
Siang ini Jackson masih berusaha untuk menyelesaikan pekerjaannya di kantor, dia juga menghendel pekerjaan tuan mudanya selama di tinggal cuti menikah.
Masih tersisa lima hari sebelum masa cuti itu habis, di hadapan tumpukan berkas itu Jackson terlihat sedang memijit keningnya.
Dia duduk bersandar sembari melonggarkan dasi, diraihnya hp yang ada di dalam laci.
Mengusap layarnya dengan malas, dia menghela napasnya dengan sedikit kasar dan mengernyitkan dahi saat melihat pemberitaan media yang tak ada habis-habisnya.
Dia pun geram dan segera menelefon asistennya, Gerry.
"Segera tutup pemberitaan media yang memberitakan tentang pernikahan Tuan muda."
"Baik, Tuan akan segera saya lakukan."
"Akan ku tunggu hasilnya!" lalu mematikan telefon.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Siang ini usai makan di kediaman Reykhel, dia beranjak masuk ke ruang baca tetapi tidak untuk membaca, dia hanya senang duduk di sana.
Hp nya berdering saat mendapatkan telefon dari sang sekretaris, segera dia menjawabnya.
"Hallo? Ada apa, kau sudah membereskannya?"
"Sudah Tuan, Anda tidak perlu khawatir."
"Baguslah, sore ini datanglah ke rumah. Aku sangat bosan."
"Tuan bisa pergi keluar jalan-jalan bersama Nona Ariana."
"Jangan main-main, untuk apa aku -" Reykhel terdiam sejenak, tiba-tiba saja dia mendapatkan ide dan langsung menyeringai.
"Ya, kau ada benarnya juga baiklah, aku akan mengajaknya jalan-jalan," lanjut Reykhel yang langsung mematikan telefonnya.
Reykhel pun beranjak dari tempat duduknya untuk menemui Ariana di dalam kamarnya.
Tetapi dia menjadi gemas dengan wajah manis yang terlelap itu, Rey pun mendekat dan mulai menusuk-nusuk pipinya.
"Engh...."
Saat Ariana mengerjap dan terbangun dari tidurnya, Reykhel pun berusaha so cool. "Hei cepat bangun! Jangan tidur terus, enak saja kau!"
Ariana duduk dan dan memijit kepalanya yang terasa pusing karena belum makan siang.
"Maaf Tuan, saya merasa pusing jadi istirahat sebentar."
"Cih! Cepat ganti pakaianmu, dan temani aku keluar! Membiarkanmu seperti ini hanya akan membuatmu menjadi besar kepala." seru Reykhel sembari melenggang pergi meninggalkan Ariana di kamar.
Dua puluh menit kemudian Ariana sudah bersiap dengan wajahnya yang agak pucat, dia melangkah sedikit lemah.
Di luar rumah Tuan muda sudah menunggu, "Cepat sedikit, jangan membuang waktuku!" ketusnya dengan nada memerintah.
Mobil putih di pelataran rumah sudah menunggu, dan Reykhel baru saja masuk ke dalam mobil. Duduk di jok belakang.
"Hei, kau ini punya telinga atau tidak? Dasar perempuan lamban!"
Ariana pun bergegas masuk ke dalam mobil, dia duduk di sebelah suaminya, sebelum dirinya sendiri memakai sabuk pengaman terlebih dahulu Reykhel memerintah nya.
"Cepat pakaikan sabuk pengaman ku," rengek si big baby boy itu.
"Maaf Tuan, akan saya pakaikan." tutur Ariana yang segera menarik sabuk pengaman itu dan memasangkannya.
Reykhel bisa melihat dengan jelas sisi wajah Ariana, "Minggir!" pekiknya seraya mendorong Ariana untuk kembali ke tempatnya semula.
"Aw!" Ariana mengernyit sakit di bagian bahunya yang baru saja di cengkeram kuat oleh sang suami, Ariana mengusap-ngusapnya dengan pelan.
Setelah memakai sabuk pengaman barulah pak sopir itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, meninggalkan pelataran rumah yang luas dan juga pintu gerbang yang baru saja mereka lewati.