
Ariana yang masih menunggu dengan gelisah pasalnya sudah hampir dua puluh menit dia duduk sendiri, namun sang Suami masih belum juga datang.
Ariana menghela napas sedikit kuat, "Kenapa dia lama sekali sih?" keningnya mulai berkedut kesal, bahkan jus di gelasnya itu pun hampir habis, "Ada apa sih, kenapa dia begitu lama!" Ariana yang sudah tidak sabar pun, dia segera beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju toilet pria.
Kebetulan sekali toilet itu sepi, Ariana yang tidak peduli lagi jika dirinya dicap sebagai wanita mesum karena salah masuk toilet, satu persatu dia membuka pintu toilet.
Dan, yang berada di sudut ruangan adalah pintu terakhir yang belum dibuka, Ariana melangkah ke tempat itu, hampir mendorong daun pintu, namun gerakan tangannya terhenti.
"Apakah kau yakin jika Jessy bisa menenangkan istriku? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Ariana saat mengetahui Papanya sudah meninggal dunia."
Deg!
Seketika tubuh Ariana melemah, merasa tak berdaya saat mengetahui kebenaran mengenai kematian Papanya yang ia rasa sangat mendadak. Mengapa mereka begitu tega untuk membohonginya?
Dengan gemetar Ariana menggerakkan tangannya untuk membuka daun pintu tersebut, benar saja, Reykhel sedang menelpon seseorang.
Sontak saja Reykhel pun terkejut, "Ariana!" Jackson yang mendengar Tuan mudanya menyebutkan nama itupun segera mematikan telepon.
Sepasang manik cokelat Ariana dipenuhi cairan bening bahkan bibirnyapun bergetar, "Apa yang kalian sembunyikan dariku? Mengapa kalian menutupi kematian Papa dariku... Kenapa!!" tanya Ariana dengan nada membentak, rasa tak percaya dengan semua yang ia dengar, semuanya terasa begitu kacau. Ariana pun menangis hingga sesegukan.
Reykhel menjadi panik saat melihat Ariana menangis sampai seperti itu, dia beranjak dari duduknya dan menghampiri sang istri.
Mencoba menenangkannya, dia memeluk Ariana dengan lembut, "Ariana, dengarkan dulu penjelasan ku... aku sama sekali tidak berniat untuk menyembunyikan kebenaran ini darimu -"
Plak!
Perutnya sakit, dia benar-benar shock sehingga menyebabkan kondisi tubuhnya sulit menerima itu semua.
"Ariana?" secepatnya Reykhel menopang tubuh sang istri, "Ariana bertahanlah sayang, ku mohon."
Reykhel pun menggendong Ariana dengan ala bridal style, begitu panik dia membawa Ariana keluar dari restoran ini. Membuat semua mata menatap terkejut ke arahnya.
Reykhel yang baru saja mendudukkan tubuh Ariana di jok depan samping kemudi, memasangkannya sabuk pengaman.
"Ummmh... sakit!" dia menggenggam kerah kemeja Reykhel dengan kuat, "Sakit!" wajahnya bahkan sampai memerah menahan sakit yang luar biasa.
Panggul dan bagian perut bawahnya benar-benar sakit dan keram, tak henti-hentinya Ariana meremas tangan Reykhel.
Reykhel pun meringis kesakitan saat tangannya di cengkeram sekuat itu, di cengkeram hingga memerah dan lecet.
Astaga, sakit! Ya Tuhan, aku masih bisa menahan rasa sakit di tubuhku, tetapi aku mohon tolong jaga dan lindungilah anak serta istriku.
Panik menguasai diri, bahkan saat Reykhel sudah duduk di belakang kemudi pun hampir tak bisa menyetir dengan fokus.
Berkali-kali dia mengusap rambut Ariana, mengusap peluh yang tumbuh seperti biji jagung di pelipisnya, "Bertahanlah sayang, aku akan membawamu ke rumah sakit."
"Ummmh... sakit sekali, aku sudah tidak tahan lagi, aaaaa.... Mama, Papa, kak Sena, Bibi!" dia memanggil semua anggota keluarganya.