalukan sekali, sih?"
Lima belas menit kemudian Ariana keluar juga dari bath room, dia menghentikan langkah kakinya saat mendapati Reykhel tengah meneguk habis teh buatannya.
"Kemarilah, jangan diam mematung di sana." tutur Reykhel sembari meletakan gelas tehnya di atas nakas.
Gadis itu pun mengangguk dan langsung memenuhi panggilan suaminya, mereka berdiri di jarak yang begitu dekat.
"Masalahmu kemarin, aku sudah membantu mu untuk menyelesaikannya."
"Be- benarkah itu, Tuan muda?" serasa tak percaya bahkan manik cokelatnya sampai menatap tidak percaya kepada suaminya sendiri.
"Ya, dengan syarat... kau harus membayarnya dua kali lipat, sekarang!"
(Reykhel mode rambut tidak rapi)
"Aku anggap kau setuju karena diam!"
Ariana menjawabnya pun akan menjadi percuma, karena kau pasti akan memaksanya juga.
Dia mendekat dan melepaskan blouse biru itu dari tubuh Ariana, hanya menyisakan pakaian dalam hitam nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...