SUPER RICH MAN

SUPER RICH MAN
Filler 1 - Punya Anak


Di luar masih temaram namun Ariana sudah berpenampilan rapi, dia menuruni anak tangga menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.


Reyna pun masih tidur lelap yang di temani bi Laurance di kamar, kamar putri kecilnya yang hanya berbeda pintu namun masih di lantai yang sama. Kamar mereka bersebelahan.


"Nyonya?" seru Clara yang baru saja memasuki dapur, dia tak sendirian karena ada pak Jang, pelayan Min dan juga pelayan lainnya yang sudah harus mulai bekerja.


"Clara, pak Jang, pelayan Min, Koki Ran, selamat pagi kalian semua..." seru Ariana menyapa mereka semua.


"Nyonya sedang apa di dapur? Biar saya saja yang menyiapkan sarapannya..." imbuh koki Ran pada Ariana.


"Tidak apa-apa Ran, santai saja... lagi pula kau juga tahu kan seperti apa Reyna? Dia tidak mau memakan masakan orang lain."


"Benar, masakan seorang ibu memang spesial untuk anak-anaknya."


"Mama..." Reyna sudah bangun dan juga sudah bersiap rapi, dia tak sendirian karena ada Reykhel yang menggendongnya.


"Reyna, sayang... di mana bi Laurance?"


"Bibi sedang tidak enak badan, karena itulah aku yang membawa Reyna turun," tutur Reykhel.


Para pelayan yang berkumpul itu pun segera bubar dan mulai bekerja di bidangnya masing-masing.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Reyna habiskan sarapan mu ya, setelah ini pergilah ke sekolah... Clara akan menemanimu."


"Tapi Reyna ingin Bibi ikut, Ma..."


"Sayang, Bibi sedang sakit jadi tidak bisa menemanimu... jadilah anak yang mandiri ya..." tutur Ariana dengan lembut, dia tak ingin membentak ataupun memarahinya, karena jika itu terjadi maka sudah pasti Ariana lah yang akan di marahi oleh Reykhel.


Usai sarapan Ariana dan Reykhel pun segera mengantar Reyna masuk ke dalam mobil, dia bersama Clara sudah bersiap diri.


"Reyna belajar yang baik ya, Clara jangan lepas pantauan mu darinya," imbuh Ariana.


"Baik Nyonya, saya pasti akan mengawasi Nona muda dengan baik."


"Sayang?" panggil Reykhel yang langsung menempelnya sepertinya perangko.


"Jangan bersikap seperti itu, tidak lihat di sini ada banyak pelayan?"


tukas Ariana mencubit pinggang suaminya lalu segera masuk ke dalam rumah.


"Kenapa kau mencubit ku? Inikan sakit, kau harus bertanggung jawab pokoknya," Reykhel pun menyusul istrinya masuk.


"Bertanggung jawab dalam hal ap-" Ariana mengentikan langkah kakinya sembari menahan mual, dia ingin muntah.


Segara saja Ariana masuk ke kamar tamu dan memuntahkan semua isi perutnya di wastafel bathroom.


"Ariana!" seru Reykhel dengan penuh ke khawatiran, dia pun ikut menyusul sang istri.


Reykhel mengambil minyak kayu putih untuk mengusap tengkuk dan perut Ariana, "Kenapa kau mual dan muntah seperti ini? Kau sakit?"


"Aku tidak apa-apa sayang-"


"Apanya yang tidak apa-apa, kau bahkan sampai keringat dingin seperti ini ayo kita kerumah sakit. Jangan membuatku khawatir seperti ini!"


"Sayang dengarkan dulu penjelasan ku, aku baik-baik saja..." namun Reykhel tak peduli, dia mencengkeram tangan Ariana dan memaksanya untuk ikut, "Sayang hentikan, aku mohon... sayang, aku hamil!"


Langkah mereka pun terhenti di ambang pintu bathroom, Reykhel menatap Ariana dengan tak percaya.


"Aku mual dan muntah karena hamil, bukan karena sakit apapun, percayalah..." Ariana mengusap perutnya, "Kata dokter usia kandunganku sudah tiga bulan-"


"Dan kau tak memberitahukannya padaku? Lancang!"


Ariana memejamkan kedua matanya saat Reykhel menciumnya, tentu saja pagi itu berakhir dengan percintaan hangat di atas ranjang.


Jika Reykhel dan Ariana kini tengah menanti kelahiran anak kedua mereka, maka pada hari ini Jessy sedang berjuang untuk melahirkan anak keduanya.