
Reykhel diam saja saat mendengar laporan pak Jang barusan, sementara itu Jackson yang merasa ini waktu yang tepat untuk berbicara kepada Ariana selagi hanya ada dia seorang di dapur.
"Taun, saya mau ke toilet sebentar."
"Pergilah, kau tahu tempatnya, kan?"
Jackson mengangguk hormat lalu beranjak pergi dari kamar utama itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di dapur Jackson berdiri tepat di belakang Ariana, "Nona!"
"Eh?" bahkan Ariana pun sampai terlonjak kaget, hampir saja madu di tangannya itu tumpah, dia pun menoleh kebelakang, "Sekretaris Jackson, ada apa? Mengapa mengejutkan saya? Apakah Tuan muda membutuhkan sesuatu?"
"Gerry sudah menceritakan semuanya kepada saya, jadi saya harap agar Nona bisa memposisikan diri saat berada di luar, itu pun jika Nona memang masih ingin menghirup udara bebas di luar!" tukas Jackson tanpa memberikan kesempatan pada Ariana untuk menjawab, "Saya rasa Nona bisa mengerti dengan apa yang saya katakan!" lalu Jackson pun mengangguk hormat padanya, dan segera kembali ke kamar Tuan muda.
Ariana sejenak menundukkan wajahnya dengan memegang erat pada toples madu, dia menggigit kuat bibir bawahnya.
"Itupun jika aku masih ingin menghirup udara bebas di luar?" Ariana terduduk di lantai, mengusap air matanya, dia rindu Bi Laurance, tapi tak bisa menghubunginya. Jika dia nekat menghubunginya maka ketiga pria itu akan langsung mengetahuinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tuan muda ini teh madu hangatnya," tutur Ariana dengan lembut, dia membawa nampan kecil berisikan secangkir kecil teh madu favoritnya.
"Kalian pulang saja dan beristirahatlah, aku sudah tidak apa-apa." seru Reykhel dengan nada memerintah kepada David dan Jackson, yang kemudian mendapatkan anggukan pelan dari keduanya.
"Baik Tuan muda, jika masih merasa tak sehat lebih baik besok Tuan istirahat saja," ucap Jackson yang sudah bersiap untuk keluar dari kamar.
"Iya, lebih baik Tuan muda istirahat saja untuk dua atau tiga hari kedepan, setidaknya sampai kondisi tubuh Tuan muda benar-benar stabil," imbuh David.
"Kalian tak perlu khawatir, pergilah... pak Jang antarkan mereka ke depan."
Sekarang di dalam kamar itu hanya ada Ariana dan Reykhel saja, "Bawa kemari teh madunya, mau sampai kapan kau berdiri di sana? Kau ini bodoh atau apa?"
Ariana hanya diam dan segera mendekat untuk memberikannya teh madu itu, "Ini Tuan, silakan."
Usai meminum teh madunya sampai habis, Reykhel mendadak merasa gerah, dia seperti kepanasan dan berkeringat.
"Cepat ambil air hangat dan handuk kecil."
"Tuan memerlukannya?"
Mendengar jawaban Ariana membuat Reykhel mengerutkan keningnya, "Jika tidak untuk apa aku memintanya, bodoh!"
"Maaf Tuan, segera saya ambilkan."
Ariana pun segera turun ke dapur untuk mengambil baskom berukuran sedang, mengisinya dengan air hangat dan mengambil handuk kecil.
"Apakah Tuan ingin membersihkan tubuhnya karena tak bisa mandi, jadi akan memakai handuk dan air hangat untuk menyeka tubuhnya?" lirih Ariana serasa membawa kebutuhan Tuan muda itu naik kelantai dua.
Dengan hati-hati dia menapaki anak tangga, airnya cukup hangat jadi jika ceroboh dan menumpahkan air itu, dia juga bisa terpeleset karenanya.
"Tuan, ini air hangatnya."
"Hm," Reykhel segera bangkit dari duduknya dan segera melepaskan pakaiannya.
OPS!
Ariana tak ingin melihatnya jadi dia pun segera berbalik, membelakangi suaminya sendiri.